Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Suplemen Perjalanan
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Suplemen Perjalanan

Oleh: Ustadz Fir’adi Nasruddin, Lc

» وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ «

“Dan apa yang kalian kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. al-Baqarah: 197).

Saudaraku,
Setiap orang yang mengarungi samudera, menjelahi blukar dan meretasi perjalanan hidup, maka ia akan mempersiapkan perbekalan yang cukup agar perjalanan tidak terputus di tengah jalan atau berubah arah dari tujuan semula.

Kita semua adalah musafir yang sedang mengadakan perjalanan menuju Allah Ta’ala. Perjalanan yang panjang menuju keabadian dalam naungan ridha Allah dan jannah-Nya.Tiada bekal yang lebih baik dalam kehidupan ini melainkan ketakwaan.

Berbagai warna ibadah yang kita ukir dalam kehidupan dengan penuh ketenangan, kekhusu’an, dan bercermin pada sunnah Rasulullah s.a.w seperti shalat, puasa, zakat, haji, sedekah, jihad dan yang lainnya pada hakikatnya bertujuan untuk mendapatkan bekal taqwa.

Ucapan yang meluncur dari lisan Rasulullah s.a.w disaat melepas sahabatnya yang akan mengadakan perjalanan adalah, “Semoga Allah membekali dirimu dengan ketakwaan, mengampuni dosa-dosamu dan memudahkan bagimu jalan kebajikan di manapun engkau berada”.

Saudaraku,
Salafus shalih memahami hakikat perbekalan, oleh karenanya mereka senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala dengan penuh hiba dan kerendahan hati agar dikaruniakan kepadanya ketakwaan.

Abdullah bin Umar r.a selalu mengulang-ulang sebuah doa, “Ya Rabbi mudahkanlah urusanku, jauhkanlah dariku kesusahan dan kesempitan hidup. Ampunilah dosa dan kesalahanku di dunia dan akherat serta jadikanlah aku pemimpin bagi hamba-hamba-Mu yang bertakwa.”

Al A’sa rahimahullah berkata, “Bila engkau tidak membawa bekal takwa dalam perjalananmu, lalu engkau bertemu di kampung akherat dengan orang yang berbekal dengannya niscaya mengkristallah penyesalan di hatimu karena nasibmu di sana tak seperti dirinya dan engkau tidak mendapatkan curahan rahmat sebagaimana yang ia dapatkan”.

Saudaraku,
Sungguh indah Allah Ta’ala menggambarkan dalam al-Qur’an (QS. al A’raf: 26) bahwa ketakwaan diibaratkan dengan pakaian karena antara pakaian dan ketakwaan ada sisi persamaan yang sangat nyata. Di mana pakaian berfungsi sebagai penutup tubuh dan perhiasan diri agar tampak anggun menawan sedangkan ketakwaan berfaedah untuk menutupi segala aib hati dan menghiasinya agar terasa damai bestari .

Dan juga digambarkan dalam sebuah sya’ir, “Bila seseorang tidak memakai pakaian ketakwaan maka ia seolah-olah telanjang (terbuka auratnya) meskipun ada pakaian yang menghiasi tubuhnya, dan sebaik-baik pakaian adalah keta’atan kepada Sang Maha Pencipta, serta tiada kebaikan bagi orang yang bermaksiat kepada Rabbnya.”

Rasulullah s.a.w menjelaskan dalam sabdanya, “Berapa banyak orang yang berpakaian di dunia namun akan menjadi telanjang (tersingkap auratnya) pada hari kiamat”.

Saudaraku,
Insan bertakwa bukanlah berada pada satu tingkatan saja, akan tetapi ada beberapa tingkatan, dan seseorang akan meraih tingkatan surga sesuai dengan kadar ketakwaannya.

Syekh al-Thiby rahimahullah berkata, “Takwa ada beberapa tingkatan:

Pertama, menjaga diri dari azab Allah yang sangat pedih dan kekal.

Yaitu dengan jalan berlepas diri dari segala ikatan syirik. Aqidah tertancap kokoh di dalam jiwa, memberikan loyalitasnya terhadap para penolong agama Allah, dan kaum muslimin serta berlepas diri dari pengikut kekufuran dan kemunafikan.

Kedua, menutup setiap pintu dosa dan maksiat baik dosa-dosa kecil apalagi dosa-dosa besar.

Dan ini akan terealisasikan bila ada kesanggupan, kesungguhan dan mujahadah untuk meninggalkan dosa-dosa besar dan kecil, dosa dan maksiat, kekhilafan dan kesalahan, kekeliruan dan keteledoran.

Ketiga, membersihkan jiwa dari segala warna noda dan kotoran hingga Allah senantiasa dalam ingatan.

Dan ini merupakan tingkatan yang paling sempurna, yang potretnya terlihat dari kesungguhan kita dalam memperjuangkan hukum Allah, menolong agama-Nya, berkontribusi di jalan-Nya, takut terhadap azab-Nya, ketaatan yang mutlak pada-Nya, mengikuti jejak Rasul-Nya dan berupaya untuk sentiasa meningkatkan ketakwaan kita.

Saudaraku,
Ali bin Abi Thalib r.a menjawab pertanyaan yang telah banyak membuat hati kita menjadi gelisah dan galau yaitu tentang potret dan gambaran yang ril dari sosok muttaqin dalam kehidupan sehingga kita dapat mengaca diri dan mengukur seberapa tinggi tingkat ketakwaan kita.

Beliau bertutur, “(Insan bertakwa) adalah orang yang memiliki kemuliaan, jujur dalam ucapan, sederhana dalam berpakaian, tawadhu’ dalam melangkah dan berjalan di muka bumi.

Pandangannya terjaga dari yang haram, pendengarannya dipergunakan untuk menyimak sesuatu yang bermanfaat, tenang dalam menghadapi ujian sebagaiamana ketenangannya dalam menghadapi kesenangan. Mengagungkan Allah dan mengingat kebesaran-Nya dalam hatinya sedangkan makhluk adalah kecil dan kerdil di hadapannya.

Hatinya senantiasa dihinggapi perasaan takut akan azab-Nya, terpeliharanya diri dari dosa dan maksiat, ’iffah terhadap harta dan kenikmatan dunia, sabar dalam keta’atan, bengkak kakinya karena rutin menjalankan shalat malam, hari-harinya dihiasi dengan tilawah al-Qur’an.

Bersimpuh di hadapan-Nya memohon keselamatan dari kebinasaan dan ketergelinciran, tidak rela dengan ukiran amal shalih yang sedikit, tidak bangga dengan amalan yang banyak, cemas dengan amalannya khawatir bila tidak diterima di sisi-Nya.

Dengan amalannya berharap belas kasih-Nya, sanggup menanggung beban hidup (dalam kefakiran), sabar dalam kesusahan dan kesengsaraan.

Bersyukur atas segala karunia, pendek angan-angannya, sedikit kekeliruannya, kebajikan sentiasa terukir dan terjaga dari segala keburukan”.

Saudaraku,
Dengan suplemen takwa, insyaallah tiada lagi pemimpin yang menyengsarakan rakyatnya. Tiada lagi pejabat yang menjadikan ranah jabatan sebagai ladang memperkaya diri. Tiada lagi dokter yang menyalah gunakan perannya. Tiada lagi pedagang yang curang dalam bisnis. Tidak ada lagi pengusaha yang menggelapkan daging. Tiada pendidik yang kurang maksimal dalam mendidik peserta didiknya. Tidak ada lagi petani semangka yang meninggalkan shalat dan kewajiban agama. Tiada lagi pasutri yang mengkhianati pasangannya dengan selingkuh. Dan yang pasti tiada seorang pun dari kita yang mampu melakukan dosa dan maksiat sekecil apa pun. Karena kita merasakan pengawasan-Nya. Dan seterusnya.

Saudaraku,
Ketakwaan merupakan pilar yang paling esensi dan asasi untuk meraih sebuah kemenangan yang telah Allah Ta’ala janjikan kepada hamba-hamba-Nya.

Tanpa suplemen dan nutrisi ruhani, kita lemah dalam meneruskan perjalanan. Mudah terjatuh dan rapuh dalam menghadapi ujian hidup.

Dengan suplemen takwa, kita meraih kemenangan yang sejati. Walau pun secara zahir, mungkin kita tersisihkan, terpinggirkan, dipandang sebelah mata dan yang senada dengan itu.

Ya Rabbana, hiasilah kami dengan pakaian takwa. Yang akan melindungi kami dari segala cela dan kekurangan. Baik zahir dan bathin kami. Amien.

(Manhajuna/GAA)

(Visited 462 times, 1 visits today)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijah

Kemuliaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah telah diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah SWT. berfirman: “Demi fajar, Dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *