Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Hadist / Allah Ta’ala Hanya Menerima yang Baik
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Allah Ta’ala Hanya Menerima yang Baik

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم “إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ تَعَالَى: “يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا”، وَقَالَ تَعَالَى: “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ” ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ! يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ؟”

 رواه مسلم

Kosa kata

يقبل Menerima يطيل Panjang / jauh
أشعث Kumal أغبر Berdebu / dekil
يَمُدّ Memanjangkan/mengangkat فأَنَّى Maka dari mana/bagaimana

Terjemah Hadits

Dari Abu Hurairah t dia berkata, “Rasulullah bersabda,

‘Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana Dia memerintahkan para rasul-Nya dengan berfirman (yang artinya), “Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalehlah.” Dia juga berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian.”

Kemudian beliau (Rasulullah ﷺ) menyebutkan ada seseorang yang melakukan safar dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Ya Robbku, Ya Robbku,” padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan perutnya kenyang dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan.”  (Riwayat Muslim) [1]

Kedudukan Hadits

Hadits ini merupakan salah satu pilar Islam dan bangunan hukum-hukumnya. [2]

Pemahaman Hadits

Makna Thayyib (طيب) dalam ungkapan Innallaha Ta’ala Thayyibun pada hadits di atas adalah: bahwa Allah terhindar dari cacat dan keburukan. Kesimpulannya adalah bahwa Dia Maha Suci  (القدوس).

Laa yaqbalu illa thayyiban (Dia tidak menerima kecuali yang baik), maksudnya adalah: Allah tidak menerima sedekah dari harta yang haram. Ada juga yang mengartikan lebih umum, yaitu bahwa Dia hanya menerima amal yang baik dan murni dari berbagai kotoran riya, bangga dan sum’ah dan semacamnya. [3]

Thayyib dalam masalah harta adalah: Harta yang didapat dari cara yang halal. Thayyib dalam masalah amal adalah: perbuatan yang murni karena Allah dan sesuai ketentuan syariat. Thayyib dalam masalah makanan adalah apa saja yang dihalalkan oleh syariat, walaupun seseorang secara tabi’at tidak menyukainya. [4]

Pelajaran yang Terdapat dalam Hadits

1- Allah Maha suci dari segala cacat dan aib, karena itu Dia hanya menerima harta dan perbuatan yang baik.

2- Berlarut-larut dalam perbuatan haram akan menghalangi seseorang dari terkabulnya doa, dapat merusak amal dan menjadi penghalang diterimanya amal perbuatan.

3- Pada dua ayat yang disebutkan dalam hadits di atas terdapat beberapa pelajaran:

  • Para Rasul adalah makhluk yang mendapatkan perintah dan larangan. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang paling dekat kepada Allah adalah orang yang paling menaati seluruh ajaran-Nya, bukan mereka yang mengaku telah bebas dari aturan syariat.
  • Diperintahnya orang beriman sebagaimana para Rasul diperintahkan, mengisyaratkan dua hal: Pertama, beramal shaleh membutuhkan qudwah yang nyata dari para pemimpin umat. Kedua, dorongan dan motivasi dalam memberikan perintah, bahwa hal tersebut juga dilakukan oleh orang-orang yang mulia.
  • Realisasi yang paling riil dari rasa syukur atas rizki yang Allah berikan kepada kita adalah beramal saleh.

4- Anjuran berinfaq dari barang yang halal dan larangan untuk berinfaq dari sesuatu yang haram.

5- Dalam hadits terdapat sebagian dari sebab-sebab terkabulnya do’a, di antaranya; (a) Perjalanan jauh (safar), (b) Sederhana dalam berpakaian dan penampilan, (c) mengangkat kedua tangan ke langit, (d) meratap dalam berdoa, (e) mengulang-ulang permintaannya, (f) berkeinginan kuat da-lam permintaan, (g) mengkonsumsi barang yang halal.

Tema Hadits dan Ayat Al-Quran Terkait

Pentingnya membedakan yang halal dan haram dalam kehidupan : Al-A’raf (7): 157, Al-Ma’idah (5): 87
Mempersembahkan yang terbaik untuk Allah : Ali Imran (3): 102, Al-Baqarah (2): 195
Meratap dalam berdoa : Maryam (19): 3, As-Sajadah (32): 16
Bersyukur atas nikmat Allah : Al-Baqarah (2): 172, An-Nahl (16): 114, Al-Ankabut (29): 17, Saba’ (34): 15

Catatan Kaki:

  1. Shahih Muslim, Kitab Az-Zakah, Bab Qabuulusshadaqah minal kasbi ath-thayyib wa tarbiyatiha, no. 1015.
  2. Syarh Arbai’in An-Nawawiah, Ibnu Daqiq al-‘Ied, hal. 109.
  3. Syarh Muslim, An-Nawawi, Jami al-Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hambali, hal. 176.
  4. Syarh Arba’in An-Nawawiyah, Syekh Ibnu Utsaimin, hal. 164, 171-172.

Sumber: Kajian Hadits Arba’in Nawawiyah, Imam An-Nawawi, Penyusun Abdullah Haidir, di Muraja’ah DR. Muinudinillah Basri, MA Fir’adi Nashruddin, Lc. Penerbit Kantor Dakwah Sulay Riyadh

(Manhajuna/IAN)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

poros_kebenaran

Bergabunglah dalam Poros Kebenaran!

Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dengan memiliki watak dasar (fitrah) keimanan dan taqwa, dan sebaliknya …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *