Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Muslimah / Bijak dalam Menghukum Anak
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Bijak dalam Menghukum Anak

Manhajuna.com – Setiap orang dapat melakukan kesalahan, tidak terkecuali anak-anak. Menyikapi kesalahan yang dilakukan anak harus dilakukan secara tepat termasuk jika mesti memberi hukuman. Tidak bijak dalam menghukum anak, dapat mengakibatkan anak merasa diperlakukan dengan tidak adil atau semena-mena. Lebih jauh mungkin membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang rendah diri, penakut bahkan pengecut.

Di sisi lain jika dibiarkan saja anak melakukan kesalahan, seakan-akan tanpa ada aturan yang mesti dipatuhi bisa membuat anak sulit mengendalikan diri, anti sosial, atau susah bergaul dalam kehidupan bermasyarakat. Nah berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan hukuman pada anak.

Pastikan bahwa ketika kita menghukum anak bukan sebagai luapan emosi

Senantiasa belajar membenahi niat kita dalam menghukum anak, perilaku kita lebih terkendali. Kalau kita masih terbiasa bertindak impulsif, sekurangnya emosi kita akan lebih mudah reda. Kita lebih cepat menyadari kekeliruan kita dalam menghadapi anak.

Menghukum anak ditujukan sebagai tindakan mendidik agar anak memiliki sikap yang baik.

Hal terpenting dalam menghukum adalah anak mengerti apa yang seharusnya dilakukan dan memahami apa yang menyebabkan dia dihukum. Jika anak menyadari kesalahannya dan memperbaiki sikapnya, orangtua perlu memberi umpan balik yang positif. Tidak layak orangtua terus memberi tekanan mental kepada anak, padahal mereka telah menunjukkan penyesalan. Sebaliknya, yang perlu kita berikan adalah dukungan dan penerimaan yang tulus.

Memberi hukuman kepada anak dalam rangka mengajari anak bahwa setiap perbuatan mempunyai konsekuensi.

Perlu garis bawahi bahwa menghukum anak jangan sampai membuat mereka merasa dipermalukan atau diolok-olok. Karena ini dapat menghancurkan citra diri dan harga diri anak. Apa yang terjadi jika anak merasa hukuman itu untuk mempermalukan dirinya? Ada beberapa kemungkinan. Boleh jadi anak berusaha untuk melakukan tindakan serupa. Anak mempermalukan orangtua. Boleh jadi anak belajar menjadi pemberontak. Mereka merasa senang apabila bisa membuat orangtuanya marah. Atau boleh jadi sebaliknya, anak merasa minder. Anak merasa dirinya tidak berharga.

Hukumlah anak, tetapi jangan sakiti dia.

Kita memojokkan anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya mati kutu. Atau, kita menghujani anak dengan ancaman-ancaman yang menakutkan, meskipun anak sudah menunjukkan iktikad baik. Lebih tragis, kalimat-kalimat menyakitkan itu kadang kita ucapkan ketika penyesalan itu muncul dari kesadaran anak. Bukan saat tengkuk anak merunduk mendengar nasehat kita (yang barangkali lebih tepat disebut omelan).

Tetaplah berpikir jernih saat menghukum anak.

Keputusan-keputusan yang baik dapat kita ambil hanya ketika pikiran kita jernih. Tanpa itu, tindakan kita justru bisa memperpanjang masalah dan memperumit keadaan. Tetapi, lagi-lagi pikiran yang jernih hanya bisa muncul ketika hati kita tenang dan emosi kita terkendali. Dalam keadaan emosi meluap-luap dan amarah yang memuncak, sulit kita berpikir dengan tenang, rasional dan terarah. Ini berarti, kita perlu kendali diri yang kuat. Begitu kemarahan memuncak akibat ulah anak-anak yang senantiasa teriak-teriak, kita perlu segera meredakan gejolak. Kita perlu mendinginkan emosi.

Kasih-sayang mendahului kemarahan.

Meskipun kita memberi hukuman kepada anak, tunjukkanlah bahwa kita melakukannya karena didorong oleh rasa cinta dan kasih-sayang. Imbasnya, jangan berat hati untuk mengusap kepala mereka atau mengecup keningnya dengan mesra ketika mereka menunjukkan keinginan untuk memperbaiki diri. Tunjukkanlah kasih-sayang sesudah menghukum, meski hati kita masih bergemuruh karena rasa jengkel yang belum pergi.

Semoga kita lebih bijak dalam menghukum anak dan saling mengingatkan antara suami dan istri akan hal ini.

***

Disarikan dari buku “Saat Berharga untuk Anak Kita” karya Mohammad Fauzil Adhim, Pro-U Media, Cetakan ke-8, tahun 2014

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Menyayangi Anak dengan Cara yang Sesungguhnya

Saudaraku Yang Dirahmati Allah…. Pernahkah anda lewat di sebuah pasar kemudian ada pedagang kaki lima …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *