Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Wawasan / Kiat-Kiat Berbahagia Ketika Bergaji Kecil
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Kiat-Kiat Berbahagia Ketika Bergaji Kecil

Oleh : Ummu Kayzha

gajiManhajuna.com – Di suatu hari yang cerah, terjadi percakapan ‘guyonan’ antara dua ibu rumah tangga yang berdomisili di Riyadh Saudi Arabia, sebutlah namanya fulanah 1 dan fulanah 2..

 Fulanah 1: “Bu, tahu engga kemarin kan saya belanja di supermarket, sekarang harga-harga sembako pada naik ya? Harga pada merangkak naik, tapi isi dompet tetap bahkan cenderung meramping aja niy…..Da Aku Mah apa atuh bu..bak  remahan Regal sahaja…”.

*dengan ekspresi muka datar cenderung pasrah Tak berdaya

 Fulanah 2 :“Iya..betul bu,..telor  awalnya 13 SR naik jadi 15 SR mana imut-imut lagi, daging ayam naik, daging sapi, buah, sayuran, belum lagi diapers, susu anak-anak…aduuuh lama-lama puyeng pala berbie niy aye..

*Sambil geleng-geleng kepala menirukan gaya berbie kepusingan

“ Tapi untungnya, selalu ada aja diskonan disini mah ya bu, apalagi menjelang ramadhan ini..kita ubek-ubek aja yang lagi diskon, menyusuri satu mall ke mall yang lain, bergerilya dah jadi prajurit pemburu diskon, kaki gempor juga dijabanin..lumayan ngebantu banget, jadinya perekonomian keluarga kite aman terkendali ya bu….Alhamdulillaaah..”

*Menarik nafas, sambil ngelus dompet kesayangan yang dibelinya sejak masih dibangku kuliah dulu

Fulanah 1, “Aaaah..tenang saja, gaji suamimu kan gede bu..kalau gaji suamiku besarannya “lima belas koma lho bu”

“O..ya..lumayan gede dong bu,dapat segitu apalagi dirupiahkan ”…timpal ibu fulanah 2

Engga…maksudnya habis tanggal 15 langsung koma, ada alarmnya bu..tiit..tiit..tiitcekiiiit…siap-siap ikat pinggang kite niy kalo mau cekak..soalnya Gaji bulan depan masih lama datangnya….

*sembari tertawa ngikik

 Fulanah 2, “Hehehe. .ada-ada aje..lima belas koma..sama aja kok bu..,gaji suamiku juga…alhamdulillah kate orang mah, maaf-maaf niy ye ibarat  “Siklus Menstruasi”. datangnya sebulan sekali, belum nyampe tiga puluh hari,  tujuh hari sudah bersih lagi..ga jelas menguap kemana aja…hehehe

*mereka berduapun tertawa dengan renyahnya

Alhamdulillah sebenarnya ga gitu-gitu amat siy, lebay deh kite ..masih bisa ibadah dengan khusu itu rejeki yang tidak ternilai, sehat, masih bisa sedekah, ngasih orang tua dikampung, bisa nabung diempet-empetin buat masa depan, seberapa banyakpun gaji suami yang penting kita terima dengan hati ikhlas, senang,  biar suami-suami kita juga seneng dan tambah semangat kerjanya, disyukuri, dinikmati, walau sedikit tetapi berkah dan yang paling penting sumbernya halal ya bu…”sambung fulanah 1, “Betul, betul, betul.”timpal fulanah 2 *bergaya upin ipin. Kitanya aja yang harus kreatif mengelolanya ya bu..!

Percakapaanpun berakhir dengan saling menguatkan dan memotivasi..seolah menguapkan sejenak beban-beban harga yang naik turun dimusim panas ini..

Yups...Gaji bagi orang yang sudah berkeluarga bisa diibaratkan jantung kehidupan. Walau dalam kenyataan tidak semua orang memiliki gaji tetap seperti pekerja serabutan tetapi setiap keluarga  memerlukan sumber dana untuk keberlangsungan hidup.  Dengan gaji tersebut, seseorang bisa membiayai berbagai macam pengeluaran hidup, makanan, minuman, tempat tinggal, biaya sekolah anak, air, listrik, transfortasi dan sebagainya.

Bagi yang bergaji ‘besar’ (melampaui kebutuhannya) semua itu tidaklah menjadi masalah, tapi bagi yang bergaji kecil (pas-pasan cenderung kurang) perlu pengelolaan yang cermat agar bisa terpenuhi semua kebutuhan hidupnya. Besar atau kecil, gaji seseorang sangat relatif, tidak bisa disamaratakan, karena standar hidup setiap keluarga berbeda-beda. Ada yang merasa gaji 2000SR besar, ada yang merasa sedang, bahkan ada yang merasa sangat kecil. Begitupun 30.000SR itu sangat besar bagi sebagian orang tapi bagi sebagian lain itu kecil. Semua tergantung cara pandang, rasa syukur, qana’ah, gaya hidup, kebutuhan ril setiap keluarga, jumlah anggota keluarga dan lain sebagainya

Nah, sekarang bagi kita yang merasa gajinya tidak sesuai dengan kebutuhan keluarganya, bagaimana kita bisa berbahagia dengan gaji yang kecil atau dirasa kecil. Ada beberapa kiat yang bisa dilakukan. Penulis merangkum beberapa kiat-kiat dari keluarga yang survive dengan gaji terbatas, diantaranya:

  1. Memiliki Sikap syukur dan Sabar. Sebagaimana termaktub dalam hadist yang sangat masyhur, pedoman bersikap dalam kehidupan didunia yang fatamorgana ini..

Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” Maka dalam mengelola keuangan, terutama masalah per-gajian ini, diperlukan kedua sifat ini yakni bersabar ketika penghasilan dibawah standar kebutuhan dan bersyukur ketika penghasilan lebih dari standar kebutuhan sehari-hari.

  1. Memiliki Pemikiran kreatif. Kreatif dalam mengelola sumber daya yang terbatas untuk kebutuhan yang tidak terbatas. Kreatif dalam mencari alternatif pengganti, yang penting fungsinya sama. misal, Kalau ada Hand phone dengan kapasitan dan fitur yang lengkap namun merknya tidak terkenal tapi harga murah..ndak apa memilih yang tidak terkenal harganya murah tapi fungsinya sama dan bandel, ndak usah gengsi tidak memiliki hp merk terkenal yang diincar banyak orang, uang lebihnya kan bisa dipergunakan untuk kepentingan lain yang lebih bermanfaat. Lebih baik pakaian tidak bermerk, gadget  standar, kontrakan sederhana, makanan ala kadarnya, tapi rumah idaman dinegeri tercinta sudah mulai dibangun atau investasi buat masa tua sudah mulai dirintis dari menyisihkan uang kebutuhan sehari-hari itu.
  2. Membuat Strategi finansial terutama budgeting, membuat perencanaan keuangan sedemikian rupa, strategi kita harus istimewa, pengelolaan keuanganpun harus spesial agar bisa terpenuhi semua kebutuhan, agar keberlangsungan hidup terus berjalan, misal, dirinci dan dihitung-hitung apakah membawa bekal kekantor lebih murah dan sehat,  daripada jajan diluar, berbelanja eceran atau grosiran dan trik2 lain yang disesuaikan kondisi dan kemampuan tiap-tiap keluarga.
  3. Pemikiran strategis terhadap prioritas, selalu mendahulukan kebutuhan paling penting dan genting yang dikeluarkan serta berusaha menimbang-nimbang untuk mengutamakan kebutuhan dan menunda keinginan. Ketika membeli sesuatu harus senantiasa difikirkan apakah barang ini kita butuhkan atau hanya kita inginkan saja??
  4. Complain handling (Bersikap tegar mendengar semua keluhan) terutama dari istri dan anak, bersiap untuk menebalkan telinga setiap ada rengekan keinginan dari anak2, keluhan dari istri, berasa berat tapi kita harus tegas dan  lapang dada kalau posisi keuangan kita sedang mepet, biasakan berdiskusi dan mencari alternatif lain agar anak atau istri tidak kecewa..misal anak rengek ingin mobil-mobilan, kenapa tidak membuat prakarya bersama mobil-mobilan dari barang-barang bekas, selain mempererat hubungan antara semua anggota keluarga juga bisa menumbuhkan sikap dan sifat kreatif pada anak-anak. Keterbatasan finansial bukan suatu masalah, tapi ia bisa menjadi kunci untuk berfikir kreatif dan inovatif.
  5. Kemampuan menunda kesenangan, Sifat dan sikap untuk menunda kesenangan harus senantiasa diasah. Misalkan kita berniat untuk membangun rumah, disisi lain anak-anak ingin bertamasya keluar kota, membeli gadget keluaran terbaru, makan-makan direstoran terkenal, kita berusaha untuk bisa menunda semua kesenangan itu, uang bulanan kita sisihkan untuk rumah, keinginan yang ecek-ecek yang lain ditunda dulu. Berusahalah Menunda kesenangan sesaat untuk kebermanfaatan yang lebih besar dikemudian hari.
  1. Menghilangkan rasa malu, kadang kalau kita terus melihat dan merasa ‘rumput tetangga’ selalu kelihatan lebih hijau dari rumput dihalaman sendiri. Menjadikan rasa minder, malu dan tidak percaya pada diri sendiri. Akhirnya ambil kredit mobil-lah, kredit furniture-lah sampai kredit panci agar bisa seperti orang lain.Maka belajar untuk tebal muka, menyimpan rasa malu dan minder lebih baik daripada terus menerus dikejar-kejar keinginan terhadap dunia yang tidak pernah terpuaskan.  Camkan terus dalam diri bahwa dihadapan Allah ketakwaan yang dinilai bukan kepemilikan harta bendanya. Simpanlah malu pada tempat semestinya, malu kepada Allah, malu jika berbuat maksiat, malu jika jarang ke mesjid, malu jika tidak memakai hijab,jauh lebih baik daripada malu tidak punya mobil bagus dan gadget tercanggih.
  1. Merinci anggaran, setiap pemasukan dan pengeluaran semestinya ada catatannya..misal sisihkan untuk kewajiban terlebih dahulu,,seperti bayar hutang, bayar kreditan, SPP anak-anak, sedekah dan tabungan. Sisanya baru untuk kebutuhan pokok sehari-hari seperti beras, lauk pauk, bahan bakar, listrik, air, dll; kemudian memisahkannya. Ada yang menggunakan sistem amplop per pengeluaran, atau bisa sesuai dengan kebiasaan masing-masing keluarga. Meskipun sedikit, upayakan untuk menabung. Paling tidak, untuk keperluan yang datang tidak terduga.Prinsipnya sisihkan uang untuk tabungan terlebih dahulu, jangan menunggu menabung kalau ada sisa.
  2. Menghilangkan kebiasaan jajan pada anak-anak. Kebanyakan jajanan sekarang gizinya rendah serta dikhawtirkan adanya penambahan zat-zat yang tidak sehat untuk dikonsumsi. Ibu harus membiasakan anak dengan makanan-makanan yang bergizi tinggi. Dengan asupan gizi yang baik, kondisi keluarga akan lebih sehat, tidak mudah sakit, kuat berpikir, dan mampu beraktivitas dengan baik. Misalnya, dengan uang 1 SR, lebih baik anak dibelikan susu dari pada snack jajanan anak-anak. Makanan alami lebih sehat daripada makanan instant olahan pabrik. Buat makanan ala bento yang menarik anak-anak, disekolah anak-anak sering jajan apa coba ditiru dibikin dirumah sebagai alternatifnya, makanan kesukaan anak-anak apa, cobalah Ibu membuatnya bersama anak-anak, mereka akan belajar arti proses dan perjuangan, sehingga bisa menghargai setiap proses itu, bisa mengetahui kandungan bahan-bahan yang dimakannya, dan mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang tidak bermanfaat untuk tubuh dari bahan-bahan makanan yang dikonsumsi dan anak-anak akan selektif terhadap apa yang masuk ke mulutnya.
  3. Terampil mengolah menu hidangan yang sehat dan hemat. Keahlian mengolah makanan sangat penting dipelajari oleh ibu (dan calon ibu), selain menghemat pengeluaran juga membentuk kebiasaan semua anggota keluarga agar tidak suka jajan sembarangan diluar. Kalau sudah kenyang makan dirumah, biasanya enggan jajan diluar. Masakan yang dimasak oleh tangan seorang ibu lebih bernilai cinta yang tidak akan ternilai harganya mengalahkankan buatan chef restoran terkenal sekalipun.
  4. Memilih tempat berbelanja yang murah, berdiskon, untuk menekan anggarannya. Seperti dialog dua ibu prolog artikel ini, maka harus mau berlelah-lelah mencari tempat yang menjual barang dengan harga yang lebih rendah. Cape pastinya menjadi prajurit pemburu diskon, tapi in syaa Allah fisik jadi sehat karena banyak jalan, dompetpun tidak mengalami kanker(kantong kering) stadium tinggi.

Selamat berbahagia dengan terbatasnya gaji yang dimiliki, dinikmati bersama keluarga tercinta dengan rasa syukur dan ikatan cinta antara semua anggota keluarga.

Uang bukan segalanya..tapi segalanya bisa jadi berasal dari uang..yang penting adalah letakan uang pada tempatnya.. ditangan atau di Bank..jangan pernah meletakannya dihati.

(Manhajuna/HRJ)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Indikasi Sukses Ramadhan

Oleh: Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA Manhajuna.com – Ramadhan merupakan salah satu momentum paling istimewa dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *