Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Geliat Da’wah TKI di Saudi Arabia
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Geliat Da’wah TKI di Saudi Arabia

Oleh Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

1009849_358108197653049_1943764234_nManhajuna – Perbincangan tentang da’wah di kalangan TKI di Saudi Arabia relatif tidak banyak mendapat perhatian banyak pihak jika dibandingkan berbagai kasus dan problem yang menimpa mereka. Bisa jadi hal tersebut disebabkan keberadaan Saudi Arabia yang dikenal sebagai negara Islam, sehingga urusan da’wah dianggap perkara biasa dan wajar, sementara yang tidak wajar justru adanya berbagai kisah nestapa oleh perlakuan penduduk setempat. Padahal masalahnya tidak sesederhana itu, justru tantangan da’wah di kalangan TKI di negara ini memiliki kekhasan tersendiri di banding tempat lainnya. Hal itu dapat bersumber dari TKI sendiri, lingkungan pekerjaan, atau kondisi sosial yang ada.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sebagian besar TKI bekerja dalam sektor privat (sopir dan pembantu rumah tangga). Mereka umumnya berasal dari lingkungan yang kehidupan keberagamaannya sangat “cair” plus latar belakang pendidikan standar. Hal tersebut berakibat pada lemahnya motivasi untuk meningkatkan kuwalitas keagamaannya, baik dari sisi ilmu maupun amalan. Atau kalaupun cukup baik latar belakang agamaannya, sering sudah terbungkus rapat dengan pemahaman tradisional yang sangat sensitif dengan pendapat yang dianggap berbeda, sehingga tidak sedikit di antara mereka (termasuk penulis sendiri) mendapat pesan sebelum berangkat: “Hati-hati, jangan terpengaruh ajaran orang sana, mereka mazhabnya beda”. Hal inipun sering jadi kendala tersendiri.

Kondisi pekerjaan juga banyak berpengaruh, di mana sektor rumah tangga yang umumnya tidak memiliki jam tertentu, membuat TKI kesulitan terlibat dalam kegiatan da’wah secara kontinyu. Kemudian kondisi sosial dalam perspektif da’wah juga relatif berbeda. Tidak seperti di negeri kita, di sini tidak sembarang orang –meskipun punya semangat da’wah dan ilmu agama- dapat berceramah atau memberikan pengajian di mesjid-mesjid atau tempat-tempat formal. Semuanya harus memiliki legalitas dari lembaga resmi yang diakui pemerintah setempat.

Namun demikian, terlepas dari semua tantangan yang ada, agenda da’wah tetap berjalan dan terus bergulir bahkan meningkat dari waktu ke waktu. Keberadaan kantor-kantor da’wah yang salah satu bidangnya mengurus da’wah bagi pendatang sangar besar perannya dalam menghidupkan da’wah dikalangan TKI. Kita biasa menyebutnya dengan istilah Maktab Jaliat (Kantor bagi pendatang) atau Islamic Center. Di Kantor seperti ini biasanya didatangkan da’i dari negara-negara yang banyak mengirim tenaga kerjanya ke Saudi, seperti Indonesia, Philipina, Srilangka, Pakistan dll, tentu saja tujuannya agar dapat menyampaikan da’wah sesuai dengan bahasa kaumnya.

Selain da’i di kantor-kantor da’wah, para mahasiswa yang sedang studi ilmu-ilmu syar’i besar pula peranannya dalam hal ini, bahkan di kota Dammam ada beberapa mahasiswa Indonesia yang studi ilmu-ilmu eksak (rata-rata mengambil program S2), juga aktif menghidupkan kegiatan da’wah di sana.

Kantor Da’wah biasanya memberikan fasilitas yang sangat besar –setidaknya jika dibandingkan di negeri kita- bagi mereka yang mau ngaji; seperti transportasi antar jemput, makanb malam atau siang, sejumlah hadiah, rihlah, umroh serta pembagian buku dan brosur keagamaan. Semuanya serba gratis. Jumlah kantor da’wah di ibu kota Riyadh terbilang paling banyak, ada tujuh belas kantor yang tersebar di berbagai pelosok kota. Hal ini tentu saja berdampak pada tingginya kegiatan da’wah bagi pendatang di kota ini, termasuk di kalangan TKI, meskipun hanya enam kantor da’wah yang ada da’i dari Indonesia. Tidak kurang ada dua puluh sentra pengajian untuk orang Indonesia dengan waktu dan jumlah hadirin yang beragam, baik yang diadakan di kantor da’wah itu sendiri, di mesjid-mesjid atau perusahaan-perusahaan hingga dari rumah ke rumah. Kegiatan pengajianpun sudah semakin beragam, dari mulai seminar, rihlah, penggalangan dana dan hingga olahraga dan bantuan terhadap tenaga kerja. Untuk memudahkan koordinasi di antara pengajian, telah dibentuk Formatra (Forum Majlis Ta’lim Riyadh) yang mengatur dan mengelola jalannya pengajian yang ada di kota Riyadh.

Selain Riyadh, provinsi bagian timur (Damam, Khobar, Ahsa, Jubail dll) adalah wilayah yang cukup marak kegiatan da’wahnya, termasuk dengan adanya sejumlah kantor Da’wah. Berikutnya wilayah Qasim yang juga hidup kegiatan da’wahnya. Di wilayah Hijaz, maka Jeddah merupakan kota yang paling marak kegiatan da’wahnya, di sanapun banyak kantor-kantor da’wah yang besar perannya mengembangkan da’wah di kalangan TKI. Bahkan di sana, komunitas warga Indonesia cukup mapan dan sudah turun temurun. Namun sayang, di kalangan TKI, Jeddah lebih dikenal sebagai kota tempat bersarangnya TKI ilegal, lengkap dengan berbagai problem dan ekses negatifnya.

Yang agak unik barangkali di Mekkah dan Madinah. Di kedua kota yang menjadi titik tolak da’wah dalam sejarah Islam, justru kegiatan da’wah bagi kalangan TKI tidak begitu marak, setidaknya hal tersebut dapat dilihat dari tidak adanya tenaga da’i resmi dari Indonesia di kantor-kantor da’wah di kota tersebut, padahal komunitas TKI sangat banyak. Sehingga hal ini sering memupuskan harapan sebagian TKI yang di antara tujuan kedatangannya ingin memperdalam ilmu agama selain mencari nafkah. Dan karena alasan tersebut, Mekkah atau Madinah menjadi pilihan mereka. Namun demikian pengajian-pengajian terbatas tetap ada di sejumlah tempat dengan bimbingan mahasiswa atau TKI yang sudah memiliki kafa’ah syar’i. Di sisi lain, keberadaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tentu saja menjadi kelebihan tersendiri bagi TKI yang bekerja di kota tersebut.

Isu teroris yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan di negara ini, al-hamdulillah tidak sampai mengganggu kegiatan da’wah bagi kalangan TKI. Terlebih lagi bangsa Indonesia relatif masih dikenal sebagai bangsa yang santun dan selalu menjaga hubungan baik, plus da’wah yang kita lakukan selalu memegang prinsip wasathiah (pertengahan), tidak melebar kepada hal-hal yang bersifat kontraproduktif dengan aktifitas da’wah itu sendiri.

Pernah terjadi di kota Riyadh, tahun lalu kita mengadakan acara tarhib Ramadhan di Masjid Rajihi (Pusat da’wah di kota ini) dengan mengundang seluruh jamaah majlis ta’lim di kota Riyadh. Acara dilaksanakan pada Jum’at pagi dan biasanya dihadiri sekitar 400 orang. Namun di pagi hari, ketika panitia akan menuju lokasi seminar untuk mempersiapkan acara, di setiap mulut jalan menuju lokasi telah di jaga ketat polisi, kendaraan tidak boleh masuk sama sekali tanpa kecuali. Rupanya ada isu demontrasi di kalangan orang-orang Saudi setelah shalat Jum’at di mesjid tersebut. Setelah berembuk, panitia memutuskan untuk tetap melakukan acara seperti rencana semula, dan menuju ke tempat lokasi berjalan kaki dengan wajar. Sekeliling mesjid yang biasanya ramai oleh mobil parkir dan tukang dagang kini benar-benar lengang. Alhamdulillah acara berjalan lancar dan jamaah tetap berdatangan seperti biasa meskipun pada awalnya banyak yang kebingungan. Pihak keamanan sempat meminta berkas-berkas yang kita bawa, kita berikan apa adannya dan alhamdulillah tidak terjadi apa-apa, karena kegiatan kita semata-mata da’wah karena Allah Ta’ala. Seorang kawan ada yang berseloroh: “Kali ini acara kita benar-benar mendapat pengamanan istimewa”.

Demikianlah sekelumit aktivitas da’wah di Saudi Arabia yang al-Hamdulillah semakin lama kian mendapat sambutan positif di kalangan masyarakat TKI. Namun jangan dikira bahwa semua itu ada hanya semata-mata karena negara ini bernama “Saudi Arabia”. Betul bahwa pemerintah Saudi banyak memberikan fasilitas da’wah yang sangat besar, namun semua itu tanpa kemauan dan kerja keras dari kalangan TKI sendiri, sulit akan tercipta iklim kondusif untuk da’wah. Terbukti tidak sedikit mereka yang tidak tergerak sama sekali menghadiri pengajian atau minimal melakukan perbaikan diri selama bekerja di negara ini, justru lebih dari itu banyak dari saudara-saudara kita yang terjerumus dalam lembah nista yang sulit dipercaya bagi mereka yang berada di tanah air bahwa hal tersebut dapat dilakukan di negeri ini.

Karena itu, kami pesankan kepada calon TKI yang akan datang ke Saudi Arabia, setelah tiba di negeri ini, segera cari informasi tentang kegiatan-kegiatan pengajian di kota tempat kerjanya dan segera aktif di dalamnya, insya Allah hal tersebut akan banyak membawa kebaikan pada dirinya, karena komunitas yang baik akan membantunya melindungi diri dari godaan maksiat. Jika tidak, besar kemungkinan dia akan tertarik oleh komunitas buruk, maka satu demi satu tawaran-tawaran kemaksiatan dalam berbagai bentuknya akan datang menghampirinya dan diapun dengan senang hati akan meladeninya, na’udu billahi min dzalik. Kalau sudah begini, jangankan nasihat seorang ustaz, ancaman hukuman yang keras sekalipun -seperti di negara ini- akan dia anggap khalli walli (masa bodo -Bahasa Arab pasaran).

(Manhajuna/AFS)

(Visited 514 times, 1 visits today)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

“Virus” yang Mengancam Jama’ah Haji

Oleh Ust. Abdullah Haidir, Lc. Manhajuna – Siapa yang tak senang mendapatkan kesempatan beribadah haji? Mimpi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *