Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Wawasan / Meniadakan Generasi “Home Service” (Bagian 1 dari 2)
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Meniadakan Generasi “Home Service” (Bagian 1 dari 2)

Apa itu generasi “HOME SERVICE?”

Generasi “HOME SERVICE” adalah generasi yang selalu meminta untuk dilayani. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak yang selama masa kecilnya selalu dilayani oleh orang tuanya atau orang bertugas membantunya. Mulai dari lahir mereka sudah diurus oleh pembantu atau Asisten Rumah Tangga (ART), atau yang punya kekayaan berlebih diasuh oleh Baby sitter yang 24 jam siap di samping sang anak.

kidsklik
kidsklik

Kemana-mana anak diikuti oleh baby sitter. Bahkan sampai umur 9 tahun saja ada Baby sitter yang masih mengurus keperluan si anak karena orang tuanya sibuk bekerja. Anak tidak dibiarkan untuk mencari solusinya sendiri. Satu contoh kecil, membuka bungkus permen yang akan dimakan anak. Karena terbiasa ada baby sitter atau ART, anak dengan mudahnya menyuruh mereka membukakan bungkusnya. Tidak mau bersusah payah berusaha lebih dulu atau mencari gunting misalnya.

Contoh lain yaitu memakai kaus kaki dan sepatu. Karena tak sabar melihat si anak mencoba memakai sepatunya sendiri maka orang dewasa yang di sekitarnya terburu-buru memakaikan kepada anak. Saat anak sudah bisa makan sendiri, orang tua juga seringkali masih menyuapi makan karena berpikir jika tidak disuapi makannya akan lama dan malah tidak dimakan.

Padahal jika anak dibiarkan tidak makan, maka anak tidak akan pernah merasa apa namanya lapar. Dan saat lapar datang seorang anak secara otomatis akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Bagaimana dia akan belajar makan sendiri jika dia tidak pernah merasakan apa itu namanya lapar? Bagaimana dia akan belajar membuat minuman sendiri jika dengan hanya memanggil ART atau baby sitter atau orang tuanya saja minuman itu akan datang sendiri kepadanya.

Hadiah terpenting

Saya mengutip perkataan seorang Psikolog dari Stanford University, Carol Dweck, beliau menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, “Hadiah terpenting dan terindah dari orang tua pada anak-anaknya adalah tantangan”. Tapi beranikah semua orang tua memberikan hadiah itu pada anak? Faktanya saat ini banyak orang tua yang ingin segera menyelesaikan dan mengambil alih masalah anak, bukan memberikan tantangan.

Saat anak bertengkar dengan temannya karena berebut mainan, orang tua malah memarahi teman anaknya itu dan membela sang anak. Ada pula yang langsung membawanya pulang dan bilang, ”udah nanti Ibu belikan mainan seperti itu yang lebih bagus dari yang punya temanmu… ga usah menangis”.

Padahal Ibu tersebut bisa mengatakan, “Oh kamu ingin mainan seperti yang punya temanmu ya? Gak usah merebutnya sayang… kita nabung dulu ya nanti kalau uangnya sudah cukup kita akan sama-sama ke toko mainan membeli mainan yang seperti itu”. Kira-kira bagaimana jika Ibu mengatakan demikian? Ada tantangan yang diberikan pada anak bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan maka dia harus berusaha untuk menabung dulu. Tidak lantas menanamkan kepada si anak kalau “semuanya akan baik-baik saja…ada Ibu dan ayah disini yang akan mengatasi segala masalahmu nak”.

Hal-hal kecil di rumah

Dalam keseharian Generasi “HOME SERVICE “ semua pekerjaan rumah tangga tak pernah melibatkan anak. Saat anak membuat kamarnya berantakan langsung memanggil asisten untuk segera merapihkan kembali. Anak menumpahkan air di lantai, di lap sendiri oleh Ibunya. Anak membuang sampah sembarangan, dibiarkan saja menunggu ART menyapu nanti. Dalam hal belajar saat anak sulit belajar, orang tua telpon guru les untuk privat di rumah. Dalam hal bersosialisasi saat anaknya nabrak orang sampai mati di jalan karena harusnya belum punya SIM malah sudah bawa kendaraan sendiri. Orang tuanya langsung menyuap polisi agar anaknya tidak diperkarakan dan dipenjarakan. “Sudah beres kan anakku.…hidup ini tidak susah nak…selama orang tuamu ada di sampingmu”.

ummi-online
ummi-online

Itu seandainya orang tuanya tetap kaya. Seandainya orang tuanya tetap hidup. Akan tetapi hidup itu komplek kita dan tidak pernah bisa menduganya. Generasi inilah yang nantinya akan melahirkan orang dewasa yang tidak bertanggung jawab. Badannya dewasa tapi pikirannya selalu anak-anak, karena tak pernah bisa memutuskan sesuatu yang terbaik buat dirinya. Karena memang pendidikan yang didapat semasa kecil seperti itu. Orang tua yang mencarikan sekolah. Orang tua yang mencarikan jodoh. Orang tua yang membelikan kendaraan. Orang tua yang membelikan rumah. Pada waktu mempunyai anak sendiri, yang mengasuh dan jadi pembantu di rumahnya juga orang tuanya. Kasihan sekali tipe orang tua seperti ini, karena hanya akan berakhir menjadi “pembantu” di rumah anaknya sendiri. Sangat memprihatinkan sekali orang tua yang terlalu menjadi pelindung bagi anaknya, bahkan nanti buat cucunya juga.

Bersambung ke Meniadakan Generasi “Home Service” (Bagian 2 – Selesai)

Disalin (setelah diedit) dari tulisan Ibu Deassy M Destiani

(Manhajuna/AC/ED)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Biarkan Anak-anak Bahagia di Masjid

Oleh: Ustadz Hakimuddin Salim, Lc., MA.  Manhajuna.com – Masjid kampung kami, daerah Rabwah, pinggiran kota …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *