Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Konsultasi / Apakah Menceritakan Nikmat Termasuk Riya’ ?
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Apakah Menceritakan Nikmat Termasuk Riya’ ?

Assalammuallaikum.. Pak Ustadz, Saya mau bertanya:

Ada teman bertanya kepada kita “kamu skrg sudah berubah menjadi Alim”. Apabila kita menceritakan kepada teman atau orang bahwa kita bertobat seperti mendapat hidayah dan menceritakan kenapa kita bisa bertobat..apakah ini termasuk sifat riya? Mohon penjelasanny pak ustadz.

terima kasih

wassalammualaikum
Jawaban
Assalamu alaikum wr.wb.

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba’du:

Pertama-tama perlu diketahui bahwa riya menurut Nabi saw adalah syirik kecil yang harus dihindari karena bisa merusak amal. Dalam surat al-Ma’un Allah mengancam orang yang melakukan ibadah karena riya. Dalam surat al-Baqarah 264 juga disebutkan bahwa riya merupakan karakter orang munafik.

Apa itu riya? Riya terambil dari kata ru’yah (melihat). Secara istilah riya adalah menunaikan atau memerlihatkan ibadah dan kebaikan dengan tujuan dilihat dan dipuji oleh manusia. Istilah lain yang hampir sama dengan riya adalah sum’ah. Sum’ah terambil dari kata sima’ (mendengar). Sum’ah adalah menunaikan amal kebaikan guna didengar dan dipuji oleh manusia. Jadi kalau dalam riya pujian yang diharapkan adalah lewat cara dilihat, sementara dalam sum’ah pujian yang diharapkan adalah lewat cara didengar. Jadi riya dan sum’ah sama-sama bertujuan mendapatkan kedudukan dan pujian manusia dengan cara memerlihatkan atau memperdengarkan amal kebaikan pada mereka.

Keduanya (riya dan sum’ah) adalah lawan dari ikhlas. Ikhlas adalah menunaikan amal untuk mengharap ridha Allah; bukan pujian manusia.

Lalu bagaimana dengan menceritakan kebaikan dan karunia berupa petunjuk yang kita dapatkan? Menceritakan nikmat Allah yang telah memberikan petunjuk, yang telah membuatnya bertobat, yang telah memberikan taufik menuju jalan kebaikan adalah bentuk syukur nikmat. Allah sendiri menegaskan dalam Alquran, “Adapun terkait nikmat Tuhanmu hendaknya kau ungkapkan.” (QS adh-Dhuha: 11).

Ibnul Arabi menegaskan, “Jika engkau mendapat kebaikan atau mengetahui kebaikan, sampaikan kepada saudara-saudaramu yang bisa dipercaya dalam rangka bersyukur; bukan untuk menyombongkan diri.”

Dengan demikian jelas terdapat perbedaan antara riya (juga sum’ah) dan menceritakan nikmat dalam rangka bersyukur. Semua tergantung pada niat dan motifnya. Jika Anda menceritakan kisah tobat Anda dan petunjuk yang didapat dalam rangka syukur dan mengakui nikmat-Nya, serta untuk menjadi pelajaran bagi yang lain hal itu merupakan sebuah kebaikan. Namun jika niatnya untuk menyombongkan diri dan mendapat pujian orang maka ia termasuk riya.

Wallahu a’lam

Wassalamu alaikum wr.wb.

Referensi : kumpulan fatwa pusat konsultasi Syariah

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Antara Beramal Karena Riya dan Tidak Beramal Karena Takut Riya

Penyakit riya (ingin dilihat dan dipuji) begitu halus dibisikkan oleh setan menyelinap di sela-sela amal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *