Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Search Results for: abdullah haidir

Search Results for: abdullah haidir

Kultwit Tanggapan Abdullah Haidir Terhadap Ahmad Sahal

Kultwit oleh Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

Saya ingin menanggapi tanggapan akhi @sahal_AS atas tanggapan saya thd twitnya… silakan di sini chirpstory.com/li/248866

Terima kasih buat @sahaL_AS , calon doktor yg berbaik hati menanggapi tweet seorang TKI di Saudi. Saya layak belajar tawadhu darinya..

Terkait dg tanggapan saya, sebenarnya fokus yg saya tanggapi adalah pernyataan beliau bahwa “Allah sengaja menciptakan agama2 berbeda…”

Masalah berlomba2 dalam kebaikan antara pemeluk masing2 agama tdk sama sekali saya singgung.. krn memang tidak bermasalah.

Jadi tdk benar jk dikatakan saya menolak kebaikan antar pemeluk agama. Kebaikan layak di apresiasi secara sosial, dari agama manapun..

Yg saya tolak adalah pernyataan, baik tersurat atau tersirat, bahwa semua agama itu benar, dari sudut pandang keyakinan Islam.

Saya sangat respon sikap positif antar umat beragama lakukan berbagai aktifitas kebaikan dlm tataran sosial. Itu memang ajaran Islam…

Namun ajakn tsb jgn sampe mengundang syubhat berbahaya dlm keyakinan. Toh bisa disampaikan dg bahasa yg sederhana dn lugas.

Mis. Sebagai umat beragama, kita harus berlomba2 dlm kebaikan. Atau, masing2 agama tentu menganjurkan perbuatan baik thd sesama manusia.

Camkan.. Pengakuan keberadaan agama2 selain Islam, Yes!.

Pengakuan thd kebenaran agama2 selain Islam, berdasarkan keyakinan Islam, No!

Adapun mengatakan “Allah sengaja menciptakan agama2… ” kemudian disertakan ayat2 Alquran, ini yg saya maksud absur dan manipulatif…

Allah sengaja menciptakan agama2, yg tersirat adlh bhw semua agama yg ada sekarang ini dan ajaran2nya, langsung bersumber dr Allah..

Pesan tersirat yg sangat mudah dtelusuri dr statement ini adalh, krn dari Allah, mk semua agama itu tdk ada yg salah, semuanya benar!

Saya jd ingat slogan JIL di situsnya… dgn nama Allah, Tuhan semua agama… kalimat yg sangat bersayap, dpt digunakan sesuai kebutuhan…

Soal Islam, sebenarnya sangat jelas, ga perlu penjelasan meliuk2. Makanya pd masa Nabi saw yg banyak masuk Islam adalah rakyat bawah…

Bisa dibayangkan jk Nabi saw berdakwah, penjelasan Islamnya model yg disampaikan @sahal_AS spt itu, bisa2 respon mrk; ‘au ah gelap’ 🙂

Terminologi Islam secara bhs memang berserah diri. Namun, dlm kajian Islam, terminology etimologis tdk dijadikan acuan,

Tdk salah memang kalau dibilang Islam artinya adalah berserah diri, tapi tdk semua yg mengaku berserah diri itu dikatakan Islam.

Krn definisi Islam menurut istilah bkn cuma berserah diri. Sama spt shalat. Menurut bhs artinya berdoa. Sholat memang mengandung doa.

Tapi tdk semua org yang berdoa dikatakn shalat. Krn definisi shalat menurut istilah bukan doa.

Apa makna Islam menurut istilah? Para ulama sederhanya saja mendefinisikannya; Islam adalah semua ajaran yg dibawa Rasulullah saw.

Ajarannya, mulai dari keimanan, ibadah ritual hingga prilaku sosial, baik dlm tataran pribadi, keluarga atau masyarakat..

Maka org Islam, sekarang ini, adalah org yg beriman thd Rasulullah saw dan semua ajaran yg dibawanya, tentu berikut pengamalannya.

Jd, yg tdk beriman terhadap Rasulullah dn ajarannya, baik secara khusus atau generic= bkn Islam. Mrk non muslim, atau lebih lugas; Kafir

Sederhana bukan? Knp dibuat repot dg teori yg meliuk2? Islam kok ada yg khusus dn generic? Berarti muslim ada yg khusus dn generic?

Pisahkan masalah ini dengan menghormati pemeluk agama lain.. jangan dibuat runyam… agar pikiran dan akidah ngga runyam…

Menghormati orang beragama lain, itu ajara agama, tapi mengakui kebenaran agama lain, itu bahaya dalam agama…

Jadi ga perlu ragu utk mengatakan non muslim itu kafir, non muslim pun harusnya ga perlu tersinggung..yg penting kan rukun secara sosial

Saya ga tersinggung sama sekali jika ada org Kristen bilang saya kafir menurut ajaran mereka. Wajar saja toh…

Justeru kalau mrk bilang, saya sama dg mereka ajarannya, imannya sama, syariatnya sama, justeru saya tersinggung..

Beruntung kita punya kitab suci yg lugas berbicara masalah ini.. Hanya Islam yg diakui, mencari agama selain Islam; tidak akan diterima

Sehingga apapun ayat atau hadits, apalagi perkataan manusia yg menimbulkan kesamaran, tinggal dirujuk kepada ayat2 yg jelas ini..

Bagaimana dengan umat para nabi sebelumnya? Apakah mrk bukan muslim krn tidak beriman dan ikut Rasulullah saw?

Masing umat dikatakan muslim jika mereka beriman dan ikut nabinya saat itu. Apalgi nabi2 sebelumnya di utus berdasarkan kaumnya..

Org2 yg hidup pada masa Nabi Ibrahim as, beriman kpdnya dan ikut ajarannya, dia adalah Muslim.. Begitu seterusnya dg pengikut para nabi

Tapi org hidup pd zaman sekarang, terus maunya beriman hanya kpd Nabi Musa as, atau Nabi Isa, tak mau beriman kpd Rasulullah saw= Kafir

Terkait pernyataan @sahaL_AS bhw dia merujuk pendapat Syekh Rasyid Ridha, bkn dr orientalis, ini juga menarik dr beberapa sisi..

Syekh Rasyid ridha ini ulama kharismatik yg diakui dunia.. pengaruhnya bahkn sampe ke Indonesia.. bahkn ulama saudi pun menghormatinya..

Gagasan utamanya justeru membumikan syariat dan menjaga orisiniltasnya… dia sebagai tokoh2 pemaharuan saat umat mengalami kejumudan..

Di Indonesia yg sangat terinspirasi oleh pemikirannya adalah Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhamadiah. muhammadiyah.or.id/content-156-de…

Sedangkan di dunia pergerakan yg sangat terinspirasi oleh beliau adalah Hasan Albanna… pendiri IM.

Maka menarik kalau @sahaL_AS merujuk ke beliau. Kultur NUnya dn pndgannya thd Islam yg terbuka, mestinya menghindar dr pemikiran beliau

Apalagi JK dikatakan bhw Rasyid Ridha adalah salah satu inspirator Hasan AlBanna, pendiri IM. atau apakh akh @sahaL_AS anggota IM? 🙂

Saya tdk ingin terlalu jauh menyelidiki masalah niat.. yg saya harapkan adalah jujur bukan sekedar mendaptkan legalitas…

Krn pemikiran itu bukanlah sekedar satu dua kutipan, tapi bangunan utuh dengan konstruksi yg mapan…

Jadi ingat Nurkholis Majid, dulu sering mengutip Ibnu Taimiah untuk menggulirkan teori sekulernya. Padahal, siapapun tahu beda keduanya

Jalaludin rahmat ketika org2 mengecamnya krn syiah, dulu pernah bilang, ‘Apa yg saya alami belum apa2 dibanding yg dialami A. Hasan..”

Kembali ke Syekh Rasydi Ridha, meskipun dia ulama besar, tetaplah manusia, mungkin keliru itu terbuka.

Jika beliau berpendapat ada agama yg dibenarkan selain Islam, saya tdk ragu utk menolaknya. Tp hemat saya beliau jauh dr pemikiran itu.

Justeru dia dikenal sbg ulama yg, oleh Muhamad Imarah, dikatakan sbg ulama pertama yg membantah prinsip sekuler. main.islammessage.com/newspage.aspx?…

Adapun apa yg diterjemahkan @sahaL_AS dr tafsir AlManar karangan Rasyid Ridha, saya nilai ada pemaknaan yg tdk pas. moga bkn kesengajaan

teks yg berbunyi

جميع الشرائع ، ومناهج الدين

diartikan sbg “Syariat2 agama2”

Kesannya, Alquran mengakui kebenaran agama2..

Menurut hemat saya artikan, “Seluruh syariat dan prinsip2 agama”, krn baik dr susunan bahasa dan maksud maknanya, lebih benar..

Justeru sy menangkap di sini pilihan kalimat Syekh Rasyid Ridha… syariat2, dan prinsip2 agama itu banyak, sedangkan agama cuma satu.

Kemudian @sahaL_AS mengartikan kalimat.

فعليكم أن تجعلوا الشرائع سببا للتنافس في الخيرات

dengan makna…. dia artikan, “Kalian harus jadikan perbedaan syariat2 agama2 sbg alasan utk berlomba2 dlm kebaikan..”

Padahal dlm tesk arabnya tdk disebutkan, hanya disebut الشرائع saja, kenapa tdk diartikan syariat2 saja. Kenapa diartikan syariat2 agama2

Dari selera bahasa pun bacanya ga enak…. syariat2 agama2… apalagi jika mengundang makna yg sangat rawan…

Hemat saya, ucapan Rasyid Ridha ini ditujukan kpd sesama muslim.. agar jgn sampai perbedaan yg ada dlm syariat, jadi ajang pertikaian

Tapi justeru jadi motivas utk berlomba2 dlm kebaikan. Apalagi dlm disitupun dia jelaskan ttg yg dimaksud “Berlomba2 dlm kebaikan.”

Beliau katakan فاستباق الخيرات هو الذي ينفع في الدنيا والآخرة berlomba2 dlm kebaikan adalah apa yg bermanfaat di dunia dan akhirat..

Kalau sudah urusan akhirat, itu sdh wilayah keimanan. Keyakinan dlm Islam, org non Islam, amalnya tidak bermanfaat di akhirat.

Pemikiran Rasyid Ridha akan lebih jelas lagi jika melihat pandangannya dlm surat Al-Maidh ayat 48 yg juga dijadikan landasan @sahaL_AS

Sayangnya @sahaL_AS tidak mengutip penafsiran syekh Rasyid Ridha dlm uraiannya…

Penjelasan Rasyid Ridha sama dgn penjelasan ulama salaf; Yang Allah maksud bahwa bagi tiap2 umat Allah jadkan syariatnya masing2…

Yaitu, syariat antara umat satu nabi dg nabi nabi lainnya, ada perbedaan. Tapi agama dan keyakinannya sama= Islam dan tauhid kpd Allah.

Saya sudahi sampe di sini twips… agar seimbang dg tanggapan @sahaL_AS tanggapan saya juga disudahi di no. 62 🙂 salaaam…..

(Manhajuna/AFS)

Silaturrahiem, Oleh Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

 

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

Silaturrahiem -صلة الرحيم- oleh Ustadz Abdullah Haidir, Lc @ KBRI Riyadh
Jumat, 21 Rajab 1434 H; 31 Mei 2013

Ceramah tentang silaturrehiem yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Haidir, LC sangat menarik untuk disimak sampai selesai.
Disini dijelaskan secara jelas tentang definisi dan kedudukan siilaturrahiem, siapa yang di maksud kerabat, bentuk bentuk silaturrahiem, dan bagaimana menyikapi hal hal yang tidak baik dalam silaturrahiem.
Sangat direkomendasikan untuk disimak sampai selesai.

Adapun versi tulisan bisa di simak di: http://manhajuna.com/silaturrahim/

 

 

Tanggapan Ustadz @AbdullahHaidir1 Atas Kultwit @Sahal_AS Tentang Pemimpin Kafir Yang Adil

  1. Bismillah… Saya mau twit menanggapi kultwit @sahaL_AS “Imam Ghazali ttg Pemimpin Kafir yg Adil”. By @sahal_AS cc @abdullahhaidir1 Semoga Allah berkahi.68747470733a2f2f7062732e7477696d672e636f6d2f6d656469612f4364555a624b4a573841456b735a4e2e6a70673a6c61726765
  2. Twit @Sahal_AS adalah tanggapan dari tulisan saya di manhajuna.com, Sumber Ungkapan “Pemimpin Kafir Yang Adil Lebih Baik Dari Pemimpin Muslim Yang Zalim”
  3. Tulisan saya tersebut mengulas sumber pernyataan yang beredar akhir-akhir ini bahwa pemimpin kafir yang adil lebih baik dari pemimpin muslim yang zalim.
  4. Intinya, itu adalah ucapan ulama syiah; Ali Ath-Thawus yang justeru bersumber dari buku orang syiah sendiri.
  5. Disamping pernyataan tersebut bermasalah, yang berat lagi banyak orang memahaminya bahwa itu adalah perkataan Ali bin Abi Thalib.
  6. Karena yang beredar disebutkan sebagai perkataan Ali ra. Sehingga masyarakat menangkap, itu adalah Ali bin Abi Thalib, padahal bukan.
  7. Bahkan tidak sedikit yang terang-terangan menyatakan bahwa itu adalah ucapan Ali bin Abi Thalib. Padahal beliau tidak mengatakan demikian.
  8. Apalagi pernyataan ini secara masif disebarkan berbarengan dengan isu pilkada DKI. You know lah, kemana arah yang ingin dituju.
  9. Seakan ingin menggiring alam bawah sadar masyarakat untuk jangan percaya kepada pemimpin muslim, semuanya maling dan korup. Sementara calon non muslim yang mereka jagokan sudah dipastikan orang bersih, tidak korup…. Walaupun kasus Sumber Waras membayang-bayang..
  10. Lalu terjadilah sedikit dialog saya dengan sahal seperti ini… Saya minta dia buktikan kalau Ghazali bicara seperti itu.Cdbi-u2UYAAoCQ7.jpg-medium
  11. Sampai akhirnya keluarlah kultwit @Sahal_AS di atas. Ternyata dia tidak dapat membuktikan bahwa Al-Ghazali mengucapkan redaksi serupa.
  12. Dia malah menuding bahwa saya berpendapat orang kafir tidak mungkin bisa adil. Padahal saya tidak pernah mengatakan demikian dalam tulisan saya.
  13. Bahkan beberapa saat sebelumnya saya sudah ngetwit bahwa bisa saja orang kafir adil dalam tataran sosial dan realitas.
  14. Tapi dalam perspektif keimanan, mereka tidak mungkin adil, karena kesyirikan adalah kezaliman bahkan kezaliman paling besar. Itu kata Al-Qur’an…
  15. Kalau sekedar bikin tudingan sepihak, saya juga bisa, misalnya bilang bahwa bagi sahal, cuma Ahok yang bisa adil, lawan Ahok adalah zalim.
  16. Adapun ucapan @sahal_AS bahwa saya benci syiah, Iya! Bagaimana saya tidak benci dengan orang yang membenci ibunda saya dan ibunda orang beriman;
  17. Bagaimana saya tidak benci kepada orang-orang yang membenci mereka yang sangat dicintai Rasulullah? Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan lainnya, Radhiyallahu ‘anhum.
  18. Kalau @sahal_AS tidak suka kepada orang yang tidak suka sama Ahok, mengapa saya tidak boleh tidak suka kepada orang yang membenci Abu Bakar dan Aisyah?
  19. Kalau @sahal_AS boleh anti wahabi, mengapa saya tidak boleh anti syiah?
  20. Terkait keraguan @sahal_AS bahwa ungkapan tersebut berasal dari tokoh syiah seraya dia meragukan fakta sejarahnya, silahkan dianalisa.
  21. Yang jelas saya dapatkan itu di buku kaum syiah dan bahkan mereka jadikan rujukan. Ali Ath-Thawus sendiri diagung-agungkan oleh kalangan syiah.
  22. Bahkan hingga kini, sejak tulisan saya diposting, belum saya dapatkan dari orang syiah yang membantah kalau itu ucapan tokoh syiah.
  23. Eh justeru malah @sahal_AS pasang badan dan cawe-cawe membantahnya. Ente bukan syiah, kan?
  24. Soal apa perlunya Hulagu Khan minta fatwa kepada para ulama, padahal dia kafir dan zalim? Bisa sekali.
  25. Dia ingin mendapatkan legitimasi dari para ulama agar diterima masyarakat Baghdad. Bahwa walaupun kafir, tapi dia adil…..menurutnya.
  26. Sekarang pun ada penguasa yang membantai ribuan rakyatnya dan disorot oleh media dunia, lalu dia tampil seakan-akan menjadi juru selamat…
  27. Lalu tanpa merasa berdosa sama sekali dia berlagak kayak orang paling bersih. Bahkan ada pula ulama yang mengangguk-anggukkan kepalanya…
  28. Di negeri ini juga ada, pemimpin daerah yang bicaranya sangat kotor dan menjijikkan, lalu ada orang yang berkomentar, dia pemimpin berakhlak 🙂
  29. Kini kita bicarakan tentang ucapan Al-Ghazali yang dikutip oleh @Sahal_AS. Ternyata dugaan saya meleset.
  30. Ternyata yang ada adalah interpretasi @sahaL_AS atas ucapan Al-Ghazali yang disimpulkan sama dengan ucapan Ali Ath-Thawus di atas…
  31. Kalau sudah ranah interpretasi sih, bisa-bisa saja… Jangankan Al-Ghazali, ayat-ayat Al-Qur’an saja bisa diinterpretasikan macam-macam sesuai selera (hawa nafsu).
  32. Terkait kitab Al-Ghazali yang dirujuk Sahal, yaitu At-Tibrul Masbuk Fi Nashihatil Muluk… Ada hal menarik bagaimana ‘pandainya’ beliau..
  33. Kitab ini substansinya adalah nasehat untuk para penguasa dan pejabat terkait tanggung jawab dan amanah mereka. Pesannya sangat bagus..
  34. Di dalamnya disebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki pemimpin. Banyak ayat, hadits, dan kisah-kisah yang menarik untuk menjelaskan apa yang beliau sampaikan.
  35. Tapi sayangnya Sahal tidak utuh menjelaskan kitab ini. Moga bukan kesengajaan. Sebab kalau ada kesengajaan, itu manipulasi namanya..
  36. Memang, Al-Ghazali berbicara sangat dalam pada masalah sifat adil bagi seorang pemimpin dalam kitab tersebut. Tapi….. Ada tapinya nih… 🙂
  37. Tapi, sebelum bicara soal keadilan, Al-Ghazali telah berbicara tentang keimanan. Silahkan cek daftar isinya. paham kan? 🙂CdbwM2oUUAAYzao.jpg-medium
  38. Di dalamnya Al-Ghazali menyebutkan beberapa prinsip aqidah yang merupakan pokok keimanan, seperti tentang sifat-sifat Allah, hari akhir, dan Rasulullah saw.
  39. Maka saya berkesimpulan, bahwa nasehat Al-Ghazali ini ditujukan kepada penguasa muslim yang mengingatkan mereka prinsip keimanan sebelum keadilan.
  40. Bahkan ketika mulai membahas prinsip keadilan, Al-Ghazali mengawalinya dengan mengatakan, bahwa siapa yang tidak menunaikan amanah kekuasaan, akan sengsara yang tidak ada lagi kesengsaraan sesudahnya kecuali kufur kepada Allah…
  41. Maksudnya adalah kezaliman menyebabkan kesengsaraan yang sangat berat, namun puncak kesengsaraan adalah kufur kepada Allah. Inilah iman.
  42. Mengapa @sahal_AS tidak sebutkan masalah prinsip keimanan ini? Wallahu a’lam, saya ga berani interpretasi terlalu jauh.
  43. Tapi begitulah, jangankan terhadap Al-Ghazali, terhadap Al-Qur’an saja dia bisa diskriminatif, pilih-pilih ayat yang dia suka. Yang tidak suka, ga disebut-sebut..
  44. Saya masih ingat bagaimana gagahnya sahal mengutip ayat surat Al-Maidah: 6. “Untuk tiap umat di antara kalian, kami berikan jalan dan aturan.”
  45. Lalu menggiring opini yang mengesankan bahwa semua agama dari Allah… dan berikutnya, orang akan berkesimpulan, karena semua dari Allah, semua benar.
  46. Sementara, dia tidak pernah kutip surat Ali Imran: 19 dan 85 yang jelas-jelas menunjukkan bahwa hanya Islam agama yang benar dan selainnya tidak diterima.
  47. Begitulah orang kalau ada maunya, yang suka dia ambil, yang ga suka dia umpetin. Ini juga terjadi kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah…
  48. @Sahal_AS tak canggung-canggung mengutip ucapan Ibnu Taimiyah “Allah akan menolong negeri adil yang kafir dan tidak menolong negeri zalim yang beriman.”
  49. Padahal You Know Lah pandangan kaum liberal terhadap Ibnu Taimiyah bermacam-macam julukannya; Mbahnya wahabi, radikal, ekstrim… ngga ada baiknya deh.
  50. Semua demi mendukung teori mereka. Tak apa comot sana sini, dioplos-oplos…
  51. Adapun perkataan Al-Ghazali yang mengutip hadits “Kekuasaan akan langgeng bersama kekufuran, tapi tidak langgeng bersama kezaliman.”
  52. Pertama hadits ini harus dilihat dulu derajatnya, shahih atau tidak… Saya malah menduga ini bukan hadits… Cari sana-sini ga dapet…
  53. Al-Ghazali, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau, memang sering dikritik tidak selektif dalam menyebutkan riwayat-riwayat dalam kitab-kitabnya.
  54. Okelah, kita pahami saja apakah ungkapan ini sama maknanya dengan ungkapan bahwa pemimpin kafir yang adil lebih baik dari pemimpin muslim yang zalim.
  55. Saya malah melihat tidak ada kaitannya sama sekali. Inti dari perkataan tersebut adalah bahwa sebab-sebab kauni, jika terpenuhi, hasilnya akan sesuai.
  56. Dalam masalah ini tidak dilihat apakah beriman atau tidak, kafir atau mukmin, Allah akan berikan sesuai dengan sebab-sebab kauninya..
  57. Contoh, ingin pinter, ya belajar. Apakah beriman atau kafir. Beriman, kalau ngga belajar, ya bodoh. Kafir, jika belajar, ya pinter.
  58. Tapi jangan lalu disimpulkan, ga penting soal iman, yang penting belajar agar pinter. Atau kufur tidak masalah, yang penting belajar agar pinter.
  59. Begitu juga soal kekuasaan. Walaupun penguasanya beriman, kalau dia zalim maka kekuasaannya akan runtuh.
  60. Sebaliknya, walaupun pemimpinnya kafir, tapi dia adil, maka kekuasaannya akan langgeng.
  61. Tapi jgn lalu disimpulkan, ga penting iman dalam masalah kepemimpinan, yang penting adil. Atau tidak masalah pemimpin kafir, yang penting adil.
  62. Jadi kesimpulan saya, sahal setengah “mencatut” ungkapan Al-Ghazali, tidak utuh. Kesimpulan yang ditarik pun tidak nyambung…
  63. Adapun dua hadits berikutnya yang dikutip sahal, juga tidak ada dasarnya.
  64. Hadits Nabi bahwa aku dilahirkan pada masa pemimpin yang adil, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman mengatakan bahwa riwayat tersebut diriwayatkan oleh orang-orang yang bodoh terhadap Rasulullah saw. Al-Albani mengatakan hadits itu ngga ada dasarnya.
  65. Begitu juga dengan hadits ketiga…. Ngga ada dasarnya…. Tolong mas @sahal_AS cek lagi status hadits tersebut… beliau kan pinter ilmu hadits..
  66. Udah ya tweeps… Sampai disini… Semoga Allah berikan kita pemahaman yang utuh dan pandai menata hati untuk tunduk terhadap ajaran-Nya…

(Manhajuna/GAA)

Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Pembina at Manhajuna.com
Alumni Syariah LIPIA ini adalah pengasuh utama manhajuna.com. Setelah 15 tahun menjadi Penerjemah dan Penyuluh Agama (Da'i) di Kantor Jaliyat Sulay, Riyadh, beliau memutuskan pulang mengabdikan diri di tanah air. Kini selain tetap aktif menulis dan ceramah di berbagai kesempatan, ustadz humoris asal Depok ini juga tergabung dalam mengelola Sharia Cunsulting Center.

Tanggapan Ke-3 @abdullahhaidir1 tentang “Fastabiqul Khoirot Antar Agama” @sahaL_AS

Kultwit oleh Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

1. Saya ingin memberikan tanggapan atas kultwit @sahaL_AS terakhir…lengkapnya silakan lihat di sini.. http://t.co/BuW7vaKq8V

2. Terimakasih sebelumnya atas tanggapan @sahaL_AS , moga memberi petunjuk yg lebih jelas kepada kebenaran Allah untuk kita semua…

3. Sebenarnya dalam beberapa point sudah tidak masalah, masih ada titik temu….. tapi dlm beberapa hal masih layak didiskusikan.

4. Saya ingatkan lagi, awal kritik saya adalah ketika @sahaL_AS berkomentar bhw “Allah sengaja menciptakan agama2..” yg saya bilang absurd

5. Namun sampai twit kemarin saya masih dipersepsikan oleh @sahaL_AS menolak berlomba2 dlm kebaikan antara umat beragama.

6. Kalaupun sy katakan lomba dlm kebaikan itu antara ssama muslim, itu terkait tafsir ayat fastabiqul khairat yg dia kutip dr tafsir Almanar

7. Sebenarnya, dlm tafsir2 yg mu’tabar, Tafsir Ath-Thabari misalnya, ayat ini memang ditujukan utk org2 mukmin.

8. Ath-Thabari dlm tafsirnya ketika mengomentari ayat ini berkata, فبادروا بالأعمال الصالحة bersegeralah dlm beramal saleh.

9. Intinya, beramal saleh jangan sekedar dikerjakan atau lambat2an.. tapi hendaknya segera dan semangat…

10. Terkait tafsir Almanar yg dikutip @sahaL_AS sebenarnya mengisyaratkn demikian juga… jk kita memahaminya secara utuh, tdk parsial…

11. Pertama yg dikutip oleh @sahaL_AS berasal dri surat AlMaidah 48. Yg saya pahami, Rasyid Ridha memahami ayat ini utk kaum muslimin..

12. Sbb dg tegas dia nyatakan bahwa yg dimaksud berlomba2 di sini adalah apa yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Silakan cek twit saya

13. Sekali lagi saya tegaskan, kalau urusannya sdh akhirat, itu sdh wilayah keimanan. Di akhirat, amalan non muslim, tdk dianggap ‘khairaat’

14. Kalau urusan dunia, kita tetap apresiasi kebaikan dari siapapun dan agama manapun…

15. Perkara bahasa شرائع diartikan syariat2, tdk masalah diartikan bhw dlam Islam syariatnya banyak.. spt syariat puasa, syariat shalat, dll

16. Lagipula, lihatlah ayat ini secara utuh.. bahkan Alquran secara utuh.. utk siapa? utk apa? Utk kaum muslimin dan seluruh manusia….

17. Dan untuk apa? Utk beriman kepada Allah dan beribadah kepadanya. Maka wajarnya, seruan berlomba2 dlm kebaikan tdk keluar dr itu…

18. Jadi kalaupun Rasyid Ridha dlm surat Albaqarah 148 ttg fastabiqul mengatakan bhw ayat ini ditujukan utk umat dakwah…

19. … Bukan khusus ditujukan kpd umat yg sudah menerima, yaitu kaum muslimin… ini harus dipahami bhw Allah tdk membenarkan selain Islam

20. Jadi umat Rasulullah saw dibagi dua macam; Ummat Dakwah dan umat Istijabah.. Ummat dakwah adalh seluruh manusia, agama apapun..

21. Maksudnya, bahwa siapapun diserukan oleh Rasulllah saw atau ajaran Islam untuk mengimani Islam. Kalau tidak mau, ya tidak dipaksa.

22. Yg kedua adalah umat istijabah, yaitu umat yang telah menerima Islam. Kaum muslimin.

23. Nah kalau dikatakan ayat tsb utk umat dakwah dari segala agama, artinya mrk dijdikan sasran dakwah, yaitu beriman dn beribadah kpd Allah

24. Apalagi ayat tsb berbicara ttg dihapusnya ketetapan syariat sebelumnya ttg arah kiblat. Dlm syarIat Rasulullah saw kiblat ke arah Ka’bah

25. Pesannya adalah, jika ajaran2 sebelumnya kiblatnya macam2. Kini kiblat yg berlaku hanya Ka’bah Baitullah. Ini berlaku utk seluruh umat.

26. Krn ayat ini ditujukan utk seluruh manusia, maka yang kiblatnya tdk menghadap Baitullah, tidak akan diterima.

27. Jadi memang sebaiknya @sahaL_AS jgn mengutip ayat tsb utk terkait lomba kebaikan antar umat beragama…

28. Catat, saya tdk menolak lomba2 kebaikan antara pemeluk agama, dllm tataran sosial. Hanya penggunaan ayat tsb memang kurang tepat.

29. Adapun kicauan @sahaL_AS bhw saling membangga2kan agama itu tercela… inipun perlu diperjelas… maksudnya apa..

30. Saya perhatikan @sahaL_AS ‘wa akhawatuha’ sering menggunakan kalimat2 bersayap yg dpt digunakan utk berbagai persepsi..

31. Mirip AS yg gemar teriak anti teroris, tapi dipersepsikan kpd umat Islam saja. Adapun zionis yg meluluhlantakkan gaza, justru dia bela.

32. Krn @sahaL_AS menulis masalah ‘membangga2kan agama’ ini terkiat tanggapan thd twit saya, mk kesimpuiln saya adalah

33. Bahwa sikap saya termasuk ‘membangga2kan’ yg tercela. Apapun maksudnya, pandngan ini kalau tdk berimbang akan bias maknanya..

34. Sebab pernyataan @sahaL_AS dpt dipahami bahwa kita tidak boleh mengaku benar sendiri. Agama anda benar, agama lain juga mungkin benar..

35. Beruntunglah kiitab suci kita Alquran telah menyatakan tegas masalah ini; إن الدين عند الله الإسلام Al Baghawi dlm tafsir berkata…

36. Agama yang diridhai dan benar hanya Islam. Maka keyakinan muslim yg benar adalah, agama yang benar hanya Islam, yang lain batil.

37. Lebih lugas lagi Allah katakan, siapa mencari agama selain Islam, tdk akan diterima (Ali Imran 85). Apakah ayat ini tdk cukup?

38. Krnnya, jk ada ayat, hadits, apalagi perkataan org, yg dpt menimbulkan persepsi berbeda dlm maslah ini, rujuklah ke ayat ini, selesai.

39. Spt ayat yg dibahas @sahaL_AS, dpt timbulkn persepsi berbeda. Seakan2 ga boleh menyakini kebatilan agama lain, jgn merasa benar sendiri,

40. Ini pula yg saya katakan, hendaknya utuh kita memahami Alquran, berikutnya rujuklah para ulama mu’tabar terutama ulama salaf..

41. Sebab Allah yang berfirman dg ayat ini, Allah pula yg berfirman dlm dua ayat sebelumnya, bhw Islam agama satu2nya yg benar dn diterima.

42. Bahkan dlm surat Ali Imran 139, kita diberitahu, bhw jika kita beriman, maka kitalah yang paling tinggi derajatnya..

43. Telah dibahas Akh @malakmalakmal, mesti dibedakan masalah bangga dg sombong….kita justeru diperintahkan bangga dg Islam…

44. Tapi cukupkah hanya bangga saja, nah, disinilah sebenarnya titik pemahaman dlm ayat yg dibahas @sahaL_AS tsb..

45. Yaitu sekedar bangga saja2 tidak cukup, tapi bagaimana seorang muslim mewujudkan iman dan amal shaleh dlm hidupnya.

46. Adapun perkara agama apa yg benar, itu sudah tdk perlu dibahas lagi bedasarkan ayat2 dan hadits2 yg jelas dalam masalah ini.

47. Sebenarnya kalau @sahaL_AS mau melihat ayat tsb dg utuh, apalagi dg panduan ulama salaf, akan tampak sekali bhw kesimpulan ayat ini adlh

47. Hanya Islam, agama yg Allah akui dan terima. Tapi itupun tdk cukup dg pengakuan semata, tp harus disertai keimanan yg dlm dan amal saleh

48. Sebab, ktk ayat tsb nyatakan bhw yg masuk surga adalah yg beriman dan beramal saleh, satu2nya kesimpulan yg dipahami hanyalah Islam..

49. Sebab berbicara ttg amal saleh dan iman, juga harus merujuk kpd Alquran hadits, amal saleh dan iman yg bagaimana?

50. Apakah kalau org beragama lain mengaku kami juga beramal saleh dan beriman, lalu lantas dikatakan masuk dlm ayat tsb? sama sekali tidak!

51. Minimal patokan iman dan amal saleh, lihatlah uraian rukun iman dan rukun Islam… adakah yg spt itu selain Islam?

52. Jd kesimpulan ayat ini sekali lagi, Hanya Islam yg benar. Namun muslim tdk cukup hanya sekedar mengaku saja, hrs diseratai iman dan amal

53. Hanya saja Allah tidak membahasakan hal tsb secara langsung… bukankah kita punya akal utk mencerna…?

54. Ibaratnya begini.. ada org2 ribut masing2 saling mengaku saya warga Indonesia. Hakim tidak langsung tentukan siapa benar siapa salah..

55. Tapi dia kasih isyarat jelas, siapa yang punya paspor Indonesia, dia adalah warga Indonesia..

56. Saya sepakat dg @sahaL_AS tdk boleh mencela agama lain, bukan krn agama lain benar, tapi menghindari dampak yg lebih buruk.

57. Tapi mengkritisi ajaran suatu agama,. apalagi melalui kitabnya, dlm batas tertentu tdk masalah..

58. Sepanjang hal itu dilakukan secara obyektif, tidak dusta, tidak manipulatif, tdk berlandaskan kebencian…

59. Tapi semata ingin menyampaikan kebenaran… Sebab dlm Alquran juga banyak disebut kesesatan2 Yahudi dan Nashrani…

60. @sahaL_AS ga perlu menjudge org spt itu asal2an atau pamer kebodohan… kecuali misalnya dia sudah uji argumentasinya..

61. Di sisi lain bukankah @sahaL_AS ‘wa akhawatuha’ sering mengangkat tema studi kritis, bahkan termasuk thd kitab suci..

62. Bukankah tradisi mengkritisi kitab suci ini justeru dimulai dari kalangan Kristen yg kemudian dikenal sebagai tafsir hermeneutika

63. Para intelektual Kristen menganggap Bibel harus dikritik krn tdk up to date… Lalu lahirlah paham sekuler dan liberal…

64. Nah, merekapun ingin hal ini diberlakukan thd Alquran, repotnya, ada org2 yg ‘celamitan’ ikut2an ingin mengkritisi Alquran..

65. Padahal bibel yg mereka pegang, jelas beda dg Alquran yang kita pegang, tidak dapat dibanding2kan…

66. lebih jelas soal tafsir hermeneutika sila simak uraian Adhian Husaini https://t.co/FED4eRYQvU

67. Mereka pun org Kristen atau agama lain sering mengkritisi Alquran, santai saja, insya Allah bisa kita jawab… jangan lebay

68. Yang tercela itu, mengaku muslim tapi sering mengkritisi Alquran, mengabaikan kaidah2 yg sudah baku, menuduh Alquran tdk relevan..

69. Kalau ada muslim spt ini, saya tidak ragu utk mengatakan spt ucapan @sahaL_AS “Sok, Asal2an dan pamer kebodohan..”

70. Demikian twip… ini bukan ajakan kebencian &permusuhan, namun ajakan utk jelas dlm keyakinan. Agar jangan jadi ‪#‎Muslimtidakjelas‬.

71. Soal toleransi, gak usah banyak ngajarin deh.. tinggal bandingn aja secara obyektif, di negara2 yg muslim mayoritas dan minoritas ..!

72. Bandingkan saja muslim di mindanau, palestina, afrika selatan, myanmar, dg agama lain yg hidup di indonesia, malaysia, Mesir, Saudi, dll.

73. Sudah ya twips…. moga Allah kuatkan iman islam kita…

(Manhajuna/AFS)

Ampunan Allah, Akar Solusi Kita

Ramadhan. Entah untuk yang keberapa kalinya. Semoga Allah Ta’ala panjang dan berkahi umur kita agar kembali dipertemukan dengan bulan yang dinanti-nanti ini pada masa datang.

Berbicara tentang keutamaan bulan Ramadhan, seakan tak pernah habis. Bulan ini tampaknya memang sudah diseting untuk menjadi bulan yang dapat memberikan energi sebesar-besarnya bagi setiap muslim agar semakin mantap mengarungi kehidupan dalam bingkai ajaran Allah Ta’ala.

Akan tetapi, jika kita perhatikan hadits-hadits Rasulullah ﷺ, sasaran riil dari Ramadhan yang kita lalui sebenarnya sederhana, meskipun dampaknya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Yaitu teraihnya ampunan dari Allah Ta’ala.

Perhatikan dua hadits Rasulullah ﷺ tentang keutamaan puasa dan ibadah di bulan Ramadhan;

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه)

 “Siapa yang puasa (di bulan) Ramadhan dengan iman dan penuh harap pahala, maka akan diampuni dosanya  yang telah lalu.” (Muttafaq alaih)

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه)

“Siapa yang beribadah (shalat) (di bulan) Ramadhan dengan iman dan penuh harap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq alaih)

Dari hadits ini tampak, bahwa permasalahan ampunan Allah sangat besar artinya bagi kehidupan kita. Bayangkan, ibadah puasa di siang hari Ramadhan, lalu malamnya dihiasai dengan ibadah shalat dan ibadah lainnya, balasannya adalah ampunan Allah Ta’ala atas dosa-dosa yang telah lalu.

Bahkan di malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, ketika Aisyah ra bertanya kepada Rasulullah ﷺ, jika kita menemui malam tersebut apa yang sebaiknya kita baca, Rasulullah ﷺ berpesan kepadanya untuk membaca

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي (رواه الترمذي وابن ماجه)

“Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pema’af, menyukai permaafan, ma’afkanlah Aku.”  (HR. Tirmizi dan Ibnu Majah)

Mengapa di malam mulia yang berdoa di dalamnya mustajabah itu Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita  memohon, misalnya, hidup sejahtera dunia akhirat, atau kaum muslimin diberi kemenangan atas orang-orang kafir, atau Islam diberi kejayaan di seluruh dunia, dsb.

Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa perkara ampunan Allah Ta’ala adalah masalah prinsip dan mendasar bagi keselamatan hidup kita. Sebaliknya, bertumpuknya dosa dan kemaksiatan dalam kehidupan adalah sumber problematika kita yang sesungguhnya.  Banyak ayat-ayat Allah Ta’ala dan hadits-hadits Rasulullah ﷺ yang mengisyaratkan tentang bahaya dosa dan kemaksiatan dalam kehidupan, baik dalam kontek pribadi, keluarga, masyarakat hingga Negara. Maka dengan demikian, berbagai problematika yang kita hadapi sekarang ini, akar solusinya dapat kita cari dari sini; Ampunan Allah Ta’ala.

Karenanya,  tingginya kwantitas dan kwalitas ibadah yang terjadi di tengah masyarakat seiring masuknya bulan suci Ramadhan, hendaknya tidak hanya didasari pada keinginan untuk meraih pahala dan kebaikan sebanyak-banyaknya. Tetapi juga dimotivasi –bahkan seharusnya bobotnya lebih besar- oleh keinginan mendapatkan ampunan dosa sebesar-besarnya dari Allah Ta’ala.

Hal ini patut menjadi perhatian. Karena ada fenomena ironis yang sering kita saksikan, dimana bertambahnya frekwensi ibadah di bulan ini, ternyata tidak mengurangi secara signifikan tingkat ‘dosa’ yang dilakukan. Lihatlah acara-acara di TV, hanya judulnya saja yang bernama ‘gebyar Ramadhan’ selebihnya adalah pamer aurat dan adegan-adegan merangsang. Lihat pula urusan-urusan birokrasi, praktek korupsi dan kolusi ternyata tak berkurang di bulan ini. Lihat pula para lelaki dan wanita iseng yang menjalin asmara via WA, FB, media sosial lainnya,  yang tetap melakukan aktifitasnya, mungkin, sehabis teraweh atau berbuka puasa.

Pendekatan mengisi bulan Ramadhan seperti ini tak ubahnya sopir angkutan yang mengejar setoran dengan ngebut ugal-ugalan serta menerjang rambu-rambu lalu lintas. Akibatnya denda yang harus dia bayar bisa jadi lebih besar dari setoran yang dia dapatkan.

Hal ini pula yang telah diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخاري)

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka tidak ada bagi nilainya Allah Ta’ala dia meninggalkan makanan dan minumannya” (HR. Bukhari)

Tanpa obsesi yang muluk-muluk, mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk mendapatkan ampunan Allah Ta’ala dengan bertaubat kepada-Nya dan menjauhkan maksiat sejauh-sejauhnya. Karena, dari sinilah akar solusi atas setiap problematika yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Bahkan, dari sinilah sesungguhnya barometer yang menentukan apakah kita termasuk orang yang beruntung atau merugi dengan pada bulan suci Ramadhan ini.

Rasulullah ﷺ bersabda,

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَانْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ (رواه أحمد)

“Rugilah orang yang mendapatkan Ramadhan, namun ketika dia berlalu, dirinya  tidak mendapatkan ampunan (dari dosa-dosanya)” (HR. Ahmad)

Sumber: Buku Pesan-pesan di Jalan Kehidupan, Abdullah Haidir, Murajaah Thariq Abdulaziz At-Tamimi, MA, Penerbit Kantor Dakwah Sulay, Riyadh, KSA

(Manhajuna/IAN)

Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Pembina at Manhajuna.com
Alumni Syariah LIPIA ini adalah pengasuh utama manhajuna.com. Setelah 15 tahun menjadi Penerjemah dan Penyuluh Agama (Da'i) di Kantor Jaliyat Sulay, Riyadh, beliau memutuskan pulang mengabdikan diri di tanah air. Kini selain tetap aktif menulis dan ceramah di berbagai kesempatan, ustadz humoris asal Depok ini juga tergabung dalam mengelola Sharia Cunsulting Center.

Panduan Ramadhan

Panduan Ramadhan

Download

Judul Buku: Panduan Ramadan
Penyusun: Abdullah Haidir
Perwajahan Isi dan Tata Letak: Abdullah Haidir
Penerbit: Kantor Dakwah Sulay, Riyadh
Cetakan Keempat, Rajab 1433 H – Juni 2012

DAFTAR ISI

  • Keutamaan Ramadan & Puasa
  • Hukum Puasa
  • Zakat Fitrah
  • Shalat Taraweh
  • Shalat Witir
  • Lailatul Qadar
  • I’tikaf
  • Idul Fitri dan Puasa Syawal

13 Keutamaan Bulan Ramadan dan Puasa

1# Al-Quran diturunkan di bulan Ramadan

Firman Allah Taala:

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran.” (QS. Al-Baqarah : 185)

2# Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah malam yang nilainya lebih utama di sisi Allah Ta’ala dari seribu bulan.

Allah Ta’ala befirman, Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 1-3)

3# Doa orang yang puasa mustajabah (terkabul)

Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Ada tiga doa yang dikabulkan: Doa orang yang puasa, doa orang yang safar, dan doa orang yang dizalimi. (HR. Baihaqi)

4# Setan diikat, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup

Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Jika datang Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan diikat. (Muttafaq alaih)

5# Puasa melindungi kesucian diri (Iffah)

Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Wahai para pemuda; siapa di antara kalian yang sudah mampu, maka menikahlah, karena menikah dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Siapa yang tidak mampu (menikah), maka hendaklah dia puasa, karena puasa merupakan pelindung. (Muttafaq alaih)

6# Puasa sebagai tameng dari Neraka

Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Puasa adalah tameng, orang yang sedang puasa berlindung dengannya dari api neraka. (HR. Ahmad)

7# Puasa Tidak Ada Tandingannya

Dari Umamah radiallahu anhu dia berkata, “Aku berkata,

‘Ya Rasulullah tunjukkanlah kepadaku perbuatan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga.’ Maka beliau bersabda,Hendaklah kamu puasa, tidak ada yang sebanding dengannya”  (HR. Ahmad dan Nasa’i)

8# Puasa dan Al-Quran Memberi syafaat

Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Puasa dan Al-Quran menjadi syafaat kepada seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata, ‘Ya Rabb, aku telah mencegahnya dari makanan dan syahwat, jadikanlah aku syafaat baginya.’ Dan Al-Quran berkata, Ya Rabb, aku telah mencegahnya dari tidur di waktu malam, jadikanlah aku syafaat baginya. Dia berkata: Keduanya dapat memberi syafaat.” (HR. Ahmad)

9# Pintu Ar-Rayyan bagi yang puasa

Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Sungguh, di surga terdapat pintu bernama: Ar-Rayyan. Mereka yang puasa akan memasukinya pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang masuk melaluinya selain mereka. Jika mereka telah masuk, maka pintu itu pun ditutup dan tidak ada seorang pun yang memasukinya. (Muttafaq alaih)

10# Ganjaran yang tidak terbatas

Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya Rabb kalian berfirman, “Setiap kebaikan akan dibalas sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat. Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang membalasnya.” (HR. Tirmizi)

Karena puasa sangat erat kaitannya dengan kesabaran. Dan orang sabar, Allah nyatakan dalam Al-Quran akan dibalas tanpa batas.

“Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

11# Puasa khusus untuk Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman (hadits qudsi):

Puasa untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Dia meninggalkan syahwat dan makan-minumnya karena-Ku. (HR. Muslim)

12# Bau mulut orang puasa lebih harum dari wangi minyak kesturi

Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Bau mulut orang yang puasa lebih harum di sisi Allah dari wangi minyak kesturi. (HR. Bukhari)

13# Ampunan atas dosa yang telah lalu

Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Siapa yang puasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan harapan mendapatkan pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq alaih)

Sumber: Panduan Ramadhan, Abdullah Haidir, Penerbit Kantor Dakwah Sulay, Riyadh, KSA. Cetakan keempat, Rajab 1433H (Juni 2012)

(Manhajuna/IAN)

Isra Mi’raj Dan Rahasia Keunggulan Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu anhu

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

Manhajuna.com – Ada pertanyaan yang cukup menggelitik tentang keutamaan Abu Bakar Ash-Shidiq, mengapa dia menjadi sahabat yang paling utama. Sebab, jika ditanya keunggulan-keunggulan tertentu pada sahabat, biasanya nama Abu Bakar tidak tercantum di barisan terdepan; Tentang keunggulan ilmu, maka yang segera disebut adalah sahabat semacam Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit. Tentang keunggulan militer, maka yang segera disebut adalah Khalid bin Walid, Usamah. Tentang keunggulan manajemen pemerintahan, Umar bin Khattab biasanya lebih dahulu disebut. Tentang kedermawanan, Usman bin Affan lebih menonjol, dll.

Jika demikian halnya, mengapa Abu Bakar Ash-Shidiq menjadi sahabat yang paling mulia di antara sahabat lainnya?

Barangkali salah satu sisi dari peristiwa Isra Mi’raj dapat menjadi kunci jawabannya.

Sebagaimana diketahui dalam catatan sirah, bahwa kaum musyrikin Mekah ‘mentertawakan’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam setelah beliau menceritakan peristiwa Isra Mi’rajnya. Lalu mereka mendatangi Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu anhu untuk mendengarkan langsung reaksi sahabat terdekatnya. Tentu mereka berharap sikap Abu Bakar akan sama dengan mereka mengingat peristiwa tersebut sangat sulit diterima akal.

Namun, harapan mereka sirna. Setelah mereka sampaikan kabar dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang peristiwa Isra Mi’raj, Abu Bakar Ash-Shidiq balik bertanya, “Benarkah beliau menyatakan hal tesebut?” Mereka jawab, “Benar,” maka beliau berkata, “Jika dia yang mengatakan demikian, maka itu benar.” Mereka masih penasaran, lalu mendesak Abu Bakar dengan pertanyaan, “Apakah engkau akan membenarkan sahabatmu yang mengatakan bahwa dia diperjalankan di malam hari ke Baitul Maqdis lalu kembali sebelum subuh?”

Maka terucaplah dari mulut Abu Bakar Ash-Shiddiq sebuah ungkapan keimanan sangat agung,

إِنِّي لَأَصُدِّقُهُ فِيمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ أُصَدِّقُهُ بِخَبَرِ السَّمَاءِ فِي غَدْوَةٍ أَوْ رَوْحَةٍ

“Jika dia berkata demikian, sungguh aku akan membenarkan apa yang dia sampaikan, bahkan walaupun lebih dari itu. Aku membenarkan berita langit baik di pagi atau sore hari.” (HR. Hakim, dinyatakan shahih dan disetujui oleh Imam Az-Zahabi)

Karena sikapnya itu, beliau diberi gelar “Ash-Shiddiq” (yang sangat membenarkan).

Ya, keunggulan Abu Bakar Ash-Shidiq ada pada keyakinan, kecintaan, ketulusan, kepatuhan dan kesungguhan dalam menerima ajaran Allah. Sesuatu yang umumnya tidak mudah dinilai secara kasat mata, tapi butuh ‘ainul bashirah’ (mata hati) untuk melihatnya.

Karena itu, seorang ulama salaf berkata,

مَا فَضَلَ أَبُو بَكْرٍ النَّاسَ بِكَثْرَةِ صَلاةٍ ، وَلا بِكَثْرَةِ صِيَامٍ ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي صَدْرِهِ

“Abu Bakar tidak mengungguli manusia dengan banyaknya shalat dan puasa, akan tetapi dengan sesuatu yang tertanam dalam dadanya.” (Riwayat Hakim dan Tirmizi)

Inilah medan hati yang kerap kita lupakan, padahal sesungguhnya dia merupakan medan amal yang sangat besar dan paling besar, yang apabila hal ini digarap maksimal akan menjadi pondasi kokoh bagi tegak dan berdirinya nilai-nilai kebajikan pada diri kita. Sebaliknya, apabila medan ini tak dipedulikan atau bahkan cenderung diabaikan, medan amal semakin sempit dan lemah, bahkan yang ada dan tampak besar sekalipun, boleh jadi makna dan hakekatnya tidak sebesar yang tampak.

Di sisi lain, kebesaran seseorang di hadapan Allah, tidak selalu berbanding dengan nama besar dengan segala atributnya. Boleh jadi kebesaran itu ada para orang-orang kecil yang tidak tertangkap kamera atau yang namanya tidak menjadi berita, akan tetapi dia kokoh dalam keimanan, kuat dalam keyakinan, melangkah penuh cinta dan ketulusan serta patuh tak tergoyahkan.

طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ

“Beruntunglah seorang hamba yang mengambil tali kendali kudanya di jalan Allah, rambutnya kumal, kedua kakinya dekil. Jika ditugaskan sebagai penjaga, dia laksanakan. Jika ditugaskan di barisan belakang, dia laksanakan. Jika dia minta izin, tidak diberi izin, jika dia minta tolong tidak ditolong (karena buka orang terkenal).” (HR. Bukhari)

Baca Juga: Hikmah dan Pelajaran Di Balik Peristiwa Isra Mi’raj

(Manhajuna/IAN)

Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Pembina at Manhajuna.com
Alumni Syariah LIPIA ini adalah pengasuh utama manhajuna.com. Setelah 15 tahun menjadi Penerjemah dan Penyuluh Agama (Da'i) di Kantor Jaliyat Sulay, Riyadh, beliau memutuskan pulang mengabdikan diri di tanah air. Kini selain tetap aktif menulis dan ceramah di berbagai kesempatan, ustadz humoris asal Depok ini juga tergabung dalam mengelola Sharia Cunsulting Center.

Khutbah Jumat: Jangan Sombong

Oleh Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

36947_1213442476436_1840032396_397289_3161238_n

Di antara sifat tercela yang harus kita jauhi dari diri kita adalah sifat sombong. Inilah sifat yang menjadi sumber petaka dalam kehidupan, sebab mudah mengundang kebencian manusia, dan yang lebih berat adalah mudah mengundang murka Allah Taala.

Inilah sifat yang pertama kali menyebabkan  pembangkangan dan kemaksiatan yang dipertontonkan oleh Iblis di hadapan Allah swt…. Saat Allah perintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam, Iblis menolak karena menganggap dirinya yang terbuat dari api lebih mulia dari Adam yang terbuat dari tanah. Dalam surat Al-A’raf ayat 12 dikisahkan, ketika Allah bertanya kepada Iblis,

مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ

“Apa yang mencegahmu untuk  untuk sujud ketika Aku perintahkan?”

Iblis menjawab,

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”

Maka Allah cap Iblis sebagai makhluk yang sombong sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 34;

أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Ia enggan dan sombong dan dia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

 

Sombong umumnya lahir ketika seseorang memiliki kelebihan atau keistimewaan namun dia tidak menyadari bahwa itu semua sebenarnya  adalah pemberian Allah sebagai ujian kepadanya, bukan sesuatu yang serta merta menunjukkan kemuliaannya.

Karena itu, kesombongan akan bermuara pada dua perkara; Menentang kebenaran yang bersumber dari Allah dan merendahkan atau melecehkan manusia yang dia anggap lebih rendah darinya.

Rasulullah saw bersabda,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ

Sombong adalah menolak kebenaran dan melecehkan manusia.” (HR. Muslim)

Kelanjutannya dari akibat sombong ini mudah diperkirakan, yaitu lahirnya berbagai kemunkaran, kemaksiatan, kekufuran dan kesyirikan, dilanggarnya aturan-aturan yang telah disepakati.  Akibatnya… tatanan sosial menjadi rusak,  ketenangan dan keamanan terganggu karena berbagai bentuk kezaliman terhadap manusia dan berbagai pelanggaran atas nama kesombongan.

Inilah yang menyebabkan lahirnya manusia-manusia model fir’aun yang merasa besar dengan kekuasaan yang dia miliki, lalu dia menindas bangsa, sementara di lain waktu dengan sombongnya dia berkata sebagaimana Allah kisahkan dalam surat An-Naziat ayat 24;

أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”

Atau manusia model Qarun yang bergelimang harta, lalu dengan sombongnya dia berkata sebagaiman dikisahkan dalam surat Al-Qashash ayat 78

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

“Sesungguhnya aku mendapatkan harta ini, semata karena ilmu yang ada padaku.”

Bahkan kesombongan mereka hingga pada taraf menantang disegerakan azab Allah kepada mereka sebagai bentuk penentangan mereka terhadap ajakan para nabinya yang menyerukan mereka agar beriman kepada Allah,

وَإِذْ قالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنا حِجارَةً مِنَ السَّماءِ أَوِ ائْتِنا بِعَذابٍ أَلِيمٍ [سورة الْأَنْفَالِ: 32]

“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”  (QS. Al-Anfal: 32)

Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa kesombongan adalah perkara yang paling cepat mengundang kebencian di tengah masyarakat, dan yang lebih berat lagi, paling cepat mengundang marah dan murka Allah Taala.

Karena fitrah manusia tidak suka melihat orang-orang yang sombong walaupun scara langsung dia tidak dirugikan olehnya. Apalagi jika ternyata dia melecehkan orang lain. Karena manusia, siapapun dia, walaupun dia orang yang paling lemah dan rendah sekalipun , tidak ada seorang pun yang rela dihinakan dan direndahkan.

Adapun Allah yang Maha Perkasa dan berkuasa sangat membenci sifat sombong jika ada pada diri manusia. Jika sifat-sifat Allah lainnya pada umumnya dianjurkan untuk diteladani manusia, seperti sifat kasih sayang, sabar, pemaaf, dll, namun tidak demikian halnya dengan sifat sombong ini. Sifat ini hanya boleh dimiliki Allah, tidak boleh dimiliki makhluk… Dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan lainnya, Allah Taala berfirman,

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا، قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Kesombongan adalah selendang-Ku, kebesaran adalah sarung-Ku, barangsiapa yang merebut salah satu dari keduaNya dari-Ku, maka dia akan aku lemparkan ke dalam neraka.” (HR. Abu Daud)

Maka sepanjang sejarahnya kesombongan hanya akan melahirkan kekacauan, permusuhan, dan hilangnya keamanan di tengah masyarakat. Dan berikutnya…. hilangnya keberkahan dari Allah Taala dalam kehidupannya. Boleh jadi harta berlimpah….. karir menanjak…… kedudukan tinggi……. namun dengan kesombongan, semua itu tidak mendatangkan kebaikan baginya. Bahkan, tidak jarang malapetakan akibat kesombongan sudah diturunkan dalam kehidupan dunia ini sebelum di akhirat kelak.

Semoga Allah bersihkan hati kita dari sifat sombong dan jauhkan kita dari orang-orang sombong serta selamatkan  kita dari bahaya-bahaya kesombongan.

Allah ingatkan kita dalam ayatnya surat Luqman ayat 18

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Lalu bagaimana caranya agar kesombongan tidak menghinggapi diri kita?

Sadarilah, bahwa kita ini asalnya datang tidak membawa apa-apa dan nantinya pun kita pergi tidak membawa apa-apa selain amal kita. Maka jika kemudian Allah berikan kita berbagai kelebihan dan keistimewaan, itu semua semata datang dari Allah dengan berbagai cara yang berbeda-beda. Dan Allah berikan semua itu bukan lantas menunjukkan kita mulia, tapi untuk menjadi ujian bagi kita, apakah kita bersyukur atau kufur.

Apalah yang mau kita sombongkan, jika Allah berkehendak, sesaat saja apa yang kita bangga-banggakan dapat hilang sirna tak berbekas dan kita tak berdaya sama sekali.

Teladanilah Nabi Sulaiman alaihissalam, yang dengan segala kelebihannya yang luar biasa dia tetap menyadari bahwa semua itu semata karunia Allah dan ujian darinya…

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ (سورة النمل 40)

“Ini adalah karunia Tuhanku untuk menguji aku, apakah aku bersyukur atau kufur.”

Mensyukuri karunia Allah adalah dengan melaksanakan ibadah dan ketaatan kepadaNya dan menggunakan nikmatNya di jalan yang Dia cintai dan ridhai. Kemudian sedapat mungkin membantu dan menolong mereka yang lemah dan membutuhkan sesuai kelebihan yang dimiliki.

Kemudian dekatilah orang-orang lemah dan masyarakat bawah, dengarlah keluh kesah mereka, pandanglah mereka dengan penuh kasih sayang dan kemuliaan. Ketahuilah ada hak-hak mereka yang Allah titipkan pada siapa saja yang Allah berikan kelebihan. Bahkan sangat mungkin sekali, kesuksesan dan kebesaran yang ada pada seseorang, di dalamnya, langsung atau tidak langsung ada saham orang-orang kecil di sekelilingnya,

Rasulullah saw bersabda dalam hadits riwayat Bukhari,

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلا بِضُعَفَائِكُمْ

“Bukankah kalian ditolong dan diberi rizki tak lain karena orang-orang lemah di antara kalian.”

Terakhir, hindarilah bergaul dengan orang-orang sombong, apalagi jika sampai mengidolakannya atau bahkan mendukungnya, karena lambat laun watak tersebut akan menular kepada orang-orang yang bergaul dengannya, sebagaimana sabda Rasulullah saw  dalam hadits riwayat Ahmad, dll,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang tergantung tabiat teman dekatnya. Hendaknya kalian memperhatikan siapa teman dekatnya.”

(Manhajuna/AFS)

Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Pembina at Manhajuna.com
Alumni Syariah LIPIA ini adalah pengasuh utama manhajuna.com. Setelah 15 tahun menjadi Penerjemah dan Penyuluh Agama (Da'i) di Kantor Jaliyat Sulay, Riyadh, beliau memutuskan pulang mengabdikan diri di tanah air. Kini selain tetap aktif menulis dan ceramah di berbagai kesempatan, ustadz humoris asal Depok ini juga tergabung dalam mengelola Sharia Cunsulting Center.

Haji dan Perubahan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

Watak dasar kehidupan adalah adanya perubahan. Tidak ada perubahan, berarti tidak ada kehidupan. Namun, karena kehidupan yang kita harapkan bukan sekedar hidup, tetapi kehidupan yang bermakna, yang memberi nilai positif bagi diri kita dan orang lain, maka perubahan yang kita inginkan pun bukan sekedar perubahan, akan tetapi perubahan  yang juga memberikan nilai positif.

Di antara momentum yang paling berpengaruh bagi adanya perubahan ke arah yang lebih positif dalam kacamata Islam adalah ibadah haji.  Ini bukan semata banyaknya bukti empiris yang menunjukkan adanya orang-orang yang berubah setelah menunaikan ibadah haji, baik dengan bertobat atau semakin dekat dengan ajaran Islam, tetapi karena ibadah ini sendiri telah disetting sedemikian rupa agar menjadi sarana yang tepat untuk itu.

Mari kita perhatikan!

Dari segi kandungannya, ibadah ini mengandung semua unsur pokok yang terdapat dalam berbagai bentuk ibadah yang Allah ajarkan kepada kita. Disana sangat dituntut keikhlasan, gerak anggota badan, baik ucapan maupun perbuatan, keterkaitan dengan waktu dan tempat tertentu serta kemampuan fisik dan harta.

Maka, wajar kalau kemudian ibadah ini ditempatkan di urutan ‘pamungkas’ rukun Islam yang kita yakini tersebut. Seakan ini merupakan isyarat, bahwa semua faktor perubahan telah anda penuhi, maka tunggu apa lagi? Segeralah menunjukkan perubahan yang berarti, dengan semakin tunduk dan patuh kepada Allah Ta’ala.

Di sisi lain, dari segi semangat dan orientasi ibadah, haji –jika dilakukan dengan penuh penghayatan- memberikan inspirasi yang kuat bagi setiap muslim untuk menyadari bahwa ketergantungan dan ketundukannya kepada Allah adalah perkara mutlak yang tidak dapat ditawar, sekaligus itu merupakan fitrah kemanusiaannya. Kalau tidak, mengapa seorang muslim dapat dengan sukarela mengeluarkan uang berjuta-juta untuk sebuah ibadah yang penuh resiko dan tingkat keletihan yang sangat berat. Bahkan pada zaman sekarang, walaupun semua syarat harus dipenuhi dia harus sabar menunggu kalau belum masuk daftar sesuai kuota suatu daerah.

Ini juga memberi pesan bahwa jika hal-hal yang selama ini menghalangi seseorang untuk berubah menjadi lebih baik, banyak dipengaruhi oleh tuntutan duniawinya, Ibadah haji akan menyadarkannya bahwa tuntutan duniawinya tidak ada ‘apa-apanya’ dibanding tuntutan Allah Ta’ala. Maka dengan begitu, langkah-langkahnya menuju perubahan akan lebih ringan dan pasti.

Ada satu hal yang menarik dari para salafushshaleh, bagaimana mereka melihat ibadah haji dari sisi semangat yang terkandung di dalamnya, tidak semata sebagai ritual tahunan saja, tetapi sebagai momentum perubahan yang sangat agung.

Ketika di zaman Khalifah Umar bin Khattab hendak digagas penanggalan hijriah, sang Khalifah mengajak kalangan cerdik pandainya untuk bermusyawarah. Ketika hendak menentukan bulan apa yang akan dijadikan sebagai bulan pertama penanggalan hijriah, terjadi silang pendapat di antara mereka. Namun, akhirnya diambil kesepakatan untuk menjadikan bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam penanggalan hijriah.

Apa alasannya? Alasannya karena bulan sebelumnya adalah bulan Dzulhijjah, saat dimana kaum muslimin melaksanakan ibadah haji, sehingga pesannya adalah bahwa rangkaian ibadah pada tahun sebelumnya telah diselesaikan dengan ibadah haji sebagai puncaknya. Maka pada bulan berikutnya kaum muslimin seakan memulai lembaran baru, semangat baru dan energi baru untuk mengemban tugas-tugas penghambaan dari Allah Ta’ala. Tentu dengan semangat perubahan ke arah yang lebih baik.

Maka, seorang jamaah haji, hendaknya mampu menangkap semangat perubahan yang terkandung dalam ibadah haji. Aqidahnya berubah semakin mantap dan jauh dari nilai-nilai syirik, ibadahnya berubah semakin tertib dan berkualitas, akhlaknya berubah semakin terjaga dan terarah. Begitupula dengan semua aspek kehidupan yang  lain. Sekaligus hal tersebut sebagai indikasi paling nyata atas mabrur-nya haji seseorang.

Allahummaj’al hajjanaa hajjan mabruuran, wa sa’yan masykuuran, wa tijaaratan lan tabuur….

Wallahua’lam.

(Manhajuna/IAN)

Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Pembina at Manhajuna.com
Alumni Syariah LIPIA ini adalah pengasuh utama manhajuna.com. Setelah 15 tahun menjadi Penerjemah dan Penyuluh Agama (Da'i) di Kantor Jaliyat Sulay, Riyadh, beliau memutuskan pulang mengabdikan diri di tanah air. Kini selain tetap aktif menulis dan ceramah di berbagai kesempatan, ustadz humoris asal Depok ini juga tergabung dalam mengelola Sharia Cunsulting Center.