Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Kisah Investasi Kecil-Kecilan
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Kisah Investasi Kecil-Kecilan

Oleh Ust. Abdullah Haidir, Lc.

 

Manhajuna – Hanya ingin sekedar berbagi, tidak bermaksud membangga2kan, kali aja ada yang bermanfaat.

Ceritanya, sekitar 10 tahun yang lalu setelah 4 tahun kerja di Saudi, saya baru bisa pulang bersama keluarga. Tahu ga, berapa saya bawa uang? Cuma 17 juta saja! Jangan tanya deh, kenapa saya cuma bawa uang segitu kerjadi negeri petro dollar. Alhamdulillah alaa kulli haal

Uang segitu, untuk cuti tiga bulan, sekedar untuk jalan-jalan saja barangkali tidak cukup. Beruntung waktu itu anak-anak masih kecil. Jadi di ajak jalan-jalan ke Taman Mini saja sudah seneng mereka, he2. Saya sendiri tidak memiliki rencana macam-macam saat liburan. Namun isteri bersikeras agar ada sesuatu yang dihasilkan dari liburan ini. Akhirnya kami diskusikan, maka ide membangun rumah petakan untuk dikontrakkan akhirnya diputuskan.

Ada tanah luas sekitar 70m di pinggir rel kereta dekat stasiun depok milik mertua. Berkat diplomasi isteri, mertua bersedia menjual tanahnya dengan cara dihutang (mertua teladan ini mah..he2). Sisa uang cash yang ada rencananya akan digunakan untuk membayar tukang bangunan. Lalu bagaimana mendapatkan bahan bangunannya? Alhamdulillah, Allah kasih jalan. Ada kerabat isteri yang menjual bahan bangunan berbaik hati memberikan semua kebutuhan bahan bangunan dengan sedikit uang muka, sisanya dibayar kemudian, alias hutang lagi.

Singkat cerita, dimulailah “megaproyek” tersebut. Akibatnya sebagian waktu liburan saya jadi sibuk mondar mandir lihat proses pembangunan dan memenuhi segala kebutuhan. Karena itu memang daerah ramai, sejak dibangun pun sudah ada yang berminat untuk mengontrak. Singkat cerita, waktu cuti kami habis, rumah petakan mungil 4 pintu tersebut nyaris selesai. Ketika kami kembali ke Saudi, rumah tersebut sudah mulai disewakan.

Setelah di Saudi, kami tinggal bekerja keras mengembalikan utang kepada mertua dan kerabat penjual bahan bangunan. Lumayan berat untuk ukuran saya dengan gaji pas-pasan, maka kami berusaha hidup sehemat mungkin (moga bukan bakhil). Namun Allah maha pemurah, selalu saja ada jalan untuk melunasinya. Selain itu uang hasil kontrakan juga sangat membantu proses pelunasannya. Kalau tidak salah ingat, dalam waktu dua atau tiga tahun semuanya lunas, baik tanah maupun bangunannya.

Meskipun pemasukan dari rumah kontrakan tersebut tidak seberapa, namun kami rasakan sangat membantu memenuhi kebutuhan “dalam negeri” hingga sekarang.. Di samping itu resiko kerugian, bangkrut atau kehilangan aset jauh lebih minim dibanding usaha lainnya.

Beberapa pelajaran dari catatan ini:

1. Saat cuti atau liburan, upayakan memikirkan investasi yang dapat dilakukan, jangan hanya puas menghabiskan penghasilan kerja di LN untuk sekedar bersenang-senang saja.
2. Investasi semakin efektif jika dilakukan sedini mungkin, misalnya masih bujang atau anak-anak masih kecil. Investasi juga efektif kalau kita masih memiiki penghasilan tetap diluar usaha investasi tersebut.
3. Keterlibatan isteri sebagai pendamping dan teman diskusi cukup besar pengaruhnya, bahkan bisa jadi sangat menentukan.
4. Investasi lebih baik ditangani langsung ketimbang dilimpahkan ke orang lain, kecuali jika benar-benar dapat dipegang amanahnya.
5. Dalam berinvestasi jangan hanya tergiur dengan keuntungan besar, tapi juga faktor keamanan, keterjangkauan dan kemungkinannya. Jelas lebih baik hasil sedikit tapi riil dan kontinyu, daripada hasil menggiurkan namun hanya angka-angka saja dan kemudian lenyap tak berbekas.
6. Berinvestasi dengan benda tak bergerak seperti properti, lahan tanah, sawah ladang, tampaknya lebih cocok bagi para perantau yang tidak dapat setiap saat memantau investasinya.
7. Berhutang untuk hal-hal yang produktif, sepanjang logis dan memiliki mental kuat utk melunasi, justeru bernilai positif dalam membentuk pola hidup produktif, terarah dan efisien.
8. Berinvestasi sebagai langkah awal, sebaiknya sesuai dengan potensi diri dan potensi di sekitar daerah kediaman.
9. Kesungguhan melakukan suatu usaha biasanya akan membuka jalan-jalan yang sebelumnya tak terbayangkan. Jadi, jangan nunggu peluang, baru semangat usaha, tapi semangatlah berusaha, peluang itu akan terbuka, insya Allah.

Moga Allah Ta’ala melimpahkan rizki yang halal dan cukup buat kita semua…

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Haji dan Perubahan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc. Watak dasar kehidupan adalah adanya perubahan. Tidak ada perubahan, berarti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *