Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Ucapan-Ucapan Yang Tidak Benar Terhadap Rasulullah
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Ucapan-Ucapan Yang Tidak Benar Terhadap Rasulullah

Oleh: Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, memuliakannya dan mengagungkannya, merupakan aqidah setiap muslim yang tidak diragukan lagi keutamaannya. Namun demikian, hal tersebut tidak menghalangi kita untuk menjaga rambu-rambunya agar jangan sampai diwujudkan melampaui batas ketentuan syariat.

Ada beberapa contoh yang kerap kita dengar dari ucapan-ucapan yang semestinya dihindari, walau berdasarkan tujuan kecintaan dan pemuliaan terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

– “Demi Allah, demi Rasulullah.”

Biasanya ucapan ini disampaikan dengan tujuan bersumpah. Bersumpah yang dibenarkan hanya boleh kepada Allah. Sedangkan kepada selain Allah dapat dikatagorikan sebagai perbuatan syirik. Meskipun para ulama menghukuminya sebagai syirik kecil, tetap saja dia harus dihindari.

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Siapa yang bersumpah kepada selain Allah, sungguh dia telah syirik.” (HR. Abu Daud)

– “Allah dan Rasulnya lebih mengetahui.”

Ungkapan ini memang kerap diungkapkan para shahabat radhiallahu anhum apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada mereka tentang suatu masalah agama. Karena Allah jelas Maha Tahu, sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, pastinya telah Allah beritahu tentang apa yang beliau tanyakan kepada para shahabat.

Akan tetapi, ungkapan tersebut menjadi tidak tepat jika diungkapkan sekarang sebagai jawaban atas pertanyaan yang ditujukan kepada seseorang, apalagi terkait dengan kejadian-kejadian tertentu,. Sebab seakan dia meyakini bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengetahui segala kejadian yang terjadi di alam ini selain Allah Ta’ala, sesuatu yang hanya dimiliki Allah Ta’ala sebagai Dzat yang Maha Tahu.

Di riwayatkan dalam hadits Bukhari dan Muslim, bahwa di hari kiamat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memiliki telaga. Umatnya berdatangan untuk meminumnya. Kemudian ada beberapa orang yang hendaknya minum, namun dicegah oleh para malaikat. Lalu Rasulullah shallalahu alaih wa sallam berkata, “Tuhan, dia adalah umatku,” Maka Dia menjawab, “Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sesudahmu (dari berbagai maksiat yang membuat mereka terhalang minum air dari telaganya).” (Muttafaq alaih)

– “Ya Rasulullah, berilah kami syafaatmu..”

Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam Allah berikan hak syafaat di hari kiamat itu memang benar adanya dengan landasan Al-Quran dan hadits. Akan tetapi Hak untuk menetapkan siapa yang dapat memberi syafaat dan siapa yang berhak menerima syafaat sepenuhnya ada pada Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah nyatakan dalam Ayat Kursy,

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tiada yang memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizinnya.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Karenanya, memohon syafaat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidaklah benar. Maka, apabila kita memohon syafaat, mohonlah kepada Allah, agar kita mendapatkan syafaat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di hari kiamat. Itupun harus diikuti dengan keyakinan dan pengamalan yang benar terkait dengan keimanan kita dan menjauhi segala hal yang dapat menghalangi kita mendapatkan syafaat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Selain bahwa memohon syafaat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dapat dikatagorikan sebagai bentuk berdoa kepada selain Allah Ta’ala yang sudah jelas larangannya dalam Islam.

Wallahua’lam.

(AFS/Manhajuna.com)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Haji dan Perubahan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc. Watak dasar kehidupan adalah adanya perubahan. Tidak ada perubahan, berarti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *