Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Manusia Produktif
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Manusia Produktif

Hidup di dunia cuma sekali, dan tak terulang lagi. Maka sangat rugilah kita manakala kesempatan yang sekali tersebut terbuang percuma, walau sesaat saja. Karena itu Islam sangat besar memberikan anjuran agar kita berupaya sedapat mungkin mengisi setiap saat dari waktu yang kita miliki dengan sesuatu yang bermanfaat dan melahirkan produktifitas.

Dalam hal ini Rasulullah ﷺ memberikan tips singkat namun sangat bermanfaat. Beliau bersabda,

(الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ  (رواه مسلم

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai dri mukmin yang lemah dan pada semuanya terdapat kebaikan. Berupayalah untuk sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang beriman dengan keimanannya dia sudah memiliki kriteria baik. Namun akan lebih baik lagi dan lebih Allah cintai, jika keimanannya diiringi dengan kekuatan. Apakah kekuatan ruhani, fisik, harta, ilmu, dll. Karena dengan kekuatan tersebut akan banyak yang dapat dia lakukan.  Akan tetapi semua kekuatan dan potensi yang dimiliki, jika tidak diiringi sebuah orientasi yang jelas juga tidak berguna.

Maka Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk memiliki orientasi agar selalu berupaya melakukan dan menghasilkan hal-hal yang bermanfaat bagi diri. Namun hal tersebut tidak boleh menghalanginya untuk selalu bergantung dan mohon pertolongan Allah. Usaha maksimal dan mohon pertolongan secara total kepada Allah, adalah dua hal yang harus selalu dihadirkan dalam kehidupan. Terakhir, tidak ada kata putus asa apabila menghadapi kegagalan, akan tetapi terus bangkit seraya menyandarkan nasib kepada Allah Ta’ala.

Orang yang tidak produktif dengan tidak memaksimalkan segenap potensi yang ada pada dirinya dan lingkungan di sekitarnya, ibarat orang yang menyia-nyiakan modal yang telah diberikan kepadanya.

Perhatikanlah, berapa banyak waktu yang terbuang untuk ngobrol berjam-jam “ngalor ngidul” tak karuan, mendengarkan musik dan lagu, menonton sinetron atau film action dan yang semacamnya..? Dari sekian tahun hal tersebut dilakoni, seberapakah manfaat yang dapat kita ambil? Dapat kita katakan bahwa semua itu menguap tanpa makna berarti dalam kehidupan, kecuali memuas-muaskan nafsu santai plus pengaruh buruk yang ditimbulkannya. Lalu bandingkan jika waktu-waktu tersebut digunakan untuk; membaca buku,  mengasah ketrampilan dan bakat atau meningkatkan peran sosial kita dan aktifitas bermanfaat lainnya, niscaya akan terasa sekali manfaat yang akan kita raih setelah berlangsung sekian lama kemudian.

Dan di antara sabda Rasulullah ﷺ:

(مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ  (رواه االترمذي

“Indikasi baiknya Islam seseorang, manakala dia meninggalkan perbuatan yang tak berguna.” (HR. Tirmizi)

Sumber: Buku Pesan-pesan di Jalan Kehidupan, Abdullah Haidir, Murajaah Thariq Abdulaziz At-Tamimi, MA, Penerbit Kantor Dakwah Sulay, Riyadh, KSA

(Manhajuna/IAN)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *