Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Lembutnya Nabi Kepada Buah Hati
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Lembutnya Nabi Kepada Buah Hati

Oleh Ust. Hakimuddin Salim, Lc. MA.
Suatu hari Nabi Muhammad SAW mencium cucunya di hadapan Al-Aqra’ bin Habis, seorang pembesar Bani Tamim. Maka Al-Aqra’ berkata, “Aku memiliki sepuluh anak, namun tidak ada satu pun dari mereka yang kucium”. Kemudian Rasulullah SAW memandangnya, lalu bersabda, “Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi” (HR. Bukhari Muslim).

Kala itu di kalangan bangsa Arab mencium anak kecil bagi seorang lelaki adalah suatu hal yang aneh, bahkan dianggap mengurangi wibawa kelelakian. Lalu Nabi SAW datang menghapus anggapan ini dan menegaskan betapa Ar-Rifq (lembut penuh kasih sayang) adalah sifat yang harus dimiliki setiap Mukmin. Beliau menekankan, “Man lam yarham laa yurham”, siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.

Dalam konteks parenting, sikap lembut penuh sayang kepada anak menjadi sangat penting untuk dimiliki para orang tua dan pendidik, atau siapa pun yang memiliki interaksi intens dengan anak-anak, karena sikap itu akan sangat berpengaruh terhadap kepribadian sang anak dan akhlak interaksinya dengan orang lain ketika dewasa nanti. Kata-kata Rasulullah SAW di atas secara ma’nawi dan tarbawi bisa saja dibalik: “Man lam yurham laa yarham”, siapa yang tidak pernah disayangi, maka akan sulit baginya untuk menyayangi.

Itulah mengapa dalam beberapa fragmen kehidupan Rasulullah SAW kita dapatkan betapa lembut dan dalamnya sayang beliau kepada anak kecil, yang di antaranya terwujud dalam sikap egaliter dan tidak kaku untuk bercanda dengan buah hati. Seperti kisah beliau dengan sang putri yang bernama Zainab, bagaimana beliau sering bercanda dan berulang kali memanggilnya dengan panggilan sayang, “Ya Zuwainab, Ya Zuwainab”, yang berarti Zainab kecil. (Shahih Al-Jami’ 5-25)

Kelembutan dan kasih sayang beliau kepada anak-anak tidak terhalang oleh batas-batas hukum fiqih, sehingga beliau pernah mengerjakan shalat sambil menggendong Umamah kecil, putri Zainab dari suaminya yang bernama Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’. Pada saat berdiri, beliau menggendongnya dan saat sujud, beliau meletakkannya. (HR. Bukhori Muslim)

Hal itu lebih gamblang lagi dalam kisah beliau bersama cucu yang lain, yaitu Hasan bin ‘Ali. Suatu hari Hasan naik ke atas punggung Nabi SAW ketika sedang ruku’, padahal beliau sedang memimpin sholat berjamaah. Sebagai imam, Nabi SAW tetap tenang, hingga satu, dua, tiga menit berlalu Hasan tak mau beranjak dari punggung Nabi. Mungkin dalam pikiran Hasan, itu sebuah kesempatan bermain kuda-kudaan dengan kakeknya.

Para jamaah yang berada di belakang Nabi tentu mulai heran, “Mengapa kok ruku’ Nabi selama ini?”, tanya mereka dalam hati. Tapi Nabi SAW tetap tidak panik, apalagi menurunkan dan memarahi cucu tersayang. Hasan dibiarkan berada di pungung nabi sesuka hatinya dan Nabi SAW tetap khusyu memimpin sholat.

Untunglah Hasan segera turun dari punggung Nabi untuk bermain bersama Husain. Setelah hasan turun dari punggung Nabi, Rasulullah pun bangun dari ruku’nya yang lama, berdiri tegak dari ruku’ dilakukan dengan sempurna. Kemudian jamaah pun mengikutinya serentak.

Namun ketika sujud, gantian Husain yang dari tadi berada di sekitar Nabi naik ke atas punggung beliau. Bagi Husain yang masih kecil, posisi Nabi pada saat sujud merupakan kesempatan yang tepat untuk menjangkau punggung orang tercinta itu. Husain pun menikmati hangatnya punggung Nabi, hingga ia betah berlama-lama di atasnya.

Rasulullah SAW tak bergeming sedikit pun, ia tetap dalam keadaan bersujud, enggan melerai Husain dari punggungnya. Mungkin Nabi takut mengecewakan Husain yang sedang bermain di atas punggungnya, atau mungkin takut ia terjatuh. Saking lamanya Nabi bersujud, para sahabat sampai khawatir terjadi sesuatu dengan beliau. Bahkan ada di antara mereka yang mengangkat kepala dari sujud untuk melihat apa yang terjadi.

Setelah merasa puas berlama-lama di punggung kakeknya, Husain segera turun. Nabi pun bangkit dari sujud untuk melanjutkan sholatnya. Atas kejadian tersebut, para sahabat mengira nabi akan marah kepada Hasan dan Husain. Tapi ternyata setelah salam Nabi bersikap biasa, tanpa ekspresi kemarahan atau kekesalan atas “gangguan” yang dilakukan kedua cucunya.

Kasus yang hampir sama juga pernah terjadi saat Rasulullah SAW sedang berkhutbah. Di tengah khutbah, tiba-tiba Hasan datang menghampiri. Anak kecil itu pun naik ke atas mimbar. Bukan menghalau atau mengusirnya, justru Nabi SAW dengan penuh kelembutan memeluknya dan mengusap kepalanya seraya berdoa, “Anakku (cucuku) ini adalah seorang pemimpin,mudah-mudahan kelak melalui tangannya, Allah SWT akan mendamaikan antara dua kelompok besar dari kaum Muslimin.” (HR. Imam Ahmad)

Bahkan posisi Nabi SAW yang sangat terhormat sebagai utusan Alloh dan pemimpin negara waktu itu tak mengurangi kelembutan dan keakraban Rasulullah SAW dengan anak kecil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Salamah bin Akwa’ yang ketika itu menuntun keledai Rasulullah SAW, bahwa beliau menaiki keledai tersebut bersama Hasan dan Husain. Satu ada di depan dan satunya duduk di belakang. (HR. Muslim)

Abu Hurairah juga menceritakan, bahwa Rasulullah SAW pernah menjulurkan lidahnya (melet), bercanda dengan Hasan dari kejauhan. Hasan pun melihat merah lidah beliau, lalu segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira. Terbayang kah ini dilakukan oleh seorang pemimpin negara, sang panglima perang penakluk jazirah Arab seluruhnya?

Kelembutan dan kasih sayang Rasulullah SAW ternyata tidak hanya dirasakan oleh putra-putri dan cucu-cucu beliau saja, tetapi juga tercurah kepada segenap anak-anak kaum Muslimin di waktu itu. Seperti Usamah bin Zaid belia yang pernah dipangku di salah satu paha Nabi SAW, kemudian Hasan datang belakangan dipangku di paha beliau yang lain. Sembari memeluk keduanya, beliau bersabda, “Ya Allah, sayangilah keduanya. Sesungguhnya aku menyayangi mereka berdua.” (HR. Bukhari)

Seperti juga anak-anak Ja’far bin Abi Thalib ketika bapak mereka gugur di medan Jihad, sebagaimana penuturan Asma’ binti ‘Umeis: “Rasulullah SAW datang menjengukku, beliau memanggil putra-putri Ja’far. Aku melihat beliau mencium mereka hingga menetes air mata beliau. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah telah sampai kepadamu berita tentang Ja’far?” beliau menjawab: “Sudah, dia telah gugur pada hari ini!” Mendengar berita itu kami pun menangis. Kemudian beliau pergi sambil berkata: “Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja’far, karena telah datang berita musibah yang memberatkan mereka.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ketika air mata Rasulullah SAW menetes menangisi gugurnya syuhada’ tersebut, Sa’ad bin ‘Ubadah RA bertanya: “Wahai Rasulullah, Anda menangis?” Beliau pun menjawab: “Ini adalah rasa kasih sayang yang Allah letakkan di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya hamba-hamba yang dikasihi Allah hanyalah hamba yang memiliki rasa kasih sayang.” (HR. Bukhari)

Terkait kasih sayang Nabi SAW kepada anak-anak kaum Muslimin, Bunda ‘Aisyah RA juga pernah mengisahkan: “Suatu kali pernah dibawa sekumpulan anak kecil ke hadapan Rasulullah SAW, lalu beliau mendoakan mereka. Pernah juga dibawa kepada beliau seorang anak, lantas anak itu kencing pada pakaian beliau. Beliau segera meminta air, lalu memercikkannya pada pakaian itu tanpa mencucinya.” (HR. Al-Bukhari)

Ada lagi Anas bin Malik, seorang anak kecil yang membantu mengurus kebutuhan rumah tangga Rasul SAW juga ikut merasakan lembutnya sayang beliau. Selama 10 tahun bekerja untuk Rasulullah, ia tidak pernah mendapati beliau mengumpat, atau menyalah-nyalahkan pekerjaan yang telah ia lakukan.

Pernah suatu hari ia diminta Rasulullah SAW untuk membeli sesuatu ke pasar. Di tengah jalan ia bertemu teman-temannya sebaya yang sedang bermain. Ia pun bergabung bersama mereka dan lupa akan tugas yang diberikan kepadanya. Hingga Nabi SAW mencarinya dan mendapatkannya sedang asyik bermain. Alih-alih menghardiknya atau menjewernya, sebagaimana kebanyakan orang tua, dengan lembut Rasulullah SAW cuma bertanya apakah ia sudah mendapatkan apa yang diminta? Anas kecil pun malu sendiri dan segera berlari menuju pasar.

Anas bin Malik juga menjadi saksi betapa Rasulullah SAW sangat care dan selalu menyapa dengan hangat tiap anak yang beliau temui di jalanan. Hal itu membuat Anas dewasa setiap melewati sekumpulan anak-anak, pasti mengucapkan salam kepada mereka, dan berkata: “Demikianlah yang dilakukan Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari Muslim)

Itulah berbagai fragmen kelembutan dan kasih sayang Sang Nabi kepada buah hati. Sangat bertolak belakang dengan fenomena kekerasan terhadap anak di zaman ini, baik kekerasan fisik atau psikologi. Pemukulan, umpatan, pelecehan seksual, bahkan kasus pembunuhan anak, semakin banyak terjadi dan menjadi-jadi.

Memang dalam Islam ada metode Addhorb (memukul) dalam mendidik anak. Rasulullah SAW juga pernah memerintahkan kepada orang tua untuk memukul anak jika pada usia sepuluh tahun enggan menunaikan sholat wajib. Tapi ingat, perintah itu berlaku setelah perintah mengajarkan sholat dengan kelembutan pada usia tujuh tahun. Artinya jika proses pendidikan dengan lembut selama tiga tahun belum berhasil, maka solusi terakhir dengan memukul baru bisa dilakukan.

Itu pun dilakukan dengan beberapa syarat dan ketentuan seperti: tidak boleh memukul muka, tidak boleh memukul perut atau bagian lain yang membuat cidera, tidak boleh meninggalkan bekas; baik fisik atau pun psikologis, tidak boleh lebih dari sepuluh pukulan, dan tidak boleh memukul dalam keadaan marah.

Luar biasa indahnya konsep Nabawi dalam mendidik anak. Kekerasan terhadap anak menjadi pintu larangan yang ditutup rapat. Itu semua bukan hanya karena kekerasan yang anak terima akan merusak kecerdasan otak dan kepribadiannya, seperti banyak dikemukakan oleh para pakar pendidikan kontemporer. Tapi lebih dari itu, karena kesadaran penuh bahwa anak-anak kita, meski lahir dari rahim kita atau rahim istri kita, mereka bukanlah milik kita. Mereka sekedar titipan dari Sang Kuasa yang akan diminta dan ditanyakan kembali di akherat sana. Wallohu a’lam bisshowab.

(Manhajuna/AFS)

 

Ust. Hakimuddin Salim, Lc. MA.

Ustadz asal Klaten yang sehari-hari akrab dipanggil ustadz Hakim ini, sekarang sedang menyelesaikan studi doktoral di Universitas Islam Madinah. Selain aktif di Yayasan Islamic Center Ibnu Abbas, beliau juga aktif menjadi penceramah dan penulis di beberapa media. Twitter: @hakimuddinsalim | FB: /hakimuddin.salim | Blog: Hikmatia

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Indikasi Sukses Ramadhan

Oleh: Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA Manhajuna.com – Ramadhan merupakan salah satu momentum paling istimewa dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *