Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Mengenal Cicit Rasulullah; Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib RA.
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Mengenal Cicit Rasulullah; Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib RA.

Oleh Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

Manhajuna – Beliau adalah Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Julukannya adalah Zainal Abidin (hiasan  orang-orang yang beribadah).  Maka beliau lebih dikenal dengan sebutan Ali Zainal Abidin.
Kelahirannya  diperkirakan tahun 38 Hijriyah. Beliau meriwayatkan hadits dari bapaknya; Husain bin Ali bin Abi Thalib, juga dari pamannya, Hasan bin Ali bin Abi Thalib, kemudian dari Aisyah RA., Abu Hurairah, Shafiah, Ummu Salamah dan beberap shahabat lainnya. Adapun dari kalangan tabi’in, beliau mengambil riwayat dari beberapa tokoh tabi’in, seperti Marwan bin Hakam, Said bin Musayab, Ubaidillah bin Abi Rafi, Dzakwan budaknya Aisyah, dll.

Berikutnya, yang meriwayatkan dari beliau, di antaranya adalah; Abu Ja’far Muhammd, Umar, Zaid dan Abdullah. Juga Az-Zuhri, Amr bin Dinar, Hakam bin Utaibah, Zaid bin Aslam, Yahya bin Said, dll.

Beliau dikenal sebagai kalangan tabiin, lahir di Madinah dan wafat di Madinah.
Beliau dikenal dengan sifat wara’nya, amanah dan banyak meriwayatkan hadits. Ibnu Utaibah berkata, “Aku tidak melihat seorang dari suku Quraisy yang lebih utama dari Ali bin Husain (pada masanya).” (4/388)

Pada peristiwa Karbala, saat bapaknya, Husain bin Ali, dibunuh dalam tragedi tersebut, Ali bin Husain berusia duapuluh tiga tahun, saat itu beliau sedang dalam keadaan sakit. Maka dirinya selamat dari pembunuhan.

Sifat-Sifat Mulia; Luas ilmu, Wara, tawadhu, dermawan,takut kepada Allah, dll.
Meskipun dia memiliki keutamaan dalam agama, dirinya tak merasa sungkan untuk duduk bersama rakyat jelata. Suatu saat ada yang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau bergaul dengan kalangan jelata?” Beliau berkata, “Saya bergaul dengan orang yang saya dapat mengambil manfaat darinya dalam agama saya.”

Sifat tawadhu’nya juga yang menyebabkanya terus mencari ilmu, walaupun dia dikenal orang yang sangat berilmu.

Mas’ud bin Malik berkata, “Dapatkah engkau mempertemukan aku dengan Said bin Zubair?”  Aku bertanya, “Ada perlu apa?” Dia berkata, “Banyak perkara yang ingin aku tanyakan kepadanya, orang-orang bertanya tentang sesuatu yang tidak kami ketahui.”

Imam Az-Zuhri berkata, “Saya sering berada di dekat Ali bin Husain, tidak ada orang yang saya nilai lebih pandai (ketika itu) dibanding Ali bin Husain. Hanya saja dia sedikit berbicara.”

Ali bin Husain menyadari kecintaan masyarakat terhadap dirinya sebagai Ahlulbait dan sebagai ulama. Dia mengkhawatirkan hal tersebut melampaui batas dan salah penerapan. Dia berkata kepada penduduka Irak yang sangat mencintainya, “Wahai penduduk Irak, cintailah kami dengan cinta Islam, bukan seperti cinta terhadap berhala. Cinta kalian kepada kami dapat menjadi kecelakaan bagi kami.”

Beliau juga orang yang sangat wara’. Juwairiah binti Asma berkata, “Ali bin Husain tidak makan satu dirham pun dari kekerabatannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”
Beliau dikenal orang yang sangat takut kepada Allah. Suatu saat terjadi kebakaran di rumahnya saat dia sedang sujud dalam shalat. Ketika dia angkap kepalanya, apinya padam. Ada yang bertanya kepadanya tentang masalah itu, dia berkata, “Saat itu saya justeru sedang sedang takut dari  ‘api’ yang lain (neraka).”

Ali bin Husain juga terkenal dengan sadaqah sir-nya (sadaqah tersembunyi). Di malam hari dia memanggul roti di pundaknya dan mencari orang-orang miskin. Hal ini baru diketahui setelah  beliau wafatnya. Saat jasad beliau dimandikan tampak bekas tersebut dipundaknya. Di sisi lain sebagian penduduk Madinah yang tidak tahu siapa yang memberi makanan setiap malam kepada mereka, merasakan bantuan tersebut berhenti setelah beliau wafat.

Diriwayatkan bahwa beliau menanggung nafkah seratus keluarga hingga wafatnya tanpa mereka ketahui. Baru diketahui setelah beliau wafat dan bantuan tersebut terhenti. Di sisi lain, akibatnya beliau dikira orang yang bakhil. Hanya rajin mengumpulkan harta dan tak suka bersedekah.
Beliau selalu berusaha memenuhi setiap permintaan orang yang membutuhkannya.  Suatu saat beliau berkata, “Sungguh aku malu kepada Allah, apabila melihat saudaraku, lalu aku mendoakan untuknya surga, tapi aku bakhil kepadanya dalam urusan dunia. Aku takut nanti dikakatakan kepadaku  (di hari kiamat),’Seandainya surga ada di tanganmu, kamu pun akan bakhil dan bakhil.”

Bagaimana sikapnya terhadap Abu Bakar, Umar dan Utsman serta Bani Umayyah?

Berbeda dengan kaum syiah yang mengagung-agungkan beliau, namun mereka sangat memusuhi sahabat-sahabat mulia semisal Abu Bakar, Umar dan Utsman dan sangat memusuhi kekhalifahan Bani Umayyah, Ali bin Husain adalah orang yang sangat menghormati mereka dan mencela siapa yang mencela dan memusuhi mereka.

Beliau pernah ditanya tentang bagaimana kedudukan Abu Bakar dan Umar di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Beliau memberi isyarat  ke kuburan (kuburan keduanya di sisi kuburan Rasulullah saw), “Seperti kedudukan keduanya sekarang ini (maksudnya keduanya dekat dengan Rasulullah saw saat hidup seperti kedekatan kuburan keduanya saat telah wafat).”

Suatu saat ada orang yang berkata kepadanya,
“Beritahu aku tentang Abu Bakar?”
“Ash-Shiddiq maksud anda?” dia balik bertanya.
“Apakah engkau menyebutkan Ash-Shiddiq?” Orang itu balik bertanya heran.
“Celaka engkau, dia telah disebut Ash-Shiddiq oleh orang yang lebih baik dari saya; Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kaum muhajirin dan Anshar. Siapa yang tidak menyebutnya Ash-Shiddiq, niscaya Allah tidak akan membenarkannya. Pergi engkau dari sini, aku adalah orang yang mencintai Abu Bakar dan Umar serta loyal kepada mereka. Dan aku bertanggung jawab atas sikapku ini.”

Seseorang bertanya kepadanya, “Kapankah Ali (bin Abi Thalib) dibangkitkan?” Beliau menjawab, “Demi Allah, dia akan dibangkitkan di hari kiamat, dan setelah itu dia akan sibuk dengan urusan dirinya.”

Terkait dengan pemerintahan bani Umayyah, Ali bin Husain berkata, “Sungguh kami shalat di belakang mereka, bukan karena taqiyyah. Aku juga bersaksi bahwa bapakku (Husain bin Ali bin Abi Thalib) shalat di belakang mereka, bukan karena taqiyyah.”

Tentang Utsman bin Affan, Ali bin Husain berkata, “Demi Allah, Utsman dibunuh dengan batil.”
Beliau wafat tahun  94 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi, Madinah.

Sumber: Siyar A’lam An-Nubala, Imam Az-Zahabi, 7/437-451 (versi Maktabah Syamilah)

(Manhajuna/AFS)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Haji dan Perubahan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc. Watak dasar kehidupan adalah adanya perubahan. Tidak ada perubahan, berarti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *