Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Hadist / Pokok-pokok Agama (Islam, Iman dan Ihsan) – Bag. II
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Pokok-pokok Agama (Islam, Iman dan Ihsan) – Bag. II

Berikut lanjutan terkait penjelasan Hadits yang berisi pokok-pokok Agama (Islam, Iman, dan Ihsan)

Baca juga: Pokok-pokok Agama (Islam, Iman dan Ihsan) – Bag.I

Kedudukan Hadits

– Ibnu Rajab berkata, Hadits ini sangat tinggi sekali nilainya, mencakup seluruh penjelasan dalam agama. Karena itu, diakhir hadits Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang hendak mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [1]

– Al-Qurthubi berkata, “Hadits ini layak disebut sebagai Ummus-Sunnah (Induknya Sunnah), karena semua kandungan ilmu dalam Sunnah bersumber dari hadits ini. Sebagaimana Al-Fatihah dikatakan Ummul-Quran, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai Al-Quran secara global.” [2]

Kandungan Hadits

  1. Disunnahkan memperhatikan kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan. Khususnya  jika  menghadapi ulama, orang mulia dan penguasa.
  2. Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.
  3. Datangnya hari kiamat secara persis merupakan perkara gaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta’ala.
  4. Akhlak mulia Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam sehingga beliau bersedia duduk bersama-sama shahabatnya, tidak menyendiri dan tidak merasa dirinya harus selalu di atas mereka.
  5. Hadits ini juga menunjukkan keinginan para shahabat untuk selalu berada di sekeliling Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam agar dapat mengambil manfaat darinya. Hal ini berarti, hendaknya kita selalu berupaya untuk berada di sekeliling orang-orang saleh, agar dapat mengambil kebaikan darinya, baik dengan ilmu, nasehat maupun doa.
  6. Di antara adab menuntut ilmu, duduk dengan hormat, dekat dan di hadapan sang guru, rendah hati, mengajukan pertanyaan dan tekun mendengarkan.
  7. Metode (uslub) dialog (حوار) merupakan salah satu uslub pengajaran yang sangat bermanfaat. Hal tersebut juga banyak kita jumpai dalam Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam [3]
  8. Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu dan dia tidak mengetahuinya, maka tidak ada cela baginya untuk berkata, “Saya tidak tahu,” dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.
  9. Dibolehkan dan bahkan dianjurkan bertanya kepada guru tentang sesuatu yang telah diketahui jawabannya, jika tujuannya agar pendengar lainnya yang belum mengetahui hal tersebut dapat mengambil manfaat dari jawabannya. Adapun bertanya sekedar untuk berdebat, atau menguji guru, bukanlah akhlak seorang penuntut ilmu.
  10. Walaupun kedudukan Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam sangat mulia, tetap saja beliau tidak mengetahui perkara gaib, kecuali apa yang Allah beritakan kepadanya.
  11. Seorang pendidik hendaknya menjawab pertanyaan pena-nya satu persatu tanpa merasa berat, sehingga membuat penanya tidak takut dan sungkan. Adapun penanya, hendaknya tidak memaksa jawaban. Jika tidak mendapatkan jawaban, hendaknya dia beralih ke pertanyaan berikutnya, agar tidak memberatkan yang ditanya. [4]
  12. Dalam hadits ini terdapat pelajaran bagi pendidik untuk selalu memeriksa apa yang belum diketahui muridnya.
  13. Yang dimaksud ‘Agama’ dalam hadits ini adalah: Ajaran-ajaran pokok agama.
  14. Hadits ini juga menunjukkan secara global bahwa kandungan agama secara umum berupa: aqidah dan syariat, keyakinan dan pengamalan, perkataan dan perbuatan.

Tema Hadits dan Ayat Al-Quran yang Terkait

Iman : Al-Baqarah (2): 285, Al-Maidah (5): 5, Al-An’am (6): 82
Islam : Al-Baqarah (2): 112, An-Nisa (4): 125, Al-Jin: (72): 14, Al-Mukmin (40): 66, Ali Imran (3): 19, Al-Ma’idah (5): 3
Ihsan : Al-Kahfi (18): 30, Al-Qashash (28): 77, Al-Isra’ (17): 7, Al-Ma’idah (5): 93
Perkara gaib : Al-A’raf (7): 187, Al-Hajj (22): 7, Luqman (31): 34, Al-Baqarah (2): 3, An-Naml (27): 65, Al-An’am (6): 50, Al-A’raf (7): 188
Belajar dan mengajarkan ajaran Islam : Ali Imran (3): 79, At-Taubah (9): 122, Al-Jumu’ah (62): 2

Catatan Kaki:

  1. Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 45
  2. Fathul Bari, I/172
  3. Misalnya dalam surat: al-Baqarah: 222, al-Anfal: 1, al-Qiyamah: 38-40
  4. Syarah Muslim, I/114

Sumber: Kajian Hadits Arba’in Nawawiyah, Imam An-Nawawi, Penyusun Abdullah Haidir, di Muraja’ah DR. Muinudinillah Basri, MA Fir’adi Nashruddin, Lc. Penerbit Kantor Dakwah Sulay Riyadh

(Manhajuna/IAN)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Muhammad(PBUH)

Lahirnya Sang Pencerah Sejati

Oleh: Ustadz Fir’adi Nasruddin, Lc. « إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا, لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *