Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Tafaqquh Fiddin
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Tafaqquh Fiddin

Oleh: Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Tanya:

Maaf ustazd, semoga tidak mengganggu…
Begini ustazd…ana mendapat sebuah pertanyaan dari salah satu jemaah ana..

“Kenapa dlm tafsir Al Qur’an,kata untuk Allah ada yang d terjemaahkan dengan ” AKU ” ada yang d terjemaahkan dengan ” KAMI “…bukankah AKU dan KAMI dlm ilmu bahasa mempunyai arti yg berbeda…”

Begitu ustazd…saya berharap kiranya ustad dapat mmbekali ilmu tentang ini dlm perjalanan dakwah ana…sukran jazakumullahu khoir barakallahufik.وَلسَّلاَمُ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُه

Jawab:

Kata ganti (dhomir) yang Allah sebutkan utk diri-Nya dalam Al-Quran, kadang memang menggunakan lafaz “أنا” (Aku), spt dlm surat Thaha: 14, dll. Kadang juga menggunakan kata ganti (نحن), seperti dalam surat Al-Hijr ayat 9. Mengenai masalah ini erat kaitannya dengan pemahaman tentang kaidah bahasa Arab dan juga maksud-maksud yang terkandung dalam sebuah kata.

Kata ganti “Kami” (نحن) dalam bahasa Arab memang umumnya digunakan untuk menunjukkan plural (jamak), akan tetapi dalam kaidah bahasa Arab juga, kata ganti “kami” (نحن) dapat digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang tunggal, biasanya hal ini terjadi apabila ada maksud-maksud tertentu. Padanannya, kata tunjuk “itu” (ذلك) umumnya digunakan untuk menunjuk sesuatu yang jauh. Tapi juga untuk maksud tertentu dapat digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dekat, sehingga maknanya menjadi (هذا) “ini”. Itu terdapat dalam surat Al-Baqarah:

ذلك الكتاب لا ريب فيه

Ibnu Katsir dalam tafsirnya, mengutip ungkapan para salafusshaleh menyatakan bahwa kalimat (ذلك الكتاب) dalam ayat ini diartikan sebagai (هذا الكتاب).

Umumnya para ulama menyebutkan penggunaan kata ganti jamak (نحن) jika ditujukan untuk sesuatu yang bersifat tunggal maka dia mengandung makna “pengagungan” dan “kebesaran”. Maka Allah Ta’ala ketika menyebutkan diri-Nya dengan kata ganti ini, maknanya menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya. Adapula yang memaknai bahwa hal tersebut dinyatakan karena Allah Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang banyak yang kesemuanya memiliki kemuliaan dan keagungan.

Jadi, kata ganti “kami” (نحن) dalam bab ini tidak dipahami bahwa Allah banyak dan lebih dari satu. Sebab Al-Quran tidak dapat dipisahkan ayatnya satu sama lain. Sedangkan dalam banyak ayat menunjukkan bahwa Allah menyatakan bahwa Dia adalah Esa seperti yang jelas terdapat dalam surat Al-Ikhlas serta melarang menyekutukan-Nya. Pengingkaran dalam hal ini mutlak menggugurkan keimanan seseorang.

Bahkan dalam obrolan kita sehari-haripun sering kita dengar atau bahkan kita sendiri menggunakannya, yaitu menggunakan kata “kami” ditujukkan untuk menunjukkan satu orang, bukan kepada banyak orang… .

Demikian jawaban yang dapat “kami” sampaikan…. Hadaanallahu wa iyyaakum ajma’iin…

Riyadh, Jumadal Ula 1434 H.

(AFS/Manhajuna)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

“Virus” yang Mengancam Jama’ah Haji

Oleh Ust. Abdullah Haidir, Lc. Manhajuna – Siapa yang tak senang mendapatkan kesempatan beribadah haji? Mimpi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *