Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Wawasan / Kiat Meningkatkan Daya Ingat
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Kiat Meningkatkan Daya Ingat

Oleh: Janwar Nurdin, MSc *)

Daya ingat (memori) adalah bagian dari kemampuan mental untuk mendapatkan kembali informasi yang pernah didapat atau dialami. Proses ini meskipun terkesan sederhana namun melibatkan kompleksitas tingkat tinggi di sejumlah bagian otak yang bekerja dengan cara yang berbeda-beda di antara jutaan sel yang diaktifkan oleh neurotransmitter. Secara garis besar daya ingat dapat dibedakan menjadi daya ingat jangka pendek dan jangka panjang. Dalam ingatan jangka pendek, fikiran menyimpan informasi dalam beberapa detik atau beberapa menit. Hal ini kita alami misalnya saat menekan tombol telepon sesaat setelah membaca nomor yang akan dipanggil, atau saat membanding-bandingkan harga di supermarket. Sedangkan ingatan jangka panjang didapatkan dari pengumpulan informasi melalui aktifitas tertentu, informasi yang bermakna secara pribadi (misalnya nama anggota keluarga, tanggal pernikahan), informasi yang sangat diperlukan (misalnya syarat lamaran kerja), informasi yang sangat mengesankan jiwa (misalnya hari wafatnya orang tua, cuplikan film yang sangat mengharukan) atau informasi yang disimpan otak dari aktifitas rutin misalnya rute jalan menuju ke tempat kerja, bacaan yang selalu diulang-ulang dalam shalat dan lain-lain.

Daya ingat dapat diperkuat dengan sejumlah kiat dan teknik penguatan memori. Teknik mengingat yang baik adalah dengan merekam informasi sejalan dan tidak berlawanan dengan cara otak bekerja. Otak manusia sangat cepat dan mudah mengingat hal-hal yang bersifat khayalan aneh, berwarna-warni, melibatkan lebih dari satu panca indera, lucu, emosional, berirama, terangkai dan berurutan, melibatkan tindakan aktif serta gambar tiga dimensi. Jika metode yang digunakan sejalan dengan cara otak bekerja maka hal itu akan berfungsi efektif dalam menyerap dan menyimpan informasi.

Mengingat atau Memahami

Sebelum menyimpan informasi ke dalam otak, hal yang perlu di pastikan adalah apakah yang kita inginkan lebih cenderung pada pemahaman tanpa perlu mengingat secara terperinci atau sebaliknya kita ingin mengingat kata demi kata. Jika yang diinginkan lebih cenderung pada aspek pemahaman, maka hal ini dapat diefektifkan dengan sejumlah alat bantu seperti gambar, skema, table, peta pikiran yang dapat menggambarkan hubungan antar sesama informasi tersebut. Namun jika yang ingin dilakukan adalah menyimpan informasi rinci kata demi kata atau angka demi angka maka kita dapat memanfaatkan cara kerja otak yang menyukai hal-hal sebagaimana disebutkan di atas misalnya dengan menggubah syair, singkatan, sajak, cerita, khayalan aneh dan seterusnya. Kiat ini dikenal dengan istilah alat bantu mnemonic di mana dengan bantuan syair, cerita, sajak dan seterusnya itu kita merangkai informasi yang ingin diingat baik berupa angka, rumus, nama, kata yang asalnya tidak ada kaitan menjadi sebuah rangkaian unik tertentu.

Perlu disadari bahwa proses memahami sering menjadi cara terbaik untuk mengingat dan menghafal, sedangkan menghafal tidak selamanya memberi dampak mempermudah proses memahami.

Gaya Belajar

Selain jenis informasi yang akan disimpan, hal kedua yang perlu diperhatikan adalah gaya belajar seseorang. Seseorang memiliki gaya belajar sesuai dengan jenis indera yang cenderung dilibatkan. Ada yang cenderung menyimpan informasi dengan cara membaca, mendengar, memikirkan, mempraktekkan, mengucapkan bahkan dengan mengajarkan lagi kepada orang lain. Yang jelas setiap orang memiliki keunikan dan tentu saja, semakin banyak indera yang dilibatkan akan meningkatkan efektifitas gaya belajar seseorang.

Para ahli mengelompokkan gaya belajar dalam tiga kelompok besar meskipun terkadang ditemui irisan antar kelompok tersebut yakni kelompok tipe pengamat, tipe pendengar dan tipe peraba. Orang dengan tipe pengamat cenderung menggunakan alat bantu bergambar, skema dan catatan rinci dari informasi yang akan diserap. Tipe ini akan merasa lebih nyaman mengoptimalkan kerja otaknya dalam sebuah tempat yang suasananya tenang tanpa suara-suara yang mengganggu. Gaya pendengar sesuai dengan namanya cenderung melibatkan indera pengucapan dan pendengarannya serta menggunakan analogi-analogi verbal (ungkapan). Mereka cenderung menggunakan alat perekam suara dalam rangka menyerap informasi dengan lebih baik. Sedangkan tipe peraba cenderung melibatkan indera selain penglihatan dan pendengaran dalam proses pembelajaran. Orang dengan tipe ini ditandai dengan kecenderungan pada praktek langsung dan ketidaknyamanan dengan kegiatan belajar dalam ruangan.

Teknik Menghafal

Berikut ini sejumlah kiat dan teknik menghafal yang tiap orang memiliki tingkat kecocokan yang berbeda-beda sesuai dengan gaya belajarnya.

Kalimat Akrostik
Susun kalimat unik dan aneh yang mudah kita ingat dengan menggunakan huruf pertama dari hal-hal yang ingin diingat. Dalam dunia pendidikan kita, cara ini dikenal juga dengan istilah “Teknik Jembatan Keledai“. Contoh yang sudah cukup dikenal dalam teknik ini misalnya, untuk menghafal huruf-huruf qalqalah dalam pelajaran tajwid digunakan singkatan QUTUBUNJADID (singkatan dari huruf Qaf, Ta‘, Ba‘, Jim dan Dal). Prinsip yang dipakai di sini adalah semakin aneh dan menarik kalimat atau singkatan yang dibuat akan semakin mudah pula untuk mengingatnya. Maksimalkan daya imajinasi dan kretifitas kita untuk menemukan kalimat aneh yang akan memudahkan otak menyimpannya.

Singkatan
Singkatan dibentuk dengan mengkombinasikan huruf awal dari sekelompok kata sehingga membentuk kata baru yang mudah diingat. Teknik ini lebih mudah dari pada Teknik Kalimat Akrostik namun kekurangannya tidak terlalu membekas dalam ingatan jika kata baru hasil singkatan tidak memiliki arti. Kekurangan lain dari teknik singkatan adalah hanya membantu dalam menghafal namun tidak membantu dalam memahami apa yang dihafal.

Sajak, Syair dan Irama
Irama, pengulangan, syair dan sajak dapat membantu hafalan. Kita menemukannya pada anak kecil yang lebih cepat menghafal huruf hijaiyah dan alphabet dengan bantuan lagu atau bahkan sekedar meminjam iramanya misalnya irama nyanyian “Twinkle, Twinkle, Little Star“ untuk membantu anak-anak menghafal dari A sampai Z dalam bahasa inggris. Seperti teknik-teknik sebelumnya, teknik ini juga menekankan pada hafalan semata bukan pada pemahaman.

Istana Ingatan
Teknik ini bisa jadi yang pertama dikenal dalam sejarah. Disebut juga dengan Teknik Loci (Loci adalah bentuk jamak dari Locus yang artinya lokasi atau tempat) atau Teknik Penjelajahan. Cara menggunakan teknik ini adalah menghubungkan dalam fikiran antara bangunan atau ruangan yang akrab dengan keseharian kita dengan informasi yang akan diingat. Misalnya bayangkan Anda berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain atau dari satu bagian ke bagian ruangan yang lain dalam rumah Anda. Sepanjang rute yang Anda lalui tandai dalam ingatan daftar tempat yang digunakan untuk menghafal informasi. Tempat atau loci tersebut bisa berupa pintu, kasur, dapur, jendela, kamar tidur, kamar mandi, garasi atau jok kursi mobil. Tempat-tempat tersebut hendaknya yang mudah dijangkau dari yang satu ke yang lain sekiranya Anda sedang berada di rumah. Sekarang hubungkan antara daftar informasi yang ingin diingat dengan tempat-tempat yang telah Anda kenal dengan baik tersebut. Di sini juga berlaku prinsip semakin kreatif dan aneh cara Anda menghubungkan, semakin baik. Misalnya Anda ingin mengingat daftar belanjaan: bayangkan Anda bangun tidur mendapati sekaleng raksasa susu kental di kasur, kemudian saat ke kamar mandi menemukan apel sedang mandi, kemudian di dapur ada ayam kalkun sedang memasak sarapan, sekaleng es krim telah siap dengan sabuk pengaman dan kacamata hitam telah menunggu di jok mobil, dan seterusnya. Teknik ini adalah yang lazim digunakan dewasa ini dalam kompetisi-kompetisi memori tingkat dunia.

Kepingan Informasi
Teknik ini berguna khususnya dalam mengingat deretan panjang angka meskipun bisa saja diterapkan untuk mengingat informasi lain. Ide dasarnya adalah rumus umum bahwa seseorang dengan ingatan jangka pendeknya hanya mampu mengingat antara 5 hingga 9 hal atau rata-rata 7 hal dalam satu waktu. Itu pula sebabnya nomor telepon lokal umumnya terdiri atas 7 angka. Untuk menghafal nomor telepon 4831996 misalnya, kita bisa memecahnya menjadi dua kelompok 483 dan 1996. Dua kelompok ini disebut juga dengan dua keping informasi. Teknik ini sangat mudah dilakukan jika kepingan informasi yang dibuat memiliki makna tertentu atau akrab dengan kita seperti contoh 1996 di atas.

Manfaatkan Waktu Prima
Waktu prima adalah saat-saat di mana otak dan tubuh kita dalam kondisi bugar sehingga dapat menyerap informasi dengan efektif. Waktu prima umumnya kita miliki setelah fajar menyingsing atau beberapa jam di akhir malam menjelang subuh. Waktu prima ini sangat efektif untuk menyerap informasi bagi otak kita dan mengoptimalkan daya ingat kita.

*) www.jnurdin.net

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Indikasi Sukses Ramadhan

Oleh: Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA Manhajuna.com – Ramadhan merupakan salah satu momentum paling istimewa dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *