Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Seperti Apakah Ramadhan Tahun Ini?
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Seperti Apakah Ramadhan Tahun Ini?

Alih bahasa: Muthahhir Arif

Duka dan sedih yang mendalam meliputi sebagian kaum muslimin.

Ramadhan tahun ini nampaknya akan terasa berbeda dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, dampak Covid-19 yang sedang melanda dunia.

Seluruh dunia melakukan karantina, sebagai upaya lanjutan guna mencegah penyebaran virus ini. Mulai dari larangan shalat berjamaah di masjid, juga larangan shalat tarawih dan tahajjud di masjid, sampai tidak diperkenankannya masjid terbuka meskipun hanya untuk menunggu antara dua waktu shalat, untuk membaca Al-Qur’an, atau untuk i’tikaf.

Sehingga tak ada lagi suara merdu para imam yang menggema di speaker-speaker masjid yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an..

Tak diragukan bahwa kesedihan itu bersumber dari hati yang tulus, yang dipenuhi keimanan yang begitu tinggi, dan itu merupakan ciri-ciri kebaikan yang akan dipahalai oleh Allah dengan pahala yang besar, karena hal itu merupakan bukti cintanya pada Allah dan Rasul-Nya, pada Islam, dan pada masjid yang hatinya terpaut dengannya.

Syekh DR. Abdurrahman Al-Hajji dalam videonya yang beredar mengemukakan pandangan optimis beliau tentang fenomena ini. Karena itu maka sudah sepantasnya kita kemukakan pesan beliau secara ringkas dan dengan sedikit penyesuaian, beliau berkata:

“Saya kira Ramadhan tahun ini akan menjadi Ramadhan yang paling berkesan dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya meskipun ia berada di tengah cobaan yang berat ini, dan ini akan dirasakan oleh umat seluruhnya, yang memberikan efek yang positif, dan akan mendatangkan banyak manfaat untuk mereka dari arah yang tak disangka-sangka”.

Kemudian beliau menyebutkan beberapa arahan yang luar biasa, di antaranya:

“Bahwasanya telah menjadi kewajiban seorang muslim agar tidak mencampuradukkan antara kepentingan hawa nafsu dengan keridhaan Allah SWT. Justeru seharusnya, seluruh amalnya hanya untuk Allah semata dan itu menjadi motivasi utamanya. Setiap ibadahnya dan gerak geriknya adalah untuk mengejar ridha dan Surga-Nya”.

Sebagai contoh, kita semua telah terbiasa merasakan suasana ibadah di mana-mana, baik terlihat oleh mata dan terdengar oleh telinga di setiap Ramadhan, tak diragukan lagi bahwa itu semua merupakan hal-hal yang menggembirakan. Dan tentu saja itu mendorong kita untuk semakin memperbanyak ibadah serta ketaatan pada-Nya, dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Tapi yang dikhawatirkan adalah, jika ada yang berhenti sampai di titik itu saja, dan malas beribadah ketika suasana itu tak mereka jumpai lagi, dan tak bersemangat mencari peluang-peluang kebaikan ketika kondisi mulai berubah.

Ujian terbesar bagi seorang muslim yang ikhlas adalah justeru dalam kondisi seperti ini. Dimana dia tidak menemukan suasana yang membantu dan mendorong akan hal itu, akan tetapi ia tetap bersemangat untuk beribadah meskipun di rumahnya. Ia tetap shalat tarawih di rumahnya. Di sepuluh hari terakhir ia tetap melakukan qiyamullail, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, memperbanyak zikir, do’a, istighfar, dan lain sebagainya, sebagaimana yang biasa ia lakukan pada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Ia tetap melakukannya; baik ketika sendiri atau bersama kedua orang tuanya, atau bersama anak dan istrinya. Dan ia memohon pada Allah SWT agar tetap memberinya ganjaran atas amal-amal seperti yang biasa ia lakukan pada setiap Ramadhan.

Oleh karenanya, disebutkan bahwa sebaik-baik ibadah kepada Allah SWT, yang paling utama dan paling tinggi pahalanya di sisi Allah SWT, serta yang paling berkesan terhadap jiwa adalah ibadah yang seorang muslim memaksa dirinya dalam melaksanakannya, dan menundukkan nafsunya untuk menunaikannya, meskipun kondisi sedang sulit, tidak ada penolong, juga banyaknya kesibukan dan urusan yang mengganggu.

Karenanya, pahala yang berlipat ganda akan diberikan kepada seorang muslim yang berpegang teguh terhadap agamanya di akhir zaman, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
“Sungguh di belakang kalian akan ada hari-hari kesabaran, orang yang berpegang teguh pada hari itu terhadap apa yang kalian pegang di hari ini, akan mendapatkan 50 kali lipat pahala kalian”, mereka (sahabat) bertanya: Wahai nabi Allah .. atau mungkin dari (pahala) mereka? Beliau bersabda: “justeru dari (pahala) kalian”.

Dari sisi ini-lah maka qiyamullail termasuk ibadah yang paling agung, sebab hampir tidak ada celah untuk dinodai dengan riya dan sum’ah, serta tidak ada celah baginya untuk kepentingan pribadi di sana. Ia sama dengan sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Juga sama dengan air mata yang mengalir karena khusyu’ dalam suasana kesendirian. Dan bentuk-bentuk ketaatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, namun Allah berjanji untuk mengangkat derajat dan pahalanya karena motivasi keimanan yang luhur.

Untuk itu, kita berharap bahwa berbagai bentuk ketaatan yang akan ditunaikan oleh setiap muslim dirumahnya masing-masing pada Ramadhan tahun ini, -dengan izin Allah- akan memberi dampak yang sangat positif dari segi pembinaan pribadi, keimanan dan akhlak mulia.

Begitu juga seharusnya kita ketahui, bahwa Allah SWT Yang menginginkan kita ber-Ramadhan kali ini tanpa tarawih dan qiyamullail di masjid. Pasti ada hikmah dibalik semua itu. Ada rahasia dan bentuk kasih sayang Allah yang tidak diketahui kecuali bagi orang yang diberi ilmu dan kesabaran serta ketajaman pemikiran.

Oleh karena mukmin sejati senantiasa bergerak seiring dan sejalan dengan keinginan Allah SWT.

Ia akan senantiasa mencari ridha Allah dalam setiap ucapan, niat, dan perbuatannya, kapan dan di mana pun dia berada, serta dalam kondisi apa pun.

Mu’min sejati senantiasa berbaik sangka secara total pada aturan dan ketetapan-Nya; pada musibah ini khususnya, maupun pada setiap kejadian apapun pada umumnya, bahwa di balik hal yang menyedihkan secara lahiriah ini terdapat banyak kebaikan dan manfaat; untuk dirinya dan untuk segenap kaum muslimin. Sebagaimana sabda Rasul SAW :

“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, sesungguhnya segala urusannya merupakan kebaikan untuknya; apabila ia mendapatkan kenikmatan ia bersyukur dan itu baik baginya, dan apabila ia ditimpa musibah maka ia bersabar dan itu baik baginya”. (HR. Muslim)

Tak lupa pula kita mengingatkan diri kita semua, teriring rasa ridha di hati terhadap takdir Allah SWT tentang pentingnya doa dan keutamaannya khususnya dalam kondisi tertentu yang sedang menimpa kita ini, semoga kesusahan kita hilang, dan musibahpun terangkat.

Sekali lagi, mari kita memperbanyak doa, utamanya pada waktu-waktu mustajab, semoga Allah SWT berkenan mengangkat wabah ini sesegera mungkin.

Dan cukup sudah segala dampak buruk dan kerugian yang disebabkannya terhadap kaum muslimin pada seluruh sendi kehidupan mereka.

Boleh jadi, ada doa tulus yang menjadi sebab diangkatnya segera wabah ini dengan izin Allah SWT.

‎ آمين .. يا مجيب السائلين

(Manhajuna/IAN)

(Visited 35 times, 1 visits today)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Tetaplah Istikharah

Oleh: Ustadz Ahmad al-Fayiz Alih bahasa: Syarifuddin Ridwan Suatu ketika istriku bertanya: “Apakah engkau menyesal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *