Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Tentang Puasa Rajab
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Tentang Puasa Rajab

Oleh Ustadz Abdullah Haidir, Lc.


Hadits-hadist tentang keutamaan puasa Rajab memang umumnya dhaif, bahkan maudhu. Namun tidak lantas serta merta dapat dikatakan bahwa puasa Rajab adalah bid’ah. Maksudnya adalah siapa yg hendak puasa sunah di bulan Rajab masih tetap mendapatkan keutamaan, berdasarkan keumuman anjuran puasa sunah.

Bahkan jumhur ulama berpendapat sunahnya puasa di bulan Rajab berdasarkan hadits yang berisi anjuran tentang keutamaan puasa di bulan-bulan terhormat.

  إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman telah beredar sebagaimana yang ditentukan di waktu Dia menciptakan langit dan bumi,dalam setahun terdapat dua belas bulan diantaranya empat bulan haram; tiga bulan diantaranya berurutan, (keempat bulan haram itu adalah) Dzulqa’dah, Dzulhijjah Muharram dan Rajab bulan Mudhar yang berada diantara Jumada (Akhiroh) dan Sya’ban” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw bersabda,

صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ

“Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkan.” (HR. Abu Daud)

Maksud tinggalkan dalam hadits di atas adalah tidak berpuasa. Maksudnya tidak harus terus berpuasa pada bulan-bulan haram, dapat diselingi dengan tidak berpuasa.

Imam al-Nawawi berkata dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (6/439),

قال أصحابنا : ومن الصوم المستحب صوم الأشهر الحرم , وهي ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب , وأفضلها المحرم , قال الروياني في البحر : أفضلها رجب , وهذا غلط ; لحديث أبي هريرة الذي سنذكره إن شاء الله تعالى { أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ) اه

“Teman-teman kami (para ulama madzhab Syafi’i) berkata: “Di antara puasa yang disunnahkan adalah puasa bulan-bulan haram, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab, dan yang paling utama adalah Muharram. Al-Ruyani berkata dalam al-Bahr: “Yang paling utama adalah bulan Rajab”. Pendapat al-Ruyani ini keliru berdasarkan hadits Abu Hurairah yang akan kami sebutkan berikut ini insya Allah “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharram.”

Walaupun hadits tentang anjuran berpuasa pada bulan-bulan terhormat tersebut diperselisihkan keshahihannya. Bahkan kalaupun dia hadits dhaif, selama tidak sangat dhaif, oleh sebagian ulama boleh dijadikan hujjah untuk fadha’ilul a’mal (amal-amal sunah tambahan).

Jadi yang perlu diluruskan dalam puasa Rajab adalah niat. Yaitu puasa sunah di bulan-bulan yang terhormat. Tidak perlu mematikan semangat puasanya. Wallahua’lam.

(Manhajuna/AFS)

Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Pembina at Manhajuna.com
Alumni Syariah LIPIA ini adalah pengasuh utama manhajuna.com. Setelah 15 tahun menjadi Penerjemah dan Penyuluh Agama (Da'i) di Kantor Jaliyat Sulay, Riyadh, beliau memutuskan pulang mengabdikan diri di tanah air. Kini selain tetap aktif menulis dan ceramah di berbagai kesempatan, ustadz humoris asal Depok ini juga tergabung dalam mengelola Sharia Cunsulting Center.

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Haji dan Perubahan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc. Watak dasar kehidupan adalah adanya perubahan. Tidak ada perubahan, berarti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *