Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Role Model Khalid bin Al Walid
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Role Model Khalid bin Al Walid

Oleh: Aji Teguh Prihatno

Manhajuna.com – Salah satu torehan tinta emas sejarah yang paling gemilang atas Ummat Islam adalah kemenangan di Perang Yarmuk. Ada sosok panglima yang sangat berperan dalam andil menghujamkan pedangnya kepada pasukan musuh kaum kuffar, dialah yang dalam sejarah tercatat sebagai panglima perang yang mendapat julukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “Saifullah Al Maslul” (Pedang Allah Yang Terhunus), Khalid bin Al Walid.

Baru saja Sang Saifullah meraih karir di puncaknya setelah mengalahkan pasukan Bizantium di Yarmuk, ia mendapat kabar yang menguji keimanan dan kesabarannya dari Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu yang baru saja dibaiat menjadi khalifah menggantikan Abu Bakr Ash Shidq. Kabar itu berisikan instruksi pencopotannya sebagai panglima tertinggi Ummat Islam saat itu, untuk kemudian diganti oleh Abu Ubaidah bin Al Jarrah.

Sosok Panglima terbesar di zaman pertengahan (middle age) itu tetap tegar. Tanpa ngedumel, tanpa melakukan kegaduhan apalagi dengan melakukan gugatan, padahal dalam kapasitasnya sebagai Panglima Militer dari puluhan ribu pasukan Ummat Islam sangatlah mungkin untuk melakukan “makar” dan pemberontakan, namun tidaklah ia lakukan, ia malah berkata saat mendengar kabar pencopotan dirinya, “aku berperang bukan karena Umar, tapi karena Rabb-nya Umar”, sebuah kalimat sederhana namun begitu mendalam, ia keluar dari lisan yang penuh dengan keimanan dan keikhlasan.

Instruksi khalifah Umar bukan tanpa alasan, ia mencopot Khalid bin Al Walid sebagai tindakan preventif dari pengkultusan sosok Khalid bin Al Walid. Sebelum dicopot, Umar seringkali mendengar banyak ummat islam berkata “tak ada satupun yang mampu menggantikan Khalid bin Walid”, atau  “kalau khalid bin Walid maju berperang (menjadi panglima), maka tak terkalahkan”. Itulah ‘selentingan selentingan’ yang menurut pandangan Umar sangat berbahaya bagi aqidah Ummat Islam, yaitu sebuah keyakinan yang meyakini kemenangan datang bukan dari Rabb, tapi dari makhluk yang bernama Khalid bin Walid.

Bahwasanya kebijakan Umar untuk memberhentikan pahlawan sekaliber Khalid bin Al Walid untuk menegaskan hanya Allah sajalah yang menolong agama islam, bukan hamba-hamba Nya, dan sesungguhnya kekuatan itu hanya milik Allah seluruhnya, jangan sampai Ummat Islam melupakan firman Allah, Surah Muhammad (7) “Jika kamu menolong agama Allah,niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”

Sejarah dicopot/dirotasi-nya Khalid bin Al Walid ini mengisahkan kepada kita satu fenomena yang sarat akan pelajaran untuk setiap zaman, karena proses rotasi jabatan, regenerasi sebuah jamaah atau organisasi adalah keniscayaan. Sebagai manusia biasa dengan segudang prestasi kemenangan di berbagai pertempuran, Khalid bin Al Walid telah memberikan keteladanan yang begitu mulia kepada Ummat Islam bahwa sosok pribadi tak boleh lebih besar Jamaah Ummat Islam itu sendiri. Ia harus tunduk pada sistem dan aturan, bukan sebaliknya!

Di akhir hayatnya Khalid bin Al Walid tutup usia di kota Homs, yang kini sebagai salah satu kota di Suriah. Khalid berpesan kepada para sahabatnya, yang salah satunya adalah Abu Ad Darda’, untuk mempercayai warisan nya kepada Khalifah Umar. Akhir perjalanan hidup Sang Pedang Allah ditutup dengan manis dengan kebesaran jiwa untuk masih taat kepada pimpinannya.

Khalid, Pedang Allah yang Terhunus, bukanlah cita – cita hidupnya untuk terus memiliki jabatan setinggi tingginya di tengah manusia. Namun ia memiliki cita cita tertinggi di sisi Allah, ia hanyalah ingin mati syahid di jalan Allah, di atas pertempuran pertempuran menegakkan kalimat Laa ilaa ha illallah, meski pada akhirnya Allah telah menentukan taqdir kematiannya di atas ranjang. Sebuah taqdir atas pedang-Nya yang tak pernah terpatahkan oleh musuh-musuh Nya.

Baca Juga:

Implikasi Kemaksiatan Pribadi Dalam Kehidupan Berjama’ah

Panji Perang Beralih ke Tangan “Pedang Allah”

(Manhajuna/IAN)

Aji Teguh Prihatno, S.T.

Lulusan Teknik Elektro Universitas Indonesia. Sedang bekerja sebagai Telecommunication Engineer di Saudi Telecom Company (STC) Riyadh, Arab Saudi. Aktif di kegiatan sosial, politik, dan dakwah di masyakat. Pemerhati Timur Tengah. Twitter @BungAji

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

burung

Manusia Berhati Burung

Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, (يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ (رواه مسلم …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *