Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Muslim Yang Baik Itu Bagaikan Sebatang Pohon
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Muslim Yang Baik Itu Bagaikan Sebatang Pohon

Grass_wallpapers_43411. Pohon yang baik, ia tumbuh dengan sempurna.

Pohon yang baik tidak seperti ilalang. Walau ia sama-sama bermula dari tunas, tapi ilalang akan lebih cepat tumbuh tinggi dan besar. Adapun sebatang pohon, ia harus melalui bermacam tahap sehingga ia bisa tumbuh tinggi dan besar. Kemudian perlahan, ia akan terlihat tinggi dan meninggal ilalang jauh dibawah.
Seorang muslim harus memiliki keunggulan lebih dari yang lainnya. Ia harus bangga menonjolkan identitas kemuslimannya, serta dibalik identitas kemuslimannya, ia harus memiliki kemampuan khusus yang membuat ia berbeda. Dan untuk tumbuh, ia harus sabar dalam melalui setiap tahapan-tahapan pertumbuhan, agar ia bisa tinggi menjulang.
“Yakhtalithun walakin yatamayyazun” (Mereka berbaur tapi tidak lebur).

2. Ia memiliki akar yang kuat serta ranting yang menjulang ke langit.

Seorang muslim harus seperti pohon ini. Ia harus memiliki pijakan yang kokoh, sehingga ia tak mudah diterpa oleh badai. Akarnya menghujam dalam ketanah, kuatnya angin, tak membuat ia sama sekali tumbang. Kokoh berdiri dengan penuh keistiqamahan. Bukan layaknya ilalang, yang akan bergerak kemana saja disaat diterpang angin kencang.
Muslim yang baik, akan serius untuk memperkuat akar itu dengan aqidah yang lurus, serta ibadah yang benar. Dan ia melakukan semua itu dengan sabar dan penuh tahapan, sehingga rantingnya bisa tinggi menjulang ke langit.

3. Pohon yang baik, ia berkembang biak.

Ketika ia menjatuhkan buahnya, maka ditanah itu akan tumbuh tunas yang baru. Ia melahirkan duplikasi-duplikasi kebaikan dan ketha’atan. Ia tak pernah merasa cukup dengan kesholehan yang ia perbuat. Ia mampu melahirkan lingkungan yang sholeh. Pada keluarganya, lingkungannya, masyarakatnya, kemudian negaranya.
Seorang muslim tidak akan pernah berpikir bahwa ia akan masuk surga sendiri, karena itu akan terpatri dalam dirinya bagaimana membumikan kebaikan-kebaikan yang ada pada dirinya.
“Ashlih nafsak, wad’u ghairak” (Persholeh dirimu, dan seru orang lain).

4. Pohon yang baik, memberi berbagai manfaat.

Rindang daunnya menjadi tempat berteduh. Kekokohan batangnya, menjadi tempat bersandar. Serta buahnya, menjadi penghilang dahaga disaat panas gersang. Bahkan disaat daunnya gugur satu-persatu, iapun tetap istiqamah menjadi humus yang baik untuk tanah yang ia tempati. Iapun menjadi sumber oksigen untuk manusia sekitarnya.
Seorang muslim akan tertanam dalam dirinya bahwa sebaik-baik manusia, adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya.
“Khairunnas, anfa’uhum linnas”.

5. Ia senantiasa berbuat baik.

Tatkala pohon itu dilempari dengan batu, maka ia akan memberikan orang yang melempar dengan buah yang manis. Tatkala iapun dikencingi oleh orang dibawahnya, tetap saja ia tak enggan memberikan tempat berteduh.
Begitulah seorang muslim, ia tidak akan pernah membalas perbuatan buruk dengan hal buruk yang sama. Tetapi ia akan balas keburukan yang ditimpakan padanya, dengan kebaikan-kebaikan yang tak terhitung jumlahnya.
“Idfa’ billati hiya ahsanus sayyi-ah” (Balaslah dengan sesuatu yang lebih baik sebuah perbuatan buruk).

(Manhajuna/GAA)

 

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Kiat Memanfaatkan Liburan

Manhajuna – Liburan semester adalah hal yang ditunggu–tunggu oleh semua kalangan, baik bagi para mahasiswa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *