Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Renungan Seorang Salaf
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Renungan Seorang Salaf

Alih bahasa: Dr. H. Ahmad Heryawan, Lc., M.Si (Biasa disapa Kang Aher)

Salah seorang dari kalangan kaum salaf berkata:

Selama ini saya meyakini bahwa seorang hambalah yang mesti terlebih dahulu mencintai Allah sehingga Allah akan balas mencintainya. Keyakinanku baru berubah setelah aku membaca dan merenungi firman Allah Ta’ala: _”… sehingga Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka, dan mereka pun mencintai Allah.”_(Al Maidah : 54)

Akhirnya aku sadar bahwa kita tidak akan bisa mencintai Allah sehingga Dia terlebih dahulu mencintai kita.

Sebelumnya aku juga mengira bahwa hambalah yang terlebih dahulu harus bertaubat, sehingga Allah akan menerima taubatnya. Aku baru sadar setelah memahami firman Allah Ta’ala:
_”… kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.”_(At Taubah : 118)

Akhirnya aku sadar bahwa Allah lah yang memberikan ilham taubat kepada kita sehingga kita mau bertaubat.

Aku pun sebelumnya memahami bahwa hambalah yang harus terlebih dahulu ridha kepada Allah. Baru kemudian Allah akan ridha kepadanya. Aku baru mengerti setelah membaca firman Allah Ta’ala: _”Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”_(Al Maidah : 119)

Akhirnya aku tahu bahwa kita tidak akan terbimbing untuk ridha kepada Allah sehingga Rabb kita terlebih dahulu ridha kepada kita.

Oleh karena itu, wahai hamba Allah, laki-laki maupun perempuan, perbanyaklah ibadah dan melakukan ketaatan. Teruslah berdzikir dan beristighfar. Mohonlah kepada Allah agar Dia memudahkan kepadamu segala keinginan baikmu. Dengan begitu engkau akan mendapatkan kecintaan dari Allah Ta’ala dan ridha-Nya.

Nabi shallahu alaihi wa sallam dalam hadits qudsi bersabda bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman:
_”Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan jalan kaki biasa, maka Aku datang kepadanya dengan jalan cepat.”_

Dalam hadits qudsi yang lain disebutkan: _”Hamba-Ku masih saja mendekat kepada-Ku melalui ibadah-ibadah nafilah (sunnah), sehingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, pandangannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memegang, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah.”_

Semoga Allah mencintaimu, menerima taubatmu, serta ridha kepadamu dan membuatmu ridha kepada-Nya.

(Manhajuna/IAN)

(Visited 47 times, 1 visits today)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Fiqih Kurban (3): Penyembelihan, Pemanfaatan dan Distribusi Daging Kurban

Pada kajian kali ini kita akan mebahas tentang perkara yang terkait dengan penyembelihan hewan kurban, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *