Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Tradisi Keilmuan di Rumah Sang Teladan
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Tradisi Keilmuan di Rumah Sang Teladan

Oleh Ust. Hakimuddin Salim, Lc. MA.

Al insaanu ibnu bii’atihi, manusia adalah anak dari lingkungan yang melingkarinya. Karakter, perilaku, hobi, dan gaya hidup seseorang akan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang menaunginya. Dan lingkungan sosial pertama kali yang akan dirasakan setiap manusia adalah keluarga, yang merupakan sekolah pertama (al-madrosah al-uulaa). Dari keluargalah kebiasaan-kebiaaan positif dapat diserap dengan sangat efektif oleh segenap anggotanya.

Di antara yang harus dihadirkan dalam lingkungan keluarga adalah nuansa ilmiah dan cinta ilmu. Rasululullah Muhammad SAW, sebagai teladan ideal bagi para pemimpin keluarga, dalam berbagai fragmen kehidupannya terlihat berusaha keras mewujudkan tradisi keilmuan dalam rumah tangga.

Hal itu karena Rasulullah SAW menyadari sepenuhnya, bahwa dasar atau titik tolak segala kebaikan dan kebahagian hidup manusia adalah ilmu. Sehingga wahyu yang pertama kali turun kepadanya adalah perintah untuk berilmu dengan membaca, “Bacalah dengan nama Rabbmu yang telah menciptakan” (QS. Al-‘Alaq: 1).

Suatu hari Fatimah RA, putri tercinta Rasulullah SAW, mengadu dan mengeluh kepada sang ayahanda karena tiap hari harus menumbuk gandum yang membuat tangannya menjadi kasar. Alih-alih memberi harta atau mencarikan seorang pembantu untuknya, Rasulullah SAW malah menggunakan kesempatan itu untuk mentransfer ilmu yang baru saja beliau dapatkan dari Malaikat Jibril AS, dengan mengajarkan kepada Fathimah beberapa dzikir sebelum tidur yang jauh lebih baik dari apa yang ia minta.

Begitu juga dalam kehidupan suami-istri, Rasulullah SAW selalu menyisipkan muatan ilmu dalam dialog dan interaksi sehari-sehari. Seperti Aisyah Binti Abi Bakr RA, yang tidak hanya sekedar menjadi zaujah bagi Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai murid utama dan tersetia. Rasulullah SAW sangat giat mengajarinya berbagai disiplin ilmu seperti akhlak, aqidah, fiqih, faraidh, dan tafsir.

Hingga Aisyah pun menjadi sosok perempuan Islam yang paling faqih, yang menjadi rujukan keilmuwan para sahabat pada waktu itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Atho’ Bin Abi Rabbah RA, “Aisyah adalah manusia yang paling paham dengan agama, paling berilmu dan paling baik pendapatnya”.

Aisyah juga menjadi sumber utama periwayatan hadits, tercatat sebanyak 2210 hadits telah diriwayatkan oleh para sahabat dari Aisyah. Hingga Abu Musa Al-Asy’ari RA mengatakan, “Tidaklah kami mendapatkan suatu masalah tentang hadits, lalu kami datang dan bertanya kepada Aisyah, kecuali pasti kami mendapatkan jawabannya”.

Takdirnya sebagai perempuan, tak menghalanginya berkiprah dalam kancah ilmiah. Hingga dari didikan Aisyah telah lahir para imam dan ulama terkemuka dari kalangan Tabi’in seperti: ‘Urwah Bin Zubair, Masruq Bin Ajda’, dan Qosim Bin Muhammad, yang menimba ilmu dari Aisyah di balik hijab di Masjid Nabawi.

Contoh yang lain adalah istri Rasululullah SAW yang bernama Shofiyah Binti Huyai RA, yang merupakan wanita paling terhormat di kalangan Bani Quraidhah dan Bani Nadhir. Bapaknya adalah Huyai Bin Akhtab, pemimpin dan Ulama terkemuka Yahudi Madinah. Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa suatu hari Shofiyah menangis tersedu-sedu karena Hafshah baru saja memanggilnya dengan “Anak Yahudi”, yang sangat menyakiti hatinya.

Bukan menghibur dengan gombalan kosong, tetapi Rasulullah SAW menjawab Shofiyah dengan fakta ilmiah yang mampu meredakan kesedihannya, “Sungguh Engkau adalah anak Nabi, dan pamanmu adalah Nabi, dan sekarang Engkau menjadi istri Nabi, lalu apa yang membuat Hafshah mengejekmu?”. Dan memang benar jika dirunut asal-usul nasabnya, Shofiyah merupakan anak keturunan Nabi Harun AS yang merupakan saudara kandung Nabi Musa AS.

Kesungguhan Rasulullah dalam menanamkan kecintaan kepada ilmu sejak usia dini juga terbukti dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakroh dan Abdullah Buraidah, bahwasanya suatu hari Rasululullah SAW pernah berkhutbah di mimbar, menyampaikan ilmu di hadapan para sahabat, sambil membawa Hasan dan Husein RA yang masih belia di sisinya.

Bahkan ternyata bukan hanya para putri, istri, dan cucu saja yang merasakan manisnya ilmu dalam rumah Rasulullah SAW, pembantu beliau yang bernama Anas Bin Malik juga kecipratan nikmat itu. Karena Sang Teladan bukan hanya menghormatinya dan tidak pernah mencela hasil kerjanya sebagai pembantu, tetapi juga dengan penuh kasih sayang mengajarinya berbagai ilmu.

Bagaimana dalam berbagai kesempatan seperti saat melakukan perjalanan, ketika menemani ke pasar, ketika berperang, ketika berdua di dalam rumah, bahkan ketika beberapa kali Rasulullah SAW menegurnya, Anas selalu memperoleh pancaran ilmu yang begitu berharga. Seperti ketika Rasulullah mengingatkannya untuk mengucap salam sebelum masuk rumah, “Wahai anakku, jika Engkau memasuki rumah, ucapkanlah salam, maka itu akan menjadi keberkahan untukmu dan untuk keluargamu” (HR. Tirmidzi).

Hingga saking banyaknya hadits yang ia hafal dari Rasulullah SAW, di kemudian hari Anas Bin Malik menjadi rujukan utama para perawi hadits. Ia pun menempati urutan ketiga setelah Ibnu Umar dan Abu Hurairah dalam periwayatan, dan tercatat sekitar 2282 hadits termaktub dalam musnadnya.

Begitulah Rasulullah SAW, bersungguh-sungguh menghadirkan budaya ilmu dalam kehidupan berkeluarga. Dengan begitu sabar dan telaten ia mengajari, menjawab, berdialog dan berdiskusi dengan segenap istri dan putri-putrinya. Berbagai macam masalah kehidupan diselesaikan dengan sudut pandang keilmuan yang arif dan bijaksana.

Tentu hal ini sangat berbeda dengan fenomena sebagian Ustadz, Murobbi, Da’i, Guru, atau aktivis Dakwah, yang di masyarakat terkenal sebagai orang berilmu, begitu fasih menjawab soalan dan pertanyaan umat, namun giliran ditanya oleh istri atau anaknya terlihat malas dan ogah-ogahan, atau bersikap cuek dan menjawab sekenanya. Bahkan tak jarang menganggapnya sebagai angin lalu.

Padahal bagi para pelaku dakwah, keluarga seharusnya menjadi objek dan target utama sebelum yang lainnya. Sebagaimana saat awal menyebarkan Islam di kota Mekkah, Rasulullah SAW diperintah Alloh Ta’ala untuk lebih memperhatikan dan mengutamakan keluarganya, “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” (QS. As-Syu’araa: 214).

Semoga kita mampu menjadi pemimpin keluarga ideal seperti Rasulullah SAW, yang berhasil menghadirkan tradisi keilmuan dalam keluarga. Tentunya dengan berbagai metode dan cara seperti: sabar berdiskusi suami-istri, telaten berdialog penuh kehangatan dengan anak, mengajak mereka silaturrahmi tokoh atau Ulama, agenda berbelanja buku bersama, dan serius menghadirkan budaya membaca dalam keluarga. Wallahu a’lam bisshowab.

(Artikel ditulis untuk rubrik Rumah Tangga Nabi, Majalah Parenting Permata)

(Manhajuna/AFS)

Ust. Hakimuddin Salim, Lc. MA.

Ustadz asal Klaten yang sehari-hari akrab dipanggil ustadz Hakim ini, sekarang sedang menyelesaikan studi doktoral di Universitas Islam Madinah. Selain aktif di Yayasan Islamic Center Ibnu Abbas, beliau juga aktif menjadi penceramah dan penulis di beberapa media. Twitter: @hakimuddinsalim | FB: /hakimuddin.salim | Blog: Hikmatia

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Bijak dalam Menghukum Anak

Manhajuna.com – Setiap orang dapat melakukan kesalahan, tidak terkecuali anak-anak. Menyikapi kesalahan yang dilakukan anak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *