Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Amalan-Amalan Pemberi Syafa’at
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Amalan-Amalan Pemberi Syafa’at

Oleh: Ustadz Fir’adi Nasruddin, Lc

» يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ «

“Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di hadapan mereka dan yang ada di belakang mereka. Mereka tidak memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridha’I Allah dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 28).

Saudaraku,
Di antara bagian iman kepada hari akhir adalah meyakini adanya syafa’at, yang kita dambakan di akherat kelak. Karena dengan syafa’at, derajat kita akan terangkat di surga. Atau syafa’at menjadi sarana untuk mengeluarkan kita dari siksa neraka. Atau menghapus kesalahan dan kekhilafan yang pernah kita ukir dalam hidup dan kehidupan ini.

Kata syafa’ah secara etimologi diambil dari kata asy-syaf’u (genap) yang antonim dari kata al-witru (ganjil), yaitu menjadikan yang ganjil menjadi genap, seperti kita menjadikan satu menjadi dua dan tiga menjadi empat. Demikian menurut arti “lughawinya.”

Adapun menurut terminologi, syafa’at adalah penengah (perantara) bagi yang lain dengan mendatangkan suatu kemanfaatan atau menolak suatu kemudharatan.

Maksudnya, syafi’ (pemberi syafa’at) itu berada di antara masyfu lahu (yang diberi syafa’at) dan masyfu’ ilaih (syafa’at yang diberikan) sebagai wasithah (perantara) untuk mendatangkan keuntungan (manfaat) bagi masyfu’ lahu atau menolak mudharat darinya.

Terkait dengan syafa’at Nabi Muhammad s.a.w terhadap umatnya, tidak kita ragukan sedikit pun. Karena dalil-dalilnya teramat jelas dalam Sunnah. Bahkan Ibnu Majah meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a, bahwa ia pernah mendengar Nabi s.a.w bersabda,”Sesungguhnya syafa’atku pada hari kiamat aku berikan kepada orang yang melakukan dosa besar dari umatku.”

Jika orang yang melakukan dosa besar tetap mendapat syafa’at Nabi s.a.w, selama ia beriman, apatah lagi bagi orang yang tidak pernah melakukan dosa besar, tentu ia lebih layak mendapat naungan syafa’at beliau.

Saudaraku,
Ada beberapa amalan yang jika kita perbuat dalam hidup, maka ia akan menjadi penebar syafa’at bagi kita di akherat kelak.

Pertama, tauhid dan mengikhlaskan ibadah kepada Allah serta ittiba’ kepada kehidupan Nabi s.a.w.

Syirik merupakan penghalang syafa’at, sedangkan tauhid sebagai penyebab yang paling besar untuk mendapatkan syafa’at pada hari Kiamat.

Nabi s.a.w pernah ditanya: “Siapakah orang yang paling bahagia dengan syafa’atmu pada hari Kiamat?.”
Nabi menjawab,

» أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِه «

“Yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah, orang yang mengucapkan Laa ilaahaa illallaah dengan ikhlas dari hatinya atau dirinya.” (HR. Bukhari, no: 99).

Kedua, membaca al-Qur`an.

Abu Umamah pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda,
“Bacalah al-Qur`an. Sesungguhnya al-Qur`an akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi sahabatnya.” (HR. Muslim, no: 804).

Yang dimaksud para sahabat al-Qur`an, mereka adalah orang-orang yang membacanya, mentadabburinya, dan mengamalkan isi kandungannya.
Jika di bulan Ramadhan kita tidak dapat menjadi sahabat al-Qur’an, apatah lagi di bulan yang lain.

Ketiga, sering Membaca Surat Al-Mulk

Rasulullah s.a.w bersabda, “Satu surat dalam al-Qur’an (yang terdiri dari) tiga puluh ayat (pada hari kiamat) akan memberi syafa’at (dengan izin Allah Ta’ala) bagi orang yang selalu membacanya (dengan merenungkan artinya) sehingga Allah mengampuni (dosa-dosa)nya, (yaitu surat al-Mulk).” Dalam riwayat lain, “…sehingga dia dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.” (HR. Abu Daud, no: 1400, Tirmidzi, no: 2891 dan Ibnu Majah, no: 3786).

Saudaraku,
Surat ini termasuk surat-surat al-Qur’an yang biasa dibaca oleh Rasulullah s.a.w sebelum tidur di malam hari, bahkan beliau tidak pernah meninggalkannya, karena agungnya kandungan maknanya.” (HR. Tirmidzi, no: 2892).

Keempat, puasa

Rasulullah s.a.w bersabda, “Puasa dan al-Qur`an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada hari Kiamat kelak. Puasa akan berkata, “Wahai, Rabb-ku. Aku telah menahannya dari makan pada siang hari dan nafsu syahwatnya. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya.” Sedangkan al-Qur`an berkata, “Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya.” Maka keduanya pun memberi syafa’at.” (HR. Ahmad dan Hakim).

Kelima, Shalawat kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda,

» أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً «

“Orang yang paling berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” [HR. Tirmidzi, no: 484).

Keenam, memperbanyak sujud.

Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami, dia berkata, “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah s.a.w, lalu aku mendatangi beliau sambil membawa air untuk wudhu’ beliau. Kemudian beliau berkata kepadaku,’Mintalah sesuatu’.

Aku berkata, ’Aku minta untuk dapat menemanimu di surga,’ kemudian beliau berkata, ‘Atau selain itu?’ Aku berkata,’Itu saja’. Lalu beliau s.a.w bersabda, “Tolonglah aku atas dirimu dengan banyak bersujud.” (HR. Muslim, no: 226).

Ketujuh, do’a setelah adzan

Rasulullah s.a.w bersabda, “Barangsiapa yang membaca ketika mendengar adzan “Allahumma Rabba hadzihid da’watit taammah wash shalaatil qaaimah aati muhammadanil wasiilata wal fadhiilah wab’atshu maqamam mahmuuda alladzii wa’attah” [Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah al wasilah (derajat di surga), dan keutamaan kepada Muhammad, dan bangkitkan beliau, sehingga bisa menempati maqam terpuji yang engkau janjikan). Maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat.” [HR. Bukhari no.614, dari Jabir bin Abdillah).

“Apabila kalian mendengar mu’adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin, lalu bershalawatlah kepadaku, maka sungguh siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak 10 kali. Kemudian mintalah pada Allah wasilah bagiku karena wasilah adalah sebuah kedudukan di surga. Tidaklah layak mendapatkan kedudukan tersebut kecuali untuk satu orang di antara hamba Allah. Aku berharap aku adalah dia. Barangsiapa meminta wasilah untukku, dia berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR.Bukhari, no: 614).

Syekh Albani rahimahullah berkata, ”Dalam hadits ini ada tiga sunnah yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu menjawab adzan, shalawat kepada Nabi s.a.w usai menjawabnya, dan memintakan wasilah untuk Nabi s.a.w.”

Saudaraku,
Di bulan Ramadhan ini mari kita buka lembaran hidup baru, kita pertegas komitmen kita untuk meraih prestasi puncak ubudiyah. Mengukir amal-amal keta’atan, terutama amalan-amalan yang akan dapat memberi syafa’at kepada kita di akherat sana. Semoga demikian adanya. Wallahu a’lam bishawab.

(Manhajuna/GAA)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Yang Pemalu dan Terjaga

Oleh: Ustadz Hakimuddin Salim, MA dan Istri Beliau (Ustadzah Shofiya Aulia). Dari Abu Hurairah RA, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *