Menjinakkan Nafsu Sebelum Tirai Tahun 2025 Berakhir
Dalam setiap sujud dan rakaat shalat kita, saat lisan melantunkan Ummul Kitab (QS. Al-Fatihah: 6-7), seorang Mukmin sejatinya sedang memohon petunjuk agar dikaruniai jalan hidup para Nabi, Siddiqin, Syuhada, dan Salihin (QS. An-Nisa: 69).
Kisah-kisah kaum salafus saleh bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan obat penawar bagi penyakit hati. Berikut adalah sebuah dialog penuh makna yang mampu melunakkan hati yang membeku, biidznillah.
Sebuah Percakapan di Penghujung Usia
Suatu ketika, ulama besar Al-Fudhail bin ‘Iyadh (107-187 H) menyapa seorang lelaki lanjut usia:
Fudhail: “Berapakah usia Anda sekarang?”
Lelaki: “Enam puluh tahun.”
Fudhail: “Itu artinya, sudah enam puluh tahun Anda menempuh perjalanan menuju Allah SWT. Maka, perjalanan Anda kini sudah hampir sampai di garis akhir.”
Mendengar hal itu, sang lelaki merasa cemas dan beristirja’:
إنا لله و إنا إليه راجعون
“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali.”
Fudhail kemudian bertanya kembali, “Tahukah Anda makna di balik ungkapan tersebut? Seseorang yang menyadari bahwa dirinya adalah milik Allah (إنا لله) dan akan kembali kepada-Nya (و إنا إليه راجعون), sepatutnya ia sadar bahwa ia akan berdiri di hadapan ‘Mahkamah Allah’. Dan barangsiapa yang akan menghadap Allah, maka ia pasti akan ditanya. Oleh karena itu, siapkanlah jawaban untuk setiap pertanyaan tersebut.”
Dengan penuh kegelisahan, lelaki itu bertanya, “Lalu, apa solusinya?”
Fudhail memberikan motivasi yang menyejukkan, “Solusinya sangatlah mudah.”
“Apa itu?” tanya sang lelaki optimis.
Fudhail menjelaskan:
تُـحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى؛ فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ، أُخِذْتَ بـِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ؛ وَالْأَعْمَالُ بِالْـخَـوَاتِيمِ.
“Perbaikilah sisa usia yang masih ada, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu di masa lalu. Namun, jika sisa usia ini pun tidak Anda gunakan untuk memperbaiki diri, maka dosa masa lalu dan dosa di masa mendatang akan ditimpakan kepada Anda. Ingatlah, amalan seorang hamba bergantung pada akhirnya (penutupnya).”
Terkait hal ini, Allah SWT memberi harapan bagi mereka yang ingin kembali:
إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70)
Hikmah & Iktibar
Berdasarkan dialog di atas, ada beberapa poin penting yang harus menjadi bekal kita dalam menjalani sisa usia:
1. Pentingnya Ilmu Naf’i: Seorang Mukmin harus senantiasa mendekati ahli ilmu dan orang-orang saleh untuk menyirami kekeringan rohani dengan ilmu yang bermanfaat.
2. Dunia sebagai Perjalanan: Hidup ini adalah pengembaraan menuju kampung akhirat. Alam barzakh adalah persinggahan pertama, sebelum akhirnya kita sampai di destinasi terakhir: Surga atau Neraka.
3. Waspada Terhadap Penghalang (Al-Qawati’): Terdapat empat rintangan utama dalam perjalanan menuju Allah: Setan, Nafsu, Dunia, dan Makhluk (Manusia).
القواطع أربعة: الشيطان، والنفس، والدنيا، والخلق
– Obat menghadapi Setan adalah dengan Isti’adzah (memohon perlindungan Allah) dan tidak menuruti ajakannya.
– Obat menghadapi Nafsu adalah dengan Qahar (menundukkannya).
– Obat menghadapi Dunia adalah dengan Zuhud (menaruh dunia di tangan, bukan di hati).
– Obat menghadapi Makhluk adalah dengan membatasi pergaulan yang sia-sia (Inqibadh dan Uzlah).
4. Memilih Lingkungan: Dekatilah sahabat yang jika engkau melihat wajahnya, engkau teringat kepada Allah; yang tutur katanya menambah ilmumu, dan amalannya mengingatkanmu pada akhirat.
5. Makna Istirja’: Kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un bukan hanya diucapkan saat ada kematian, melainkan kesadaran penuh bahwa setiap hembusan napas kita adalah milik Allah yang akan dipertanggungjawabkan.
6. Keadilan Allah dalam Hisab: Keadaan hisab (perhitungan amal) kita di akhirat ditentukan oleh bagaimana kita mengatur hidup sekarang. Ada Hisaban Yasira (hisab yang mudah) dan ada Hisaban ‘Asira (hisab yang berat).
Penutup: Kriteria Ilmu yang Bermanfaat
Menurut Imam Al-Ghazali rahimahullah, ilmu yang benar-benar bermanfaat adalah ilmu yang memiliki tujuh ciri berikut:
1. Menambah rasa takut kepada Allah.
2. Menyadarkan kita akan kekurangan diri.
3. Meningkatkan gairah dalam beribadah.
4. Menyingkap cacat atau riya’ dalam amal agar kita bisa menjauhinya.
5. Mengikis cinta dunia dari dalam hati.
6. Menumbuhkan kerinduan pada akhirat.
7. Meningkatkan kewaspadaan terhadap tipu daya setan.
Semoga di penghujung tahun ini, kita mampu menjinakkan hati yang liar dan kembali kepada Allah dengan jiwa yang tenang (Mutmainnah).
(والله ولي التوفيق)
Risalah Ma’had Darul Ikhlas (MDI), Panyabungan
Bersama Buya (Dr.) H. Ahmad Asri Lubis Lc., MA.
23 Jumadil Akhir 1447 / 14 Desember 2025
(MRS)
Manhajuna Ilmu dan Inspirasi Islam