Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Profil Ideal Paska Ramadhan
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Profil Ideal Paska Ramadhan

Oleh Ust. Fir’adi Nasrudin, Lc.

» يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ «

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan. Dan jangan kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).

Saudaraku,
Ramadhan, bulan sarat dengan ampunan, berkah, rahmat dan panen pahala telah berlalu meninggalkan kita. Di bulan itu, ada dia antara kita yang yang memanen pahala secara sempurna dan maksimal. Ada pula yang panennya hanya sekedarnya saja. Dan bahkan tidak sedikit yang gagal panen, sehingga hasil yang dicapai sangat jauh dari harapan.

Setelah ia berlalu, idealnya kita mengadakan evaluasi total. Sehingga jika kita telah berada di puncak ubudiyah. Maka kita banyak memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya serta berupaya sekuat tenaga dan kemampuan agar dapat mempertahankan prestasi tersebut. Karena konsisten berada di puncak jauh lebih sulit daripada saat kita mendaki ke sana.

Dan jika kita belum maksimal mengisi hari-hari dan malam-malam Ramadhan, sudah saatnya kita berbenah dan menyadari kelalaian, keteledoran kita serta kita banyak beristighfar dan taubat kepada-Nya. Kita raba berbagai faktor dan penyebab keterpurukan kita. Kita bangun kembali mental dan semangat spiritual kita, sehingga keterlenaan kita tak terulang lagi di tahun-tahun berikutnya.

Saudaraku,
Ibnu Rajab dalam kitabnya ‘lathaif al ma’arif’ menceritakan bahwa ada salah seorang salafus shalih (Bisyr bin Harits al Hafi) pernah ditanya perihal orang yang hanya beramal shalih di bulan Ramadhan, maka ia menjawab: “Orang yang tak mengenal hak-hak Allah atasnya selain bulan Ramadhan, maka ia adalah seburuk-buruknya kaum. Orang shalih sejati adalah orang yang beribadah dan bersungguh-sungguh mengukir prestasi ubudiyah selama satu tahun penuh.”

Oleh karena itu hari raya idul fitri sepatutnya kita jadikan sebagai agenda terakhir dari seluruh rangkaian ibadah Ramadhan. Idul fitri adalah saat awal memulai kehidupan baru dengan hati yang baru dan semangat yang baru pula.

Idul fitri bukan sekadar menampilkan keindahan wajah dan keelokan tampilan luar. Tapi, seharusnya kita lahir menjadi sosok anggun dengan ketampanan bathin dan kecantikan pekerti.

Saudaraku,
Jika kita cermati dengan kaca mata bathin, maka kita dapati dalam surat al Baqarah, ayat-ayat yang berbicara tentang shiyam (183-187), jihad dan perjuangan (190-195) serta haji dan umrah (197-203). Tiga madrasah terbesar itu, di mana shiyam menyimbolkan kekuatan ruhani. Jihad dan perjuangan perlambang kekuatan jasad dan iman. Serta haji dan umrah yang mengindikasikan kekuatan harta dan keyakinan.

Pada akhirnya, dari tiga madrasah Rabbani itu hanya akan melahirkan sosok pecundang (204-206) dan sosok pejuang (207). Sehingga ayat-ayat tersebut Allah tutup dengan seruan agar kita menjadi pribadi muslim yang utuh. Tidak terbelah dan terpecah-pecah (208). Itulah potret riil ketakwaan dalam kehidupan kita.

Saudaraku,
Ustadz H. Abdullah Haidir, penulis buku “Istri dan puteri Rasulullah” dan buku “Kisah Nabi dan Rasul” menyebutkan,

“Setidaknya ada 5 point yang dapat kita jadikan patokan atau parameter untuk menilai utuh tidaknya kepribadian kita sebagai seorang muslim.

• Pribadi yang pandai membersihkan hati dan meluruskan amal. Dan ini merupakan realisasi dari pemahaman yang benar dari dua kalimah syahadat yang selalu kita ikrarkan sewaktu shalat dan di luar shalat.

Termasuk dalam cakupan membersihkan hati adalah terpeliharanya niat yang ikhlas dalam mendaki puncak ubudiyah, mengukir prestasi ibadah dan rangkaian amal shalih lainnya. Demikian pula menjaga hati dari berbagai penyakit hati, seperti: sombong, riya, dengki, dendam, dan yang seirama dengan itu.

Berikutnya adalah ittiba, titik tekannya adalah amal yang lurus berdasarkan petunjuk dan pedoman yang dibawa Rasulullah saw. Jangan sampai kita merasa benar karena merasa ikhlas, namun amalnya tidak benar (sesuai tuntanan Nabi). Atau merasa benar karena perbuatan kita lurus, namun hati kita tidak bersih dari noda dan kotoran.

Kedua hal ini mesti seimbang. Ketiadaan salah satunya akan berakibat buruk bagi yang lain.

Tersebut dalam shahih Muslim bahwa ada tiga orang yang telah beramal puncak di dunia. Yakni orang yang berperang sampai terbunuh. Qari’ al Qur’an yang membacakan al Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain dan seorang yang dermawan. Di pengadilan Allah, akhirnya ketiganya divonis merugi dan diseret ke dalam neraka dalam keadaan tertelungkup. Lantaran mereka tidak memurnikan amalannya hanya untuk Allah semata. Tapi dengan tujuan pamrih duniawi. Agar disebut pahlawan dan pemberani. Dipanggil qari’ dan alim. Serta mendamba gelar dermawan.

Sementara tersebut dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ash, ada orang yang dijamin Nabi masuk surga lantaran memiliki kebiasaan langka, dan unik. Dan dalam pandangan manusia, memiliki amalan yang sederhana. Yakni memaafkan kesalahan orang lain sebelum tidur.

Nam sekadar ikhlas karena Allah dalam beramal dan beribadah tanpa mengikuti tuntutan Nabi, juga tertolak amalannya seperti tersebut dalam hadits Aisyah.

• Pribadi yang memperhatikan untuk melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan. Sebesar itu seseorang memperhatikan kewajiban yang Allah berikan kepadanya, sebesar itupula perhatiannya untuk menjauhi larangan Allah. Jangan sampai kita semangat dalam mengukir ketaatan, tapi di sisi lain, kita tetap mudah bermaksiat, melakukan dosa, atau sebaliknya.

Perumpamaan orang yang gemar melakukan kebaikan, namun menerjang rambu-rambu-Nya dan rutin menuruni lembah dosa adalah seperti orang yang membangun istana nan megah, setelah itu ia merobohkan bangunan tersebut.

Ibnu Abi Dunya meriwayatkan, bahwa Nabi saw pernah bersabda kepada seorang laki-laki, “Wahai Fulan, sesungguhnya engkau membangun (sebuah istana) dan merobohkannya. Maksudnya, engkau melakukan kebaikan dan setelahnya engkau berbuat maksiat.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, sekarang aku akan membangun (istana) dan tak akan merobohkannya lagi.”

• Pribadi Yang memperhatikan kebaikan agamanya juga kebaikan dunianya.

Puasa adalah ibadah di mana kita dapat melakukan aktifitas dunia tanpa meninggalkan ibadah. Tidak ada kontradiksi antara kehidupan dunia dan agama. Dunia kita butuhkan untuk mencapai derajat mulia dalam agama, sementara agama kita perlukan utk mengontrol kehidupan dunia.

Keliru orang yang mengejar kemuliaan dalam agama dan akherat, namun dia abaikan dunianya. Sebagaimana lebih keliru lagi orang yang mengabaikan aturan agama demi meraih derajat tinggi dalam dunianya.

Allah berfirman, “Dan carilah dari apa yang Allah karuniakan untukmu untuk meraih kebahagiaan hidup di akherat, tapi jangan kalian lupakan nasibmu di dunia.” Al Qashasah, 77.

• Pribadi yang menjaga hubungan baik dengan Allah (vertikal) dan memelihara keharmonisan hubungan dengan sesama manusia (horizontal).

Hubungan mesra dengan Allah salah satu barometernya adalah baiknya hubungan kita kepada manusia. Sedangkan baiknya hubungan kita kepada sesama manusia, tidak bernilai tanpa dibingkai dengan baiknya hubungan kita kepada Allah. Hablum minallah dan hablum minan nas berjalan seiring. Serasi dan saling melengkapi serta memperindahnya.

• Pribadi yang bersifat memudahkan namun tidak meremehkan. Agama tidak menyulitkan namun jangan sampai kita meremehkan agama apalagi memperolok-oloknya.

Dalam puasa kita boleh berbuka jika sakit,dalam perjalanan atau tidak mampu.Tapi kita jangan mudah berbuka kalau memang kuat untuk berpuasa.

Saudaraku,
Sudahkah kita menjadi pribadi yang utuh pasca Ramadhan?. Mari kita berupaya untuk membangun pribadi tersebut. Pribadi yang akan mendatangkan ridha Allah dan cinta dari manusia. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 14 Agustus 2013

(AFS/Manhajuna)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Serangkai Nasehat Untuk Tetamu Allah

Oleh: Ustadz Fir’adi Nasruddin, Lc. » الْحَجُّ أَشْهُرُُ مَّعْلُومَاتُُ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *