Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Mengenal Dan Menyikapi Syekh Abdulqadir Jailani (3-habis): Beberapa Sikap Terhadap Beliau
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Mengenal Dan Menyikapi Syekh Abdulqadir Jailani (3-habis): Beberapa Sikap Terhadap Beliau

Oleh Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

1.    Syekh Abdulqadir Jailani adalah seorang ulama besar pada masanya. Jasanya dalam dunia keilmuan dan dakwah diakui para ulama. Sebagai seorang muslim selayaknya kita menghormatinya dan memuliakannya, sebagaimana hal tersebut kita berikan kepada para ulama  pada umumnya.

2.    Akan tetapi, betapapun kemuliiaan yang dimiliki oleh SyekhAbduqadir Jailani, beliau tetaplah manusia biasa yang tidak memiliki sifat-sifat khusus di luar kemanusiaannya. Maka tidak boleh bagi kita memberinya sifat-sifat diluar kemanusiaannya, apalagi jika diberikan kepadanyasifat-sifat ketuhanan, seperti meyakini dia mengetahui perkara gaib, atau meyakini  dia dapat mengatur nasib manusia atau alam ini, atau memohon doa kepadanya, dll. Ini adalah keyakinan syirik yang tidak boleh dimiliki seorang muslim.

Jika terhadap Rasulullah saw saja yang jauhlebih mulia darinya, atau terhadap para shahabat lainnya, atau terhadap ulamayang lebih mulia darinya, hal seperti ini tidak boleh diyakini, apalagi terhadap beliau..

3.    Terkait dengan karomah yang beliau miliki, maka karomah adalahsalah satu tanda kesalehan seseorang di hadapan Allah Ta’ala dan bahwa dia waliAllah. Namun karomah bukan syarat seseorang disebut saleh atau wali. Karenastandar hal itu adalah keimanan dan istiqamah dalam ketakwaan kepada Allahselama hidupnya. Firman Allah Ta’ala,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌعَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ  .  الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-waliAllah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula merekabersedih hati. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalubertakwa.” (QS. Yunus 62-63)

4.    Betapapun syekh Abdulqadir Jailani kita muliakan, dan bahwa diamemiliki karomah serta layak disebut sebagai wali Allah, namun pandangan dan perkataan yang dinisbatkan kepadanya tetap ditimbang menurut Alquran dan Sunah berdasarkan pemahaman para ulama yang terpercaya. Kalau sesuai Alquran dan Sunah berdasarkan pandangan para ulama, maka hal itu kita terima. Namun jikabertentangan, maka kita tolak tanpa mengurangi penghormatan kita kepada beliau.Dalam hal ini, semestinya kita merujuk kepada pendapat para ulama terpercaya.

Perlu juga diketahui, tidak semua apa yang dinisbatkan kepada beliau atau tentang beliau, benar-benar berasal dari dirinyaatau benar terjadi padanya. Boleh jadi itu adalah karangan orang lain yangdibuat-buat lalu dinisbatkan kepada beliau agar orang mudah percaya, atau daripara pengikutnya yang mencintainya berlebihan, sebagaimana biasanya pengikut setia selalu menambah-nambahkan cerita terkait orang yang sangat dia kagumi. Sedangkanbeliau sendiri bebas atau tidak mengetahui sejumlah keyakinan menyimpang yang dinisbatkan kepada dirinya, jika memang ada.

5.    Terkait dengan apa yang dikenal sebagai “Manaqib SyekhAbdulqadir Jailani” yang sering dibaca pada moment-moment tertentu. Perludiketahui bahwa manaqib (مناقب)dalam bahasa Arab berasal dari kata ‘manqabah’ (منقبة) artinya adalah sifat terpuji atau perkaraistimewa yang dimiliki seseorang. Bolehlah disebut sebagai biografi orang-orangmulia. Biasanya memang para ulama terkemuka dibuatkan manaqib oleh muridnyaatau siapa saja yang ingin membukukan kebaikan dan keutamaan-keutamaannya.Seperti Imam Syafii, ada kitab Manaqib Asy- Syafii yang dikarang olehAl-Baihaqi, salah seorang ulama besar dalam mazhab Syafii, berisi tentang riwayat hidupnya dan perkataan-perkataannya.  Maka, sedikit cuplikan yang telah kamisebutkan pada tulisan sebelumnya tentang siapa Syekh Abdulqadir Jailani, bolehdibilang sebagai manaqibnya.

Memang ada anjuran agar kita suka menyebut-nyebut kebaikan orang-orang saleh serta mengenal riwayat hidupnya. Hal ini bersumber dari hadits Rasulullah saw, “Sebutlah kebaikan-kebaikan orang yang telahwafat di antara kalian, dan tahanlah ucapan kalian dari membicarakan keburukanmereka.” (HR. Abu Daud, dll)
Meskipun hadits ini didhaifkan oleh sejumlah ulama, namun dari segi pengamalan, hal itu dianggap baik dan umum dipraktekkan. Namun tentu saja, tujuan dari hal ini adalah agar kita dapat mengambil pelajaran dan meneladaninya serta tumbuh rasa cinta kita kepadan orang-orangsaleh.

Adapun membacanya sekedar dibaca untukmendapatkan barokah darinya, sebagaimana umumnya dilakukan sebagian masyarakat pada moment-moment tertentu, apalagi kadang tanpa diketahui artinya, makasetahu kami hal ini tidak diajarkan dan dianjurkan dalam Islam. Apalagi, jika nyata-nyata di dalamnya terdapat permohonan atau memanjatkan doa  kepada beliau, maka dia jelas-jelas merupakan perbuatan terlarang yang dapat merusak keimanan. Wallahu a’lam.

– Habis –

Riyadh, Rabiul Awal, 1435H.

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

“Virus” yang Mengancam Jama’ah Haji

Oleh Ust. Abdullah Haidir, Lc. Manhajuna – Siapa yang tak senang mendapatkan kesempatan beribadah haji? Mimpi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *