Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Alquran / Al Quran itu Bukan Untuk Menyusahkanmu, Tadabbur Surat Thaha dan Kisah Masuk Islam Sahabat Umar bin Khattab ra
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Al Quran itu Bukan Untuk Menyusahkanmu, Tadabbur Surat Thaha dan Kisah Masuk Islam Sahabat Umar bin Khattab ra

Oleh: Aji Teguh (@BungAji)

Dalam fragmen sirah sahabat Umar bin Khattab yang masyhur, ada episode ketika ia bergegas membawa pedang berjalan penuh amarah. Lelaki perkasa, “preman” kota Mekkah saat itu sedang marah karena ada ada sosok manusia membawa risalahnya, yang dengannya menurut Umar, telah memecah belah persatuan kaumnya. Tapi apa dinyana, karena di tengah perjalanan, Umar berpapasan dengan Nu’aim bin Abdullah, Umar beritahu maksud perjalanannya itu, tapi Nu’aim malah mengabarkan bahwa sang adiknya telah masuk Islam.

Kagetlah Umar!, langsung sejurus kemudian beliau menuju rumah adiknya, Fatimah binti Al Khattab. Di depan rumah adiknya, Umar malah mendengar lantunan ayat-ayat yang dibawa oleh seorang manusia mulia yang ingin dibunuhnya, ayat-ayat itu menyentak hatinya Umar. Memasuki Qalbu di sudut fitrahnya yang terdalam.

Siapakah manusia yang membawa Risalah peradaban yang tinggi dan mulia untuk semesta alam ini? Ialah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam.

Seperti yang kita ketahui di akhir penggalan kisah Umar di atas, Umar akhirnya menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk Islam.

Begitu sederhana asbab masuk Islam nya Umar, setelah ia mendengar lantunan ayat suci Al Quran, lantunan Surat Thaha. Tanpa paksaan, tanpa gelut, tanpa iming iming harta dan tahta apalagi wanita.

Ayat-ayat dari Surat Thaha yang didengar Umar pun tidak seluruh ayat, hanya di episode awal surat Thaha, ayat 1 hingga 8, menjadi wasilah Umar untuk memasuki Dien yang menyelamatkannya dari Api Neraka.

Bagaimana sebenarnya kandungan 8 ayat dari Thaha yang menjadi penghantar Umar mereguk hidayah dari Rabb-nya?

طه (1)

Thaha

مَا أَنزلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى (2)

Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah

إِلا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى (3)

tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)

تَنزيلا مِمَّنْ خَلَقَ الأرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلا (4)

yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (5)

(yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah,. Yang bersemayam di atas Arasy.

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى (6)

Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah.

وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى (7)

Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang lebih tersembunyi

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى (8)

Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang barhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al-asma-ul husna (nama-nama yang baik).

Ma sha Allah, Maha benar Allah atas segala firman-Nya..

Dalam Tafsir Fii Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, redaksi Surat Thaha ditujukan kepada Rasulullah, “Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah” dengan Al Qur’an atau karena Al Qur’an. Kami tidak menurunkannya agar kamu sulit membacanya, dan lelah beribadah dengannya hingga melebihi kemampuan yang kamu miliki dan akhirnya membuat kamu sengsara. Al Qur’an itu dimudahkan untuk dilafalkan. Tugas-tugas yang dibebankan tidak melampaui batas-batas kemampuan kita sebagai manusia. Al-Qur’an tidak memberikan tugas kepada kita kecuali yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita. Beribadah sesuai dengan kita adalah nikmat, bukan adzab. Juga berpeluang untuk menjalin komunikasi dengan Allah, meminta bantuan kekuatan dan ketenangan dari-Nya, dan munculkan rasa ridho, akrab dan connected.

Kami tidak menurunkannya kepadamu agar kamu menjadi sengsara disaat orang orang tidak beriman kepadanya. Kamu tidak ditugaskan untuk memaksa mereka agar beriman, dan tidak untuk membuat jiwamu menjadi sedih.

Hal ini menjawab tuduhan kaum kafir sebagaimana dalam Tafsir Ibnu Katsir terkait Surat Thaha ayat 2, bahwa ketika Allah Swt. menurunkan Al-Qur’an kepada Rasul-Nya, dan Rasul beserta para sahabatnya mengamalkannya, maka orang-orang musyrik berkata bahwa tidak sekali-kali Allah menurunkan Al-Qur’an ini kepada Muhammad me­lainkan agar dia menjadi susah. Padahal duduk perkara yang sebenarnya tidaklah seperti apa yang didugakan oleh orang-orang yang tidak percaya kepada Al-Qur’an, bahkan barang siapa yang diberi ilmu oleh Allah, maka sesungguhnya Allah menghendaki baginya kebaikan yang banyak, dan ilmu itu adalah wahyu Al-Qur’an. Seperti yang telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Mu’awiyah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda.

“مَنْ يُرد اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُهُ فِي الدِّينِ”.

Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah menjadikannya pandai dalam agama.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan Surah Thaha ayat 2 : “Tidak, demi Allah, Allah tidak menjadikan Al-Qur’an baginya sebagai kesusahan. Tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat, cahaya, dan petunjuk ke surga”.

Ini lah penggalan surat Thaha yang menyentuh Jiwa Sang Lelaki Perkasa, yang awalnya keras hatinya, begitu keras penentangannya terhadap dakwah yang dibawa Rasulullah.

Ayat-ayat ini, khususnya ayat kedua surat Thaha, memang ditujukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun seperti kita ketahui, menurut penjelasan Syaikh Utsaimin dalam kitabnya Syarh Riyadus Salihin, suatu pembicaraan yang ditujukan kepada Nabi berarti ditujukan pula kepada umatnya, kecuali ada dalil yang menjelaskan bahwa masalah itu khusus baginya, maka tidak berlaku umum bagi umatnya. Adapun jika tidak ada dalil yang menjelaskan tentang kekhususannya, berarti dalil itu berlaku umum baginya dan bagi umatnya.

Lantas, ketika surat Thaha, khususnya di ayat kedua “Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah” ditujukan kepada kita semua , bagaimana perasaan dan pikiran kita terhadap ayat ini?

Bagaimana kita memandang Al Qur’an yang mulia ini?

Apakah Al Qur’an hanya sebatas sebagai pajangan di rumah semata?

Masihkah kita merasa terbebani dan merasa susah dalam membaca ayat-ayat Cinta-Nya?

Apakah kita begitu merasa keberatan mentadabburi bahkan mengamalkan ayat demi ayat Al Quran?

Apakah kita begitu merasa sibuk dengan urusan pekerjaan kita daripada dekat dengan Al Quran?

Itulah mengapa, Syeikh Shalih bin Abdul Aziz berpendapat, “Senang membaca Al Quran & dekat dengannya adalah salah satu tanda baiknya hati seseorang”.

Kalau kita masih merasa begitu berat, tidak senang bahkan terpaksa dalam membaca Al Qur’an, tidak nyaman berdekatan dengan Al Quran, sangat bisa jadi ada yang salah dengan hati kita, diperlukan menata hati kita lagi, dibutuhkan mensucikannya dengan lafaz-lafaz Istighfar dan mohon ampun kepada Rabb yang menciptakan kita.

Dan mohon kepada Dzat yang membolak balikkan hati, agar hati kita didekatkan dengan Al Quran, senantiasa merindu dan bahagia hidup bersama Al Quran.

(Manhajuna/IAN)

(Visited 97 times, 1 visits today)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Tujuan Berilmu

Oleh: Misyari Al Syatsri Abaikan, dari apa yang dibanggakan sebagian para penuntut ilmu dari keluasan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *