Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Berprestasi Besar, Lalu Menghilang
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Berprestasi Besar, Lalu Menghilang

Oleh: Ustadz Musyaffa A. Rahim, MA

Luar Biasa!!! Semoga Kita Dapat Menteladaninya

Ada satu tempat di dalam Al-Qur’an, di situ Allah SWT menyebut nama 18 nabi dan Rasul (Q.S. al-An’am: 83 – 90). Diantara nama nabi yang disebut adalah nabiyullah Musa (AS).

Pada ayat yang ke-90 nya, Allah SWT memerintahkkan kepada nabi Muhammad SAW agar beliau ber-qudwah kepada hidayah-hidayah yang telah didapatkan oleh para nabi itu. Allah SWT berfirman:

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى هُمُ اللهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ

(الأنعام: 90)

Mereka itu lah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ber-qudwah-lah engkau (wahai Muhammad) kepada petunjuk mereka. (Q.S. Al-An’am: 90).

Lalu, Allah SWT memerintahkan kepada kita agar kita berqudwah kepada nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
(الأحزاب: 21)

Sesunnguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Q.S. al-Ahzab: 21).

Dengan demikian, nabi Musa (AS) merupakan salah satu sumber keteladaan (qudwah) kita.

Diantara nilai keteladanan nabi Musa (AS) yang sangat luar biasa adalah penggalan peristiwa dan kisah berikut ini:

فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ

(القصص: 24)

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh … (Q.S. al-Qashash: 24).

Ini adalah kisah yang sangat luar biasa..

Betapa tidak:

  • Bukankah dia adalah “seorang pelarian” yang berstatus “wanted” dari pihak Fir’aun dan balatentaranya? namun demikian, status nya ini tidak menghalanginya untuk tetap berbuat ihsan (terbaik), untuk berbuat ishlah (melakukan perbaikan).
  • Sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa, melihat dan menyaksikan dua orang gadis yang “bekerja” sebagai penggembala, dan yang harus “berebut” untuk memberi minum kambing-kambingnya, tidak bisa tidak dia harus memberikan bantuan, sebab, bagaimana mungkin seorang pemuda yang gagah perkasa “tega” membiarkan dua gadis “yang lemah” menghadapi dan menyelesaikan kesulitannya, sementara dia hendak “berpangku tangan”. Maka, ditolong nya lah dua gadis itu dalam urusan memberi minum kepada kambing-kambing ternaknya.
  • Sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa, keperkasaannya pun tidak dia pergunakan untuk mendorong para lelaki lain yang sedang berebut untuk memberi minum ternak mereka, atau menyingkirkan mereka, atau bahkan mengusir mereka. Sebab, cara ini pun tidak sejalan dengan nilai keperkasaan yang dimilikinya. Dia tidak lantas “mentang-mentang” gagah perkasa, maka dengan seenaknya, atau dengan sewenang-wenang mengusir para lelaki penggembala kambing itu.
  • Namun, ia menempuh dan membuat “jalur” alternatif, ia angkat sebuah batu besar, karena memang ia adalah seorang pemuda yang “qawiyy” (gagah perkasa), dan darinya ia mendapatkan sumber air yang lain dari yang diperebutkan oleh para lelaki penggembala itu, dan dari sumber air “alternatif” inilah ia memberikan bantuannya kepada dua orang gadis itu.
  • Puncak dari keluar biasaannya adalah, setelah ia “berprestasi” besar dan selesai memberikan bantuan, ia pun tawalla ilazh-zhilli, berpaling dan menjauhi dua gadis itu, dan pergi ke zhill. Dalam Al-Qur’an terjemahan kemenag, diartikan: ke tempat teduh. Penerjemahan yang tidak salah. Namun, kalimat tawalla ilazh-zhilli memberi kesan lain selain “sekedar” tempat teduh, yaitu, seakan ia pergi menjauh “menjadi bayangan” yang tidak perlu ditatap, tidak perlu dikenal, tidak perlu difoto atau dishoting, tidak perlu selfi-selfi untuk dipublikasikan, ia pergi untuk “hanya menjadi sebuah bayangan”. Seakan ia ingin mengatakan: prestasiku murni tuntutan jiwaihsan dan ishlah yang ada dalam diriku, sebagai bagian dari tarbiyah Rabbaniyyahterhadap diri nabi Musa (AS), karenanya, tidak perlu dikenang, tidak perlu dibesar-besarkan, tulus, ikhlash karena Allah SWT.

Subhanallah …

فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ؟؟!!

Berprestasi besar, lalu menghilang sebagai bayangan? Tidak perlu dikenang?

Ya Allah…

Allahummarzuqnal ikhlash fil qauli wal ‘amal…ya Allah…berikanlah kepada kami keikhlasan dalam berbicara dan dalam bertindak…

(Manhajuna/AFS)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijah

Kemuliaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah telah diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah SWT. berfirman: “Demi fajar, Dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *