Manhajuna.com – Dalam perjalanan ruhani seorang Mukmin, upaya meningkatkan kualitas ibadah dan kedekatan kepada Allah adalah agenda harian yang tak boleh terhenti. Untuk mencapai kematangan spiritual tersebut, kita perlu merenungkan pesan mendalam dari Kitabullah mengenai hakikat Hikmah:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang sangat banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 269)
Apa itu Hikmah?
Para ulama mendefinisikan hikmah dalam beberapa dimensi:
1. Ketepatan: Kesesuaian yang presisi antara perkataan dan perbuatan.
2. Kematangan: Kedalaman pemahaman dan kejernihan dalam berpikir.
3. Khasyyah (خشية): Rasa takut yang dilandasi pengagungan kepada Allah. Sungguh, muara dari segala kebijaksanaan adalah rasa takut kepada Allah (رأس الحكمة مخافة الله).
Indikator Insan Berhikmah
Seseorang layak disebut sebagai Ahli Hikmah jika ia memiliki kekuatan iradah (tekad) untuk mengekang desakan syahwat dan menjauhi keburukan yang dapat merusak dirinya serta mengundang murka Allah SWT.
الإنسان الحكيم لديه ما يكفي من الإرادة ليُقاوم شهواته، ويبتعد عن الأمور السيئة التي تضرُّ به وتُغضب ربَّه
Pandangan Ahli Hikmah terhadap Dunia
Seorang arif yang memahami bahaya fitnah dunia tidak akan pernah membiarkan dirinya terpikat, apalagi memperalat dunia demi nafsu sesaat. Justru mereka yang memandang rendah kemilau dunialah yang mampu memetik manfaat sejatinya.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah berujar:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَعْظَمَ الدُّنْيَا فَقَرَّتْ عَيْنُهُ فِيهَا، وَلَا انْتَفَعَ بِهَا، وَمَا حَقَّرَهَا أَحَدٌ إِلَّا تَمَتَّعَ بِهَا
“Aku tidak melihat seorang pun yang mengagungkan dunia lalu ia merasa bahagia dan mendapatkan manfaat darinya. Sebaliknya, tidaklah seseorang memandang rendah dunia melainkan ia akan benar-benar bisa menikmatinya.”
Untaian Nasihat Para Kekasih Allah:
1. Umar bin Khattab (RA): “Demi Allah, durasi kehidupan dunia ini jika dibandingkan dengan akhirat hanyalah beberapa detik saja; tak lebih dari satu lompatan kelinci.”
2. Abu Darda’ (RA): “Andai nilai dunia ini setara dengan berat sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Firaun tidak akan pernah diberi seteguk air pun.”
3. Ali bin Abi Thalib (RA): “Perkara yang halal di dunia ini akan dihisab secara terperinci, sementara yang haram akan menyeret pelakunya ke dalam neraka.”
4. Yunus bin Ubaid (rahimahullah): “Dunia ini bagaikan orang yang tertidur lalu bermimpi indah atau mengerikan, kemudian ia tersentak bangun (dan semuanya sirna).”
5. Imam Hasan Al-Basri (rahimahullah): “Dunia ini hanyalah mimpi saat tidur atau naungan yang bersifat sementara. Insan yang berakal sehat tak akan membiarkan dirinya tertipu olehnya.”
6. Empat Tanda Kesengsaraan: Beliau juga memperingatkan tanda-tanda celaka: hati yang keras, air mata yang membeku (sulit menangis karena Allah), tulul amal (طول الأمل/panjang angan-angan), dan cinta dunia yang tak terkendali.
7. Muadz bin Jabal (RA): “Wahai para ahli Quran, jangan biarkan dunia menjerat leher kalian. Keberuntungan hanya milik mereka yang dianugerahi rasa syukur dan kepuasan (qana’ah) di hatinya.”
8. Malik bin Dinar (rahimahullah): “Waspadalah terhadap pesona dunia yang membius, karena fatamorgananya bahkan sanggup menyilaukan mata para ahli ilmu.”
9. Urgensi Akhirat: Ja’far bin Sulaiman mendengar Habib Abu Muhammad berpesan agar kita tidak membuang waktu dalam kekosongan, sebab maut selalu mengintai tanpa jeda.
10. Sufyan Ats-Tsauri (rahimahullah): “Dunia disebut Dunya karena rendahnya nilai dirinya. Harta disebut Al-Maal (المال) karena sifatnya yang condong membuat pemiliknya tidak stabil.”
11. Nabi Isa AS: “Sebagaimana api dan air tak mungkin bersatu dalam satu wadah, demikian pula cinta dunia dan cinta akhirat tidak akan pernah berpadu dalam hati seorang Mukmin.”
Penutup: Rasa Takut yang Manis
Sebagai penutup, marilah kita senantiasa memanjatkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW agar kita diberi perlindungan dari fitnah dunia:
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، ومِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ.
“Ya Allah, anugerahkanlah bagi kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari berbuat maksiat kepada-Mu, dan anugerahkanlah ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami ke surga-Mu.” (HR. Tirmidzi & Al-Hakim).
Risalah Ma’had Darul Ikhlas (MDI), Panyabungan
Bersama Buya (Dr.) H. Ahmad Asri Lubis Lc., MA.
18 Jumadil Akhir 1447 / 09 Desember 2025
(MRS)
Manhajuna Ilmu dan Inspirasi Islam