Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Konsultasi / Shalat Jamak Dan Qashar
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Shalat Jamak Dan Qashar

Assalamu‘alaikum. Langsung saja ustadz. Apa syarat-ayarat sholat jamak biasa dan jamak qashar? Saya masih bingung dalam hal syarat/penyebab dilakukannya kedua sholat tersebut. Mohon penjelasan. Wassalamu‘alaikum warohmatulloh.

Jawaban:

Safar secara bahasa berarti: Melakukan perjalanan, lawan dari iqomah. Orang yang dinamakan musafir lawan dari muqim.

Sedangkan secara istilah, safar adalah: Seseorang keluar dari daerahnya dengan maksud ke tempat lain yang ditempuh dalam jarak tertentu.

Jadi seseorang disebut musafir jika memenuhi tiga syarat, yaitu: Niat, keluar dari daerahnya dan memenuhi jarak tertentu. Jika seseorang keluar dari daerahnya tetapi tidak berniat safar maka tidak dianggap musafir. Begitu juga sebaliknya jika seorang berniat musafir tetapi tidak keluar dari daerahnya maka tidak dianggap musafir. Begitu juga jarak yang ditempuh menentukan apakah seseorang dianggap musafir atau belum, karena kata safar biasanya digunakan untuk perjalanan jauh.

Rukhsoh Shalat Bagi Musafir

Seorang musafir mendapatkan rukhsoh dari Allah SWT dalam pelaksanaan shalat. Rukhsoh tersebut adalah: Mengqashar shalat yang bilangannya empat rakaat menjadi dua, menjamak shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya, shalat di atas kendaraan, tayammum dengan debu/tanah sebagai pengganti wudhu dalam kondisi tidak mendapatkan air dan lain-lain.

Shalat Qashar

Mengqashar shalat adalah mengurangi shalat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat, yaitu pada shalat zhuhur, Ashar dan Isya. Dalil Shalat Qashar Allah SWT berfirman:

(وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا)

Artinya: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS. An-Nisaa: 101).

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: أَوّلَ مَا فُرِضَتِ الصّلاَةُ رَكْعَتَيْنِ فَأُقِرّتْ صَلاَةُ السّفَرِ وَأُتِمّتْ صَلاَةُ الْحَضَرْ

Dari Aisyah ra berkata: “Awal diwajibkan shalat adalah dua rakaat, kemudian ditetapkan bagi shalat safar dan disempurnakan ( 4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar)”. (Muttafaqun alaihi)

عن عائشة رضي الله عنها قالت:فرضت الصلاة ركعتين، ثم هاجر النبي صلى الله عليه وسلم ففرضت أربعا، وتركت صلاة السفر على الأول

Dari Aisyah ra berkata: “Diwajibkan shalat 2 rakaat kemudian Nabi hijrah, maka diwajibkan 4 rakaat dan dibiarkan shalat safar seperti semula (2 rakaat)”. (HR Bukhari).

إلا المغرب فإنها وتر النهار وصلاة الفجر لطول قراءتهما

Dalam riwayat Imam Ahmad menambahkan: Kecuali Maghrib, karena Maghrib adalah shalat witir di siang hari dan shalat Subuh agar memanjangkan bacaan di dua rakaat tersebut Jarak Qashar Seorang musafir dapat mengambil rukhsoh shalat dengan mengqashar dan menjamaK jika telah memenuhi jarak tertentu.

Rasulullah SAW bersabda:

عن يحيى بن يزيد الهنائي؛ قال: سألت أنس بن مالك عن قصر الصلاة؟ فقال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا خرج، مسيرة ثلاثة أميال أو ثلاثة فراسخ صلى ركعتين

Artinya: “Dari Yahya bin Yazid al-Hana’i berkata, saya bertanya pada Anas bin Malik tentang jarak shalat Qashar?. Anas menjawab: Adalah Rasulullah SAW jika keluar menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh beliau shalat dua rakaat”. (HR Muslim)

“عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “يا أهل مكة لا تقصروا الصلاة في أدنى من أربعة برد من مكة إلى عسفان

Artinya: “Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah SAW bersabda: Wahai penduduk Mekkah janganlah kalian mengqashar shalat kurang dari 4 burd dari Mekah ke Asfaan”. (HR at-Tabrani, ad-Daruqutni, hadits mauquf).

 “ولابن أبي شيبة من وجه آخر صحيح عنه قال ” تقصر الصلاة في مسيرة يوم وليلة

Dari Ibnu Syaibah dari arah yang lain berkata: “Qashar shalat dalam jarak perjalanan sehari semalam”.

 وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ يَقْصُرَانِ وَيُفْطِرَانِ فِي أَرْبَعَةِ بُرُدٍ وَهِيَ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا

Adalah Ibnu Umar ra dan Ibnu Abbas ra mengqashar shalat dan buka puasa pada perjalanan menepun jarak 4 burd yaitu 16 farsakh.

Ibnu Abbas menjelaskan jarak minimal dibolehkannya qashar shalat yaitu 4 burd atau 16 farsakh. 1 farsakh = 5541 M sehingga 16 Farsakh = 88,656 km. Dan begitulah yang dilaksanakan sahabat seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar.

Sedangkan hadits Ibnu Syaibah menunjukkan bahwa qashar shalat adalah perjalanan sehari semalam. Dan ini adalah perjalanan kaki normal atau perjalanan unta normal. Dan setelah diukur ternyata jaraknya adalah sekitar 4 burd atau 16 farsakh atau 88,656 km. Dan pendapat inilah yang diyakini mayoritas ulama seperti imam Malik, imam asy-Syafi’i dan imam Ahmad serta pengikut ketiga imam tadi.

Kesimpulan: Jarak dibolehkannya seseorang mengqashar dan menjamak shalat, menurut jumhur ulama; yaitu pada saat seseorang menempuh perjalanan minimal 4 burd atau 16 farsakh atau sekitar 88, 656 km.

Syarat Shalat Qashar:
  1. Niat Safar
  2. Memenuhi jarak minimal dibolehkannya safar yaitu 4 burd (88,656 km )
  3. Keluar dari kota tempat tinggalnya.
  4. Shafar yang dilakukan bukan safar maksiat.
Lama Waktu Qashar

Jika seorang musafir hendak masuk suatu kota atau daerah dan bertekad tinggal disana maka dia dapat melakukan qashar dan jamak shalat. Menurut pendapat imam Malik dan Asy-Syafi’i adalah 4 hari, selain hari masuk kota dan keluar kota. Sehingga jika sudah melewati 4 hari ia harus melakukan shalat yang sempurna. Adapun musafir yang tidak akan menetap maka ia senantiasa mengqashar shalat selagi masih dalam keadaan safar.

Berkata Ibnul Qoyyim: Rasulullah SAW tinggal di Tabuk 20 hari mengqashar shalat. Disebutkan Ibnu Abbas dalam riwayat Bukhari: Rasulullah SAW melaksanakan shalat di sebagian safarnya 19 hari, shalat dua rakaat. Dan kami jika safar 19 hari, shalat dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari, maka kami shalat dengan sempurna.

Jamak Antara Dua Shalat Saat Safar

Jamak antara dua shalat, pada waktu safar dibolehkan. Shalat yang boleh dijamak adalah shalat Dzuhur dengan Asar, dan shalat Maghrib dengan Isya. Rasulullah SAW bersabda:

عن مُعَاذِ بنِ جَبَلٍ: “أَنّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم كَانَ في غَزْوَةِ تَبُوكٍ إذا زَاغَتِ الشّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشّمْسُ أَخّرَ الظّهْرَ حتى يَنْزِلَ لِلْعَصْرِ، وَفي “المَغْرِبِ مِثْلَ ذَلِكَ إِنْ غَابَتِ الشّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ المَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ، وَإِن يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشّمْسُ أَخّرَ المَغْرِبَ حتى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُم جَمَعَ بَيْنَهُمَا

Artinya: Dari Muadz bin Jabal: Bahwa Rasulullah SAW pada saat perang Tabuk, jika matahari telah condong dan belum berangkat maka menjamak shalat antara Dzuhur dan Asar. Dan jika sudah dalam perjalanan sebelum matahari condong, maka mengakhirkan shalat dzuhur sampai berhenti untuk shalat Asar. Dan pada waktu shalat Maghrib sama juga, jika matahari telah tenggelam sebelum berangkat maka menjamak antara Maghrib dan Isya. Tetapi jika sudah berangkat sebelum matahari matahari tenggelam maka mengakhirkan waktu shalat Maghrib sampai berhenti untuk shalat Isya, kemudian menjamak keduanya. (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Shalat jamak terdiri dari dua macam, yaitu jamak taqdim dan jamak ta’khir. Jamak taqdim adalah menggabungkan shalat antara shalat Dzuhur dan Ashar yang dilakukan pada waktu Dzuhur dan shalat Maghrib dan Isya yang dilakukan pada waktu Maghrib. Sedangkan jamak ta’khir adalah menggabungkan shalat antara shalat Dzuhur dan Ashar yang dilakukan pada waktu Ashar dan shalat Maghrib dan Isya yang dilakukan pada waktu Isya.

Shalat Jama’ah bagi Musafir yang Melakukan Qashar dan Jamak Shalat

Seorang musafir yang melakukan qashar dan jamak shalat, maka shalat jama’ah yang dilakukan sebagai berikut:

  • Niat untuk melakukan shalat jamak dan qashar secara berjama’ah.
  • Disunnahkan membaca iqomah pada setiap shalat (misalnya iqomah untuk shalat Zhuhur dan iqomah untuk shalat Ashar).
  • Berimam pada orang yang sama-sama melakukan qashar dan jamak.
  • Shalat jama dilakukan secara langsung, tanpa diselingi dengan shalat sunnah atau do’a atau lainnya.
  • Menghadap Kiblat

Menghadap kiblat merupakan syarat sahnya shalat, baik dalam keadaan muqim maupun musafir sebagaimana firman Allah:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

Artinya: “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya”. (QS. Al Baqarah: 144). Maka jika seorang musafir berada dalam kendaraan; baik itu mobil, kereta api, kapal laut atau pesawat udara dan mampu menghadap kiblat, maka ia harus menghadap kiblat. Sedangkan bagi musafir yang naik kendaraan sedang ia tidak tahu arah kiblat atau tidak mampu menghadap kiblat, maka ia harus shalat menghadap arah mana saja yang ia yakini dan shalat sesuai kondisi di kendaraan. Allah SWT berfirman:

 وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah: 115).

Tata Cara Shalat Diatas Kendaraan
  1. Jika dimungkinkan maka shalat seperti biasa, yaitu shalat berjama’ah, menghadap kiblat, berdiri, ruku’ dan sujud seperti biasa.
  2. Jika tidak dapat berdiri maka shalat sambil duduk dengan gerakan shalat dalam kondisi duduk. Ruku’ dan sujud dengan membungkukkan punggung, dan saat sujud punggung lebih menurun dari ruku’.
  3. Apabila tidak mendapatkan air, maka dapat bertayammum. Cara tayammum yaitu menepuk tanah atau debu pada dinding kendaraan dengan dua telapak tangan, lalu diusapkan keseluruh wajah. Kemudian tangan yang satu mengusap yang lain sampai pergelangan tangan.
Adab Safar

Apabila seorang muslim hendak melakukan safar maka hendaknya memperhatikan adab-adab safar sebagai berikut:

  1. Jika terdiri dari dua orang atau lebih, maka harus diangkat seorang ketua rombongan.
  2. Sebelum berangkat dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rakaat.
  3. Berdo’a kepada Allah memohon keselamatan dirinya, keluarga yang ditinggal dan kaum muslimin, seperti:
اللَّهُمَّ بِكَ أسْتَعِينُ وَعَلَيْكَ أتَوَكَّلُ؛ اللَّهُمَّ ذَلِّلْ لي صعُوبَةَ أمْرِي، وَسَهِّلْ عَليَّ مَشَقَّةَ سَفَرِي، وَارْزُقْنِي مِنَ الخَيْرِ أكْثَرَ مِمَّا أطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ. رَبّ اشْرَحْ لي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أمْرِي، اللَّهُمَّ إني أسْتَحْفِظُكَ وأسْتَوْدِعُكَ نَفْسِي وَدِينِي وأهْلِي وأقارِبي وكُلَّ ما أنْعَمْتَ عَليَّ وَعَليْهِمْ بِهِ مِنْ آخِرَةٍ وَدُنْيا، فاحْفَظْنَا أجمعَينَ مِنْ كُلّ سُوءٍ يا كَرِيمُ.

Ya Allah, kepada-Mu aku memohon dan bertawakkal, ya Allah mudahkan urusan kami, gampangkan kesusahan safarku, berilah rizki padaku berupa kebaikan yang lebih banyak dari yang aku minta, jauhkan dariku segala keburukan. Ya Rabb lapangkan dadaku, mudahkan urusanku. Ya Allah aku memohon perlindungan-Mu, dan menitipkan diriku, agamaku, keluargaku, kerabatku dan ni’mat yang telah engkau berikan padaku dan pada mereka dalam hal akherat dan dunia, dan jagalah kami semua dari setiap keburukukan ya Karim.

  1. Memberi wasiat (nasehat) dan meminta wasiat, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Dikatakan Ibnu Umar pada Qoz’ah: Kemarilah saya akan melepasmu sebagaimana Rasulullah SAW melepepasku (saat akan bepergian):
“أسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وأمانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ”

Saya titipkan pada Allah dinmu, amanatmu dan akhir amalmu. (HR. Abu Dawud)

Di riwayatkan oleh At-Tirmidzi, datang seseorang kepada Nabi saw. Dan berkata: “Wahai Rasulullah saw. Saya akan bepergian maka bekalilah saya!”, Rasulullah saw. Bersabda:” Semoga Allah membekali engkau dengan taqwa”. Tambahlah. Semoga Allah mengampuni dosamu. Tambahlah, “semoga Allah memudahkanmu dimana saja engkau berada”.

  1. Saat dalam perjalanan harus menggunakan waktunya pada sesuatu yang baik dan bermanfaat, seperti; memperbanyak dzikir dan do’a, baca al-Qur’an, membaca buku, tafakur alam, mendengarkan nasyid (lagu-lagu Islami) dan lain-lain.
  2. Jangan melakukan kemaksiatan, dan mengupayakan agar suasana di kendaraan menjadi Islami.
  3. Membawa bekal-bekal dan sarana-sarana untuk mendukung suasana yang Islami tersebut, misalnya: Membawa mushaf Al-Qur’an, buku bacaan yang Islami, kaset nasyid (lagu-lagu Islam) dan lain-lain.
Do’a Safar

Do’a Keluar Rumah

 بِسْمِ الله تَوَكّلْتُ عَلَى الله، لا حَوْلَ وَلا قُوّةَ إِلاّ بالله

Artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah”.

Do’a Naik Kendaraan dan Safar

 سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ . اللَّهُمَّ إنَّا نَسألُكَ فِي سفَرِنَا هَذَا البِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنْ العَمَلِ ما تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوّنْ عَلَيْنا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنّا بُعْدَهُ. اللَّهُمَّ أنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالخَلِيفَةُ في الأهْلِ. اللَّهُمَّ إني أعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثاءِ السَّفَرِ وكآبَةِ المَنْظَرِ وَسُوءِ المُنْقَلَبِ في المَالِ والأهْلِ. وإذا رَجع قالهنّ وزاد فيهنّ: آيِبُونَ تائبُونَ عابدُونَ لرَبِّنَا حامِدُون

“Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam safar ini kebaikan dan ketaqwaan, dan dari amal yang Engkau ridhai. Ya Allah mudahkan pada safar kami, dan pendekkan jauhnya perjalanan. Ya Allah engkau teman dalam safar dan pemimpin keluarga. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari susahnya safar, kesedihan dan buruknya kesudahan pada harta dan keluarga. Jika akan pulang maka baca do’a serupa dan ditambah: Kami kembali, bertaubat, beribadah dan memuji kepada Allah.

Ketika Kendaraan yang dinaiki adalah kapal laut, maka membaca do’a:

(بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ)

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Hud: 41).

(وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ)

Artinya: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. Az-Zumaar: 69).

Wallahu a‘lam bis-shawab.

Sumber: Pusat Konsultasi Syariah

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Indikasi Sukses Ramadhan

Oleh: Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA Manhajuna.com – Ramadhan merupakan salah satu momentum paling istimewa dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *