Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Muslimah / Tahapan Dalam Mengubah Perilaku Anak
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Tahapan Dalam Mengubah Perilaku Anak

Oleh: Kiki Barkiah

Tidak ada anak yang sempurna, dan tidak ada orang tua yang sempurna. Namun kehidupan dunia ini adalah sebuah perlombaan dalam mencari siapa yang terbaik amalannya. Oleh karena itu perbaikan demi perbaikan harus senantiasa kita ikhtiarkan. Namun Allah SWT tidak akan mengubah keaadan kita sebelum kita berusaha mengubah keadaan diri kita sendiri, sebagaimana dalam firman-Nya Q.S Ar-Ra’d ayat 11.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” Q.S Ar-Ra’d ayat 11

quran7

Sebagai orang tua tentu kita sering menemukan perilaku yang tidak kita harapkan dilakukan oleh seorang anak. Bahkan mungkin terdapat lebih dari satu perilaku dalam diri seorang anak. Bayangkan, ini terjadi bukan hanya pada satu anak melainkan semua anak. Semakin banyak anak dalam pemeliharaan kita, semakin besar tanggung jawab kita dalam meluruskan perilaku anak.

Meluruskan perilaku anak agar sesuai dengan apa yang dituntunkan syariah adalah sebuah tugas besar yang meminta fokus perhatian kita sebagai orang tua. Dalam kadar tertentu, tugas ini dapat menyita begitu banyak waktu, tenaga, dan pikiran. Semakin kompleks permasalahannya, semakin besar usaha yang dibutuhkan dalam menyelesaikannya. Sebelum permasalahan semakin kompleks, sedini mungkin, setahap demi setahap orang tua dituntut untuk berupaya meluruskan perilaku anak dengan cara yang tepat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua dalam meluruskan perilaku anak adalah sbb:

1. Kenali permasalahan anak

Sebelum kita memulai untuk mengubah perilaku anak, terlebih dahulu kita perlu mengetahui apa saja perilaku yang ingin kita perbaiki dari seorang anak. Buatlah sedetail mungkin apa yang kita rasakan berikut pencapaian yang ingin diraih dari masing-masing permasalahan. Sebagai contoh kita dapat membuat daftar sbb:

  • Perbaiki : meninggalkan kamar berantakan
  • Capai : simpan pakaian kotor di keranjang laundry
  • Perbaiki : tertidur tanpa gosok gigi
  • Capai : gosok gigi sehabis shalat isya
  • Perbaiki : meminta dengan merengek
  • Capai : menggunakan kata santun dalam meminta

2. Selesaikan 1 masalah dalam 1 waktu

Kita membutuhkan kesabaran dalam meluruskan perilaku anak. Berharap mengubah mereka dalam waktu singkat pada beberapa kesalahan hanya akan menimbulkan konflik diantara orang tua dan anak. Anak akan merasa dituntut berlebihan dan orang tua akan merasa kecewa karena hasilnya jauh dari apa yang diharapkan. Terkadang hal yang membuat para orang tua frustasi adalah ketika melihat begitu banyak ketidak idealan pada diri anak dalam satu waktu. Untuk sementara waktu, abaikan sebagian masalah dan fokus pada permasalahan tertentu yang yang ingin kita perbaiki.Dari daftar yang kita buat, kita bisa pilihkan apa yang menjadi prioritas untuk dilakukan saat ini. Pilih hal yang lebih esensial dibanding permasalahan lainnya atau pilih yang kira-kira dapat menyelesaikan beberapa permasalahan lainnya. Satu per satu diperbaiki sebelum menuju tahapan selanjutnya. Apa yang telah dicapai kita upayakan untuk tetap bertahan dan berubah menjadi sebuah kebiasaan .

3. Hargai setiap perubahan walau hanya sedikit

Dari sebuah permasalahan yang tengah kita perbaiki, perubahan pun membutuhkan proses. Jarang keberhasilan dicapai hanya dalam semalam setelah memberi satu atau dua kali nasihat. Hargailah setiap peningkatan yang diraih oleh anak. Sebagai contoh jika biasanya ia selalu lupa setiap hari untuk menaruh barang bawaannya sepulang sekolah, maka apresiasilah saat kita menemukannya merapihkan barang tanpa diminta meski hanya 1 atau 2 kali dalam seminggu. Jika balita anda selalu makan disuapi, maka mulailah dengan mengajak mereka makan sendiri 5-10 suap kemudian kita bantu. Jika anak sering tertinggal bus jemputan sekolah karena telat bangun. Hargailah saat ia bisa lebih cepat mempersiapkan diri untuk pergi sekolah, dan jangan menambah tugasnya dengan meminta membereskan tempat tidur juga. Tingkatkan kuantitas dan kualitas perbaikannya sedikit-sedikit sampai kelak menjadi sebuah kebiasaan.

Puasa-Saat-Hamil-Menurut-Syariah-dan-Kesehatan_01

4. Konsisten

Konsistensi adalah hal yang sangat penting dalam keberhasilan pengasuhan anak. Konsisten berarti kita melakukan apa yang kita katakan, kita mengatakan apa yang kita lakukan, serta memastikan bahwa semua pihak mengatakan yang sama. Sekali orang tua tidak konsisten, orang tua akan kehilangan kewibawaan di hadapan anak-anak sehingga mereka kurang hormat terhadap kebijakan yang disampaikan orang tua. Bahkan seorang anak akan cenderung meminta sesuatu dengan cara yang pernah dilakukannya saat orang tua menjadi luntur dan tidak konsisten antara perbuatan dan ucapannya.

Konsistensi adalah hal yang sangat berat dalam dunia pengasuhan anak. Maka pastikan kita dapat mengukur bahwa apa yang kita ucapkan benar-benar mampu kita lakukan. Jika seorang anak merengek berguling-guling di supermarket untuk meminta sesuatu yang awalnya dilarang orang tua, namun karena malu orang tua akhirnya membelikannya, maka ia akan cenderung memakai cara yang serupa untuk meminta hal yang ia inginkan dilain waktu. Konsisten dalam pengasuhan anak tidak hanya harus dilakukan oleh orang tua namun berlaku untuk semua orang yg berada dalam lingkaran pengasuhan anak seperti guru, nenek, kakek atau baby sitter. Jika tidak, anak akan cenderung berlari pada pihak yang paling mengutungkan baginya

5. Berpikir dan bertindak positif

Sadarilah bahwa tidak semua yang ada pada diri anak itu tidak kita sukai. Setiap anak pasti memiliki kebaikan dalam dirinya. Hanya saja orang tua lebih sering terpusatkan perhatianya pada hal-hal yang menjadi kekurangannya. Pastikan anak tau bahwa kita mencintai mereka. Apresiasilah setiap kebaikan mereka dan pastikan mereka tau bahwa kita bahagia melihat perilaku tersebut. Apresiasi positif akan lebih bermakna dalam proses perbaikan diri seorang anak dibanding kritikan. Tidak menyukai perilaku anak bukan berarti tidak menyukai anak. Konsep ini akan menghindari kita dari perbuatan terus menyalahkan sang anak. Gunakan kalimat positif dalam berkomunikasi dengan anak. Misal: “ibu sangat suka jika kamu membantu ibu menaruh pakaian kotor di keranjang cucian”. Hindari penggunaan kalimat negatif seperti “aaaa… jorok banget sih, pakai kotor berserak dimana-mana!”

etos 2

6. Biarkan anak mengetahui apa yang kita harapkan

Setelah kita memilih apa yang kita ingin perbaiki terlebih dahulu, komunikasikan hal ini dengan anak. Biarkan anak mengetahui apa yang kita inginkan. Hindari penggunaan kalimat yang masih bersifat abstrak seperti “ibu ingin kamu lebih bertanggung jawab” tetapi pilih kalimat yang lebih spesifik per kasus agar lebih mudah dicerna anak, misal “mulai sekarang dan seterusnya ibu ingin kamu selalu mengerjakan PR dan mengumpulkannya tepat waktu”. Sampaikan hal ini dengan penuh cinta dan rasa persahabatan. Biarkan anak mengerti bahwa kita adalah satu tim dalam perbaikan mereka. Satu tim yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran seperti yang Allah firmankan dalam Al-Quran surat Al-Asr.

1. Demi masa
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
3. Kecuali orang yang beriman dan orang-orang yang yang mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat dan menasehati supaya menetapi kesabaran.

Allahu ‘alam bi shawab

Referensi:
“Good Behavior”
Stephen W Garber, Ph.D
Marianne Daniels Garber, Ph.D
Robyn Freedman Spizman

Kiki Barkiah

Kiki Barkiah, alumni teknik Elektro ITB yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Ibu yang menjadi homeschooler bagi kelima anaknya ini saat ini berdomisili di San Jose, California, USA. Kiki aktif di http://radiopengajian.com, sebagai presenter dalam program “Ibu Indonesia Berbagi”. Beliau juga adalah ketua Yayasan Rumah Tahfidz Al-Kindi Mahardika & Komunitas Homeschooling Al-Kindi

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Bolehkah Wanita Memakai Celana Panjang

Assalamualaikum wr.wb pak ustadz, saya seorang muslimah dan kebetulan sudah berjilbab. masalah yang ingin tanyakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *