Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Jangan Kalah Oleh Kuda!
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Jangan Kalah Oleh Kuda!

Oleh: Ustadz Satria Hadi Lubis

Manhajuna.com – Allah SWT berfirman, “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu shubuh, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada? Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.” (QS. Al ‘Adiyat: 1-11)

1. Bersiap-siaga

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imraan: 200).

Allah memerintahkan kepada setiap mukmin untuk senantiasa bersiap-siaga disertai dengan kesabaran dan ketakwaan kepada-Nya. Sebagaimana kuda perang dalam surah Al-‘Adiyat yang bersiap-siaga berperang menerjang musuh dalam keadaan apapun kapanpun ia dibutuhkan, bahkan ketika pagi-pagi buta sekalipun. Tatkala kaum muslimin pun banyak yang masih tertidur lelap melalaikan shalat subuhnya, sang kuda sudah beranjak menerjang musuhnya. Dan kuda perang adalah hewan yang terlatih.

Bersiap-siaga adalah hal yang tidak mudah dilakukan setiap orang. Ini hanya dapat dilakukan bagi mereka yang terlatih dan melatih dirinya setiap saat. Betapa beratnya bagi mereka yang belum terlatih untuk beranjak meninggalkan aktivitas duniawinya ketika azan berkumandang. Betapa beratnya bagi mereka yang belum terlatih untuk bangun untuk berdiri berucap kasih mesra kepada Rabb-Nya di sepertiga malam terakhir. Betapa beratnya bagi mereka yang belum terlatih untuk menahan nafsu syahwatnya sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari dalam sebulan penuh. Betapa beratnya bagi mereka yang belum terlatih untuk sekadar menghabiskan setengah jam waktunya dalam sehari untuk menamatkan satu juz Al-Quran. Duhai, betapa beratnya bagi diri yang belum terlatih. Maka latihlah diri agar terbiasa dengan perintah dan larangan-Nya. Agar diri tidak gagap kala mendapat tanya di alam kubur.

2. Pemberani

Sang Bijak berkata, “Keberanian tidak akan mempercepat kematianmu, dan takut berperang tidak akan memperlambat kematianmu. Orang yang berjihad akan mati juga orang yang tidak berjihad juga akan mati” Tidak ada jaminan bila kita maju berperang akan mempercepat kematian kita. Tidak ada jaminan pula bila kita bertahan dan berdiam diri justru akan menunda kematian. Keduanya sama saja. Kematian akan menghampiri kita kapanpun dan dimanapun kita berada. Walau kita berada di sebuah gedung tinggi dengan tembok yang kokoh sekalipun.

“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, sekalipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS. An-Nisaa: 78).

Sesungguhnya jawaban orang-orang yang beriman bila mereka dipanggil kepada Allah Subhannahu wa ta’ala dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh.” Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An Nur: 51)

Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa Rasul adalah orang pertama yang berani mendatangi tempat atau sumber bahaya: “Rasulullah adalah orang yang paling baik, paling pemurah, dan paling berani. Pada suatu malam, penduduk Madinah dikejutkan oleh suatu suara, lalu orang banyak keluar ke arah datangnya suara itu. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Rasulullah yang justru sudah hendak pulang (dari suara itu). Rupanya beliau telah mendahului mereka ke tempat datangnya suara itu. Beliau mengendarai kuda yang dipinjamnya dari Abu Thalhah, sambil menyandang pedang.
Beliau bersabda:

‘Sungguh kudapati kuda ini sedemikian kencang larinya bagaikan ombak menggulung lautan. (Dalam riwayat lain: Sungguh kuda ini bagaikan ombak menggulung lautan) Kata Anas (bin Malik): ‘Padahal kuda itu sebelumnya sangat pelan jalannya.’” (HR. Muslim)

Baik dari segi fisik, maupun sikap, pejuang adalah mereka yang memiliki keberanian. Dan sebaik-baik keberanian adalah keberanian membela kebenaran, meski keberanian tersebut akan mengundang pedang membelah lehernya, atau peluru menghujam jantungnya. Poin-poin yang dipaparkan di atas ialah poin-poin yang dimiliki oleh makhluk bernama kuda.

Allah menjelaskan bahwa manusia sesungguhnya bukan makhluk yang lebih baik, jika mereka tidak menyadari akan adanya siksa kubur.
Sampai di sini, baiknya kita renungi sedalam-dalamnya. Apakah kita, sebagai manusia, sebagai khalifah di muka bumi, sebagai makhluk Allah yang tercipta sempurna, lebih baik daripada kuda? Atau hidup kita dapat disamakan dengan kuda? Atau jangan-jangan kita lebih buruk daripada kuda?

(Manhajuna/GAA)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijah

Kemuliaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah telah diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah SWT. berfirman: “Demi fajar, Dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *