Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Bergabunglah dalam Poros Kebenaran!
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Bergabunglah dalam Poros Kebenaran!

Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dengan memiliki watak dasar (fitrah) keimanan dan taqwa, dan sebaliknya membenci kebatilan dan kekufuran.  Namun fitrah ini sedikit demi sedikit akan terkikis oleh berbagai sebab sehingga boleh jadi tercipta kondisi sebaliknya.

Di antara sebab yang banyak membuat orang menjauh dari kebenaran dan nilai-nilai keimanan adalah kuatnya nilai-nilai keburukan yang melingkungi dan mengelilinginya  yang tidak berimbang dengan kekuatan keimanan yang dimilikinya.

Ketika kita berbicara tentang lingkungan (bi’ah), bukan hanya terbatas teman sepergaulan atau tetangga di sekitar, akan tetapi apa saja yang dapat dijangkau oleh pandangan, pendengaran dan perasaan kita. Dengan kemajuan teknologi informasi maka pemahaman tentang lingkungan kini menjadi lebih luas ruang lingkupnya.

Pada zaman sekarang ini terkesan kuat sebuah fenomena seakan kita tidak dibuat tak berdaya atau terpaksa menyerah dengan keadaan yang menggiring kita pada kemaksiatan serta menjauhkan kita dari nilai-nilai keimanan. Sehingga tidak jarang ada sebagian kaum muslimin yang terjerumus dalam keburukan, baik sedikit atau banyak, lalu dengan entengnya dia mengatakan, ‘Memang sudah zamannya.”

Imam Syafi’i rahimahullah dalam sebuah gubahan sya’irnya berkata,

نَعِيْبُ زَمَنَنَا وَالْعَيْبُ فِيْنَا وَمَا لِزَمَنِنَا عَيْبٌ سِوَانَا

Kita mencela zaman, padahal cela itu ada pada kita

Cela tidak ada pada zaman, yang ada, adalah pada kita.

Fenomena ini jika kita perhatikan, bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya atau pekerjaan ‘kemarin sore’, tetapi dibalik itu ada sebuah kekuatan yang terstruktur, terkait satu sama lain, baik langsung ataupun tidak langsung yang berupaya kuat dan sungguh-sungguh untuk melahirkan kondisi semacam ini. Kesimpulannya adalah lahir dari sebuah kerja sama yang kuat antara pihak-pihak yang ingin menebarkan keburukan di tengah masyarakat.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ (سورة الأنفال: ٧٣)

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain.”  (QS. Al-Anfal: 73)

Mereka pun tak segan-segan untuk mengeluarkan hartanya untuk tujuan tersebut;

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 36)

Sebenarnya ini juga bukan perkara baru, sejak zaman Rasulullah ﷺ, kolaborasi atau kerjasama tersebut sudah terbentuk sedemikian rupa. Namun seiring perkembangan zaman,  hal tersebut terasa semakin kuat strukurnya, semakin canggih metodenya dan semakin luas jaringannya.

Maka, dalam kontek ini, setelah berupaya meningkatkan kualitas iman dan amal dalam diri kita dan melindunginya dari berbagai gangguan yang dapat menggerogotinya, membangun atau bergabung dalam poros kebenaran bagi seorang mu’min menjadi perkara yang tidak dapat diabaikan. Maksudnya adalah, bahwa kita tidak cukup hanya mengupayakan kesalehan pribadi, kemudian tidak peduli dengan kondisi di sekitar kita, akan tetapi kita harus menyatakan sikap bahwa diri kita bergabung kepada setiap upaya perbaikan yang tengah dilakukan di tengah masyarakat, sebagaimana orang-orang yang berniat menebarkan keburukan bergabung dan bersatupadu untuk melancarkan usahanya.

Karenanya dalam  ayat di atas Allah melanjutkannya,

إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (سورة الأنفال: ٧٣)

“Jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.(QS. Al-Anfal: 73)

Dari sini pula kita dapat menangkap pesan yang ingin Allah sampaikan dalam surat Al-Ashr, bahwa syarat agar kita tidak terjerumus dalam kerugian, setelah beriman dan beramal shaleh, adalah berpartisipasi aktif dalam menjaga nilai-nilai tersebut dalam hubungan sosial dengan saling nasehat menasehati.

Kita masih ber-husnuzzan bahwa masyarakat secara keseluruhan lebih condong pada nilai-nilai kebenaran, karena itu memang sudah fitrah yang Allah bekalkan pada setiap manusia. Cuma kekurangannya adalah potensi-potensi kebaikan tersebut tidak diperlihatkan, lalu dikelola menjadi sebuah kekuatan yang dapat melahirkan kebaikan-kebaikan lebih besar yang sekaligus mampu menghadapi kekuatan-kekuatan yang ingin menebarkan keburukan. Banyak di antara kita masih berkutat pada posisi Silent Majority (Mayoritas yang diam), jika ada kebaikan di tengah masyarakat dia senang, sedangkan jika ada keburukan dia benci. Titik! Selebihnya, dia hanya diam, tidak ada langkah apapun yang dilakukan untuk mengekspresikan sikapnya. Padahal justeru pada titik inilah kita sering tidak berdaya menghadapi serbuan penggagas kebatilan. Karena –meminjam istilah pernikahan dalam Islam: Diam berarti setuju.

Salah satu contoh real dapat kita lihat dalam upaya meloloskan UU Pornografi. Sebenarnya mayoritas masyarakat sudah ‘jengah’ dengan tayangan acara-acara di televisi yang erotis dan tidak mendidik. Cuma –di sini masalahnya- mereka lebih memilih diam ketimbang menyatakan sikap  secara terkelola, sehingga kesannya semua itu menjadi perkara yang telah diterima masyarakat. Sementara para pengasung pornografi dan pornoaksi begitu agresif menyatakan sikap dukungan dan pembelaannya terhadap apa yang mereka lakukan, bahkan terkelola dalam berbagai bentuk, seperti lewat media, LSM bahkan terobosan politik. Sehingga, meskipun jumlah mereka jauh lebih sedikit, namun yang tampak kita seperti berhadapan dengan kekuatan besar. Akhirnya, terjadilah ironi tersebut; Sebuah UU yang hendak mengatur penayangan dan produk media, serta bertujuan menjaga generasi kita dari dekadensi moral, sangat sulit digulirkan dan baru berhasil disahkan setelah melalui perjalanan panjang bertahun-tahun, itupun dengan revisi kompromistis di sana sini. Padahal negeri ini dikenal sebagai Negara dengan populasi kaum muslimnya terbesar di dunia, dan sering mengaku sebagai masyarakat religius.

Hal inilah seperti apa yang dikatakan oleh Ali bin Thalib,

الْحَقُّ بِلاَ نِظَامٍ غَلَبَهُ الْبَاطِلُ بِنِظَامٍ

“Kebenaran yang tidak terkelola akan dikalahkan kebatilan yang terkelola.”

Keengganan kita untuk bergabung dalam poros kebenaran, meskipun secara pribadi kita telah menghiasi diri dengan nilai-nilai kebenaran, pada gilirannya akan semakin memberi kesempatan pada poros keburukan memperkuat dirinya. Dan ketika pengaruhnya merajalela sedemikian rupa di tengah masyarakat, imbasnya pun akan kembali kepada diri kita sendiri.

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.”  (QS. Al-Anfal: 25)

Maka, berhadapan dengan berbagai upaya yang dapat merusak nilai-nilai keimanan kita, tidak cukup bagi kita hanya menggerutu, sumpah serapah dan caci maki, namun setelah itu diam tidak berinisiatif apa-apa. Sudah saatnya, dimanapun berada dan siapapun kita, hendaklah kita bergabung dan menyatakan sikap dalam barisan orang-orang yang ingin menebarkan nilai-nilai kebenaran berdasarkan nilai keimanan di tengah masyarakat. Karena selain hal tersebut akan semakin menambah peluang amal shaleh, di sisi lain akan semakin melindungi diri kita dari faktor-faktor yang dapat merapuhkan keimanan kita. Dan hal tersebut berlaku dalam bidang apa saja; Pendidikan, ekonomi, budaya, sosial, termasuk juga politik. Semakin besar ruang lingkup poros tersebut, akan semakin besar pula pengaruhnya.

Kalau komunitas tersebut belum kita dapatkan, berusahalah membentuk poros tersebut di lingkungan terdekat kita. Termasuk di dalamnya misalnya dengan membentuk majelis-majelis ta’lim, forum-forum, Penggalangan aspirasi dll. Dengan demikian kita telah menyatakan sikap yang jelas dimana posisi kita berada.  Dan yakinilah, jika nilai-nilai kebenaran telah dimaksimalkan potensinya dan dikelola kekuatannya, tak kan pernah ada kebatilan yang bertahan menghadapinya.

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا (سورة الإسراء: ٨١)

Dan Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’: 81)

Kesimpulan terakhir, ‘Jangan diam, nyatakan sikap anda, dan bergabunglah dalam poros kebenaran!

Sumber: Buku Pesan-pesan di Jalan Kehidupan, Abdullah Haidir, Murajaah Thariq Abdulaziz At-Tamimi, MA, Penerbit Kantor Dakwah Sulay, Riyadh, KSA

(Manhajuna/IAN)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Allah

Allah Ta’ala Hanya Menerima yang Baik

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *