Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Kebahagiaan vs Kesenangan
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Kebahagiaan vs Kesenangan

Oleh: Ustadz Satria Hadi Lubis

Manhajuna.com – Banyak orang yang tak tahu perbedaan kebahagiaan dengan kesenangan. Padahal keduanya paradoks dan saling menisbikan satu sama lain. Jika kita ingin bahagia, maka tinggalkanlah kesenangan. Sebaliknya jika ingin senang, maka kebahagiaan sulit diperoleh. Tidak bisa seseorang mendapatkan keduanya, bahagia dan senang pada saat bersamaan.

Dalam bahasa Inggris, bahagia adalah happy atau happiness (kebahagiaan). Sedang kesenangan adalah pleasure atau fun. Jika dalam bahasa Arab, bahagia itu sa’adah atau sakinah. Sedang kesenangan itu syahwat atau mata’. Biasanya al Qur’an menggunakan istilah syahwat atau mata’ untuk hal yg negatif. Misalnya, dalam surah ali Imran ayat 14 : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang disenangi, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

“Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya” (Qs. 3:198).

Setiap anak manusia ketika ditanya, hidup untuk apa? Mereka pasti menjawab untuk mencari kebahagiaan (padanannya mencari ridho Allah, berguna bagi orang banyak, masuk surga, dan semacamnya). Namun apakah benar hidupnya untuk mencari bahagia? Jangan-jangan bukan kebahagiaan yang dicari tapi justru kesenangan yang negatif dan menyengsarakan.

Oleh karena itu agar tidak terjebak pada pencarian semu (yakni mencari bahagia tapi justru malah terperangkap pada kesenangan yg menyengsarakan) mari kita pelajari apa perbedaan antara kebahagiaan dan kesenangan.

  1. Dilihat dari sasarannya. Bahagia itu sasarannya kepuasan hati. Senang sasarannya kenikmatan jasmani.

Bahagia adalah hati yang tenang dan puas. Sedang senang itu letaknya pada kenikmatan jasmani. Misalnya, makan enak itu senang. Tidur di kasur empuk itu senang. Naik mobil mewah yang nyaman itu senang. Tapi sholat khusyu’ itu bahagia. Shaum itu bahagia. Membantu orang lain itu bahagia. Jadi bahagia adalah bahasa hati yang seringkali tidak ada hubungannya dengan kenikmatan jasmani. “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (Qs. 13:28).

  1. Dilihat dari dampaknya. Bahagia itu berdampak pada ketenangan. Senang berdampak pada ketagihan.

Orang yang bahagia akan merasa tenang dan tenteram. Sebuah perasaan yang damai dan merasa puas terhadap apa yang didapat. Tidak menagih dan kecanduan. Sedang senang akan membuat orang yang mengalaminya ketagihan. Ia ingin mengulangi hal tersebut terus menerus, bahkan dengan dosis yang lebih tinggi. Contoh, memakai narkoba akan menyebabkan orang senang dan kesenangan tsb menjadi candu yang menuntut penambahan dosis sampai taraf yang membahayakan dan sulit dihentikan. Begitu juga kesenangan-kesenangan lainnya cenderung membuat ketagihan untuk menambah dosisnya yang berujung kepada kerusakan dan kesengsaraan.

  1. Dilihat dari waktunya. Bahagia itu langgeng (lebih lama). Senang itu temporer.

Bahagia yang dirasakan seseorang biasanya berjangka panjang. Jika pun diulang seperti sholat yang dilakukan berulang-ulang maka hal itu adalah cara seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan jangka panjang. Sebaliknya, senang itu sangat temporer. Contohnya, ketika seseorang berhubungan seksual. Nikmatnya hanya berlangsung singkat. Setelah itu rasa nikmat dan senang itu sudah hilang. Dan harus diulang lagi untuk mendapatkan kesenangan serupa, bahkan kalau bisa menambah dosisnya agar memperoleh efek kesenangan yang sama. Itulah sebabnya saat ini makin banyak penyimpanan seksual yang terjadi karena mereka mencari kesenangan yang menuntut dosis kecanduan yang lebih tinggi lagi.

  1. Dilihat dari faktanya. Bahagia itu belum tentu terlihat nyaman. Senang pasti berupa kenyamanan.

Orang yang bahagia belum tentu hidup kaya raya dan tinggal di alam bebas, tapi bisa juga kebahagiaan diperoleh oleh mereka yang hidup kekuarangan secara materi atau bahkan hidup di dalam penjara seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf as, Nabi Isa as atau bahkan Nabi Ayub as yang terus menerus sakit.

Namun kesenangan pastilah berupa suasana yang nyaman dan enak, seperti tinggal di rumah mewah atau memakai baju yang mahal dan bagus.

  1. Dilihat dari akhirnya. Bahagia berakhir dengan kesenangan dan ketenangan. Senang berakhir dengan kesedihan dan kesengsaraan.

Bagi orang yang mencari bahagia, kesenangan tetap akan diperolehnya tapi di surga kelak sebagai akhir yang baik. Sebaliknya bagi orang yang mengejar kesenangan, maka hidupnya akan berakhir dengan kesedihan dan nanti di akhirat akan masuk neraka sebagai kesengsaraan abadi. Naudzubillah.

Kesimpulannya, mari kita mencari kebahagiaan bukan kesenangan. Prinsipnya, semakin bersenang-senang semakin jauh kita dari kebahagiaan. Sebaliknya, semakin ingin bahagia maka semakin harus menjauhi banyak kesenangan. Bukan berarti kita tidak boleh bersenang-senang, tetapi harus membatasi kesenangan. Persis seperti garam dalam makanan. Sedikit tapi tetap diperlukan. Wallahu’alam.

(Manhajuna/GAA)

(Visited 1.152 times, 1 visits today)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijah

Kemuliaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah telah diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah SWT. berfirman: “Demi fajar, Dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *