Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Belajar Ketulusan Membantu Dari Seorang Baduy
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Belajar Ketulusan Membantu Dari Seorang Baduy

P1010514 (Small)Suata saat manakala saya menunaikan tugas ke daerah-daerah di luar Riyadh, tepatnya ke daerah Tabuk ada suatu cerita yang menarik. Tabuk sendiri terletak cukup jauh dari Riyadh, berada di daerah utara Saudi Arabia, yang kalau naik mobil dengan kecepatan normal jarak tempuh sekitar 12 jam. Kecepatan normal yang saya maksudkan di sini adalah kecepatan maximum 120 km per jam sebagaimana aturan yang dikeluarkan oleh polisi lalu lintas Saudi Arabia.

Baik, kembali ke cerita awal. Dalam suatu hari ketika sudah sekita satu-dua hari di Tabuk, saya berniat menuju ke arab Duba, sebuah kota di sekitar Tabuk menuju ke arah laut tengah. Sekitar satu setengah jam perjalanan dari kota Tabuk ke kota Duba, tiba lah saya di daerah padang pasir. Di tengah padang pasir ini terdapat banyak pohon yang daun nya masih cukup lebat dan masih berwarna hijau. Pohon nya mirip daun petai cina tapi berduri, ada banyak orang yang menyebut pohon pohon ini sebagai Acacia ato juga Tholah dalam bahasa arab.

Tiba di daerah ini matahari sudah mulai terik, saya dan teman berniat untuk berteduh sementara di bawah pohon sambil melihat lihat pemandangan khas padang pasir. Kemudian saya dan teman mengarahkan mobil kami memasuki padang pasir, dengan mobil Hyundai sedan, kami coba masuk ke padang pasir. Sebelum jauh masuk ke padang pasir, saya dan teman melihat kondisi padang pasir apakah bisa di lalui oleh mobil atau tidak.

Dan tibalah kesimpulan kami bahwa mobil sedan bisa masuk mendekati pohon. Tapi selang sekitar lima menitan kami masuk ke padang pasir ternyata, ban mobil sudah masuk ke dalam pasir dan tidak bisa bergerak. Semakin saya injak pedal gas ternyata mobil semakin masuk kedalam kubangan padang pasir. Kemudian kami coba untuk menganjal ban mobil dengan batu, kemudian kayu dan yang lain tapi hasilnya nihil. Mobil masih terjebak dalam padang pasir. Di tengah kelelahan kami, teman saya coba mendekati jalan raya yang letaknya sekitra 500 meter dari tempat mobil kami terjebak.

Teman saya coba menghentikan mobil yang lalu lalang di situ untuk minta bantuan, karena di jalan tengah padang pasir seperti itu tidak nampak orang selain mobil yang melaju dengan kencang. Setelah beberapa kali menghentikan mobil, Alhamdulillah teman saya berhasil menghentikan mobil. Seorang bapak tua menjadi sopirnya, dengan pakan ternak di bak mobil belakangnya. Nampaknya bapak ini dari desa di sekitar daerah itu, kadang sering di sebut Baduy.

Kemudian dengan ucapan salam dan basa basi sedikit, teman saya menjelaskan kalau kita butuh bantuan. Kemudian dengan sigap bapak Baduy tadi mengajak teman saya mendekati mobil kami yang terjebak dalam pasir. Dengan sigap pula bapak Baduy itu mengeluarkan tali penarik yang selalu melekat di mobilnya, mobil 4 x4 toyota yang nampak sudah agak lusuh karena di makan usia. Kemudian bapak tadi menyuruh kami mengurangi tekanan ban, atau menggembosinya dan mengaduk pasir sekitar ban. Tak lama sesudah itu bapak tadi menarik mobil kami, dari bagian belakang mobil sedan kami. Beberapa kali upaya menarik mobil sedan kami belum berhasil, sampai tali penariknya putus.

Kemudian coba kami sambungkan kembali dengan mengikatnya kuat kuat. Alhamdulillah bisa di pakai buat menarik kembali. Bapak Baduy tadi meminta kami untuk mengurangi lagi tekanan udara ban mobil kami. Kamipun mengiyakan dan melakukan saran bapak tadi. Setelah ban kami gembosi kembali, bapak tadi menarik mobil kami kuat-kuat. Dan alhamdulillah usaha beliau berhasil. Lega rasanya ketika melihat mobil sudah terbebas dari jebakan pasir.

Kemudian bapak tadi menjelaskan, silahkan bawa mobil ke pom bensin di dekat sini, sekitar 5 menitan dari sini“. Kamipun mengiyakan, dan mengucapkan terima kasih banyak pada beliau. Tak lama ketika kami mengucapkan rasa syukur dan terima kasih, bapak tadi langsung pergi menjauhi kami. Beliau dengan tangan tuanya dan bekas tangan nya yang kasar, sepertinya karena kerja keras beliau, menjabat tangan kami dan langsung pergi tanpa basa basi.

Kami sangat bersyukur bertemu beliau, karena telah membantu mengeluarkan mobil kami dari pasir. Dan yang lebih penting lagi, beliau tidak meminta imbalan sepeser pun bahkan menolak untuk di beri. Subhanallah, rasanya kita malu dengan bapak ini, dengan keterbatasanya yang tinggal di daerah terpencil, masih memiliki hati yang luas dan bijak. Rasanya sulit kita menjumpai orang-orang seperti ini di negeri kita Indonesia. Dan di sini di Saudi ternyata masih ada orang–orang yang berhati mulia di tengah orang-orang kota yang sudah mulai cuek.

Semoga Allah menjaga bapak Baduy tadi, dan sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kami yang mendalam. Sedikit hikmah dari cerita ini, sekuat dan sebaik apapun ciptaan manusia ketika berhadapan dengan alam ciptaan Allah, tidak ada apa-apanya. Bayangkan saja mobil kami yang baru di produksi dua tahun terakhir ketika masuk ke pasir akhirnya tidak berdaya juga. Hikmah yang lain, kemulian hati seseorang tidak bisa di nilai dari tampilan fisik saja, sebagaimana bapak baduy dalam cerita di atas.

Wallahua’lam.

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Fiqih Kurban (2): Apa dan Bagaimana Kurban

Setelah kita bahas apa kedudukan ibadah qurban dan bagaimana seharusnya sikap kita, kini akan kita …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *