Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Setelah Ramadhan Berlalu
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Setelah Ramadhan Berlalu

Oleh Ust. Shalahuddin Abdul Rahman, Lc.

Manhajuna – Taqobbalallahu minna wa minkum, kullu ‘am wa antum bikhairin, minal ‘aidin wal faizin.
Ucapan tahniah tersebut saling bergantian terlontar dari lisan dan hati setiap muslim yang berbahagia di hari Iedul Fitri.
Bulan Ramadhan yang selalu dinanti-nanti oleh setiap muslim telah berlalu. Bulan yang memiliki kelebihan dibanding dengan bulan-bulan lain; di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, terdapat malam lailatul qodri yang lebih baik dari 1000 bulan, pahala amalan sunnah sama dengan pahala amalan wajib dan amalan wajib sama dengan 70 amalan wajib di luar bulan Ramadhan. Wajar bila air mata kesedihan seorang muslim terburai mengantar kepergian bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat, magfirah dan keterbebasan dari api neraka.

Apakah kita termasuk diantara mereka yang mengantar kepergian Ramadhan dengan senyum tersungging tanda bahagia, karena berhasil melaluinya dengan amal ibadah yang diterima Allah atau bahagia karena merasa terbebas dari beban yang menghimpit sekian hari lamanya?.
Atau mungkin kita termasuk diantara mereka yang menangis, karena kesempatan untuk melipatgandakan pahala telah lewat atau sedih karena tidak maksimal mengisi bulan Ramadhan dengan kebaikan?

Betapa banyak orang yang berharap dapat menggapai sekian banyak keutamaan yang ada dalam bulan Ramadhan, akan tetapi raganya telah terbujur kaku berkalang di atas gundukan tanah pekuburan sebelum harapannya terwujud. Adakah kita termasuk diantara mereka yang berharap itu…

Lalu, buah apa yang telah kita petik dari amaliah Ramadhan ini?
Adakah kita termasuk diantara mereka yang lulus dengan predikat muttaqin ?.
Bila anda termasuk diantara mereka, maka lantungkanlah tahmid untuk Allah dan mohonlah keteguhan dan istiqomah kepada-Nya hingga tarikan nafas terakhir.

Janganlah seperti seorang wanita yang telah bersusah payah memintal benang, helai demi helai hingga menjadi selembar kain dan setelah terpesona oleh keelokan pintalannya, iapun kemudian menguraikan pintalannya hingga kembali menjadi gundukan benang yang tiada arti.

(وَلا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثاً) (النحل:92)

“Dan janganlah kamu seperti seorang wanita yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (Q.S. an-Nahl: 92)

Itulah perumpamaan sebagian orang yang mengisi syahrul Qur’an dengan ibadah, akan tetapi setelah Ramadhan berlalu, merekapun kembali melakukan perbuatan dosa dan maksiat dan meninggalkan ibadah yang pernah ia tekuni selama bulan Ramadhan. Dan sejelek-jelek orang adalah mereka yang hanya mengenal Tuhannya ketika bulan Ramadhan, padahal Tuhan di bulan Ramadhan adalah juga Tuhan pada bulan-bulan lainnya, bahkan Tuhan untuk segala waktu dan tempat.

Seorang budak wanita sholehah pada zaman dahulu, merasa heran dengan sikap sebuah keluarga, dimana ia baru pertama kali kerja (setelah pindah majikan), yang sedang bersiap-siap menyambut bulan suci Ramadhan. Dengan heran ia bertanya: “Apakah kalian hanya berpuasa di bulan Ramadhan saja? Demi Allah, saya dulunya bekerja di suatu keluarga yang menjadikan seluruh harinya adalah Ramadhan. Tolong kembalikan saya ke majikan yang sebelumnya.”

Perhatikanlah sikap sebagian umat Islam setelah Ramadhan berlalu, ketika masjid-masjid menjadi saksi bisu, di saat mereka dengan tekun mengisi bulan Ramadhan dengan sholat berjama’ah, bahkan terkadang masjidpun tak sanggup menampung seluruh jama’ah, membludak hingga keluar. Tetapi seiring dengan berakhirnya Ramadhan, suasana masjidpun berangsur-angsur kosong, sekosong hati mereka yang pernah meramaikannya dengan iman. Demikian pula dengan mereka yang meninggalkan maksiat hanya di bulan Ramadhan, tetapi kemudian merasa bebas melakukan dosa apa saja setelah terbebas dari Syahrul Shaum.

Padahal sikap ini bisa jadi termasuk tanda-tanda tidak diterimanya amal ibadah –wal ‘iyadzu billah- karena orang yang benar-benar melakukan puasa adalah orang yang bergembira secara wajar pada hari ied-nya dengan syukur kepada-Nya karena berhasil menjalankan puasa secara sempurna, akan tetapi pada saat yang sama ia menangis karena takut bila amalannya tidak diterima oleh Allah. Sebagaimana sikap orang-orang salaf dulu, menangis selama enam bulan setelah Ramadhan berlalu memohon agar amal ibadahnya diterima oleh Allah .

Termasuk tanda diterimanya amal seorang hamba adalah bila prilaku, tutur kata, akhlak dan amalnya semakin baik dari waktu-waktu yang telah lewat dengan semakin tekun dan giat melakukan amal sholeh. Allah berfirman:

(لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ) (ابراهيم:7)

“Bila kalian bersyukur, maka sungguh Aku akan tambahkan (nikmat) untukmu.” [Q.S. Ibrahim: 7]

Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘menambahkan’ dalam ayat tersebut di atas adalah tambahan nikmat inmateril berupa kebaikan, keimanan dan amal sholeh. Karena bila seorang hamba bersyukur dengan sebenar-benar syukur, maka tentu ia akan semakin bertambah dalam kebaikan dan ketaatan serta menjauhi perbuatan maksiat.

Syukur itu adalah dengan meninggalkan maksiat, kata orang-orang salaf. Diceritakan bahwa pada suatu ketika, Wuhaib bin al-Ward (seorang abid yang hidup sezaman dengan Sufyan Ats Tsauri wafat 153 M) melewati sekelompok orang yang sedang berhura-hura, bercanda dan bergembir kelewat batas pada hari ied, lalu beliau menegur mereka dengan berkata: “Sungguh heran kalian ini, kalau memang yakin Allah telah menerima puasa kalian, bukan dengan begini cara mensyukurinya. Tetapi bila yakin Allah tidak menerimanya, maka inipun bukan cara orang-orang yang punya rasa takut.”
Jadi, untuk mengukur berhasil tidaknya Ramadhan yang kita lakukan, alat ukurnya bisa dilihat setelah Ramadhan. Ketika Ramadhan berlangsung, hampir seluruh umat manusia bersama-sama menikmatinya. Sama halnya ketika Anda mengikuti ujian di sekolah. Untuk menentukan bagus tidaknya nilai Anda, tidak diukur ketika ujian berlangsung, tapi diukur setelah ujian, saat nilai sudah dikeluarkan. Artinya, ukuran keberhasilan Ramadan baru dapat dilihat nilainya setelah Ramadan berakhir. Di sini akan terlihat hasil yang sesungguhnya atas Ramadhan yang pernah dijalani. Bila ia dapat menjalankan amalan langit (hablun minAllah) dan amalan bumi (hablun minannas) secara sistematis, maka sukseslah Ramadhan yang ia jalani. Seseorang yang sukses Ramadhannya akan mampu menjadi insan penebar rahmat, berakhlak mulia, dan hatinya selalu takut dan rindu pada Allah .
Rasulullah membagi Ramadhan menjadi 3 bagian, sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi dalam kitab shohih Al Khuzaimah (Jilid 3: hal. 191):

(وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَ أوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ)

“Awalnya berupa rahmat, pertengahannya berupa ampunan dan akhirnya adalah keterbebasan dari api neraka.”
Dan hal itu, dapat dilihat pada sejauhmana seorang hamba menyikapi bulan Ramadhan; diantara mereka ada yang mengisinya dengan istiqomah menjalankan segala ketaatan dan menjauhi segala maksiat, mereka inilah yang termasuk orang-orang muhsin yang akan mendapatkan rahmat dari-Nya, sebagaimana firman-Nya:

(إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ) (لأعراف:56)

“Sesungguhnya rahmat Allah itu sangat dekat dengan orang-orang yang muhsin (orang-orang yang berbuat baik).” [Q.S. al-A’raf: 56] Dan diantara mereka ada yang mengisinya dengan puasa di siang hari, sholat taraweh di malam hari dan taat menjalankan sholat fardhu, padahal sebelum itu, ia termasuk orang yang sering melakukan berbagai macam dosa kecil, seperti menghina, menceritakan kejelekan orang, melihat dan mendengar sesuatu yang haram dan sebagainya. Mereka inilah orang-orang yang akan mendapatkan ampunan-Nya, sebagaimana dipertegas oleh Allah dalam firman-Nya:

(إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلاً كَرِيماً) (النساء:31)

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” [Q.S. an-Nisa: 31]

Sementara itu adapula sebagian mereka yang pernah melakukan dosa-dosa besar tapi belum sampai pada tingkatan syirik seperti zina, durhaka kepada orang tua, mencuri dan lain-lain, dimana perbuatan ini termasuk sebab masuk neraka, tetapi ketika memasuki bulan Ramadhan iapun bertobat, melaksanakan ibadah dan menjauhi segala dosa, mereka inilah yang akan mendapatkan pembebasan dari api neraka (‘Itqun minan naar).

Adapula diantara mereka yang tetap melakukan pelanggaran dan dosa, tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan dosa itu ketika memasuki bulan Ramadhan atau melakukan tobat sambel, kemudian setelah itu kembali melakoninya. Inilah orang yang merugi dan menyia-nyiakan waktu dan kehidupannya, tidak memanfaatkan bulan Ramadhan kecuali dengan dosa dan maksiat.
Malaikat Jibril pernah berkata kepada Rasulullah :

((وَمَنْ أَدْرَكَهُ شَهْرُ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَأَبْعَدَهُ اللهُ ، قُلْ : آمِينَ فَقَالَ النَّبِيُّ : آمين))

“Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan, tetapi ia tidak diampuni, maka Allah akan membuatnya semakin jauh, ucapkanlah (wahai Muhammad) “Amin” Maka nabi bersabda: “Amin.”

Semoga kita mendapatkan rahmat, ampunan dan keterbebasan dari api neraka serta termasuk orang-orang yang melewati bulan Ramadhan dengan predikat muttaqin yang merupakan tujuan puasa itu sendiri dan tidak termasuk diantara orang-orang yang capek dan bersusah payah selama Ramadhan tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali capek itu sendiri.

Sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah :

((رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الجُوع وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَر))

“Betapa banyak orang yang berpuasa akan tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar saja, dan betapa banyak orang yang melakukan qiyamullail, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari qiyamullailnya kecuali begadang saja.” (Ibnu Majah)

Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita selama bulan Ramadhan, amin. —

(AFS/Manhajuna)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Indikasi Sukses Ramadhan

Oleh: Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA Manhajuna.com – Ramadhan merupakan salah satu momentum paling istimewa dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *