Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Pesan Bagi Yang Ingin Mulai Berdakwah
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Pesan Bagi Yang Ingin Mulai Berdakwah

Oleh Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

abdullah-haidir

Tumbuhnya pemahaman Islam yang baik dan benar setelah sekian lama berkubang dengan kekeliruan dan kekhilafan, sementara sekelilingnya masih banyak individu muslim bahkan orang-orang terdekatnya yang kehidupan agamanya masih memprihatinkan, biasanya melahirkan keinginan yang besar untuk berdakwah. Hal ini tentu saja sangat positif, tapi bagaimanapun juga harus dikelola dengan baik sesuai situasi dan kondisinya, sebab kalau tidak, bisa jadi justru kontraproduktif.

Kita tentu masih ingat kisah Abu Dzar Al Ghifari ketika masih baru memeluk Islam, seketika itu juga berdiri di depan Ka’bah dan menyerukan Islam kepada orang-orang kafir Quraisy yang berujung pada mendaratnya pukulan bertubi-tubi di tubuhnya dari orang-orang kafir tersebut hingga dirinya pingsan, begitu seterusnya terjadi beberapa kali, hingga akhirnya Rasulullah J menasehatinya agar dia pulang saja ke kabilahnya dan berdakwah disana. Dan benar, setelah sekian lama dia berdakwah seluruh kabilahnya masuk Islam.

Saya teringat dengan seorang akh yang ingin pulang kampung kemudian meminta saya untuk mencatatkan semacam teks ceramah tentang beberapa hal yang ingin dia sampaikan kepada sanak saudaranya, mengingat masih banyak –katanya- saudaranya  yang ‘ngga bener dalam masalah agama’.

Segera terbayang dalam benak saya, akh kita ini segera berbicara di depan keluarganya apa yang dia dapatkan dari para ustaznya, “harus ini tidak boleh itu”, “tidak boleh ini harus itu”. Kemudian timbul kekhawatiran dalam diri saya akan reaksi balik yang akan dia terima dari sanak saudaranya, apalagi secara pribadi akh kita ini memang sebelumnya tidak dikenal sebagai seorang ‘ustaz (baca: da’i) di kalangan keluarganya. Meskipun saya segera istighfar karena telah mendahului ketentuan Allah swt, sebab bisa jadi apa yang dilakukan akh tadi justru menghasilkan dampak positif di tengah keluarganya.

Kejadian-kejadian dalam kerja dakwah yang terjadi di luar kalkulasi, perkasus sangat mungkin sekali. Namun hal tersebut seharusnya tidak menghindari kita untuk mengantisipasi berbagi kemungkinan yang bakal terjadi dengan langkah-langkah taktis dan proporsional.

Oleh karena itu, bagi yang ingin mulai berdakwah, juga memahami beberapa hal berikut:

1. Kuatkan hati dan kejiwaan anda dengan taqarrub kepada Allah.

Berdakwah bukan kerja sembarangan yang dapat dilakukan begitu saja walau hatinya kosong. Tetapi dia adalah sesuatu yang harus disampaikan dengan penampilan prima lahir batin. Jangan lupa juga berdoa, kekuatan doa bisa lebih “dahsyat” dari seribu strategi.

2. Rapihkan akhlak anda sebelum pembicaraan anda.

Masyarakat lebih menerima orang yang akhlaknya baik walaupun tak pandai berbicara ketimbang orang yang pandai berbicara namun akhlaknya tidak baik. Jika akhlak kita baik, maka penyampaian kita lebih diterima, atau paling tidak kita sudah dapat masuk dari salah satu pintu masuk ke tengah masyarakat.

3. Sedapat mungkin perkokoh keberadaan dirinya di hadapan komunitasnya (itsbaat adz-dzaat).

Hal tersebut tidak harus dilakukan lewat materi, misalnya dengan selalu memberi ini dan itu, meskipun jika ada kemampuan cukup efektif juga. Tapi dapat juga dilakukan dengan menampilkan citra diri yang positif di hadapan komunitasnya, misalnya dengan selalu menjalin komunikasi lewat berkunjung atau sekedar bertanya apa khabar, menampilkan raport sosial yang bersih (tidak suka ingkar janji, dusta atau nilep uang saudara), memberikan pelayanan dan yang semacamnya. Citra yang positif tersebut akan sangat membantu anda untuk dengan mudah diterima oleh lingkungan anda dengan nilai-nilai dakwah nantinya.

4. Sedapat mungkin membekali diri dengan dasar-dasar keislaman yang baik dan memadai terutama dengan perkara-perkara mendasar tentang ke-Islaman.

Jangan berbicara tentang hal-hal yang belum dikuasainya apalagi sampai memberikan kesimpulan hukum, selain secara syar’i dikecam, hal tersebut juga dapat menjadi pukulan telak bagi mereka yang ‘dengki jika didapati ada kesimpulan anda yang kurang tepat berdasarkan rujukan syar’i yang ada. Jangan ragu untuk berkata: “Saya tidak tahu”, pada hal-hal yang memang dia tidak tahu, itu lebih baik daripada dia mencari jawaban sekenanya. Hal ini pada gilirannya menuntut seseorang untuk selalu mengkaji Ilmu-ilmu Islam dan mencari saluran-saluran pertanyaan dari berbagai problem berdasarkan kacamata keagamaan.

5. Mulailah pembicaraan dari prinsip-prinsip yang umum yang disepakati.

Jika ada yang perlu anda sampaikan, mulailah pembicaraan dari prinsip-prinsip yang umum yang disepakati, misalnya keharusan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang menuntut adanya sikap keta’atan kepada keduanya. Masalah aqidah dan keimanan jelas harus menjadi bahasan utama, namun yang penting cara penyampaiannya yang baik. Perbanyak kisah-kisah tentang bentuk-bentuk ketaatan dari para shahabat dan kehidupan salafussalih. Hindari kisah-kisah yang aneh dan diluar akal, walau tujuannya untuk kebaikan, karena hal tersebut akan membiasakan orang untuk tidak tertarik perkara-perkara yang logis dan argumentatif, kecuali jika cerita tersebut memiliki landasan dalil yang kuat.

6. Pada tingkat permulaan, hindari bahasa-bahsa yang dapat mengundang antipati ketika pertama kali mendengarnya.

Gunakan redaksi lain yang sebenarnya punya makna yang sama namun terasa lebih “halus” di telinga. Misalnya, untuk perkara-perkara hukum yang belum terlalu dikenal di tengah masyarakat, istilah haram dapat kita ganti sebagai ‘sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam’ sebagaimana istilah wajib dapat kita katakan sebagai ‘sesuatu yang semestinya dilakukan seorang muslim”, dst.

7. Jangan berusaha seorang diri.

Libatkan teman-teman yang memiliki fikroh yang sama, jika tidak didapatkan dilingkungan anda maka berusahalah mendapatkan orang-orang yang senang terhadap kebaikan, buat jalinan khusus dengan dia hingga dapat bekerja bersama kita.

8. Semua lapisan masyarakat adalah objek dakwah.

Jangan minder jika dakwah anda cuma “disenengin” anak-anak (misalnya lewat TPA atau sekedar mendekati mereka), suatu saat mereka akan sangat berpotensi jika terus kita pantau perkembangannya. Karena prinsipnya, semua lapisan masyarakat adalah lahan dakwah. Bukankah dalam banyak riwayat Rasulullah juga menjadikan anak-anak sebagai objek dakwahnya ?.

9. Jangan ada kesan anda mengenyampingkan tokoh-tokoh masyarakat yang sudah dikenal, apalagi melecehkan mereka.

Sangat penting untuk menjaga hubungan dengan tokoh-tokoh masyarakat. Ziarahi mereka dan bangunlah silaturrahmi yang baik terhadap mereka serta sikapilah sebagaimana kedudukannya di tengah masyarakat namun tetap menjaga prinsip-prinsip yang telah diyakini, kecuali pada hal-hal yang masih mungkin bisa ditolerir. Lihatlah bagaimana sikap Rasul terhadap Abu Sufyan, tokoh masyarakat Quraisy yang baru masuk Islam dalam peristiwa Fath Mekkah. Beliau diberikan penghormatan sesuai kedudukan sosialnya di tengah masyarakat.

Moga tips-tips ini bisa bermanfaat bagi setiap muslim yang sedang membuka lahan dakwah baru di daerah tempat tinggalnya. Baik bagi yang baru pindah rumah atau mungkin sekedar pulang kampung setelah lama merantau ke negeri orang.

(Manhajuna/AFS)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Haji dan Perubahan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc. Watak dasar kehidupan adalah adanya perubahan. Tidak ada perubahan, berarti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *