Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Hikmah dan Pelajaran Di Balik Peristiwa Isra Mi’raj
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Hikmah dan Pelajaran Di Balik Peristiwa Isra Mi’raj

Oleh Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

abdullah-haidirIsra Mi’raj termasuk salah satu peristiwa besar yang terjadi dalam kehidupan Rasulullah SAW. Banyak makna yang terkandung dalam peristiwa ini besar ini. Namun sayang hal tersebut sering terhalangi oleh berbagai pemahaman dan pengamalan yang tidak berdasar.

Berikut ini, pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut.

1. Di antara hikmah perjalanan Isra Mi’raj sebagaimana dinyatakan para ulama adalah untuk menghibur Rasulullah SAW yang saat itu mengalami duka cita mendalam karena ditinggal orang-orang terdekatnya, yaitu Abu Thalib dan Khadijah ra.

Hal tersebut memberikan pelajaran bahwa dakwah di jalan Allah Ta’ala, meskipun sangat berat, penuh halangan dan rintangan, namun dibalik itu Allah sediakan balasan dan kebahagiaan yang langsung dapat dia rasakan dalam kehidupannya sebelum balasan di akhirat. Banyak hal yang didapatkan ketika seseorang ikhlash berada dalam ‘gerbong dakwah’. Hal yang mana tidak dia dapatkan pada selainnya. Dalam perjuangan di jalan Allah, akan terasa manisnya keimanan, indahnya persaudaraan, nikmatnya aktifitas dalam berbagai kegiatan, optimisme kehidupan dan dekatnya pertolongan.

2. Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat sebagai imam diikuti oleh para nabi sebelumnya.

Hal tersebut menunjukkan kepemimpinan Rasulullah SAW di hadapan para nabi. Sekaligus berisi pesan tentang misi dakwah Rasulullah SAW yang bersifat universal. Bukan hanya untuk satu suku dan golongan, tetapi untuk semua umat manusia. Semua ajarannya berlaku untuk semua bangsa dan golongan serta dapat direalisasikan.
Adalah keliru pandangan yang mengidentikkan Islam dengan Arab atau Arab dengan Islam. Meskipun tidak dipungkiri bahwa Rasulullah SAW diutus di negeri Arab dan Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab sedangkan negeri-negeri Arab serta bangsa Arab menjadi pusat penyebaran Islam

Hal ini pada gilirannya menuntut kita untuk memiliki bekal yang mumpuni tentang ajaran Islam, sehingga dapat memilah mana yang sesungguhnya merupakan ajaran Islam dan mana yang sekedar adat atau budaya lokal saja. Agar jangan sampai lagi ada kaum muslimin yang mengatakan bahwa jilbab adalah budaya Arab sedangkan ‘Irama Padang Pasir’ justru diperdengarkan sebagai pembuka pengajian (karena dianggap bagian dari Islam).

3. Isra Mi’raj merupakan merupakan isyarat bahwa faktor utama kemenangan kaum muslimin terhadap musuhnya adalah kuatnya hubungan dia kepada Allah Ta’ala (Quwwatushshilah billah). Kita tidak menafikan kebutuhan terhadap faktor-faktor yang bersifat materi, namun pangkal dari semua itu adalah kekuatan hubungan kepada Allah.

Pada peristiwa ini, tampak sekali dekatnya hubungan Rasulullah SAW kepada sang Khaliq, bahkan kedekatan tersebut diperjelas dengan diangkatnya beliau menemui-Nya dan kemudian menerima perintah langsung ibadah shalat sebagai media untuk menjaga hubungan kepada Allah. Sehingga seorang ulama mengatakan bahwa shalat adalah Mi’rajul Mu’min, naiknya ruh seorang mukmin untuk menghadap Allah Ta’ala.

Karena itu dalam sirah Rasulullah SAW, kita dapatkan bahwa setelah peristiwa Isra Mi’raj, terjadi peristiwa Bai’atul Aqabah pertama, beberapa pemuda Madinah berbai’at kepada Rasulullah saw untuk menerima Islam dan siap mendakwahkannya dengan berbagai resiko yang akan mereka tanggung. Peristiwa ini kemudian menjadi tonggak utama bagi eksisnya Islam di Madinah kemudian hari, dan berikutnya menjadi pintu bagi tersebarnya Islam ke seluruh penjuru dunia.

4. Isra Mi’raj merupakan ujian keimanan setiap muslim untuk mempercayai apa yang dibawa Rasulullah SAW. Sebab peristiwa sebesar itu hanya dapat diterima dengan bahasa keimanan dan keyakinan. Itulah sesungguhnya inti dari aqidah; Meyakini tanpa keraguan. Bagi seorang muslim jika berita tersebut benar bersumber dari Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada peluang bagi dirinya kecuali menerimanya dengan penuh keyakinan, tidak ada yang mustahil dalam kekuasaan Allah Ta’ala.

Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq ra ketika tanpa ragu dia menyatakan keimanannya terhadap apa yang dialami Rasulullah SAW. Maka ketika orang-orang ingin mengetahui sikapnya tentang peristiwa Isra Mi’raj Rasulullah SAW, tanpa ragu beliau langsung menjawab, “Jika benar itu dari Rasulullah, lebih dari itu aku akan percaya!” Karena itu dia dijuluk Ash-Shiddiq (yang membenarkan).

Aqidah dan ajaran dalam Islam tidak bertentangan dengan akal sehat, namun bukan berarti keimanan kita terhadap aqidah Islam bergantung terhadap pemahaman logika.

5. Setelah menempuh perjalanan yang sangat fantastis, penuh keagungan dan kebesaran Allah, diperlihatkannya surga dan neraka, namun akhirnya Rasulullah SAW kembali ke bumi di tengah masyarakatnya.

Hal ini memberikan pelajaran bagi seorang muslim, bahwa siapapun yang ingin mengamalkan dan mendakwahkan ajaran Islam, hendaknya dia harus hidup di tengah masyarakatnya dengan segala problematika dan permasalahannya. Islam tidak hanya cukup ditampilkan kebesarannya di atas podium, mimbar, dan kitab-kitab, tetapi kebesarannya harus mampu ditampilkan dalam kehidupan nyata. Dan itu hanya dapat dilakukan ketika semua muslim hidup di tengah masyarakatnya dan bergelut dalam kesehariannya seraya tetap membawa nilai-nilai Islamnya dalam semua aspek kehidupannya.

Tampilan Rasulullah SAW dalam dakwahnya sungguh-sungguh merupakan tampilan manusia biasa yang berada di tengah-tengah masyarakatnya, beliau menahan lapar, terluka, bersembunyi, memakai baju perang, masuk ke pasar, jalan ke lorong-lorong, menyelesaikan pertikaian antar pribadi atau rumah tangga, dsb.

6. Isra Miraj memiliki pesan yang sangat dalam tentang ketekaitan erat Masjidil Aqsha dalam hati umat Islam. Singgahnya Rasulullah SAW di Masjidil Aqsha dalam perjalanan Isra Mi’raj tentu bukan peristiwa yang dapat dianggap sambil lalu, kecuali dia memiliki kedudukan istimewa di tengah kaum muslimin.

Masjid yang hingga kini masih saja berada dalam kekuasaan kaum Yahudi menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam untuk memiliki perhatian khusus terhadapnya. Karena jatuhnya salah satu tempat suci kaum muslimin di tangan Yahudi menjadi tanggung jawab tersendiri bagi kaum muslimin untuk membebaskannya.

Pihak Yahudi berupaya sekuat tenaga agar masalah Al-Aqsha disempitkan sebagai masalah Timur Tengah, kemudian dipersempit lagi menjadi masalah bangsa Arab, lalu dipersempit lagi menjadi masalah bangsa Palestina. Itu jelas menyesatkan, karena sesungguhnya masalah Al-Aqsha adalah masalah kaum muslimin secara keseluruhan apapun ras dan suku bangsanya.

Karena itu, walau sekecil apapun, harus ada kontribusi yang dapat diberikan seorang muslim untuk kebebasan Al-Aqsha dan bumi Palestina dari cengkraman tangan-tangan Yahudi yang dimurkai Allah. Walau sekedar untaian doa di sela-sela kekhusyuan ibadah kita kepada-Nya.

Wallahualam…

(Manhajuna/AFS)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Haji dan Perubahan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc. Watak dasar kehidupan adalah adanya perubahan. Tidak ada perubahan, berarti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *