Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Curhat Pengurus Masjid dan Persatuan Kita
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Curhat Pengurus Masjid dan Persatuan Kita

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

Manhajuna.com – Pagi ini, selepas mengisi kajian rutin ba’da Shubuh, di salah satu masjid di bilangan Depok, saya kembali mendengar curhat pengurus masjid. Ini kali ketiga saya mendengar curhat senada dari tiga masjid yg berbeda, padahal saya belum ada setahun tinggal menetap di sini.

Intinya mereka galau dengan sikap “sejumlah orang” yang karena ingin menjaga kemurnian agama dan ibadahnya, mereka cenderung tidak toleran dengan saudara-saudaranya sesama ahlussunah yang pahamnya dianggap berbeda atau lebih jelasnya ‘bukan salafi’.

Beberapa sikap yang ditunjukkan di antaranya, jika diberi kesempatan untuk mengatur jadwal pengajian, maka ustadz yang diundang adalah hanya yang sepaham dengan mereka atau ‘Ustadz sunah’ saja, walau tidak dikenal sama sekali oleh warga setempat, kadang tak ragu mencoret ustadz-ustadz yang sudah biasa mengisi di tempat tersebut karena dianggap sebagai ‘bukan ust. salafi’.

Atau, mereka enggan hadir di pengajian lingkungannya jika yang mengisi adalah ustadz yang tidak sepaham dengan mereka, sementara jika ustadz yang mereka ‘akui’, mereka komitmen untuk hadir. Jika masjidnya adalah masjid di lingkungan lain, mungkin tidak masalah, tapi jika masjidnya ada di lingkungannya, lalu jika ustadz yang mereka anggap sebagai “ustadz sunah” dia hadir dengan rajin, sedangkan ustadz lainnya yang dia anggap “bukan ustadz sunah” dia tidak hadir dengan sengaja, ini sangat mengganggu kebersaamaan di tengah masyarakat. Ironisnya kadang jamaah pengajian meluap, tapi sebagian besar jamaah dari luar lingkungannya, sedangkan warga setempat justeru menghindar.

Yang lebih parah adalah jika ada sebuah pengajian yang sudah berjalan dengan baik di masjid lingkungan, namun karena dianggap tidak sesuai dengan paham mereka, maka dibuatlah kajian lain, baik di tempat itu atau di tempat berbeda di lingkungan tersebut, entah di waktu yang sama atau berbeda. Semacam ‘kajian tandingan’ lah begitu.

Belum lagi dengan statment-statment yang kadang memojokkan, memberi stigma kepada sebagian umat Islam dan tidak bijak menyikapi perbedaan pandangan..

Perlu dicatat, masjid-masjid yang saya dengar curhat pengurusnya ini adalah masjid yang pengamalan ibadahnya sudah rapih, masjid-masjid komplek perumahan, shalat Shubuhnya saja bisa 4-5 shaf. Keyakinannya jelas Ahlusssunah wal Jamaah, menolak prinsip-prinsip sesat semacam syiah, ahmadiyah, liberal, dan semacamnya.

Ini tentu tidak dapat digeneralisir, namun fakta ini didapati di bebebrapa tempat, jadi perlu diingatkan. Sebab kalau sikap ini muncul, apalah makna ukhuwah dan persatuan yang sering digembar-gemborkan. Ironisnya, mereka sering menuduh sejumlah pihak dari kalangan ahlussunah sebagai pemecah belah umat atau hizbi (partisan atau mengelompok) dll. Bagi saya, inilah hizbi yang sesungguhnya, hanya mau bersama dengan orang-orang yang sepaham dengan mereka. Adapun yang berbeda paham, walau bukan masalah prinsip, mereka enggan mengaji.

Teringat pesan salah satu syaikh dari Saudi ‘Rifqan ya ahlassunnah bi ahlissunah’ berlemahlembutlah wahai ahlussunah terhadap ahlussunah (yang lain)’

Saya sangat apresiasi rencana tabligh akbar di masjid Istiqlal 17 Januari nanti (moga benar dan terlaksana) yang mempertemukan beberapa tokoh Ahlussunah Wal Jamaah dari berbagai latar belakang dalam satu acara.

Kesampingkan perbedaan-perbedaan yang ada, bahas pada waktu dan cara yang tepat. Adapun umat sangat butuh melihat persatuan tokoh-tokoh umat dan lembaga Islam. Kalau tidak, mereka akan jadi ‘santapan lezat’ paham-paham sesat seperti Syiah, liberal dan lainnya. Sebab bukan tidak mungkin, banyaknya umat mudah ditarik oleh paham sesat, karena mereka sendiri merasa tidak mendapat tempat di tengah kaum ahlussunah wal jamaah.

Wallahu a’lam

(Manhajuna/AFS)

Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Ustadz Abdullah Haidir, Lc. ,lahir dan besar di Depok, menyelesaikan pendidikan sarjana di LIPIA jurusan syari’ah. Sehari-hari beliau menjadi da’i di Kantor Jaliyat Sulay, sebuah lembaga yang memberikan penyuluhan tentang Islam kepada pendatang di Riyadh Arab Saudi. Selain itu aktifitas beliau adalah menjadi penulis buku dan kontributor artikel dakwah, mengisi taklim komunitas WNI, serta juga menjadi penerjemah khutbah Jum’at di Masjid Al Rajhi. Setelah 15 tahun berdedikasi untuk ummat di kota Riyadh, beliau memutuskan untuk kembali ke tanah air. Twitter: @abdullahhaidir1 | FB: abdullahhaidir.haidir

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

“Virus” yang Mengancam Jama’ah Haji

Oleh Ust. Abdullah Haidir, Lc. Manhajuna – Siapa yang tak senang mendapatkan kesempatan beribadah haji? Mimpi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *