Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Putus Asa = Malapetaka Dalam Diri Kita
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Putus Asa = Malapetaka Dalam Diri Kita

Oleh: Ustadz Fir’adi Nasruddin, Lc.

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ: » اَلْهَلاَكُ فِي اثْنَتَيْنِ: الْعُجُبُ وَالْقَنُوْطُ «

Berkata Abdullah bin Mas’ud r.a, “Pangkal kebinasaan terdapat pada dua perkara; bangga diri dan putus asa.”

Saudaraku,
Dalam hidup, pasti kita pernah disapa oleh terpesona dengan kebaikan diri sendiri (‘ujub) dan juga pernah merasakan putus asa dari rahmat Allah s.w.t, karena kegagalan yang kita alami.

Salah satu sifat tercela yang harus kita singkirkan sejauh-jauhnya dari diri kita adalah rasa putus asa. Karena ia akan menjadi bencana besar bagi kita di dunia dan kebangkrutan dahsyat di akherat sana.

Terkadang persoalan hidup yang mendera kita, memicu kita untuk putus asa. Semisal hutang yang mencengkeram leher. Sakit kronis yang tak kunjung sembuh dan akrab menyapa tubuh, sementara biaya pengobatan melangit tinggi. Kegagalan membangun rumah tangga bahagia. Gagal dalam studi. Buah hati tak kunjung datang padahal usia pernikahan tidak lagi seumur jagung. Akhirnya kita menjadi pupus harapan dan asa pun mengkandas lelah.

Pemotongan gaji setiap bulan, padahal gaji tak kunjung naik. Bisnis hancur dan usaha bangkrut. Dikhianati orang kepercayaan dan ditipu orang-orang dekat. Kepergian anak semata wayang ke haribaan Ilahi Rabbi. Atau sertifikasi guru dan dosen tak kunjung tiba.

Ternak ayam potong tidak mendatangkan hasil karena ayam-ayamnya stres, harga sawit dan karet yang semakin terjun bebas. Sulitnya mendapatkan pekerjaan dan status pengangguran yang permanen tak pernah berubah. Rumah yang telah dibangun dan memakan biaya yang tidak kecil, roboh dihantam gempa atau banjir. Bagi para mahasisiwa belum juga mendapatkan ACC dari dosen pembimbing. Dan yang senada dengan itu.

Di sisi lain, kurangnya amal shalih yang kita ukir dalam hidup. Banyaknya benih dosa dan maksiat yang telah kita tabur di dunia. Sepinya ibadah di malam hari dan tidak memaksimalkan peluang kebaikan di siang hari. Tak sedikit kezaliman yang telah kita perbuat terhadap orang lain dan yang sewarna dengan itu.

Hal itu sering menghadirkan rasa putus asa dalam meraih surga. Dan melahirkan sebuah bayangan api neraka yang pasti membakar tubuh kita. Dan mustahil kita selamat darinya. Merasa bahwa ampunan-Nya tak akan tergapai. Dan seterusnya.

Saudaraku,
Kekecewaan yang menghantui jiwa. Menganggap jalan telah buntu. Merasa tiada lagi harapan bangkit. Putus asa dari rahmat Allah s.w.t, merupakan mentalitas kaum kufar yang mereka wariskan kepada kita. Dan juga termasuk tipu daya setan yang telah banyak memperdaya kita, sebagai insan beriman. “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).

Saudaraku,
Syekh Mustafa Siba’i pernah menasihati kita:
“Jika putus asa meraih surga dihembuskan setan, ingatlah ampunan Allah.

Jika terbatasnya amal membuatmu putus asa meraih keselamatan di sana, kenanglah anugerah Allah.

Jika putus asa berhembus di hatimu lantaran sakit yang engkau derita, hadirkan rahmat Allah.

Jika engkau putus asa menghadapi mihnah (ujian) yang menderamu, yakinlah dengan janji Allah” (hakadza allamatnil hayat).

Saudaraku,
Membebaskan diri kita dari rasa putus asa dan bangkit dari keterpurukan ruhani, tidaklah mudah. Tapi juga tidak mustahil. Hal itu dapat kita lakukan dengan jalan mengenang dan mengingat besarnya ampunan Allah. Luas karunia-Nya. menggunung rahmat-Nya dan kepastian janji-Nya.

Sebesar apapun dosa dan setebal apapun maksiat yang pernah kita perbuat dalam hidup, ampunan dari-Nya akan kita gapai selama kita mau menyesali dan menyusuli perbuatan dosa yang pernah kita lakukan dengan amal kebaikan dan mau bertaubat nasuha kepada-Nya. Selama nafas belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut). Dan selama matahari belum terbit dari arah barat, yakni; tibanya hari kiamat. Demikian Nabi saw memberikan arahannya kepada kita.

Bahkan beliau memberi garansi, “Orang yang bertaubat dari dosa yang pernah dilakukannya, maka ia seperti orang yang tak berdosa.” (HR. Ibnu Majah, no. 4250 dan dihasankan oleh syekh Albani).

Jadi awan dosa dan mendung maksiat yang pernah menggelapkan hati kita, jika menghadirkan hujan taubat dan menjadi lautan penyesalan. Maka hal itu justru dapat mengangkat derajat kita di akherat sana.

Saudaraku,
Sadar dengan kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri kita merupakan modal berharga untuk bangkit dari keterpurukan. Menyadari sedikitnya amal shalih yang kita ukir. Banyaknya kewajiban yang tidak tertunaikan secara sempurna. Peluang amal shalih yang sering terbuang percuma dan seterusnya.

Yakinlah, bahwa Allah s.w.t senantiasa memberi pertolongan, kemudahan dan berbagai karunia dan anugerah yang berlimpah ruah. Selama kita mau berbenah diri. Selama kita mempersiapkan diri menyambut karunia dan pertolongan-Nya. Selama kita tak berputus asa meraih kemudahan dari-Nya.

Angin yang biasa dihembuskan setan di hati kita pada saat mengalami kondisi seperti ini adalah bahwa kita merasa tak akan selamat dari sengatan api neraka. Sehingga kaki kita terasa kaku, tak sanggup melanjutkan perjalanan menuju Allah s.w.t. Segera kenali bisikan setan model ini dan lemparkan jauh-jauh dari diri kita.

Pada saat kita merasa bekal kita tak cukup untuk bertemu dengan-Nya, maka kita berputus asa dari rahmat-Nya. Ingatlah, bahwa selama kita meminta kekuatan kepada-Nya. Selama kita merasa lemah dan tunduk terhadap-Nya. Selama sandaran kita pada-Nya tidak melemah. Selama semangat perjuangan tak luntur dan pengabdian tak mengendor, maka kita akan meraih ridha-Nya dan tersenyum saat berjumpa dengan-Nya. Walaupun dengan bekal yang kurang sempurna.

Saudaraku,
Sakit yang kita derita, mengajari kita tentang hakikat nilai sebuah nikmat-Nya yang agung; yakni kesehatan. Ketika berbagai penyakit berbahaya bersemayam di tubuh kita, menyadarkan kita bahwa sehat itu sangat mahal harganya. Tak bisa ditukar dengan segunung harta benda, kepingan emas, kilauan intan permata, mutiara dan berlian. Tak dapat dibeli dengan kekuasaan dan jabatan. Tak mungkin diganti dengan sawah ladang ribuan hektar milik kita.

Kita tak dapat berbicara banyak dengan jabatan yang kita sandang. Kedudukan terhormat di masyarakat. Popularitas yang melekat di baju kita. Pendamping hidup yang berparas menarik dan anggun. Kekayaan yang kita punya dan yang seirama dengan itu. Selagi tubuh kita akrab dengan penyakit berbahaya. Bahkan makanan enak dan favorit sekalipun harus kita hindari. Jika membahayakan kesehatan kita. Jika kita ingin memperpanjang kontrak hidup kita di dunia ini.

Pada saat kita sakit, kita semakin menyadari kelemahan diri kita. Semakin kita merasa membutuhkan pertolongan-Nya. Terkadang ibadahpun kita rasakan lebih khusyu’ dan tenang dibandingkan saat kita sehat dan kuat. Juga kita semakin menghargai peran besar orang-orang dekat yang menyayangi kita. Yang mungkin tidak kita kenali dan sadari sewaktu kita sehat.

Sakit yang kita derita, jika kita sabar menghadapinya, maka hal itu bisa menjadi penebus dosa yang pernah kita ukir dalam kehidupan. Sengaja atau tidak yang kita lakukan. Baik besar ataupun kecil. Kepada orang-orang dekat ataupun yang jauh di mata. Siapa yang tak ingin dosa-dosanya terampuni? Tentu tidak ada.

Jangan sampai sakit yang kita derita justru menambah beban berat di akherat sana. Justru semakin menambah pundi-pundi dosa yang memang sudah tak terhitung jumlahnya. Hal itu tercipta, jika kita tak ridha dengan garis takdir-Nya. Kita berprasangka buruk terhadap-Nya. Dan banyak berkeluh kesah karena sakit yang kita derita.

Saudaraku,
Bencana, musibah, ujian dan cobaan yang menyapa kita, berfungsi sebagai parameter kualitas iman kita kepada Yang Maha Kuasa. Dan seseorang mendapatkan ujian dan cobaan selaras dengan kadar keimanan yang dimilikinya.

Allah s.w.t berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, “kami telah beriman”, padahal mereka belum diuji?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah Mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3).

Jadi ujian dan cobaan hidup, merupakan saringan dan seleksi alami bagi kita umat beriman. Dan tentu dalam setiap seleksi, ada yang lulus dengan mudah. Ada yang lulus dengan predikat terbaik. Ada yang nilainya pas-pasan. Ada yang dibantu kelulusannya. Dan bahkan ada yang gagal dalam ujian.

Allah s.w.t membahasakan, orang yang lulus dalam ujian-Nya sebagai orang yang jujur dengan keimanannya. Sedangkan mereka yang gagal, sebagai para pecundang dan pendusta.

Ujian dan cobaan serta musibah yang menyapa kita, memiliki hikmah yang teramat berharga bagi kita. Untuk menebus dosa dan kekhilafan kita dalam menjalani hidup. Mengangkat derajat kita di surga. Agar kita semakin kuat memegang tali Zat Yang Maha Kuat. Dan seterusnya.

Saudaraku,
Untuk itu, sesulit dan sesusah apapun keadaan dan kondisi kita. Jangan pernah kita berputus asa dari rahmat-Nya. Memandang dunia telah gelap. Melihat jalan telah buntu.

Karena kita yakin, di balik kesulitan dan kesusahan yang mendera kita. Di sana terbentang kemudahan dan kelapangan. Di sana ada segunung perhatian-Nya dan selaksa rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita. Wallahu a’lam bishawab.

(Manhajuna/GAA)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

2045513Haji041443093494-preview780x390

Keutamaan Dan Amalan Hari-Hari Tasyriq

Oleh: Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA Manhajuna.com – Tasyriq adalah nama atau sebutan bagi tiga …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *