Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Malapetaka Yang Masuk Lewat Jendela Hati Kita
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Malapetaka Yang Masuk Lewat Jendela Hati Kita

Oleh: Ustadz Fir’adi Nasruddin, Lc

» قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ: لَيْسَ شَيْءٌ أَضَرَّبِهَذِهِ الْأُمَّةِ مِنْ ثَلاَثٍ: حُبِّ الدِّيْنَارِ وَالدِّرْهَمِ, وَحُبِّ الرِّيَاسَةِ, وَإِتْيَانِ بَابِ السُّلْطَةِ «

Abu Hurairah r.a berkata, “Tiada perkara yang lebih berbahaya bagi umat ini daripada tiga perkara; hubbud dinar wa al-dirham (cinta dinar dan dirham), wa hubbur riyasah (ambisi kekuasaan), wa ityan bab al sulthah (mendatangi pintu kekuasaan).” (Mawa’izh al-shahabah, Shalih Ahmad al-Syami).

Saudaraku,
Abu Hurairah r.a menyebut, ada tiga perkara yang menyebabkan manusia terlena dan silau dengan dunia. Manusia berlari mengejarnya. Bahkan terus mengejarnya, tanpa memperdulikan nafasnya yang pendek, perahu yang belum dimiliki dan bekal yang semakin menipis.

• Cinta dinar dan dirham
Sebagai seorang mukmin, hendaknya kita selalu waspada bahwa harta yang Allah karuniakan kepada kita, pada hakikatnya hanya sebagai titipan dan ujian bagi kita. Namun terkadang kita lupa diri dan terpesona dengan kemilaunya harta, padahal Nabi s.a.w telah mengingatkan kita dengan sabdanya,

“Celakalah hamba (orang yang diperbudak) dinar, dirham, beludru dan kain bergambar. Jika dia diberi dia ridha, jika tidak diberi dia tidak ridha.” (HR. Bukhari).

Saudaraku,
Berapa banyak orang yang bermusuhan karena harta. Persaudaraan terputus lantaran harta. Ikatan pasutri terlepas juga karena harta. Hubungan dengan tetangga menjadi renggang, faktor pemicunya juga harta. Keretakan hubungan anak dengan orang tuanya, juga diakibatkan oleh harta. Karena iming-iming harta, seseorang rela menjual diri dan kehormatannya. Demikian pula tidak sedikit orang yang menukar agamanya dengan harta dunia yang diidamkannya.

Seolah-olah harta telah memperbudak kita. Ia menghiasi mimpi-mimpi kita. Ia telah memenuhi ruang angan-angan kita. Dan kita pun sibuk mengejarnya tanpa memperhatikan rambu-rambu yang telah ditancapkan oleh Allah dan Rasul-Nya terkait dengan harta kita.

Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah mengingatkan kita bagaimana kita mensikapi harta itu, “Sepantasnya seseorang itu mengambil harta dengan kemurahan jiwa, agar dia diberkahi di dalam hartanya. Jangan sampai dia mengambilnya dengan ambisi dan rakus. Mestinya dia memandang harta itu seperti fungsi kamar kecil/WC. Manusia membutuhkannya namun ia tidak memiliki tempat di hatinya. Dan jika dia berusaha mencari harta, maka dia berusaha mencari harta seperti memperbaiki kamar kecil.”

Saudaraku,
Cinta harta merupakan tabi’at dasar manusia. Artinya tiada seorang pun yang masih bernafas dengan udara segar, yang tidak mencintai harta. Namun cinta harta harus dikelola secara proporsional. Agar tidak menjadi cinta buta yang menggelapkan mata, hati dan pikiran kita.

Cinta berlebihan terhadap harta akan menghalangi kita untuk sedekah, membantu orang-orang lemah dan kesusahan, meringankan beban orang-orang yang tak mampu, berjuang di jalan Allah, mengumpulkan pundi-pundi kebaikan dan yang seirama dengan itu.

Oleh karena itu dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 180 dan al-‘Adiyat ayat 8, harta diistilahkan dengan kata ‘al-khair’, yang berarti kebaikan. Hal ini, menurut sebagian ulama, untuk memberi isyarat bahwa harta benda harus diperoleh dan digunakan untuk tujuan kebaikan. Dapat juga dikatakan bahwa ia dinamai demikian untuk memberi isyarat bahwa harta benda adalah sesuatu yang baik semakin banyak ia semakin baik. Yang menjadikan harta tidak baik adalah kecintaan yang berlebihan terhadapnya dan yang mengantarkan seseorang untuk bersifat kikir, untuk mengeluarkan hak-hak Allah dan manusia dalam hartanya.

Harta diistilahkan dengan ‘al-khair’ kebaikan sebagaimana disebutkan oleh syekh Abu Bakar al-Jazairi, bahwa dengan harta akan diperoleh kebaikan berlimpah ruah, jika dibelanjakan di jalan Allah s.w.t dan di jalan kebaikan lainnya.

• Cinta popularitas (ambisi kekuasaan)
Saudaraku,
Rasulullah s.a.w bersabda, “Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas, berebut memangsa seekor kambing, (maka kerusakan yang terjadi pada kambing itu) tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan pada agama seseorang yang ditimbulkan akibat ambisi terhadap harta dan kehormatan.”( HR. Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Hadits ini mengisyaratkan bahwa orang yang berambisi terhadap harta dan kehormatan (dunia) serta kekuasaan, tidak akan selamat dari keutuhan keislamannya, kecuali sedikit orang yang selamat dari fitnah kekuasaan. Di samping itu, sabda Nabi s.a.w ini juga mengisyaratkan betapa banyak umatnya yang berambisi pada kekuasaan, padahal mudharatnya tidak ringan dan sederhana.

Hal ini bisa kita saksikan dari banyaknya calon Wali Kota Metro 5 tahun ke depan, yang akan memperebutkan M1 dan M2 pada pilkada Metro; 9 Desember 2015. Padahal kejujuran dan keadilan para calon belum teruji di tengah-tengah rakyatnya.

Aksiomatik, seseorang berkonsentrasi penuh siang dan malam memikirkan strategi merajut kemenangan, dan bahkan tidak segan-segan untuk mengeluarkan hartanya yang tidak sedikit demi mencapai kekuasaan dan kepemimpinan atas manusia serta mendapatkan kehormatan di dunia. Padahal Rasulullah s.a.w bersabda, “Kalian akan berambisi atas kekuasaan dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat…” (HR. Bukhari).

Namun bagi pemimpin yang adil dan jujur dalam menjalankan roda pemerintahannya, menjadi peluang amal shalih dan pundi-pundi kebaikan yang tidak sederhana. Bukan penyesalan di sana dan kebinasaan di akherat. Tapi senyum merekah dan kebahagiaan yang membuncah, serta balasan yang membuat sumringah.

• Mendatangi pintu kekuasaan
Saudaraku,
Kalau kita buka lembaran-lembaran hidup salafus shalih, maka kita simpulkan bahwa mereka tidak suka mendatangi dan mendekati para penguasa. Adapun ulama dunia ia akan masuk dari pintu ke pintu untuk mendapatkan kemuliaan dunia dan kedudukan terhormat di masyarakat.

Yang sangat dikhawatirkan atas orang yang mendatangi para penguasa yang zhalim adalah membenarkan kedustaan mereka, menolong kezhaliman mereka meskipun dengan diam membiarkan mereka berbuat zhalim. Karena orang yang mendatangi mereka dengan tujuan mendapatkan kemuliaan dan kedudukan di dunia serta berambisi terhadap keduanya, dia tidak akan mengingkari mereka, bahkan sangat mungkin baginya untuk menganggap baik tindakan buruk mereka, sebagai upaya untuk untuk mendekatkan diri kepada mereka, dan untuk mendapatkan posisi yang baik di sisi mereka, agar mereka membantunya menjadi tim sukses untuk mewujudkan ambisinya.

Saudaraku,
Muhammad bin Sulaiman, seorang gebernur Basrah pernah datang menemui Hammad bin Salamah. Gubernur itu duduk di hadapan Hammad lalu bertanya, “Wahai Abu Salamah, mengapa setiap kali aku memandangmu, aku gemetar segan kepadamu?.”

Ia menjawab, “Karena seorang alim apabila menghendaki ridha Allah dengan ilmunya, maka segala sesuatu akan takut kepadanya, apabila ia menginginkan untuk memperbanyak harta dengan ilmu, maka ia takut kepada segala sesuatu.”

Saudaraku,
Orang yang ingin menggapai kehormatan akhirat, maka ia akan mendapatkan kehormatan akhirat dan bonus kemuliaan di dunia, meskipun ia tidak menginginkan dan tidak mencarinya. Sedangkan mencari kehormatan dunia dan melupakan kemuliaan di akhirat, maka ia tidak akan mendapatkan kehormatan akhirat, meskipun ia mendapatkan kehormatan di dunia. Selama ia masih menjabat. Selama ia masih berkuasa.

Kehormatan mana yang ingin kita gapai duhai saudaraku?. Dengarkanlah suara hati nurani yang berbicara. Wallahu a’lam bishawab.

(Manhajuna/GAA)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijah

Kemuliaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah telah diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah SWT. berfirman: “Demi fajar, Dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *