Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Rasulullah dan Keluarga di Saat Santai
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Rasulullah dan Keluarga di Saat Santai

Oleh: H. Muhammad Iqbal, MA

Muqadimah

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Kita sudah sering kali mendengar dan membaca tentang berbagai hal yang terkait dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang terkait dengan hukum, akhlak maupun sirah, namun mungkin kita jarang mendengar tentang mu’amalah beliau bersama istri di saat santai. Berikut ini ada beberapa riwayat yang terkait pergaulan beliau bersama istri di dalam kamar atau bilik beliau yang hanya seluas beberapa meter persegi atau di luar rumah.

Pertama, persetujuan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istrinya menyaksikan permainan yang dibolehkan:

Hal itu jelas dari dua contoh berikut ini:

Pertama, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu ‘anha,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda: “Apakah engkau ingin melihat?” Aku menjawab: “Ya”. Lalu beliau menempatkan aku di belakangnya, pipiku di atas pipi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau bersabda: “Ayo, wahai Bani Arfidah”. Sampai aku merasa bosan, beliau bertanya: “Apa sudah cukup?” Aku menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Pergilah.”

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dalam hadits ini: boleh memandang kepada permainan yang dibolehkan. Dan padanya: Indahnya akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama keluarganya dan kemuliaan pergaulannya”.

Kedua,  dalam hadits yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Dan tatkala datang utusan Habasyah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bermain di masjid, maka aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupiku dengan selendangnya, dan aku memandang kepada mereka, sedangkan mereka bermain main di masjid, sampai aku yang merasa bosan sebagaimana seorang wanita muda yang masih suka bermain main.”

Dan dalam riwayat lain, ia berkata: “Pada suatu hari aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di pintu bilikku (kamarku) dan orang orang Habasyah sedang bermain main dengan alat perang mereka di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Dan dalam satu riwayat, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk, lalu kami mendengar suara gaduh dan suara anak anak, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, ternyata orang Habasyah sedang bermain main dan anak anak di sekelilingnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Aisyah, ke sini dan lihatlah!” lalu aku datang seraya meletakkan daguku di atas pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka aku melihat kepadanya di antara pundak dan kepalanya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata kepadaku: “Apakah engkau sudah puas, apakah engkau sudah puas?” Aku langsung berkata: “belum”, agar aku melihat kedudukanku di sisinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba tiba muncul Umar radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: “Maka manusia berlarian darinya”. Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku melihat para syetan, jin dan manusia berlarian dari Umar radhiyallahu ‘anhu.” Ia (Aisyah radhiyallahu ‘anha) berkata: lalu aku kembali.

Dan dalam riwayat lain, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika itu: “Agar kaum Yahudi mengetahui bahwa dalam agama kita ada kelapangan, sesungguhnya aku diutus dengan agar yang cenderung (kepada kebenaran) lagi toleran.”

Kedua: persetujuan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap istrinya untuk mendengarkan nyanyian yang dibolehkan dari jariyah (anak kecil, budak wanita) di hari lebaran

Hal itu ditunjukkan dari hadits yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku di hari Iedul Fitri atau Iedul Adha , dan di sisiku ada dua orang jariyah dari jariyah Anshar yang menyanyikan nyanyian Bu’ats , ia (Aisyah radhiyallahu ‘anha) berkata: dan keduanya bukanlah penyanyi. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring di atas kasur dan memalingkan wajahnya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan masuklah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu lalu menghardikku seraya berkata: “Seruling syetan di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapkan wajahnya seraya berkata: “Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar, sesungguhnya bagi setiap kaum ada hari lebaran dan ini adalah hari lebaran kita”. Maka tatkala beliau terlelap, aku mencolek keduanya, lalu mereka keluar.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: Di dalam hadits terdapat beberapa faedah: sikap lembut terhadap wanita dan memikat kecintaannya. Dan padanya: bahwa menampakkan kebahagiaan di hari lebaran termasuk syi’ar agama. Dan padanya: disyari’atkan bersikap longgar/luas terhadap keluarga di hari lebaran dengan berbagai macam cara untuk mendapatkan kesenangan jiwa dan kelapangan badan yang dibebankan dengan ibadah.

Ketiga: Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan mereka berteman dengan para wanita dan bermain bersama mereka

Di antara contoh hal itu adalah yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku bermain bersama anak anak perempuan di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku memiliki beberapa teman yang bermain bersamaku, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk mereka menghindar dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau membiarkan mereka, lalu mereka bermain bersamaku.

Dan perlu disinggung di sini bahwa imam al-Bukhari radhiyallahu ‘anhu memberi judul untuk bab yang dia cantumkan hadits tersebut dengan judul: “Bab senang kepada manusia.” Dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bergabunglah dengan manusia, dan janganlah engkau membicarakan agamamu”, kemudian ia berkata: “dan bercanda bersama keluarga”.

Ini adalah pengambilan hukum yang sangat teliti dari hadits, seakan Bukhari ingin berkata: hadits ini menunjukkan disyari’atkan bercanda bersama keluarga, dan bercanda adalah sikap lembut dalam ucapan dengan bercanda dan lainnya. Dan disinggung pula di sini bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha bermain dengan anak anak perempuan dan membuat darinya bentuk-bentuk yang aneh/asing. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencandainya dalam hal itu dan tertawa.

Keempat: Melakukan olah raga bersama

contohnya adalah lomba lari: hal itu ditunjukkan oleh hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, dan ia berlari seraya berkata: “Saya tidak membawa daging dan tidak gemuk.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya: “Berjalanlah lebih dahulu.” Maka mereka berdahulu. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Mari aku berlomba denganmu.” Lalu aku berlomba dengan beliau, maka aku mendahului beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas kedua kakiku. Maka setelah itu aku keluar bersama beliau dalam satu perjalanan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya: “Berdahululah berjalan.” Lalu beliau bersabda kepadaku: “Ayo, aku mau berlomba denganmu.” Aku lupa yang telah terjadi, dan aku sudah membawa daging (sudah mulai gemuk), maka aku berkata: “Bagaimana aku berlomba denganmu, wahai Rasulullah, sedang aku dalam kondisi seperti ini?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lakukanlah.” Maka aku berlomba dengan beliau lalu beliau mendahuluiku. Lalu beliau tertawa seraya berkata: “Ini adalah balasan yang dulu.”

Hadits ini menunjukkan indahnya perilaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama keluarganya dan terbukanya beliau untuk mereka. Sebagaimana hadits ini juga menunjukkan disyari’atkannya olah raga bagi istri apabila olah raga ini sesuai dengan syara’, karena ia mengaktifkan anggota tubuh, melapangkan jiwa, mendorong untuk rajin, dan menghilangkan rasa bosan dan jemu terhadap jiwa.

Kelima: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyertakan mereka dalam safar

Dan di antara contoh di saat santai: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemani keluarganya dalam safarnya, berjalan bersama mereka di malam hari dan mengobrol satu sama lain.

Dan hal itu ditunjukkan oleh hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha: Bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin safar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundi di antara istri-istrinya. Maka terpilih Aisyah radhiyallahu ‘anha dan Hafshah radhiyallahu ‘anha. Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari berjalan bersama Aisyah sambil mengobrol. Hafshah radhiyallahu ‘anha berkata (kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha): “Maukah engkau menaiki ontaku dan aku menaiki ontamu, engkau melihat dan aku melihat”. Ia (Aisyah) menjawab: ‘Tentu.” Maka ia menunggangi. Lalu datang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke unta Aisyah dan di atasnya ada Hafshah radhiyallahu ‘anha, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi salam kepadanya hingga mereka singgah, dan Aisyah radhiyallahu ‘anha kehilangan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam…

Diambil pelajaran dari hadits: bahwa laki-laki menemani istrinya dalam safarnya, menyiapkan berbagai macam hal yang memudahkan perjalanannya bersamanya. Adab Nabawi ini banyak hilang dari para suami di dalam masyarakat Islam, dan jadilah laki-laki menjalani hidupnya siang dan malam sendirian, dan jadilah sang istri menjalani hidupnya sendirian terpisah dari suaminya dalam banyak hal. Perkara ini memiliki pengaruh negatif terhadap keluarga muslim yang bisa membawa kepada terputus hubungan di antara keduanya bisa membawa kepada perpisahan.

Seorang muslim seharusnya mengambil petunjuk dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal itu, sesungguhnya menyertakannya dalam perjalanannya, berjalannya bersama istri di malam hari, dan saling bertukar pembicaraan bersamanya mempunyai pengaruh besar dalam menambah kasih sayang dan saling pengertian di antara keduanya.

Dan yang mesti disebutkan di sini, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat kasihan terhadap keluarganya dalam safar. Dan di antara bentuk kasihan dan sayang serta perhatiannya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan untuk istrinya tempat yang lembut untuk ditunggangi, meletakkan pundaknya agar ia (istri) menaikinya. Hal itu ditunjukkan hadits yang diriwayatkan Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: …Kemudian kami keluar ke Madinah – pulang dari Khaibar- aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan tempat naik untuknya di belakangnya dengan abayah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di sisi ontanya, lalu meletakkan dua pundaknya, dan sisi kakinya (Aisyah) di pundaknya sehingga ia menaiki tunggangan…

Dan di antara bentuk kasih sayangnya terhadap keluarganya dalam perjalanan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada pelantun sya’ir unta agar meringankan karna sayang terhadap mereka. Hal itu ditunjukkan oleh hadits Anas radhiyallahu ‘anhu: sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu perjalanan, dan budak laki laki yang bernama Anjasyah melantungkan sya’ir –dan ia bersuara merdu- maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perlahanlah wahai Anjasyah, engkau membawa para wanita.” Ruwaida: perlahanlah. Qawarir: maksudnya wanita.

Keenam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencandai dan bergurau dengan istrinya

Hal itu ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Saudah radhiyallahu ‘anha berkunjung kepada kami pada suatu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di antara aku dan dia, salah satu kakinya di pangkuan saya dan yang lainnya di pangkuannya. Ia/aku membuat untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam makanan…. aku berkata (kepada Saudah): “Makanlah!” Ia menolak. Aku berkata: “Sungguh engkau memakannya atau aku akan mengotori wajahmu.” Ia tetap enggan. Lalu aku mengambil sedikit dari piring lalu mengotori wajahnya dengannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kakinya dari asuhannya agar ia membalas dariku, lalu ia mengambil sedikit dari piring/mangkok lalu mengotori wajahku dengannya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa…

Sudah diketahui bahwa Saudah radhiyallahu ‘anha mempunyai hubungan baik dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Pertama, ia termasuk kelompoknya. Hal itu ditunjukkan hadits yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu ‘anhu: sesungguhnya istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi dua kelompok. kelompok pertama terdiri dari: Aisyah, Hafshah, Shafiyah, Saudah, dan kelompok yang lain terdiri dari: Ummu Salamah, dan semua istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia lah yang memberikan harinya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Aisyah radhiyallahu ‘anha. maka tidak aneh percandaan ini di antara keduanya di hadapan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa karena hal itu.

Dan di antara contoh senda gurau dan senyumnya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka adalah hadits yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari mengantar jenazah di Baqi`, lalu mendapatkan aku sedang sakit kepala, aku berkata: “Aduh kepalaku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bahkan, aku wahai Aisyah, Aduh kepalaku.” Kemudian beliau bersabda: “Apakah merugikan engkau jika engkau wafat sebelum aku, aku mengurus engkau, memandikan engkau, mengkafanimu, menshalatmu, dan menguburkan engkau?” Ia berkata: “Sungguh seolah-olah aku denganmu –demi Allah- jika engkau melakukan hal itu niscaya engkau pulang ke rumahku, lalu engkau melangsungkan perkawinan dengan sebagian istrimu.” Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum, kemudian mulailah beliau dengan sakitnya yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat padanya…

Tidak diragukan bahwa candaan yang lembut dan senda gurau yang main membawa kepada ketenangan hati, melapangkan jiwa, dan menanamkan benih benih kejujuran di antara suami istri.

Ketujuh: Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar kabar berita di tengah masyarakat dari mereka:

Di antara fenomena terpuji dari perilaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama istri istrinya di saat santai adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar dari istrinya berbagai berita. Hal itu ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Berkumpul sebelas orang wanita, lalu mereka sepakat dan berjanji akan menjelaskan sifat suami suami mereka, dan bersikap jujur.

Salah seorang dari mereka berkata: “Suami saya lemah syahwat, susah berbicara, semua kekurangan yang ada di tengah masyarakat ada padanya, apabila marah tidak bisa mengendalikan diri, bisa melukai kepalaku atau anggota tubuhku, atau semuanya.”

Yang lain berkata: “Suamiku adalah daging unta di atas gunung, bukan dataran rendah maka bisa didaki, dan tidak pula gemuk maka bisa dipindah (sangat sedikit kebaikannya lagi sangat jauh, tidak bisa didapat kecuali dengan susah payah, tidak diperoleh kebaikannya kecuali dengan matinya karena saking pelitnya).”

Yang lain berkata: “Suamiku tinggi, jika aku menyebutkan apa adanya dia menceraiku, dan jika aku diam dia menggantungku.”

Yang lain berkata: “Apabila suamiku minum dia tidak menyiakan sedikitpun, apabila tidur tidak mendekatiku, tidak tidur bersamaku sehingga mengetahui dukaku.”

Yang lain berkata: “Saya tidak menyebarkan berita suamiku (karena terlalu buruk), saya khawatir tidak bisa menyebutkan semuanya, jika saya menyebutkan aibnya yang nampak dan rahasianya yang tersembunyi.”

Urwah rahimahullah berkata: “Mereka berlima mengadu.”

Dan berkata yang lain: “Suamiku adalah malam Tihamah, tidak panas dan tidak dingin, tidak dikhawatirkan (maksudnya: akhlaknya baik).”

Yang lain berkata: “Apabila suamiku masuk (ke rumah) ia tidur dan tidak perduli kekurangan di rumah, bila keluar rumah dia seorang yang pemberani, dan tidak bertanya tentang apa yang ada di rumah karena saking pemurahnya.”

Yang lain berkata: “Suamiku bagaikan aroma wangi Zarnab, memiliki sentuhan yang lembut, dan seorang yang pemberani.”

Yang lain berkata: “Suamiku adalah abu malik (bapak yang memiliki), abu malik adalah pemilik unta yang banyak, sedikit dibiarkan, apabila mereka (unta) mendengar suara alat musik mereka tahu akan binasa (akan disembelih untuk menjamu tamu).”

Yang lain berkata: “Suamiku panjang sarung pedangnya, tinggi tiang kemahnya, besar bara apinya (suka menjamu), dekat rumah dari tempat perkumpulan masyarakat.”

Ummu Zar’ berkata: “Suamiku adalah Abu Zar’, tahukah engkau siapa Abu Zar? Gerakan dari perhiasan di telingaku, (ia selalu baik kepadaku) sehingga membuatku gemuk, ia membahagiakan aku sehingga merasa bahagia. Anak Abu Zar’, siapakah anak Abu Zar’? Pembaringannya seperti pelepah kurma yang dibersihkan (maksudnya; tidak gemuk), cukuplah baginya hasta anak kambing. Putri Abu Zar’, siapakah putri Abu Zar’? besar pinggul dan paha, sebaik baik wanitanya, dan membuat iri para tetangganya, taat kepada bapak dan ibunya. Pembantu Abu Zar’, siapakah pembantu Abu Zar’? Tidak pernah menyebarkan berita tentang kami, tidak pernah berkhianat kepada kami dengan menyembunyikan makanan. Abu Zar’ datang kepadaku lalu menikahiku, lalu pergi denganku kepada keluarga yang baik, unta, suara unta makan, dan penyaring gandum. Aku minum di sisinya hingga lepas dahaga. Aku tidur hingga subuh, dan aku berkata maka tidak buruk. Abu Zar’ keluar dari sisiku dan susu unta berkecukupan, maka aku melihat seorang wanita mempunyai dua anak seperti dua anak macan, keduanya bermain di bawahnya. Abu Zar’ menikahiku dan menceraiku. Lalu sesudahnya aku menikah dengan seorang pemuda yang kaya, menunggang kuda yang berlari kencang, mengambil tombak khaththi (dari Bahrain), ia memberikan ke rumahku nikmat yang banyak, ia memberikan segalanya kepadaku, lalu berkata: ‘Makanlah dan sambunglah hubungan kekeluargaanmu. Jika aku mengumpulkan semua yang kudapatkan darinya lalu kuletakkan di bejana Abu Zar’ yang terkecil niscaya tidak bisa memenuhinya.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Aku bagimu bagaikan Abu Zar’ untuk Ummu Zar.’ Dan dalam satu riwayat: “Dalam kecintaan dan kesetiaan, bukan dalam perpisahan”. dan dalam satu riwayat: “Selain bahwa ia mencerainya dan aku tidak menceraikan engkau.” Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ya Rasulullah, bahkan engkau lebih baik dari pada Abu Zar’ kepada Ummu Zar’”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Seolah-olah beliau mengatakan hal itu untuk menenteramkan dan menenangkan jiwanya, serta menolak dugaan kesamaan secara menyeluruh kondisi Abu Zar’ apabila tidak ada padanya yang dicela wanita selain hal itu. Dan ia menjawab tentang hal itu jawaban semisalnya dalam keutamaan dan ilmunya.”

Dalam hadits ini ada beberapa faedah:

  1. Perlakukan seseorang (suami) terhadap keluarganya dengan sikap mesra dan ngobrol dengan perkara-perkara yang dibolehkan, selama hal itu tidak menyeret kepada perkara yang dilarang secara syara’.
  2. mendorong wanita untuk setia terhadap suami mereka, hanya memandang mereka dan bersyukur terhadap kebaikan mereka.
  3. keutamaan Aisyah radhiyallahu ‘anhu, dan yang dinikmatinya berupa pembicaraan yang baik, kelembutan ngobrol, mengingat berita yang langka, dan memperhatikan yang beredar di tengah kaum wanita berupa berita dan rahasia.
  4. Dan harus dijelaskan bahwa haram bagi wanita menceritakan tentang suaminya yang tidak disukainya, karena hal itu termasuk ghibah (menggunjing) yang diharamkan terhadap yang mengatakan dan yang mendengarkannya. Para suami yang diceritakan oleh istri istri mereka dengan sesuatu yang tidak mereka sukai adalah orang orang yang tidak dikenal. Dan menyebutkan seseorang dengan aib yang ada padanya boleh apabila tujuannya menjauh dari hal itu dengan syarat bahwa ia tidak dikenal.

Kedelapan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemani mereka dalam walimah bersamanya, dan tidak menyantap makanan sendirian tanpa mereka.

Dan termasuk fenomena kebaikan dalam kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hubungan perkawinan: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemani istrinya bersama dalam walimah untuk makan bersamanya, terutama apabila makanan tersebut digambarkan sangat enak.

Hal itu ditunjukkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu: sesungguhnya seorang tetangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang Persia ahli memasak kuah (dan kuahnya paling sedap aromanya), maka ia memasak makanan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia datang kepada beliau mengundang beliau. Maka beliau berkata: “Dan ini untuk Aisyah?” Ia menjawab: “Tidak.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak.” Kemudian ia kembali mengundangnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan ini?” Ia menjawab: “Tidak”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak.” Kemudian ia kembali mengundangnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan ini?” Maka ia berkata: “Ya”. Pada yang ketiga. Maka keduanya berdiri sehingga mendatangi tempat tinggalnya.

Imam Nawawi rahimahullah berkata: Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai penentuan makanan tanpa dia (istri). Ini termasuk keindahan perilaku beliau, hak bersama sama, dan adab duduk bersama yang dikuatkan.

Sesungguhnya dalam hadits ini: gambaran nampak yang hidup untuk keindahan akhlaknya shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama keluarganya, keagungan kasih sayangnya, dan kecintaannya terhadapnya… Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan keluarganya duduk di belakangnya sementara ia menikmati makanan lezat di rumah tetangganya? Itulah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Menyambut Ramadhan Tercinta

Oleh: Sya’i bin Muhamamd Al-Ghubaisyi* Mencintai sesuatu berarti menunggu-nunggu kedatangannya. Dalam konteks ini kisah cinta …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *