Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Meneladani Fudhail bin ‘Iyadh: Sang Perampok yang Menjadi Ulama Gemilang
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Meneladani Fudhail bin ‘Iyadh: Sang Perampok yang Menjadi Ulama Gemilang

اِرحَمْنِي بِحُبِّي إِيَّاكَ؛ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْكَ

“Ya Allah, rahmatilah diriku karena cintaku kepada-Mu; sebab bagiku, tak ada satu pun yang lebih aku cintai selain Engkau.”

Mengenal Sang “Ahli Ibadah Dua Tanah Suci”

Beliau adalah Fudhail bin ‘Iyadh bin Masud bin Bisyr, yang dikenal dengan nama Abu Ali al-Taimi al-Yarbui al-Khurasani. Lahir di Samarkand pada tahun 107 Hijriah dan dibesarkan di Abyurd, beliau merupakan salah satu tokoh ulama besar Ahlu Sunnah pada abad kedua Hijriah. Kezuhudan dan ketekunannya dalam beribadah membuatnya masyhur dengan julukan ‘Abidul Haramain (Ahli Ibadah Dua Tanah Suci).

Titik Balik: Dari Jalan Kegelapan Menuju Cahaya

Kisah taubat Fudhail bin ‘Iyadh adalah potret nyata bagaimana hidayah bisa menyapa siapa saja. Sebelum menjadi ulama, ia dikenal sebagai seorang perampok yang ditakuti di wilayah antara Abyurd dan Sarkhis.

Penyebab taubatnya bermula dari sebuah kisah cinta. Suatu malam, saat ia sedang memanjat dinding untuk menemui gadis pujaan hatinya, sayup-sayup ia mendengar seseorang melantunkan ayat suci Al-Qur’an:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ

“Belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 16)

Mendengar seruan Rabbnya, Fudhail langsung menjawab dengan penuh getar:

يَا رَبِّ قَدْ آنَ

“Wahai Tuhanku, sekaranglah saatnya.”

Ia pun kembali dengan perasaan berkecamuk. Malam itu, ia berteduh di sebuah bangunan runtuh dan mendapati sekelompok musafir yang sedang berdiskusi. Sebagian dari mereka berkata, “Ayo kita berangkat sekarang,” namun yang lain menyahut, “Tunggulah sampai pagi, karena Fudhail biasanya menyamun di jalan ini.”

Fudhail merenung dalam tangisnya, “Betapa teganya aku. Di malam hari aku bermaksiat, sementara umat Islam merasa ketakutan karena kehadiranku. Allah menakdirkan aku bertemu mereka agar aku sadar. Ya Allah, aku bertaubat kepada-Mu, dan sebagai bukti taubatku, aku akan berhijrah dan menetap di samping Ka’bah.”

Menuntut Ilmu dan Mewariskan Cahaya

Fudhail menyadari bahwa taubat saja tidak cukup tanpa landasan ilmu. Ia pun berguru kepada ulama-ulama besar seperti al-A’masy, al-Thuri, Mansur bin al-Mu’tamir, Hisyam bin Hassan, Sulaiman al-Tamimi, dan ‘Auf al-A’rabi.

Ketulusannya dalam berilmu melahirkan murid-murid hebat yang kelak menjadi pilar umat, di antaranya: Ibnu Uyainah, Imam Syafii, Ibnu Mubarak, al-Humaidi, Basyar al-Hafi, Yahya bin al-Qattan, dan Qutaibah bin Sa’ad.

Prinsip Hidup dan Kata-Kata Hikmah

Bagi Fudhail, tasawuf adalah tentang kemurnian hati dan kejujuran dalam bersikap. Berikut adalah definisi beliau tentang pilar-pilar akhlak:

– Zuhud: Merasa cukup dengan apa yang ada (Qanaah).
– Wara’: Menjauhkan diri dari segala yang haram.
– Ibadah: Melaksanakan segala kewajiban fardu dengan sempurna.
– Tawaduk: Tunduk sepenuhnya kepada kebenaran dari Allah SWT.

Beberapa untaian hikmah beliau yang mendalam:
1. “Jika seluruh kekayaan dunia ditawarkan kepadaku dan aku bebas mengambilnya, niscaya aku akan merasa jijik, sebagaimana kalian jijik melihat bangkai yang takut mengotori pakaian kalian.”
2. “Ikutilah jalan hidayah meskipun sedikit pengikutnya, dan hindarilah jalan kesesatan meskipun banyak yang menempuhnya. Janganlah kau terperdaya oleh keramaian.”
3. “Dosa yang kau anggap kecil akan terasa besar di sisi Allah. Sebaliknya, dosa yang kau anggap besar akan menjadi kecil di sisi Allah (karena taubatmu).”
4. “Cukuplah Allah sebagai pencintamu, Al-Qur’an sebagai penghiburmu, dan maut sebagai penasihatmu.”

Al-Huzun: Kesedihan yang Menghidupkan Hati

Dalam manhaj sufinya, Fudhail sangat dikenal dengan sifat Huzun (الحزن), yaitu kesedihan yang positif. Ia mendefinisikannya sebagai:

هُوَ حَالٌ يَقْبِضُ الْقَلْبَ عَنِ التَّفَرُّقِ فِي أَوْدِيَةِ الْغَفْلَةِ

“Sebuah kondisi yang menjaga hati agar tidak tercerai-berai dalam lembah kelalaian.”

Beliau juga berpesan bahwa hati yang kosong dari rasa takut dan sedih kepada Allah akan menjadi hancur, sebagaimana rumah yang tak berpenghuni akan lapuk dan runtuh.

Akhir Hayat yang Harum

Fudhail bin ‘Iyadh wafat di Makkah pada tahun 187 H. Saat kepergiannya, Imam Waki’ berkata dengan sedih, “Hari ini, rasa sedih (Huzun) telah pergi dari muka bumi.” Imam Syuraik pun bersaksi bahwa Fudhail adalah hujjah (bukti kebenaran) bagi manusia di masanya.

Sebelum wafat, beliau meninggalkan wasiat yang sangat relevan untuk kita semua:

اِحْفَظْ لِسَانَكَ وَأقْبِلْ عَلَى شَأْنِكَ، وَ عَارِفْ زَمَانَكَ، وَ أَخْفِ مَكَانَكَ، مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُذْكَرَ لَمْ يُذْكَرْ، وَ مَنْ كَرِهَ أَنْ يُذْكَرَ ذُكِرَ

“Jagalah lisanmu, sibukkan dirimu dengan urusanmu, kenalilah zamanmu, dan janganlah menonjolkan diri. Siapa yang mencari popularitas, ia tidak akan dikenang. Namun, siapa yang tidak mengejarnya, justru ia akan diingat sepanjang masa.”

Kita tutup dengan doa yang sering beliau panjatkan:

رَبِّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُ»نْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.” (QS. Yusuf: 101)


Risalah Ma’had Darul Ikhlas (MDI), Panyabungan
Bersama Buya (Dr.) H. Ahmad Asri Lubis Lc., MA.
23 Jumadil Akhir 1447 / 14 Desember 2025

(MRS)

(Visited 42 times, 1 visits today)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

IMA Arab Saudi Audiensi dengan Pensosbud KBRI Riyadh Bahas Pelestarian Budaya Indonesia

Riyadh, 29 Desember 2025 — International Madani Association Arab Saudi (IMA KSA) melaksanakan audiensi dengan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *