Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Twit Tentang #Dukun
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Twit Tentang #Dukun

Oleh: Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Salah satu jenis manusia yang wajib dijauhi dalam kehidupan seorang muslim adalah #dukun

Tidak ada kamusnya orang mengaku muslim, beriman, tapi berdekat-dekatan dengan #dukun, apalagi cs-an..

Betapa tidak, sabda Rasulullah saw, sekedar bertanya saja sama #dukun, akan membuat shalatnya tidak diterima selama 40 hari.. (HR. Muslim)

Dan kalau bertanya kepada #dukun kemudian dia benarkan denga keyakinan bahwa dukun mengetahui perkara gaib, dia kafir… (HR. Abu Daud)

Siapa sih #dukun itu……? Di sini jangan terjebak dengan nama dan istilah. Sekarang nama dukun bisa dipoles macam-macam…

Kaidah tentang #dukun bukan terletak pada nama dan sebutannya, tapi pada praktek dan pengamalannya.

Sebab ada juga yg dinamakan #dukun tapi tdk masuk dlm katagori dukun yg dimaksud dalam hadits. Dukun politik atau dukun beranak misalnya..

Boleh jadi #dukun sekarang diberi nama yang keren; Ahli metafisik, tokoh supranatural, guru spiritual, orang alim, paranormal, sampai kyai…dll. Skali lagi, lihat substansi.

Dalam hadits, #dukun disebut dg istilah “Kahin” dan “Arraf”. Pedukunan atau klenik disebut “Kahanah” atau “Kahanuut”

Para ulama umumnya mendefinisikan #dukun sebagai orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib. Mereka berinteraksi dengan setan dlm kerjanya..

Karena itu #dukun juga dikenal dengan istilah “safiir iblis” duta setan. Merekalah yg menghubungkan masyarkat dengan setan…

Memang kadang-kadang sulit mengenali #dukun itu. Apalagi bagi orang awam yg sedang butuh pertolongan dan lemah iman serta pemahaman..

#Dukun bisa saja dg mudah merubah penampilan dan berbicara manis. Mungkin juga dia bilang “Jangan percaya saya, percaya sama Allah..”

Karena itu, para ulama menyebutkan beberapa indikasi bahwa seseorang melakukan praktek per#dukunan, terlepas dari pengakuan dan penampilannya..

Di antara indikasi #dukun adalah tdak memperlihatkan keimanan dan ibadah yg benar. Contoh sederhana misalnya, jarang ke masjid… tidak menutup aurat.. dll

Atau bicara tentang keimanannya ngelantur… misalnya menyatakan ada penunggu tempat tertent atau wali fulan yg dapat menentukan nasib seseorang… dll. #dukun

Indikasi #dukun lainnya adalah praktek atau terapinya mengandung perkara yg menyalahi ketentuan syariat…

Misalnya pasiennya disuruh minum darah, disuruh telanjang bulat di hadapannya, bertapa sekian hari, puasa bersambung hingga malam… dll #dukun

Indikasi #dukun lainnya, suka minta “mahar” yg aneh2; Mis. minta ayam hitam dimalam jumat kliwon, minta kain kafan mayat yg baru dikubur, dll

Indikasi #dukun lainnya, suka meminta barang-barang miliki pribadi, seperti rambut pasien, air liur, sapu tangan, dll.

Indikasi #dukun lainnya, suka memperlihatkan seakan-akan dia tahu perkara gaib, seperti memberitahu rumah atau pekerjaan pasien sebelum diberitahu,

Indikasi #dukun lainnya; Suka memberikan jimat atau jampi2 yg tidak syar’i.

Itu kurang lebih indikasi2 seseorang melakukan praktek #dukun… Ingat, jangan terjebak pada penampilan dan istilah…

Satu hal lagi juga yg patut diingat, jika apa yg mereka lakukan memang benar adanya, itu bukan standar kebenaran mereka.. #dukun..

Misalnya, #dukun melakukan pengobatan dg cara perdukunan, lalu sembuh. Atau sesuatu terjadi sesuai dengan ramalannya. Yg jadi standar bukan sembuhnya, tapi prakteknya yg sesat..

Bisa saja sekali waktu #dukun itu berhasil, tapi itu bukan standar. Namun umumnya mereka pendusta… sekali2 aja benernya atau berhasilnya…

Cuma orang-orang biasanya yang diingat adalah sekali yg benar terjadi itu…atau juga kadang2 itupun cuma omongan sana sini yg tdk berdasar.. #dukun

Sama spt Iblis yg pernah mengajari Abu Hurairah Ayat Kursi. Kata Rasulullah saw “Dia benar, tapi dia pendusta.”

Sampe sini dulu kultwit ttg #dukun…part 1. Nanti insya Allah kita lanjutkan lagi…

Sekali lagi, jauhi #dukun dalam kehidupan anda, jika ingin iman anda selamat…

Riyadh, Jumadal Ula 1434

(AFS/Manhajuna)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Haji dan Perubahan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc. Watak dasar kehidupan adalah adanya perubahan. Tidak ada perubahan, berarti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *