Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Muslimah / Blue Baby Syndrome, Cinta Ibu yang Teruji
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Blue Baby Syndrome, Cinta Ibu yang Teruji

Oleh : Raidah Athirah

Setelah pulang dari rumah sakit Szpital Na Solcu , saya dihinggapi perasaan aneh. Saya tidak tahu apakah ini karena faktor ketidakseimbangan hormon pasca melahirkan atau kombinasi atas kelelahan fisik dan mental serta rasa kesendirian saya selama masa hamil di Jablonna. Dan mungkin juga kurangnya saya bersosialisa . Tetapi yang pasti di dalam mobil saya hanya memandang datar pada bayi cantik dengan rambut hitam lebat, bermata biru, dan warna kulit khas Eropa yang telah berpadu dengan lembutnya kulit Asia.

Saat tiba di depan apartemen kami di Jablonna.Kaki saya seperti tak bisa bergerak. Duduk diam didalam mobil. Saya merasa takut. Ya. Takut dengan kenyataan . Saya mendapati diri saya seperti orang asing. Suasana di sekeliling saya terasa begitu asing dalam pandangan saya saat itu. Saya seperti tak mengenal apapun . Bahkan muncul perasaan ingin tinggal lebih lama di rumah sakit.

Sebagai seorang ibu seharusnya saya bahagia. Apalagi bidadari kecil bermata biru yang berbaring di dalam car seat itu tak kurang satuapapun. Tidur lelap. Wajahnya yang putih seakan bersinar. SubhanAllah dia benar- benar seorang bidadari.Seharusnya saya mendekat. Lebih dekat. Tapi tidak , justru yang terjadi adalah sebuah paradoks. Saya ingin menjauh atau bahkan lari dari kenyataan bahwa kini saya seorang ibu.

***

Abu Aisha memarkir mobil tepat di depan apartemen kami.Hari itu dia begitu tampan . Ayah yang gagah. Dengan baju batik warna biru yang menyala dipadu dengan celana hitam serta tak ketinggalan sepatu dengan warna senada, memperlihatkan suasana suka citanya hari itu. Dia kini adalah seorang ayah. Ayah muslim pertama di Jablonna.

Dia turun dari mobil dengan wajah berbinar- binar. Sedangkan saya masih duduk diam didalam mobil. Tidak beranjak sedikitpun . Bahkan saya merasa mulai kehilangan pikiran . Jiwa saya seperti diguncang. Tak paham apa yang datang saat itu. Saya hanya ingin pulang. Kembali ke Indonesia. Hari itu saya sangat merindukan ibu saya di tanah air.

Mungkin anda akan mencibir tentang saya atau bahkan menyumpahi betapa saya ibu yang tidak bersyukur. Tapi apakah anda paham perjalanan mengandung yang saya lalui. Saya menulis kisah ini dengan airmata. Membuka file- file memori saya ke masa lalu. Keterasingan, kesendirian , dan peristiwa bertubi- tubi yang datang selama masa saya mengandung di negeri ini, Polandia.

Saya menulis catatan ini bukan karena ingin dikasihani tidak juga mengharap ada sanjungan. Wah ! . Hebat sekali wanita itu. Tidak sama sekali. Saya menulisnya karena ini jalan yang Allah berikan kepada saya untuk mengobati luka batin saya. Jika Baby Blues ini semacam penyakit jiwa , sebagai saudara anda harus mengulurkan rasa. Mendekap para ibu yang telah berjuang dengan gagah di medan kelahiran. Saya ceritakan kisah ini agar anda bisa bercermin atau setidaknya jauh lebih peka dan berhentilah menggunjing apalagi mencela.

***

Abu Aisha membuka pintu mobil meminta saya untuk melangkah keluar . Dia mendekat membantu saya untuk bergerak. Saya menoleh ke arah card seat disamping , tempat Aisha Pisarzewska masih berbaring. Tidur lelap. Wajah suci malaikat terlihat di wajahnya. Bayi cantik itu tersenyum dalam mimpi. Tak tahu bahwa ibunya kini berada dalam pertarungan batin. Tentang rasa kasih atau keterasingan satu sama lain.

” Kochanie, we already arrived . Could you move yourself to go out. I would take Aisha with car seat”. Suara Abu Aisha memecah kesunyian . Setelah kalimat ini keluar saya malah semakin tak berdaya. Tangan saya memegang kain kerudung lebar menutupi perut bekas melahirkan satu minggu yang lalu. Saya terhenyak. Beberapa detik kemudian menangis. Bahkan tangisan saya semakin keras walaupun saya coba mendekap wajah saya dengan sapu tangan kecil yang dipakai untuk menghapus keringat.Ini musim gugur. Tetapi tubuh saya malah kepanasan. Atau mungkin ini tanda rasa gugup. Entahlah pikiran saya berada dalam kebingungan.

Abu Aisha diam. Mungkin dia menduga bahwa selama seminggu di rumah sakit membuat saya merasa dimanja. Jadi saya merasa asing saat kembali ke rumah. Seharusnya dari awal saya membagi cerita atau setidaknya menggambarkan perasaan saya saat itu. Bahwa ternyata saya mengalami gejala Baby Blues. Kalau anda seorang suami. Tolong berinisiatif- lah sejak awal. Anda seharusnya paham bahwa sebagai istri dan juga ibu di awal tidaklah mudah mengatur emosi. Apalagi sampai anda menambah depresi pikiran . Sungguh anda telah menyakiti rahim bumi. Anda tak berhak bahagia.

Apakah saya marah pada Abu Aisha ? . Tidak . Saya hanya menyesal kenapa tidak saya gambarkan perasaan saya pada Abu Aisha di awal tentu dia bisa lebih cepat mengantisipasi. Saya sendiri bingung bagaimana menggambarkan perasaan sedih saya yang datang tiba- tiba. Kadang saat senja menjelang Baby Blues saya semakin parah. Menangis, sedih apalagi di tambah Aisha yang masih bayi menangis ingin menyusu , kepala saya sakit tak terkira. Saya ingin bersembunyi saja dari kenyataan ini. Tetapi dimana?

Saya sebagai ibu muda tentu melewati semua masa itu , puting lecet sampai berdarah, demam,anemia akut karena kurang tidur , bayi menangis karena kurang menyusu. Kalau muntah ,Subhanallah semuanya hilang tidak berbekas setelah melahirkan. Hari terakhir saya muntah adalah ketika saya melahirkan. Maha Suci Allah Yang Maha Perkasa.

***

Saya sendiri bingung mengapa saya bisa mengalami Baby Blues . Hal yang tidak pernah saya bayangkan. Bahkan dalam riwayat keluarga saya sekalipun.Baby Blues jauh lebih mengerikan dari pada muntah- muntah saat hamil. Kenapa saya berkata demikian? Karena kalau tidak ada yang menasihati atau tidak banyak meminta pertolongan Allah , sebagai ibu dan istri orang- orang disamping bisa terluka karena perubahan sikap dan tingkah laku saya. Allah Maha Besar , tidak akan pernah meninggalkan makhluknya yang lemah.

Waktu ini , kadang saat saya dan Abu Aisha bercakap- cakap dan kemudian jalur cerita menuju ke masa lalu. Dia dengan spontan berhenti berbicara dan kemudian dengan tatapan tulus mengucap kata ” maaf ” .Kata ini bukan tanpa alasan. Alhamdulillah kami berdua telah melewati masa- masa itu. Kalau dibilang sulit setiap orang punya ukuran yang berbeda. Tapi bagi kami masa awal sebagai orang tua baru tanpa bantuan siapapun ini sebuah tantangan hidup yang besar jika tidak karena pertolongan Allah sungguh kami telah binasa di perjalanan.Kesedihan ini diperjalanan menemukan muara. Saya menulis catatan – catatan kecil yang bisa juga disebut diary. Alhamdulillah dengan cara inilah Allah memberi saya penawar.“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman”(Q.S.Al-Imran:139)

****

Baby Blues saya semakin hari semakin parah bahkan sampai pada tingkat depresi. Ah benarkah saya orang yang dikenal sabar dan tegar bisa sehancur itu?. Kenyataannya iya sungguh jika saya tidak banyak mengucap do’ a dan meminta pertolongan kepada Allah Tuhan Yang Maha Memberi Pertolongan , saya dan cita- cita serta mimpi untuk menjadi contoh keluarga muslim pertama di Jablonna bisa hancur atau bahkan runtuh. Hampir saja saya jatuh ke jurang, jika tidak mengingat iman dan identitas saya sebagai muslim. Kini saya semakin paham bahwa kita seharusnya hidup dalam ukhuwah dan tidak boleh sendirian .

Ketika saya mengingat masa itu , tak ayal air matapun tumpah. Jika saya ceritakan lebih lebar masa itu, tidakkah anda akan menghakimi saya?.Sungguh saat itu saya boleh dikatakan memiliki penyakit jiwa. Terkadang ketika kesadaran saya muncul, saya akan menggendong Aisha namun ketika kesedihan, perasaan tak bisa menerima datang merasuki pikiran saya. Saya menaruh lagi Aisha di kotak bayi.Saya hanya duduk diam memandang Aisha.Dia bayi yang baik. Jarang menangis. Kalaupun menangis itu karena dia lapar atau mungkin popoknya telah penuh.

Bagaimana dengan Abu Aisha?. Alhamdulillah dia ayah yang luar biasa hanya saja dia masih tak paham bahwa saya berada dalam cengkraman Baby Blues. Waktu yang saya cinta saat fadjar menjelang. Selama 40 hari masa nifas, saya selalu rindu waktu ini. Ketika saya merasa sangat bebas, jiwa saya kembali murni, berada dalam fitra kasih sayang seorang ibu. Di waktu ini walaupunn saya dalam masa nifas, saya berusaha sekuat mungkin jika tidak doa dalam bahasa Arab , saya berdoa dengan bahasa ibu , Bukankah Allah Tuhan Yang Maha Pengasih juga Maha Mendengar?. Mendengar rintihan setiap hambanya. Allah Tuhan Yang Maha Melihat. Tempat sebaik- baiknya kita mengaduh dan merintih meminta dikasihani.

***

Saya melakukan pekerjaan rumah seperti biasa. Alhamdulillah sejak muntah – muntah saya hilang tak berbekas. Saya kembali memiliki semangat untuk membersihkan rumah, ke dapur dan berbelanja ke areal pertokoan kecil di kompleks apartemen. Namun saat kesedihan itu datang , saya menunduk. Saat saya kekuar di waktu pagi, saya akan memandang ke langit. Berdoa semoga hidup saya tidak binasa di negeri ini. Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah semata.( Q.S.Al-Baqarah:45)

Jika ada film 40 hari mencari cinta. Maka saya berada dalam masa 40 hari bertarung dengan Baby Blues .Masa puncak karena 40 hari belumlah berakhir. Jika anda bertanya berapa lama saya mengalami Baby Blues, sampai kami mengunjungi Ibu saya di tanah air. Enam bulan lamanya saya bagai pasien yang sekarat. Mencari makna hakiki kehidupan . Masa dimana jika saya tak mendekat kepada Allah Tuhan Semesta Alam , maka saya pasti tercabik- cabik bisikan syaitan yang terkutuk.

Ibu mertua saya yang penyayang berada dalam dilema. Beliau sendiri bingung tak tahu apa yang bisa beliu bantu. Saya benar- benar menyalahkan diri saya , andai saya bisa berbahasa Polandia tentu saya sudah leluasa berbagi cerita atau berkeluh kesah pada beliau. Abu Aisha tak pernah hilang perhatiannya kepada kami, tetapi dia sedikit tersibukkan dengan studinya yang menumpuk.

Ketila Baby Blues saya mencapai puncak . Keluarga Abu Aisha berembuk, bagaimana kalau saya dibawah saja ke rumah sakit. Untuk diterapi. Aisha bisa dikasih susu botol sampai saya benar- benar sembuh.Ini bentuk tanggung jawab mereka kepada saya. Tanda cinta kepada menantu dari negeri asing. Mendengar hal ini saya merasa seakan hendak diseret ke penjara sebagai pesakitan. Saya kemudian berteriak” saya tidak sakit” . Di detik- detik hampir saja jiwa saya mengalami kematian, saya mengucap lirih.HasbunAllah Wa Ni’mal Wakil. Cukuplah Allah sebagai penolong. Dan Allahu Akbar tertolonglah saya.Saya tidak akan binasa dinegeri ini. Saya seorang muslimah. Rahim saya telah berdarah. Allah tidak akan pernah meninggalkan saya.

Saya melewati hari demi hari, tiada hari tanpa bertarung , senjata saya adalah doa. Apalagi ketika senja menjelang , dan malam menutupi semua rahasia hidup.Dorongan bisikan, kesedihan serta putus asa yang dimaninkan oleh syaitan yang terkutuk ingin menguasai jiwa saya mengontrol raga saya. Teringatlah saya akan firman Allah ““….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir.”

***

Jika saya boleh meminta. Tolong ulurkan kasih pada ibu- ibu muda yang melahirkan . Kalau tidak dengan mendengar keluh kesah mereka setidaknya nasihatilah mereka dengan lembut. Mungkin ini masa dimana kaum ibu haruslah saling mendekat, mendekap, dan berbagi tentang rasa yang mungkin tidak semua kaum ayah paham tentang rasa ini.

Saya di Polandia merasa sendiri dalam kelelahan baik jiwa maupun raga. Saya merindukan ibu saya terkasih. Wanita dengan penuh kelembutan yang telah melahirkan 8 anak. Yang telah membuktikan di perjalanan bahwa dia adalah perempuan tangguh dan tegar . Tak ada dalam ingatan sedikitpun batin saya terluka. Semuanya manis penuh kasih. Jikapun salah ada masa dimana beliau menasihati atau jika kesalahan pada mengucap kata- kata yang kotor , maka akibatnya adalah kami harus memakai polesan cabe. Saya sangat merindukananya

Ketika serangan Baby Blues menyerang batin saya. Saya berdoa kepada Tuhan Semesta Alam, mengingat- ngingat, merangkai potongan- potongan ingatan betapa kasihnya ibu kepada saya. Maka sudah semestinya saya memberi kasih kepada Aisha Pidarzewska , putri yang saya kandung.

****
Kisah ini tertuang dalam Dwilogi Memoar Aisha Pisarzewska Putri Sang Perantau karangan Raidah Athirah. Penulis saat ini berdomisili di Jablonnia, Polandia.

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Ibu

Baru berapa saat saya naik angkot, “kiri sep…” kata ibu tua di depanku sambil berkemas. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *