Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Muslimah / Yang Pemalu dan Terjaga
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Yang Pemalu dan Terjaga

Oleh: Ustadz Hakimuddin Salim, MA dan Istri Beliau (Ustadzah Shofiya Aulia).

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersabda, “Rasa malu adalah salah satu cabang dari cabang-cabang keimanan” (HR. Imam Muslim).

Dan dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam berkata, “Keimanan dan rasa malu selalu beriringan dan bersama. Jika tercabut salah satu dari keduanya, maka tercabut pula yang lainnya”. (HR. Al-Hakim).

Alloh ta’ala adalah Dzat Yang Maha Pemalu dan Menutupi, juga menyukai rasa malu dan ketertutupan. Sebagaimana termaktub dalam hadits Ya’la, yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Majah.

Bagi seorang perempuan, rasa malu adalah mahkota yang tak ternilai harganya. Keterjagaan dan ketertutupan yang dimilikinya, selain menghalangi terjadinya fitnah, juga akan menjadikannya bunga surga yang indah. Dari rasa malu ini, akan terjaga kehormatan dan kesucian diri. Lalu insya Allah dengan mudah terbangun di atasnya ilmu dan taqwa hati.

Seperti yang dicontohkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Saat itu, ketika hanya jenazah Rasulullah dan Abu Bakar yang dimakamkan di rumahnya, ‘Aisyah terbiasa tak memakai hijab atau kerudung saat berada di dalamnya.

Namun, saat akhirnya jenazah ‘Umar bin Khattab juga dimakamkan di samping suami dan ayahnya, ia mulai mengenakan hijab dan merapatkan kerudungnya. Meski itu di dalam rumahnya sendiri. Ketika ditanya kenapa, ‘Aisyah menjawab, “Ia (‘Umar) adalah lelaki asing (bukan mahram)”.

Seperti juga kisah Ummu Kultsum binti Ja’far, cucu dari ‘Ali bin Abi Thalib. Saat usianya belum genap enam tahun, Ummu Kultsum kecil berjalan keluar rumah dengan hijab dan abaya kepanjangan, yang menjulur ke tanah sejengkal lebih dari kakinya.

Melihat pemandangan lucu itu, ‘Umar bin Khattab yang sudah menua menyapanya. Sambil mencandainya, ‘Umar mengangkat abaya Ummu Kultsum kecil yang menjulur ke tanah, hingga terlihat telapak kakinya.

Rupanya Ummu Kultsum tak suka dengan perlakuan Sang Khalifah itu. Dengan ekspresi malu, ia yang masih sangat belia berujar, “Lepaskan! Andai Engkau bukan Amirul Mukminin, maka akan kupukul mukamu!”.

Ada lagi kisah tentang betapa pemalunya Fathimah, radhiyallahu ‘anha. Saat ia sakit sebelum wafatnya, putri Rasulullah itu menyampaikan kegundahannya kepada Asmaa yang datang menjenguknya.

“Demi Alloh, aku sangat malu jika besok aku mati, tubuhku akan terpapar di hadapan para lelaki, di atas keranda mayat”, curhat Fathimah kepada Asmaa.

Pada masa itu, keranda jenazah hanyalah sebuah papan yang terbuat dari kayu, tanpa penutup bagian samping dan atas. Maka meski sudah dibalut kafan dan ditutup kain, postur tubuh mayat, sedikit atau banyak akan terlihat. Inilah yang membuat Fathimah gundah.

Maka Asmaa pun membuatkan untuknya keranda kayu model Habasyah yang menyerupai kotak panjang, hingga mayat yang terbujur di atasnya tidak terlihat. Melihat kotak kayu itu, Fathimah pun berdoa, “Semoga Alloh menutupi dosamu, sebagaimana usahamu menutupi diriku”.

Pun kisah tentang para perempuan Anshor di Madinah dulu kala. Yang saking pemalunya, saat berjalan di tempat umum, mereka selalu berjalan menepi di pinggiran. Melintas cepat ke depan, sambil menempel pada dinding-dinding bangunan. Meskipun rasa malu itu, tak menghalangi mereka untuk giat menuntut ilmu.

Di hari ini, hari ketujuh dari kelahiran putri kami, selain melaksanakan sunnah ‘aqiqah, memotong rambut, kami juga memberikannya sebuah nama: Hisyma (حشمة). Yang berarti: sifat pemalu, yang tertutupi, nan terjaga.

Semoga ia dikaruniai rasa malu tiada tara, yang akan menjadi mahkota indah tanpa perlu singgasana. Malu kepada Penciptanya, malu untuk bermaksiat dan lengah beribadah kepada-Nya. Pun tertutup rapat aurat fisik dan aurat hatinya. Serta terjaga muruah dan akhlaknya, dari segala dosa dan hal-hal yang dibenci Alloh ta’ala.

(Manhajuna/FM)

Ust. Hakimuddin Salim, Lc. MA.

Ust. Hakimuddin Salim, Lc. MA.

Mahasiswa Doktoral at Universitas Islam Madinah
Ustadz asal Klaten yang sehari-hari akrab dipanggil ustadz Hakim ini, sekarang sedang menyelesaikan studi doktoral di Universitas Islam Madinah. Selain aktif di Yayasan Islamic Center Ibnu Abbas, beliau juga aktif menjadi penceramah dan penulis di beberapa media.
Ust. Hakimuddin Salim, Lc. MA.

Latest posts by Ust. Hakimuddin Salim, Lc. MA. (see all)

     

    Beri Komentar (via FB)

    http://bursanurulfikri.com/

    Lihat Juga:

    Muhammad(PBUH)

    Lahirnya Sang Pencerah Sejati

    Oleh: Ustadz Fir’adi Nasruddin, Lc. « إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا, لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ …

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *