Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Demokrasi, Tidak Usah Berlebihan
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Demokrasi, Tidak Usah Berlebihan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

Manhajuna.com – Demokrasi pada zaman sekarang ini seperti kalimat sakti, tak terkecuali bagi masyarakat muslim. Cap demokratis pada seseorang seakan merupakan penghargaan tertinggi yang harus dia raih. Sehingga tidak sedikit seorang muslim lebih bangga disebut sebagai demokrat sejati ketimbang sebagai muslim sejati. Bahkan ada juga yang lebih takut  dituduh menentang prinsip-prinsip demokrasi ketimbang dituduh menentang prinsip-prinsip Islam, naudzu billah.

Ini jelas sikap berlebih-lebihan yang tidak layak bagi seorang muslim. Demokrasi bukan wahyu yang tidak boleh dibantah atau direvisi. Diapun bukan harga mati bagi sebuah upaya perbaikan. Tapi tak lebih sebagai upaya alternatif yang memiliki kemungkinan benar atau salah dan kemungkinan-kemungkinan perubahan.

Di sisi lain, ada juga yang bersikap pada posisi berseberangan. Menolak demokrasi mentah-mentah, lengkap dengan label kufur, syirik dll. Ini juga sikap berlebih-lebihan. Ghiroh terhadap agama semestinya tidak menghilangkann keseimbangan kita untuk menilai, apalagi sekedar melampiaskan nafsu untuk memberi stigma negatif pada saudara-saudaranya yang kebetulan memiliki pandangan berbeda dalam hal ini.

Kata Syekh Yusuf Qaradawi, tanpa definisi yang njelimet, sebenarnya demokrasi wujud dari adanya kebebasan untuk menyampaikan aspirasi kita, termasuk di antaranya memilih siapa yang mewakili dan memimpin kita. Itu saja, sederhana bukan ? Apakah hal itu menjadi terarah atau liar, ya tergantung mekanisme kontrolnya yang diterapkan. Jadi ngga usah dibuat serem-serem lah. Selama ini -setidaknya di negeri kita- tidak pernah ada upaya menetapkan halal atau haram judi atau arak dengan voting suara terbanyak. Kalaupun ada Undang-undang (UU) yang bertentangan dengan ajaran Islam ingin digolkan, justru dengan iklim demokrasi itulah kita berupaya mengggagalkannya. Terlepas berhasil atau tidak, itu adalah konsekwensi da’wah yang harus kita jalani. Itu jauh lebih baik ketimbang mulut kita dibungkam tidak boleh bersuara apa-apa, kecuali bisik-bisik dan kasak kusuk penuh intrik.

Ada sebuah anekdot. Dahulu pada zaman negara Uni Soviet, ketika penguasa membungkam pendapat rakyatnya, ada seorang warga negaranya yang kabur keluar negeri setelah menempuh berbagai rintangan yang sangat berbahaya. Ketika ditanya tujuannya kabur, dengan singkat dia menjawab: “Ingin mengobati gigi saya”, “Lho, bukankah di sana banyak dokter gigi berpengalaman ?”, tanya orang-orang heran, “Iya, tapi di sana saya tidak boleh buka mulut !”, jawabnya santai.

(Manhajuna/GAA)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Indikasi Sukses Ramadhan

Oleh: Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA Manhajuna.com – Ramadhan merupakan salah satu momentum paling istimewa dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *