Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Perang Mu’tah (Bag. II)
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Perang Mu’tah (Bag. II)

Bertemunya Pasukan Kaum Muslimin dengan Tentara Romawi Beserta Sekutunya

Balatentara kaum muslimin bergerak ke utara dan singgah di Ma‘aana, sebuah desa di Syam, dan mereka mendapat informasi bahwa Heraklius telah sampai di daerah Ma’aab, daerah Al-Balqaa’ dengan 100rb tentara ditambah bala bantuan prajurit sebanyak 100rb yang berasal dari suku-suku Arab yang loyal pada Heraklius, diantaranya Lakhm, Juthaam, Balqayn, dan Bahraa’.

Situasi ini tidak diprediksi sama sekali oleh kaum Muslimin. Menghadapi 200rb tentara musuh dengan kekuatan 3000. Sangat jauh sekali dari logika untuk bisa menandingi apalagi memenangkan peperangan. Dua malam di Ma’an kaum Muslimin memikirkan sembari bermusyawarah terkait apa langkah yang harus diambil. Beberapa dari mereka mengusulkan untuk mengirim pesan kepada Rasulullah, sallallaahu `alayhi wa sallam, untuk menginformasikan jumlah tentara musuh, barangkali beliau sallallaahu `alayhi wa sallam akan mengirim tambahan tentara atau memerintahkan dengan suatu perintah yang akan dikerjakan.

Sementara itu ‘Abdullaah ibn Rawaahah ra, tetap diam. Zayd ibn Haarithah ra, bertanya pada `Abdullaah ibn Rawaahah ra tentang pandangannya. Dan dia berkata,  “Wahai Kaum! Demi Allah! Sesungguhnya apa yang kalian benci itulah justru tujuan kalian bepergian yaitu mencari syahadah (mati syahid). Kita tidaklah memerangi manusia karena jumlah, kekuatan dan banyaknya jumlah mereka. Tidaklah kita memerangi mereka, kecuali karena agama ini (Islam) yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Maka berangkatlah, sesungguhnya ini hanyalah dua kebaikan, kemenangan atau syahadah.” Akhirnya diputuskan dengan mantap, tentara kaum Muslimin setuju dengan ‘Abdullaah ibn Rawaahah.

Mereka terus berlanjut mendekati Al-Balqaa’, daerah di Syam, dimana mereka bertemu dengan tentara Romawi dan Suku Arab di desa “Masyarif”. Musuh bergerak ke depan dan Kaum Muslim mundur ke sebuah desa yang disebut Mu’tah, (sekarang dikenal sebagai Kark). Tentara kedua belah pihak bertemu di sana dan Kaum Muslim bersiap untuk konfrontasi, dan menugaskan Qutbah ibn Qataadah ra dari Banu `Uthrah sebagai komando sayap kanan. Sedangkan sayap kiri dikomandoi oleh ‘Ubaadah ibn Maalik ra dari Al-Ansaar.

Situasi Pertempuran

Kedua belah pihak bertempur tanpa kenal lelah. Zayd ibn Haarithah ra, adalah panglima pertama dari Kaum Muslim yang mati syahid dibunuh ketika sedang berperang dengan gagah berani. Ja‘far ibn ‘Abu Thalib ra melanjutkan estafet kepemimpinan pasukan, mengambil panji putih dengan tangan kanannya dan melantunkan bait puisi terkait Surga dan kebulatan tekadnya menghadapi Romawi. Tangan kanannya dipotong, sehingga dia menahan panji putih dengan tangan kirinya, yang kemudian juga dipotong. Dia lalu memeluk panji putih menggunakan bagian atas dari lengannya sampai akhirnya beliau juga mati syahid. Allah mengganti dua tangannya yang terpotong dengan dua sayap kelak di surga , sehingga dia dijuluki Ja’far ath-Thayyar (Ja’far yang banyak terbang), dan Ja’far Dzul Janahain (Ja’far si pemilik dua sayap di surga)

‘Abdullaah ibn Rawaahah ra merengkuh panji putih dan berusaha keras untuk turun dari kudanya. Dia membaca baris puisi bersumpah bahwa dia akan turun melawan kebimbangan dan kekhawatiran yang menyusup. Bagaimana mungkin jiwanya membenci kematian padahal akan menikmati Surga jika syahid, dan berkata pada dirinya sendiri bahwa jika dia tidak terbunuh di medan tempur, dia juga akhirnya akan mati suatu saat nanti. Beliau bersenandung:

Aku bersumpah, wahai jiwa hendaklah kau turun

Dengan rasa benci ataupun sukarela

Jika manusia berteriak gaduh dan memekik

Mengapa kulihat engkau membenci jannah (surga)

Setelah dia turun dari kudanya, sepupunya menawarkan sepotong daging untuk dimakan sehingga dia akan memiliki cukup energi untuk bertempur.  Dia mengambil segigit dan kemudian maju menerobos pada pertempuran sampai mati syahid.

(Bersambung)

Baca juga: Perang Mu’tah (Bag. I)

Sumber:

1- Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad sallallaahu ‘alayhi wa sallam, Dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir, penulis Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri

2- Islamweb.net

(Manhajuna/IAN)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Perang Mu’tah (Bag. III)

Panji Perang Beralih ke Tangan “Pedang Allah” Setelah syahidnya ‘Abdullaah ibn Rawaahah, Tsabit bin ‘Arqam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *