Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Ketentuan Shalat Jamak Qashar (Bagian-2)
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Ketentuan Shalat Jamak Qashar (Bagian-2)

Oleh Ustad Abdullah Haidir, Lc.

51. Soal lama menetap sehingga masih dihukumi safar, spt saya katakan, ada perbedaan di antara para ulama.

52. Spt saya katakan, ada sebagian pendapat yg menyatakan tdk ada batasan waktu ttg itu. Kapan saja seseorang niat kembali, maka dia safar

53. Dg demikian, bagi perantau di suatu daerah/negeri yg akan kembli ke kampung halamnnya, maka berlaku baginya hukum safar.

54. Tapi itu salah satu pendapat. Pendapat lain, dan ini yg dikuatkan, bhw lama menetap yg berlaku baginya hukum safar adalah 4 hari.

55. Hal ini didasari pada lama menetap Nabi saw di Mina saat berhaji, yaitu dr tgl 10-13 Dzulhijah. Selama itu beliau shalat qashar.

56. Jadi kalau seseorang safar, lalu menetap di suatu tempat tdk lebih dari empat hari, maka selama itu dia boleh qashar dan jamak shalat.

57. Memang ada riwayat bhw Nabi saw menetap saat Fathu Mekah dn perang Tabuk selama belasan hari dn selama itu beliau shalat qashar.

58. Namun para ulama menyimpulkan bhw hal tsb krn keberadaan beliau di tempat tsb tdk dpt dipastikn masanya, sesuai dg perkembngan kondisi.
abdullahhaidir1 2 days ago

59. Sekarang bagaimana teknis shalat qashar dan jamak? Shalat qashar jamak tdk mesti dilakukan keduanya sekaligus.

60. Kadang lebih utama shalat qashar dn jamak sekaligus. Kadang lebih baik qashar sj tanpa jamak, kadang hnya boleh jamak saja tanpa qashar.

61. Saat seseorang di tengah perjalanan dan belum tiba di tempat tujuan, maka yg lebih utama dia melakukan shalat qashar jamak.

61. Hal ini dgn catatan dia tdk bermakmum kpd imam yg shalat sempurna. Sebab kalau imamnya shalat sempurna, dia mesti ikut shalat sempurna.

62. Shalat qashar jamak sendiri ada dua cara; Yaitu jamak taqdim dan jamak ta’khir. Jamak taqdim adalah melakukannya di waktu pertama.

63. Misal shalt Zuhur Ashar, di lakukan di waktu Zuhur. Atau Maghrib Isya, dilakukan di waktu Maghrib.

64. Sedangkn jamak ta’khir dilakukannya di waktu kedua, mis. Shalat Zuhur Ashar pada wkt Ashar, shalat Maghrib Isya pada wktu Isya.

65. Shalat qashar jamak dilakukan dg sekali azan, jk blm ada azan di tmpt tsb, dan dua kali iqomah.

66. Azan dahulu, lalu iqomah, lalu shalat 2 rakaat hingga salam. Kemdian iqomah lagi lalu shalat lagi 2 rakaat, atau 3 rkaat shalat maghrib.

67. Hendaknya di antara kedua shalat tdk ada jeda yg terlalu panjang, jika sesaat saja krn ada keperluan tdk mengapa.

68. Terkait dg urutan shalat, tetap menggunakan urutan yg berlaku. Zuhur dahulu baru Ashar, Maghrib dahulu baru Isya.

69. Yg agak membingungkan dlm maslaah ini adalah jk kita mau shalat, sdh ada jamaah shalat sedang dilakukan, namun mrk sdh shalat yg kedua?

70. Atau kita tdk tahu, apakah mrk shalat pertama atau kedua? Misalnya di siang hari, kt tdk tahu apakah jamaah tsb shalat zuhur atau ashar.

71. Dlm kondisi spt ini tdk usah bingung, kita bergabung saja shalat bersama jamaah tsb dan niat shlat pertama, zuhur atau maghrib misalnya.

72. Jk ternyata imam shalat yg kedua, hal tsb tidak mengapa. Krn perbedaan niat antar imam dn makmum dibolehkn terjdi dlm kasus tertentu.

73. Hal itu lebih baik daripada kita shalat sendiri atau bikin jamaah baru sehingga ada lebih satu jamaah dlm masjid.

74. Sebelumnya tlah kita bahas kondisi disunahkannya shalat qashar dan jamak sekaligus. Yaitu saat seseorng di tengah perjalanan…

75. Nah, skrang kita bahas, kapan yang lebih baik shalat qashar saja tanpa jamak?

76. Maksudnya, shalatnya dilakukan dg qashar, tapi pada waktunya masing2.

77. Hal ini pabila kondisi seorang musafir telah berada di tempat tujuan, selama keberadaannya 4 hari kurang.

78. Juga dengan catatan jika dia tidak ikut shalat berjamaah dg imam yang shalat sempurna.

79. Misalnya kita camping ke luar kota dlm jarak safar utk 3 hari. Ketika berada di tempat tujuan, maka sunahnya qashar saja tanpa jamak.

80. Kesimpulan ini diambil dari praktek Rasulullah saw saat menetap di Mina. Selama itu beliau qashar saja tanpa jamak.

81. Bagi jamaah haji akan tahu sunah ini selama berada di Mina, yaitu qashar saja tanpa jamak.

82. Namun demikian, jk ada yg melakukan qashar dan jamak sekaligus pada kondisi ini, hal tsb tidak mengapa. Apalagi jk situasinya mendesak

83. Adapun bagi laki2 yg safar jk menetap di pemukiman dn biasa diadakan shalat berjamaah, hendaknya dia ikut shalat berjamaah spt biasa..

84. Spt halnya orang yg umroh di Mekah atau madinah, sebaiknya dia ikut berjamaah di masjid bersama imam dg rakaat sempurna.

85. Kecuali jk imamnya juga qashar shalat, maka dia ikut qashar shalatnya.

86. Thayib. Berikutnya kapan kondisi seseorang boleh jamak shalat tapi tdk boleh qashar shalat?

86. Kondisinya apabila seseorang memiliki alasan jamak selain safar. Sesuai perbedaan pr ulama yg ada. Lihat point no 29 ke bawah….

87. Dalam hal ini saya lebih condong dg pendapat mazhab Hambali yg cukup luas dlm masalah jamak shalat.

88. Maka, jk seseorang punya alasan jamak shalat selain safar, dia boleh jamak saja tanpa qashar.

89. Misal saat hujan deras bagi jamaah shalat di masjid. Atau saat musafir tlh tb di kampungnya semntara dia belum shalat dua waktu…

90. Atau seseorang mengalami kesibukan darurat yg sulit ditinggalkan dan tdk dpt digantikan org lain. Ini tentu kasuistik sifatnya….

(Habis)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

“Virus” yang Mengancam Jama’ah Haji

Oleh Ust. Abdullah Haidir, Lc. Manhajuna – Siapa yang tak senang mendapatkan kesempatan beribadah haji? Mimpi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *