Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Bahaya Rasis Bagi Kehidupan Beragama dan Berbangsa
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Bahaya Rasis Bagi Kehidupan Beragama dan Berbangsa

Oleh : Abu Kautsar

Kehadiran Islam bukan hanya mengatur tata cara ritual ibadah semata tetapi Islam hadir untuk mengatur seluruh aspek dan seni kehidupan. Dari permasalahan kecil sampai permasalahan besar, dari permasalahan rumah tangga sampai negara. Mengatur Pemimpin dengan yang dipimpin, mengatur ekonomi, sosial dan politik. Sekalipun syariat Islam tidak berdiri secara kelembagaan tapi banyak aturan Islam hidup dan ada dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Finalnya lima dasar pancasila sebagai dasar negara merupakan sumber universal dan integralnya ajaran Islam.

Islam mengajarkan sesuatu kepada umatnya, pasti yang mendatangkan rasa cinta dan persatuan serta memperingatkan hal-hal yang mendatangkan kebencian dan permusuhan. Islam hadir membawa kedamaian bagi seluruh umat manusia tidak mengenal suku, ras, agama dan antar golongan karena Allah SWT menciptakan manusia berbeda jenis, bahasa dan bersuku-suku untuk saling memahami dan menyayangi, bukan saling menghina dan merendahkan. Rasulullah SAW mengingatkan umatnya

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلا فَخْر

Aku sayyidnya bani Adam dan tidak berbangga diri“.

Allah SWT dalam kitabnya memperingatkan umat manusia agar saling mengenal dan memahami karena manusia yang paling mulia di sisiNya adalah dia yang paling bertaqwa.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

[الحجرات: 13]

Ayat ini mengingatkan kita agar manusia tidak saling berbangga apalagi saling menghina dan mencaci karena berbeda warna kulitnya, suku dan golongan, semua adalah ciptaanNya.

Rasulullah SAW mengancam umatnya yang menyeru fanatik terhadap golongan apalagi sampai menghina bentuk dan rupa manusia. Ssalah satu sifat jahiliyah adalah fanatik golongan dengan menghina rupa dan warna manusia.

Suatu hari sahabat Bilal bin Rabah mengadu kepada Rasulullah SAW perihal cacian rasis Abi Dzar Al-Gifari dengan mengatakan

يا ابن السوداء …

Wahai anak hitam

Kemudian Rasulullah SAW menegur Abi Dzar dengan teguran

يا أبا ذر إنك امرؤ فيك جاهلية

( رواه مسلم )

Wahai Abi Dzar sesungguhnya dalam dirimu ada sikap jahiliyah“. (HR. Muslim )

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW mengancam umatnya yang beperilaku rasis dengan tidak dimasukan dalam golonganya.

Peristiwa penghinaan rasis ribuan tahun silam pernah terjadi. Namun, Islam lewat lisan Nabinya sudah memperingatkan rasis dan bahayanya bagi kehidupan pribadi dan masyarakat.

***

Sikap rasis dapat menimbulkan konflik horizontal manakala pemerintah tidak cepat hadir untuk meredam dan menenangkan rakyat Indonesia yang sudah lama hidup dalam guyub kebhinekaan.

Bangsa Jerman pernah mengalami masa kelam di era Adolf Hitler yang membantai ribuan orang Yahudi dan tragedi tersebut di awali dengan propaganda rasis. Jerman merasa ras Arialah yang paling mulia dan propaganda ini terus dikembangkan dengan semboyan “Deutshland uber alles” (bangsa Jerman di atas segalanya).

Sementara bangsa Yahudi konsisten dengan keyakinan agamanya sebagai bangsa pilihan Tuhan. Keyakinan bangsa Yahudi dianggap bertentangan dengan upaya membangkitkan kesadaran bangsa Jerman dengan propaganda “deutschland uber alles”. Sehingga terjadilah pembantaian masal bangsa Yahudi yang membuat Jerman sampai hari ini membayar dengan biaya yang mahal atas peristiwa tersebut.

Sementara Jepang dengan kekaisaran Shintonya menjajah Indonesia dengan propaganda “Saudara tuanya” di Asia timur. Mereka merasa lebih baik segalanya dari bangsa Indonesia dan bangsa Asia lainnya.

Rasis adalah watak jahiliyah dan diwarisi oleh bangsa -bangsa penjajah. Salah satu tujuan kehadiran Islam adalah membebaskan sikap yang mengajak kepada fanatik golongan, ras, suku. Merendahkan martabat suku atau golongan lain dilarang dengan tegas dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

لقمان : ١٨

Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang sombong lagi membanggakan diri“. (QS
Lukman : 18)

ليس منا من دعا آلى عصبية او قاتل من أجل عصبية او من مات من اجل عصبية

رواه البجاري-مسلم

Bukanlah golonganku barang siapa mati mengajak kepada fanatik golongan, atau berperang dengan tujuan fanatik golongan, atau siapa yang matinya karena fanatik golongan“. (HR. Bukhari-Muslim)

Semoga Allah SWT selalu menjaga NKRI dari upaya kelompok-kelompok yang ingin mencerai-beraikan kesatuan dan kebhinekaan yang sudah lama dibangun oleh pendiri bangsa ini jauh sebelum Indonesia Merdeka.

(Manhajuna/IAN)

Fathurrahman Abu Kautsar

Fathurrahman Abu Kautsar, pekerja yang sedang berdomisili di Riyadh Arab Saudi. Beliau yang dulu sempat menimba ilmu di Lembaga Bahasa Arab dan Ilmu keislaman Ustman bin Affan Jakarta, juga aktif dalam mengelola Forum Majelis Taklim Riyadh (FORMATRA) sebagai Wakil Ketua. Selain itu ditengah kesibukannya, beliau juga menyempatkan diri untuk menimba ilmu dari beberapa ulama negeri Arab Saudi
(Visited 52 times, 1 visits today)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Ramadhan Bulan Persaudaran dan Persatuan

Oleh : Abu Kautsar Sesungguhnya agama Islam adalah agama perdamaian dan persaudaraan, hujjah dalam Al-Quran …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *